Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
26 : Tetap Belum Bisa Memaafkan


Nina berangsur berdiri. Ia menarik pelan rantang susun di hadapan meraka sambil sesekali melirik sengit wanita tak tahu diri di hadapannya. Bersamaan dengan itu, dadanya bergemuruh mengiringi detak jantungnya yang terdengar mirip benderang perang.


Satu persatu memori menyakitkan yang berkaitan dengan ibu Sulastri mendadak terputar di ingatannya. Semua adegan yang langsung membuat Nina naik pitam. Darah Nina seolah dididihkan. Ia nyaris meledak setelah ingatan tentang Malini yang ternyata juga menjadi korban ibu Sulastri dan pak Surat, menghiasi ingatannya. Ingatan yang juga membuat tangan kanannya dengan spontan menyiramkan satu rantang sambal ke wajah ibu Sulastri.


Ibu Sulastri langsung menjerit. Jeritan yang benar-benar histeris seiring wanita itu yang sibuk mengucek kedua matanya. Ulah yang malah membuat luka di kedua tangannya terasa perih. Membuat jeritannya makin tak terkendali dan sukses mengundang beberapa petugas berdatangan.


Sumpah serapah tak luput dari mulut ibu Sulastri yang sempat wanita itu keluhkan mulai bau busuk. Kendati demikian, tak ada satu pun yang mampu menghentikan emosi Nina. Nina justru melakukan hal yang sama. Ia menggunakan satu rantang sambal yang sempat ibu Sulastri turunkan untuk mengguyur pangkal perut wanita itu. Tak peduli meski ulahnya menurunkan celana ibu Sulastri, membuatnya terhanta*m bahkan tertenda*ng ibu Sulastri.


“Jangan ada yang menolong wanita ini! Dia pantas mendapatkannya bahkan bila perlu lebih!” tegas Nina sembari menjauh dari ibu Sulastri. Beberapa kali wanita itu berusaha menatapnya, tapi tentu gagal akibat sambal yang ia siramkan dan memang telanjur mengenai mata.


“Wanita macam apa yang dengan tega menyekap anak perempuannya selama berbulan-bulan agar bisa diper*kosa dengan leluasa?”


“Wanita macam apa yang dengan tega membiarkan bahkan mengorba*nkan anak perempuannya yang belum genap berusia tujuh tahun, berulang kali diper*kosa?”


Setelah terdiam sejenak menatap kedua wajah petugas wanita di sana, Nina terpejam pasrah hingga butiran bening berjatuhan dari kedua matanya secara bersamaan. “Harusnya dia dapat lebih! Ibl*is berkedok ibu ini harusnya diarak tanpa bus*ana sambil dicambuk bersama pasangan cabu*lnya!”


Ibu Sulastri yang terus berteriak melayangkan sumpah serapah kepada Nina juga sempat mengejar Nina, tapi rasa panas sekaligus pedih dari sambal yang Nina siramkan, membuat wanita itu kesakitan. Tak hanya terduduk karena ibu Sulastri juga terbatuk-batuk, tersedak sambal yang telanjur masuk ke dalam mulutnya.


Ibu Sulastri sungguh kesakitan, tapi kesakitannya itu tak sebanding dengan luka fisik sekaligus mental yang harus Nina bahkan Malini rasakan.


Masih ada satu rantang, dan Nina menyiramkannya ke kepala ibu Sulastri. Kebetulan wanita itu masih duduk hingga dengan cepat, sambal super pedas yang Nina dapatkan dari ibu Arum, turun menguasai tubuh bagian bawah ibu Sulastri.


Seolah mendukung ulah Nina menghukum ibu Sulastri yang sudah sangat kebangetan, kedua petugas wanita di sana tak hanya membiarkan ibu Sulastri begitu saja. Karena keduanya juga membiarkan Nina melenggang pergi dari sana.


Kemudian, hal yang sama juga Nina lakukan kepada pak Surat. Belum apa-apa pria itu sudah ketakutan lantaran tampang Nina sangat menakutkan. Nina terlihat sedang sangat marah, sementara pak Surat yang sadar dirinya sudah sangat berdosa yakin, alasan Nina marah masih karena pak Surat.


Hanya saja, adanya dua rantang yang atasnya ditutup piring, membuat pak Surat bertanya-tanya. Itu untuknya? Atas dasar apa? Apakah Nina sedang berusaha merac*unnya?


Belum sempat mengutarakan kebingungannya, pak Surat sudah langsung dikejutkan oleh ulah Nina yang dengan spontan menyiram wajahnya menggunakan sambal agak encer tapi langsung menusuk kedua matanya.


“Nin, ... bajin*gan kamu yah! Perih a*su!” kecam pak Surat yang masih terpejam erat sementara kedua tangannya berusaha menghalau sambal di wajahnya, walau itu tidak mungkin ia lakukan lantaran kedua tangannya penuh luka bakar.


Pak Surat sudah langsung histeris. Kejadiannya nyaris sama dengan tanggapan ibu Sulastri. Tampaknya keduanya memang sudah melupakan perbuatannya kepada Nina dan Malini. Itu yang sudah terungkap, bagaimana jika ternyata ada korban lain? Alasan tersebut pula yang membuat Nina lagi-lagi menggunakan rantang bekas sambalnya untuk memuk*ul pak Surat, sekuat tenaga.


“Ninnnn, ... sakit Nin!” Pak Surat terus meraung-raung kesakitan, dan belum juga meminta ampun apalagi meminta maaf. Seolah, dirinya memang tak merasa bersalah apalagi berdosa setelah semua yang pria itu lakukan kepada Nina dan Malini.


Tak lama kemudian, kedua petugas laki-laki yang datang, juga tak kuasa menghentikan Nina. Terlebih setelah mereka mengetahui bahwa pak Surat merupakan penjahat kela*min yang bahkan menjadikan anak di bawah umur sebagai korba*nnya. Jadi, ketika Nina memukul pangkal perut pak Surat dengan bru*t*al menggunakan rantang, keduanya hanya meringis menahan sakit karena apa yang pak Surat alami pasti sangat menyakitkan. Sudah diungkeb dengan sambal, eh langsung digepr*ek berulang kali.


“Kamu beneran enggak mau minta maaf? Kamu beneran enggak menyesali perbuatan kamu?!” Nina yang jengkel sengaja menggunakan kaki kirinya untuk mendorong sekuat tenaga kepala pak Surat.


Nina memilih pergi tanpa permisi karena wanita itu sadat, berurusan dengan pak Surat hanya membuang-buang waktu. Namun andai tadi Nina dibekali golok atau pun gergaji, bisa Nina pastikan, tubuh atau setidaknya “burung” pak Surat pasti sudah ia potong atau malah cinca*ng!


Akala menunggu di lorong depan.


“Aku enggak bawa rantangnya Mas. Peot. Nadjiz juga sudah kena mereka!” ucap Nina sementara Akala hanya mengangguk lembut sambil terus menatapnya dengan penuh keteduhan.


Nina tidak tahu, kenapa ia tetap belum bisa memaafkan ibu Sulastri apalagi pak Surat? Padahal, Nina sudah melam*piaskan kekesalannya. Padahal, harusnya ulahnya juga makin menambah luka-luka keduanya yang memang sudah fatal.


Kedatangan mereka kali ini tidak sampai menemui Reno. Nina langsung diboyong pergi terlebih keadaannya yang turut penuh sambal juga membuat Akala khawatir.


“Kita langsung pulang!” ucap Akala yang mendadak dihadang polisi tepat ketika ia baru akan mengemudikan mobilnya.


Dalam diamnya, tatapan Akala dan Nina refleks bertemu.


“Ada apa yah, Mas? Apa gara-gara aku belum pakai sabuk pengaman? Kan masih di tempat parkir dan ini baru mau aku pakai sudah aku pegang?” bingung Nina. Ia berbisik-bisik kepada Akala. Ia khawatir, gara-gara ia yang belum memakai sabuk pengaman, Akala malah kena tilang.


“Kayaknya memang ada sesuatu. Sudah, kamu tenang saja,” ucap Akala lembut dan benar-benar masih tenang.


Nina sampai heran, ada orang setenang sekaligus sangat sabar layaknya Akala.