Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
31 : Ser*angan Tiba-Tiba


Belum sempat keluar dari kontrakan, tiga pria berpenampilan preman datang. Ketiganya kompak melempari Nina, Ojan, dan juga Akala menggunakan batu yang besarnya lebih dari kepalan orang dewasa. Buru-buru Akala menarik Nina untuk kembali masuk, begitu juga Ojan yang Akala seret paksa walau pria itu terus berisik karena panik. Sepanjang itu, Akala membiarkan tubuhnya bahkan kepalanya beberapa kali terhantam batu yang terus dilemparkan nyaris tak berjeda.


“Mas ...?” Nina segera memastikan keadaan Akala. Karena ia khawatir, selain pelipis Akala yang berdarah, ada luka fatal lain karena tadi, dengan mata dan kepalanya sendiri, ia melihat batu yang dilempar ke mereka berukuran besar.


Bagi Nina, tak mungkin ketiganya melakukan itu tanpa alasan. Nina yakin, kedatangan ketiganya masih berkaitan erat dengan kasu*snya. Apalagi Reno dengan blak-blakkan mengancamnya di terakhir pertemuan mereka.


“Biar aku keluar buat menghadapi mereka!” sergah Ojan dengan tampang yang belum sepenuhnya waras.


“Sssttt, jangan ... Mas! Tunggu! Diam di sini dulu!” yakin Akala yang sudah langsung memastikan telepon masuk di ponselnya. Telepon masuk tersebut dari satpam rumah makan yang tadi sempat membantunya.


“Selamat malam Mas Akala. Mas Akala maaf banget ini, malam-malam ganggu. Namun di sini ada ribut-ribut. Sepuluh pria berpakaian sekaligus bertingkah mirip preman pelakunya! Batu, telur busu*k, dilempar ke sini. Ini ada juga yang menyiram pakai bensin.” Dari seberang, suara sang satpam terdengar ketakutan di antara bentakan kasar dari beberapa suara pria dan sangat asing di kepala Akala.


Membahas bensin, Akala juga mencium aroma itu sangat kuat sementara ketika ia melihat ke bawah pintu, di sana sudah ada cairan yang ia yakini bensin.


“Ssstttttt!” kesal Akala yang sudah langsung buru-buru keluar sambil melepas jaketnya. Ia menggunakan jaket tersebut untuk mengha*ntam siapa pun yang ia jumpai di sana, dan kebetulan mengenai wajah seorang pria.


Setelah pria yang di hadapi langsung sempoyongan, Akala juga menggunakan kaki kanannya untuk menend*ang dada di pria.


“Kunci pintunya!” pinta Akala buru-buru pergi dari sana. Ia sudah berhasil mengin*jak pria yang tadi ia han*tam menggunakan jaket dan memang berhasil ia lumpu*hkan.


“Ya Allah ... apa lagi, ini?” batin Nina benar-benar khawatir ketika Ojan malah lari menyusul bahkan mendahului Akala.


“Mas!” panggil Akala benar-benar cemas. Di depannya, Ojan lari setengah miring mirip mobil yang akan oleng.


Ojan memutari kedua pria yang ada, dan malah joged jaipongan hingga kedua pria yang tersisa kebingungan. Akan tetapi, kenyataan tersebut hanya berlangsung sebentar. Sebab keduanya dengan segera melayangkan bogem ke wajah Ojan. Hanya saja, Ojan yang jongkok nyaris tiarap justru membuat salah satu dari pria yang membo*gmnya tersungkur. Terakhir, Ojan sengaja menendang bok*ong pria yang tersisa hingga kedua pria di sana sama-sama tersungkur.


“Ada tali? Ikat mereka terus setorin ke polisi!” tegas Akala.


“Bentar, Akala. Aku kasih kentut dulu, biar rasanya makin spesial!” ujar Ojan segera menangkap setiap seruan kentutnya kemudian melepasnya tepat di depan wajah kedua laki-laki di sana yang seketika mual-mual.


“Ya ampun, ini kentut busuk banget!”


“Biasa, habis makan semur jengkol buatan mbak Septi yang bikin juara. Biasanya kalau kentut jadi ada ampasnya!” balas Ojan dengan santainya.


Dengan segera, Ojan duduk di wajah salah satu dari pria di sana sembari menunggu Akala mengikat ke belakang tangan pria yang ada di depan pintu.


Nina sudah meminta bantuan tetangga yang juga turut membantu. Rencananya, Akala sungguh akan langsung menyetorkan ketiga pria itu ke polisi. Namun setelah ketiga preman tadi berhasil ditali, Akala sengaja buru-buru pergi ke rumah makannya.


“Mas, aku ikut!” sergah Nina tak mau Akala kenapa-napa. Meski sadar ia tak mungkin bisa banyak membantu, paling tidak ia ingin memastikan Akala baik-baik saja, secara langsung.


“Kamu di sini saja. Tunggu aku bareng yang lain,” yakin Akala yang langsung terusik oleh masuknya Ojan ke mobilnya. Ojan duduk di tempat duduk belakang sopir.


“T-tapi, Mas ....” Nina merasa serba salah, meski pada akhirnya, ia menurut menunggu di sana bersama tetangga yang masih jaga-jaga mengamankan situasi sekitar.


Ketika akhirnya Akala sampai di rumah makan, keadaan di sana benar-benar kacau. Hanya saja, ada sekelompok pria berseragam serba hitam yang dengan sangat cekatan melawan. Pria tersebut yang jumlahnya hanya lima, berhasil melump*uhkan setiap pria berpenampilan preman dan jumlahnya jauh lebih banyak. Tampak sang satpam yang tengah sibuk mengikat tangan maupun kedua kaki preman yang sudah terkapar.


“Cara berpakaian kelima orang itu mirip mas Excel, pas awal-awal aku mengenal beliau!” pikir Akala yang langsung terusik oleh dering telepon masuk di ponselnya karena ternyata, itu telepon masuk dari Excel.


“Assalamu'alaikum,Mas? Ada apa?” jawab Akala yang sengaja tetap mengunci mobilnya lantaran Ojan berusaha keluar.


“Waalaikum salam, Dek. Dek, kamu enggak usah khawatir. Kelima teman Mas memang sengaja Mas minta buat jaga-jaga di sana. Nantinya, mereka juga enggak segan bantu-bantu. Selagi Mas belum balik, mereka pasti akan tetap di sana. Masalahnya di sini Mas masih banyak urusan. Mbak kamu pun tetap ingin di sini selagi Mas mengurus semuanya. Sehat-sehat ya, kalian di sana. Kalau memang ada apa-apa, jangan lupa buat langsung hubungi Mas,” ucap Excel dari seberang dengan suara yang benar-benar tenang, ditambah lagi, di sekitar Excel juga terbilang sunyi.


“Ya sudah Mas, makasih banyak ya. Enggak sangka Mas sudah sampai jaga-jaga. Padahal awalnya aku sudah khawatir banget,” balas Akala.


“Kamu yang tenang ya. Berurusan dengan sekelas ger*mo tentu akan membuatmu berurusan dengan keributan layaknya sekarang. Orang-orang mantannya Nina pasti akan terus mengganggu selagi mereka belum dibabat sampai habis. Urusan itu nanti biar Mas yang urus. Besok, kamu cukup temui Reno dan kirimkan orang-orangnya biar hukuman yang harus dia terima jauh lebih berat!” yakin Excel lagi.


Ser*angan dari para preman sudah usai dan dapat mereka atasi, tapi kabar yang sampai kepada keluarga apalagi orang tua Akala, juga langsung membuat semuanya khawatir.


“Ya sudah, enggak apa-apa, apalagi alhamdullilahnya, mas Excel sudah jaga-jaga,” ucap ibu Arum yang mendekap khawatir kepala Akala karena di sana ada darah segar sekaligus luka yang baginya serius. Apalagi sejauh ini, digigit nyamuk saja, Akala sangat jarang.


“Kamu juga jangan berpikir macam-macam, Nin. Yakin, mereka sengaja bikin onar biar kita takut. Biar kamu khawatir dan pergi dari kami. Hal semacam ini sudah terlalu biasa buat keluarga kami. Nanti kita balas mereka dengan tuntutan hukuman lebih saja. Ya sudah, sekarang kamu bantu Akala ngobatin lukanya, ya. Sudah, enggak apa-apa,” yakin pak Kalandra yang sampai meminta sang istri untuk memeluk Nina guna meredam kekhawatiran Nina yang terlihat jelas merasa sangat tertekan. Nina terlihat memaksakan dirinya untuk bertanggung jawab pada apa yang telah terjadi.