Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
54 : Jadi Ge-nit


“Innalillahi ... astaghfirullah ... ini enggak apa-apa, aku meluk gini? Kalau aku dikira gan*jen, apalagi gampangan, bagaimana?” panik Nina dalam hatinya. “Tapi kalau enggak peluk, Mas Akalanya juga terus ngebut. Takutnya kalau enggak peluk gini malah aku jatuh dan yang ada makin repot!” Dalam hatinya, Nina mendadak pera*ng batin. Karena ketika Nina mengakhiri dekapannya pun, Akala mendadak ngebut lagi. Hanya saja, Nina yang menumpang tak berani protes. Nina memilih mengikuti, menurut tak ubahnya barang yang tinggal diam ketika dibawa.


“Hahahahaha!” Mas Aidan yang paham dengan akal-akalan Akala, tak bisa untuk tidak tertawa dengan tingkah adiknya yang mendadak mirip pebalap andal.


“Masya Allah bibirku sampai mau lepas gara-gara tersapu kebutannya Akala!” Ojan yang masih dibonceng di depan, teriak-teriak. “Hei, Akala ... kamu jangan macam-macam ke istriku ya! Kamu jangan we*dus, ya!”


“Modus, Mas Ojan ... bukan we*dus. Kalau we*dus itu embe!” mas Aidan sengaja mengoreksi ucapan Ojan, dan lagi-lagi tertawa.


“Ah, Mas Aidan bisa saja!” kesal Ojan sudah ingin menangis karena cara Akala yang ngebut layaknya kini, diyakininya sengaja agar Nina terus memeluk Akala. “Ya wis, Mas. Ayo ngebut juga. Jangan mau kalah, Mas. Cepat, Mas. Kalau bisa terbang. Mabur(terbang), Mas!” hebohnya sambil mengguncang-guncang kedua lengan mas Aidan meski pandangannya terus memelototi kepergian motor Azzam yang dikemudikan oleh Akala.


“Sabar, Mas. Sabar ... jangan gerak-gerak nanti nabrak.” Mas Aidan mulai panik dan makin menjadi-jadi karena Ojan juga sibuk menekan klakson, meminta yang lain untuk minggir. Mereka yang merasa terganggu sampai mengomel dan ada beberapa yang menghadang.


“Maaf, Mas ... Bu, ... pak gede saya kalau belum minum obat, memang begini. Maaf, ya, maaf banget!” Mas Aidan sengaja bohong daripada ia mendapat masalah beruntun gara-gara Ojan.


“Eh, Mas Aidan ... belum minum obat apa, maksudnya?” protes Ojan yang sebenarnya juga bingung.


“Sudah, Mas Ojan diam saja. Jangan banyak protes ini kita lagi dimarahi gara-gara Mas main klakson. Mas Ojan diam dulu, takutnya kita dipenjara!” bisik mas Aidan sengaja menakut-nakuti Ojan agar urusan mereka di jalan, tidak makin panjang.


“Itu sambil dibilangin, ya. Bahaya ke pengendara lain!” ucap bapak-bapak berperut besar dan berwajah sa*ngar.


Mas Aidan tak hanya sungkan, tetapi juga takut karena dimarahi ramai-ramai layaknya sekarang. Berulang kali ia menunduk santun sekaligus takut seiring permohonan maaf yang terus keluar dari bibirnya.


“Maha sabar Sepri yang bertahun-tahun mengurus mas Ojan. Masya Allah kamu, Pri. Moga segera mungkin kamu dikasih jodoh terbaik yang mencintaimu dengan sempurna. Amin, Pri. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan layaknya manusia baik lainnya!” batin mas Aidan seiring ia dan Ojan yang akhirnya diperbolehkan pergi dari sana.


Hingga pada akhirnya, Akala dan Nina sampai lebih dulu. Barulah setelah satu jam kemudian, mas Aidan dan Ojan menyusul. Itu pun sampai Akala susul tanpa Nina karena semuanya khususnya Arimbi, sangat khawatir. Ditambah lagi, hujan sempat mengguyur dengan deras.


“Sudah pulang, Mas?” sergah Nina baru keluar dari dapur. Mereka berpapasan dan nyaris tebra*kan di depan pintu dapur.


Namun, baik Akala maupun Nina yang sama-sama gugup, kompak mundur, selain keduanya yang jadi tak berani menatap satu sama lain.


“Sudah ... sudah. Nah ... itu,” balas Akala yang kemudian menoleh ke belakang selaku sumber suara Ojan yang mencari-cari keberadaan Nina.


“Astagfirullah, pak Gede Ojan, nginep di sini juga, yah, Mas? Asli aku was-was kalau ada dia dan mas Azzam yang jadi ri*valnya enggak ada. Takut tiba-tiba masuk kamar,” ucap Nina lirih dan tanpa sadar telah berkeluh kesah.


Yang membuat Akala tidak bisa untuk menahan tawa, tak lain karena efek panggilan Nina kepada Ojan dan itu, “pak Gede”.


“Kok panggilnya pak Gede, sih?” lirih Akala sambil menahan senyumnya. Senyum yang benar-benar manis, mirip pak Kalandra ketika masih muda.


Nina yang sempat kikuk efek menatap dan memergoki Akala ketika senyum, berangsur mengangguk-angguk. “Usia kami kan terpaut setengah abad, Mas. Kami lebih cocok jadi anak sama bapak.”


Mendengar itu, Akala menjadi terkikik geli. “Kalau kamu sama mas Ojan ibarat bapak dan anak, kamu sama aku, ibarat apa?” ucap Akala yang menatap Nina sambil tersipu malu.


“Lah ... kok Mas Akala jadi gen*it gini, sih?” batin Nina sudah langsung deg-degan tak karuan.


“Mas Akala mulai geni*t yaa ...,” sindir mbak Azzura yang diam-diam menguping.


Nina yang kepergok sudah langsung ketar-ketir, gelisah tak karuan. Lain dengan Akala yang hanya tersipu sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.


“Ya sudah Mas, aku mau lanjut bantu mbak Azzura dulu, kasihan, baru sampai enggak ada makanan dan mau ke rumah makan pun enggak mungkin. Sudah malam, hujan pula!” pamit Nina berbisik-bisik dan sengaja menghindari Akala berikut lede*kan mbak Azzura.


“A-aku mau bantu-bantu masak, Mbak!” sergah Akala berusaha mengalihkan perhatian mbak Azzura, apalagi Nina juga sudah pergi dari sana. Namun, kembaran dari Azzam dan juga merupakan istri dari Excel Lucas yang telah menyelamatkan Nina, memintanya untuk mengurus Ojan.


“Dari tadi mbak Mbi gelisah banget khawatir ke mas Aidan, pasti mas Aidan enggak sempat urus mas Ojan, sementara mas Excel masih urus kerjaan. Tadi paman Lim telepon minta mas Excel buat urus beberapa perjanjian yang dikirim lewat email.” mbak Azzura memberi pengertian dan Akala tidak bisa menolak meski Akala masih ingin lama-lama dengan Nina.


Malamnya, bukan hanya Akala yang tidak bisa tidur. Karena Nina yang sudah mulai ada rasa ke Akala, tapi masih sangat malu mengungkapkannya, juga tidak bisa tidur. Keduanya sama-sama teringat awal mula pertemuan mereka yang diawali dengan trage*di, kemudian kebersamaan yang dipenuhi perhatian Akala, termasuk ketika sore tadi Akala membawanya ngebut hingga Nina terus memeluk Akala, terakhir agenda tadi ketika Akala dirasa Nina jadi ge*nit.


“Istri ... aku serius ke kamu. Kamu jangan mau sama Akala meski dia lebih muda dan lebih ganteng dari aku! Janji, ya. Nanti aku kasih sapi!” ucap Ojan mengigau sambil membingkai wajah Akala karena malam ini, mereka memang tidur di ranjang yang sama.


“Ya Allah, Mas Ojan. Nina mau nikah sama aku. Kami akan menikah, jadi Mas ikhlas, ya!” batin Akala yang juga mendoakan jodoh terbaik untuk Ojan. “Semoga Mas Ojan segera bertemu sekaligus bersama jodoh terbaik Mas!”


“Semoga aku bisa jadi yang terbaik buat mas Akala sekeluarga karena aku sadar, masa laluku membuatku enggak kalah hin*a dari wanita na*kal!” doa Nina dalam hatinya. Namun demi menjadi sosok yang lebih baik lagi, hatinya justru tergerak menuntunnya untuk menunaikan salat sepertiga malam.