
“Akala! Biasa saja kenapa, toh sudah punya pasangan sendiri-sendiri!” semprot Chole sambil menatap sebal Akala.
“Aku juga biasa saja ....” Meski lirikannya masih saja tertuju kepada Helios. Pria itu masih terlihat bengi*s dan seolah sangat tidak menyukainya.
“Suamiku juga biasa saja. Memang adanya begini, tapi aslinya baik banget kok!” yakin Chole tak segan mengelus manja pipi kiri Helios.
Nina dan Akala sudah langsung kikuk hanya karena menyaksikan pemandangan di hadapan mereka.
“Ya sudah ayo kita seru-seruan. Oh, iya ... Ni-na, yah, namanya? Oke ... Nin, aku dan Akala, di keluarga kami apa-apa sudah seperti keluarga. Jadi, yang muda berarti adik, yang lebih dewasa berarti kakak. Paham yah, jadi enggak usah sungkan-sungkan. Urusan dengan kak Cinta ya sudah, sudah terjadi mau bagaimana lagi? Kita doakan saja semoga kita istiqomah! Amin.” Chole berbicara sendiri, dijawab sendiri. Kemudian ia sengaja menggandeng Nina, membawanya melihat-lihat pakaian di sana. Termasuk juga dengan Malini yang ia bawa serta. Hingga di belakang mereka, Helios dan Akala dikawal oleh Hannan, mirip orang asing yang tidak berani untuk menyapa satu sama lain.
“Ya Allah, jalan bareng yang bercadar gini aku makin minder.” Dalam hatinya, Nina sudah langsung kebingungan sendiri. Namun diam-diam, ia juga mengawasi Chole. Berbeda jauh dari Cinta, Chole ini sangat periang, rame, dan sangat mirip ibu Arum. “Kakak adik, tapi beda jauh ya sama si Cinta,” pikir Nina. Ia terdiam mematung ketika Chole memakaikan kerudung segi empat kepadanya.
“Ini pasti cantik banget!” lirih Chole masih memakaikan kerudung atau jilbab pilihannya dengan hati-hati kepada Nina, sebelum akhirnya ia berteriak memanggil Akala layaknya sedang di rumah sendiri.
“Kamu yah, di mal kayak di rumah sendiri!” semprot Akala lirih sambil buru-buru mendekat.
Helios yang tak terima ada yang memarahi sang istri selain dirinya, segera berdeham. Detik itu juga Chole tertawa.
“Sikat, Mas. Sikaaat! Akala berani ngomel-ngomel ke aku!” ujar Chole di sela tawanya.
Kemudian, fokus perhatian mereka, langsung tertuju kepada Nina yang Chole pamerkan dengan penampilan terbarunya.
“Cantik banget, kan?” ucap Chole masih memamerkan Nina.
Akala sudah langsung tersipu.
“Alah, senyum-senyum begitu. Sudah, langsung nikahin!” jail Chole tak segan mendorong-dorong Akala ke Nina hingga kedua sejoli itu benar-benar dekat.
Kemudian, yang Chole lakukan ialah menghampiri sekaligus memeluk Helios dari samping kiri meski tatapannya terus mengawasi kebersamaan di hadapan mereka.
“Kamu nyaman?” tanya Akala kepada Nina. Tentu yang ia pertanyakan, mengenai penampilan terbaru Nina.
Di sebelah Akala, Nina yang tampak kikuk, menunduk sambil mengangguk-angguk. “Iya, Mas.” Karena pada kenyataannya, Nina memang tengah merasa terbebani dengan penampilannya yang berbeda dari wanita-wanita dalam keluarga Akala.
“Ini mal, Chole,” ucap Helios setelah ia juga menghela napas dalam. Tentu saja, maksudnya mengingatkan Chole karena ia sedang menyindir istrinya agar lebih mengontrol suaranya. Bukan terus berucap lantang sekaligus berisik layaknya di rumah sendiri.
“Jadi Nina pasti enggak mudah banget. Dia kehilangan jati dirinya. Dia harus hidup dengan wajah orang lain yang bahkan telah menorehkan luka paling dalam, dalam hidupnya,” batin Chole yang kemudian mengajak Nina untuk memilih pakaian muslim di sana.
“Akala, kalian kapan nikah? Kalau dalam waktu dekat, berarti aku enggak balik ke Jakarta dulu. Aku mau nyaksiin pernikahan kalian,” ucap Chole lagi.
“Si Chole benar-benar baik?” pikir Nina.
“Jangan sampai lebih dari satu minggu. Apalagi Nina sudah tinggal di rumah kamu. Ya nikah dulu, resepsi nunggu. Jangan lupa kabari mantannya, kasih undangan pernikahan kalian biar jadi bo*m buat dia!” ucap Helios masih berdiri di sebelah Akala.
Jujur, Akala yang masih diam, benar-benar tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar dari Helios.
“Sori, ya ... andai dari awal, aku mengikuti arahan Excel ... tapi enggak apa-apa sih. Sekarang aku beneran bahagia. Menikah dengan Chole benar-benar bahagia, jadi kamu juga harus bahagia. Urusan Cinta, seperti kata Chole, doakan saja agar dia istiqomah. Biarkan dia belajar dari kesalahan sekaligus masa lalunya. Insya Allah, setelah ini Cinta akan menjadi pribadi yang lebih baik. Insya Allah, Cinta akan bisa jauh lebih bahagia setelah semua yang ia rasa. Iya, aku dan semuanya termasuk kamu, inginnya pasti yang terbaik. Karena bagaimanapun dia di masa lalu, dia berhak mendapatkan kesempatan buat jadi lebih baik lagi,” ucap Helios yang jadi berkaca-kaca. Semua yang berkaitan dengan Cinta memang tidak sepenuhnya bisa ia singkirkan terlebih ia justru sangat mencintai Chole dan masih adiknya Chole meski hubungan keduanya bukan saudara kandung.
Tentunya Helios juga tidak lupa, alasan Cinta melakukan kesalahan fatal juga ada peran pentingnya. Alasan yangs sebenarnya membuat Helios merasa bersalah.
“Iya, Mas. Semoga, ini memang yang terbaik. Karena sebaik-baiknya semua di mata kita, kadang yang bagi kita luka dan duka, bagi Allah itu justru pelukan terbaik agar kita jadi lebih baik,” ucap Akala mencoba berdamai dengan kenyataan. “Aku beneran sudah enggak mau dikaitkan-kaitkan lagi dengan Cinta karena aku sudah akan menikah dengan Nina. Bahkan meski wajah Nina memang mirip banget dengan wajahnya Cinta. Aku beneran ingin fokus dan benar-benar hanya dengan Nina. Karena memang begitu kunci kebahagiaan dalam hubungan. Intinya aku selalu melakukan apa yang ingin aku rasakan, serta menjauhi sekaligus beneran pantangan pada apa yang enggak aku suka apalagi benci. Aku enggak suka jika pasanganku masih dengan laki-laki lain, atau setidaknya sekadar memikirkan laki-laki lain. Jadi, itu juga yang aku lakukan agar aku juga mendapatkan hal yang sama syukur-syukur lebih baik. Aku percaya tebar tuai apalagi keluargaku sudah membuktikannya sendiri. Jadi, apa pun kata orang, bagaimanapun keadaan maupun masa lalu Nina, aku cinta, aku sungguh-sungguh dan aku siap menerima segala risiko.sekaligus konsekuensi dari hubungan ini. Karena pada kenyataannya, aku mencintai Nina dengan kelebihan sekaligus kekurangannya,” lirih Akala.
“Kamu mirip banget sama Chole. Cara pikir kalian soalnya kalau keseluruhannya beda. Kamu sekalem ini, Chole mirip kembang api rentetan yang lagi dinyalain!” ucap Helios.
“Kembang api? Bukan petasan?” sergah Akala memastikan. Ia sengaja melongok wajah Helios yang sampai detik ini masih memakai kacamata hitam. Namun berbeda dari biasanya, kali ini Helios sudah tidak memakai masker hitam untuk menutupi sebagian wajahnya.
“Bukan lah. Chole kan meski berisik tapi juga sangat berwarna mirip kembang api,” yakin Helios.
“Seindah itu, berarti Anda sudah bucin akut ya, ke Chole?” balas Akala yang hanya mengatakannya saja sudah tersipu
Helios yang awalnya bengong kebingungan juga berangsur tersipu. Ia tak menepis anggapan Akala, sebelum akhirnya ia menghampiri Chole. Wanita itu mengabarkan menemukan pakaian muslim pasangan untuk mereka.
“Iya, ... aku juga berhak bahagia. Mas Helios saja sudah sebahagia itu bersama Chole. Aku dan Chole juga harus bahagia bahkan lebih dari mereka,” pikir Akala yang kemudian menghampiri Nina.
Nina yang berdiri tak jauh dari Chole, tengah kewalahan menenteng kantong belanjaan pemberian Chole.