
“Nina mirip banget sama mamah pas mamah masih muda. Karena dulu, mamah Arum juga begini,” pikir Akala. Cara pikir Nina dan juga semangat Nina untuk bangkit, membuatnya teringat kisah sang mamah sebelum ibu Arum menikah dengan pak Kalandra. Diceritakan oleh orang-orang, sebelum menikah dengan pak Kalandra, ibu Arum merupakan wanita, ibu, sekaligus janda yang sangat tangguh—baca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga.
“Kamu siapnya, ... kapan?” Yang Akala tahu, orang seperti Nina memang wajib diberi kesibukan agar wanita itu tidak setr*es dan fatalnya malah melukai dirinya sendiri. Lihat saja, baru juga dipancing, ibaratnya diberi jalan agar lewat, Nina sudah tersenyum dan terlihat sangat bersemangat.
“Boleh hari ini juga, Mas?” tawar Nina. “Aku janji, aku bakalan rajin! Bismillah, aku pastikan, aku enggak mengecewakan!”
“Boleh, ... tentu saja! Semangat terus, tapi kamu mandi dulu, ya?” balas Akala masih menyikapi Nina dengan sangat lembut. Belum apa-apa, ia sudah langsung memergoki Nina yang diam-diam menitikkan air mata, tapi Nina sengaja membelakanginya.
Nina tak mungkin menyeka air matanya menggunakan jemari maupun pakaiannya karena tangan dan pakaiannya memang sampai kecipratan sambal. Ini saja, kedua tangan khususnya jemari tangan, juga wajah sebelah kirinya mulai terasa panas efek sambal.
“Alhamdullilah ya Alloh, ... semangat! Demi ... demi Malini, demi kehidupan yang lebih baik lag!” batin Nina berusaha menyemangati dirinya sendiri. Walau andai ia tidak ingat Malini sangat membutuhkannya, jujur, Nina benar-benar ingin mati saja.
***
Sekitar dua jam kemudian, Nina yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, langsung ikut ke rumah makan bersama Akala untuk bekerja. Rumah makan milik keluarga Akala tersebut memang sudah diserahkan kepada Akala.
Terhitung sejak mas Aidan menikah dan Arimbi juga membuka rumah makan pecel lontong, mas Aidan sengaja memberikan rumah makan cabang milik keluarga mereka dan awalnya dikelola oleh mas Aidan, kepada Akala. Alasannya selain mas Aidan makin repot karena jadwal mas Aidan sebagai pengacara juga semakin padat, keputusan tersebut juga sengaja diambil agar Akala tidak terus-menerus mengambil job foto ke luar kota.
Akala memang anak bungsu, dan dari semuanya, Akala paling berusaha netral tanpa mau terlibat dengan kesibukan bisnis keluarga yang berkecimpung di dunia kuliner, selain usaha pembuatan rambut sekaligus bulu mata palsu. Akala yang juga menjadi kesayangan kakak-kakaknya memilih membangun usaha sendiri, menjadi seorang fotografer sekaligus pembuat konten andal, dan kerap Akala sebarkan secara online. Sejauh ini, Akala sudah bekerja sama dengan banyak pihak usaha mikro sebagai seorang fotografer sekaligus pembuat konten iklan, dan hasilnya terbilang lumayan.
“Cekatan banget, ya?” ucap ibu Arum yang kebetulan baru datang. Ia datang bersama Malini karena seharian ini, ia juga yang mengasuh Malini.
Di tengah suasana sore yang benar-benar syahdu karena mendung telah menguasai langit, sementara semilir angin juga menggeser suasana sumuk di hari ini, kebersamaan mereka mendadak meriah atas kedatangan Azzam yang membawa Sepri dan Ojan. Ojan tak perlu kita bahas statusnya yang sudah menjadi haji lantaran kelakuannya tidak mencerminkan statusnya yang malah selalu menjadi sumber lawak.
Tanpa Nina sadari, dirinya yang bertugas mengantar jemput pesanan maupun bek*as makan, tengah menjadi fokus perhatian. Bukan hanya oleh ibu Arum, Malini, dan juga Akala. Karena Azzam, Sepri, dan juga Ojan yang baru datang, juga sudah melakukannya.
“Istriiiiiiii, ini suamiiii kamu datang!” seru Ojan sudah langsung mengenali Malini.
Nina yang baru menyuguhkan satu nampan pesanan pembeli di meja depan ujung kanan, refleks menoleh pada sumber suara lantaran ia memang mengenal suara Ojan. Betapa kagetnya Nina lantaran Ojan yang awalnya ada di depan pintu masuk bersama rombongan Akala dan sampai ada Malini di sana, dengan cepat melangkah dan kini sudah ada di hadapannya.
“Hahaha ... jodoh memang enggak mungkin keluar dari hati apalagi keluar kota!” setelah kegirangan, Ojan juga berkata, “Kamu janda, kan?”
Detik itu juga Nina langsung menahan napas dan refleks melirik Akala. Seolah paham kondisinya, Akala yang ternyata tengah berjalan ke arahnya, langsung menggeleng. Balasan yang juga menular kepada Nina.
“Enggak usah malu-malu, aku saja enggak malu walau statusku duda tanpa malam pertama! Hahahaha!” sergah Ojan sangat bersemangat meski Nina terus menggeleng.
“Si Ojan yah, langsung rusuh di setiap ada yang melek dikit. Enggak tahu apa, di sini ada Ksatria Sepri Memang Hitam? Pri, urus, Pri!” sergah Azzam yang sengaja mendorong-dorong Sepri.
Sepri yang sedang mengelus-elus pipi kirinya yang ditempeli koyok, mendesah pasrah. “Aku beneran enggak berdaya kalau sudah sakit gigi gini, Zam!” rintihnya tak mampu berbuat apa pun selain merasakan sakit gigi yang juga membuat semua kehidupannya sakit. Karena efek sakit gigi, dari ujung kepala hingga ujung kakinya jadi ikut sakit.
“Astaga, Pri ... makanya yang rajin sikat gigi ya. Atau sudah cabut semua gigi kamu saja biar kamu enggak sakit gigi lagi. Hidup kamu saja sudah kenyang makan hati, lah kamu malah langganan sakit gigi!” balas Azzam yang malah mengomel kepada calon kakak iparnya.
“Kurang aj*ar kamu. Orang lagi sakit gigi malah diajak gelut. Bahkan harusnya kamu malah sungkem karena gini-gini aku kakaknya Ndari!” omel Sepri meski ia melakukannya dengan suara sangat lirih bahkan meringis-meringis. Dan perlahan tapi pasti, tawanya nyaris pecah gara-gara Azzam sudah langsing sungkem kepadanya tak lama setelah ia menyinggung status hubungan Azzam dan Sundari untuknya.
“Sudah, kamu ke belakang saja. Lanjut kerja, ya,” lembut Akala mencoba melepaskan Nina dari Ojan.
“Eh, Akala ... ngapain kamu suruh si istri pergi. Ini aku beneran lagi merasakan sinyal janda porji kuat banget dari dia! Istri ... istri ... aylopyu ... til janah!” Ojan sengaja melongok dari bahu kanan Akala. Ia memberikan senyum terbaiknya apalagi setelah melihat tubuh idaman Nina yang ramping, putih, mulus, sekaligus energik.
“Emang orangnya kayak gitu, atau memang kurang waras?” pikir Nina jadi ragu, terlebih Ojan saja beraktivitas layaknya manusia normal pada kebanyakan. Bahkan, ibu Arum memperlakukan Ojan layaknya anaknya sendiri.
“Mas Sepri mau makan apa?” tanya Akala lembut, sementara di sebelahnya, Nina yang sudah mirip baling-baling mengerjakan segala sesuatunya dengan cepat, sudah siap mencatat.
“Makan yang lembek dan enggak usah mengunyah berlebihan,” ujar Sepri masih memegangi pipinya yang ditempeli koyok. Di hadapannya, Akala langsung terlihat berpikir keras.
“Sudah, kamu makan hati saja, Pri. Itu beneran bikin kenyang tanpa harus mengunyah maupun menelan!” ucap Azzam dengan santainya dan sudah langsung membuat semuanya tertawa. Termasuk Nina yang diam-diam mesem menahan tawanya. Akala yang memergoki itu refleks menghela napas pelan sekaligus dalam. Lega.
Senyum pertama Nina, dan membuat Akala berpikir, Nina wajib seiring dirusuhi oleh trio rusuh—Azzam, Sepri, Ojan, agar Nina bisa makin sering tersenyum bahkan tertawa.