
Pulang dari pantai selaku tempat terakhir tujuan wisata rasa kencan mereka, Nina sudah langsung membuat semuanya pangling akibat penampilan terbarunya. Nina yang sadar langsung menjadi fokus perhatian sudah langsung kikuk. Lain dengan ibu Arum yang sudah langsung memberi kode agar anak-anaknya berhenti memperhatikan Nina secara berlebihan.
“Pede saja, ya. Makin cantik kok!” ucap ibu Arum sengaja memuji Nina yang baru saja menyalami tangan kanannya dengan takzim.
“Tadi di mal ketemu sama mbak Chole dan mas Helios. Terus mbak Chole bantu aku pakai jilbab, selain mbak Chole yang beliin beberapa pakaian untuk aku dan Lini, Bu,” cerita Nina.
Ibu Arum sudah langsung tersenyum haru. “Chole itu ibarat kembaran Akala versi berisiknya. Hari lahir dan tanggal lahir mereka saja kembar. Beneran di hari yang sama, tapi duluan Akala beberapa jam.”
“Waw!” refleks Nina lirih kemudian melirik Akala yang masih berdiri di sebelahnya.
“Kami kembar dari rahim berbeda, tapi dia dekatnya sama mas Ojan!” ucap Akala sambil mesem kemudian pamit masuk lebih dulu.
Ibu Arum segera menyusul Akala sambil menuntun Nina ikut serta. “Ikan jambal roti pesanan mbak Azzura, dapat, Mas?”
“Dapat Mah. Ini mau langsung aku taruh ke dapur. Tadi mbak Azzura sudah WA katanya sudah ditungguin di dapur. Sambal sama lalapannya sudah siap katanya,” cerita Akala benar-benar santai.
“Tapi nasinya belum siap, makanya belum bisa makan. Tadi pun andai mbak Mbi enggak mau bikin nasgor buat mas Aidan, kayaknya belum ketahuan,” ucap ibu Arum yang kemudian tertawa. Tawa yang langsung diikuti oleh yang lain juga. Ada Azzam, Arimbi, juga mas Aidan, selain Akala dan Nina yang turut tertawa. Hanya Malini saja yang tidak tertawa dan tampaknya karena belum paham dengan arah pembicaraan.
Kemudian, Akala sengaja memberikan dua kantong besar di tangan kanannya kepada sang mamah. “Lupa Mah ... ini oleh-oleh dari aku sama Nina. Kain pantai sama pakaian tidur yang bahannya adem. Itu sudah kami kasih nama. Yang sendirian cuma punya mas Azzam!”
“Edyan kamu, Dek! ******taan pasangan LDR gini caranya!” sebal Azzam yang sudah langsung menjadi bahan tawa di sana.
“Tapi kan kita juga beli buat mbak Sundari, Mas! Coba deh di cek di kantong. Ada. Warnanya biru muda!” lembut Nina mengingatkan.
“Emang dasar akal-akalannya Akala ini. Pengin dikandangin bareng Sepri nyetnya Ojan kayaknya!” kesal Azzam yang sudah langsung berusaha memiti*ng kepala Akala.
Mas Aidan sudah langsung mena*bok pan*tak Azzam. “Yang ada justru Mas Azzam yang keba*nting. Sudah, sudah ... cari aman apalagi dari semuanya, Mas Azzam paling anti olahraga karena Mas Azzam memang anti keringat-keringatan.”
“Masya Allah ujianku berat sekali. Lebih berat dari Sepri yang harus urus Ojan!” keluh Azzam yang kemudian ditanyai kabar terbaru Ojan oleh mereka. Karena tak biasanya, seorang Ojan benar-benar tak datang.
“Kayaknya sih masih ngejar si ukhti bercadar, ya. Ah, lupa ... di klinik ada Didi, terus si Sepri getol yakinin Ojan buat kejar Didi saja. Ya biar Ojan enggak kelayab*an!” yakin Azzam.
Meninggalkan kebersamaan di sana yang memang sudah langsung heboh asal ada Azzam, Nina merasa makin percaya diri gara-gara penampilan terbarunya.
Beres acara kebersamaan dengan Akala sekeluarga, Nina langsung mencuci semua pakaian pemberian Chole maupun Akala. “Biar bisa buat ganti,” pikirnya.
“Kamu dari mana?” tanya Akala yang awalnya Nina pergoki melangkah buru-buru hendak keluar.
Akala mempercepat langkahnya. “Nah itu. Mamah papah sama mbah, mau bahas pernikahan kita!” sergahnya segera meraih pergelangan tangan kanan Nina. Meski di ruang keluarga lantai bawah kediaman orang tuanya juga ada kakak-kakaknya dalam formasi lengkap.
Untuk sejenak, Nina langsung bengong karena terlalu syok. Nina hanya diam mengikuti tuntunan Akala seiring hatinya yang terus meyakinkan, keputusan yang akan terjadi ibarat lembaran sekaligus babak baru untuk hidupnya.
“Ayo, semangat Nin! Kamu berhak bahagia. Buktikan bahwa kamu memang layak bahagia. Buktikan bahwa kamu bisa jadi orang sukses, balasan yang akan menjadi balasan paling menyakitkan bagi mereka yang pernah menyakitimu,” pikir Nina menyemangati dirinya sendiri.
Sepanjang pembahasan, Nina cenderung jadi pendengar baik. Wanita itu hanya sesekali mengangguk atau malah menggeleng, menjawab lirih di setiap pertanyaan yang menghampirinya.
“Dalam waktu dekat aku akan menikah. Aku akan menikah dengan laki-laki baik yang juga sangat baik. Laki-laki baik yang memiliki latar belakang sempurna. Masya Allah banget, rasanya seperti mimpi. Ini ibarat hikmah dari musibah rasa trage*di yang aku alami. Namun andai aku bisa memilih, tentu aku akan lebih baik hadir dan menjadi bagian dari mas Akala, dalam keadaan Suci,” batin Nina.
Satu minggu dari sekarang menjadi waktu yang dipilih menjadi hari pernikahan Akala dan Nina. Pernikahan mereka hanya berupa ijab kabul dan syukuran tanpa adanya pesta karena, seperti yang sebelumnya sempat Akala kabarkan pada Nina.
“Ya gitu saja dulu. Satu minggu lagi, nanti papah undang keluarga sekaligus rekan terdekat,” ucap pak Kalandra menutup obrolan serius di sana mengingat waktu yang sudah malam dan mereka pun harus istirahat karena besok sudah ada kesibukan yang harus mereka jalani.
Semuanya langsung bubar. Ada yang mampir dulu ke dapur yaitu Azzura dan Excel lantaran Azzura sudah kembali lapar efek ngidamnya. Sementara mas Aidan dan mbak Arimbi, berbondong-bondong ke lantai atas diikuti Azzam.
Akala sendiri sengaja mengantar Nina ke kamar tamu selaku kamar Nina tinggal bersama Malini. Akala membiarkan Nina melangkah di depan yang mana makin lama, Akala merasa langkah Nina justru menjadi makin pelan. Nina tampak ragu.
“Kenapa?” tanya Akala dan detik itu juga, Nina berangsur menoleh sekaligus balik badan menatapnya, selain Nina yang berhenti melangkah.
“Mas, ... sebelum menikah, boleh kan, nyekar dulu ke makam orang tuaku?” tanya Nina ragu-ragu.
“Tentu!” jawab Akala tanpa ragu sambil mengangguk, menatap Nina penuh keseriusan.
“Tapi ... Mas juga ikut, ya?” lanjut Nina menjadi menatap takut Akala.
“Ya pasti ... kamu kan nikahnya sama aku. Nanti sekalian sama mamah papah, sama mbah juga. Sekalian nyekar ke makam keluargaku. Ambil hari Jumat sore paling, ya?” balas Akala meyakinkan. Di hadapannya, Nina sudah langsung tersenyum haru sekaligus mengangguk-angguk kepadanya.
“Kamu, ya. Takut terus, padahal aku enggak pernah galak ke kamu!” gemas Akala sambil mengusap-usap punggung kepala Nina yang kali ini terbungkus jilbab warna biru salem.
“Yakin Mas karena aku belum terbiasa, bukan karena hal lain dan memang karena aku minder!” jujur Nina.
Akala tersenyum geli kemudian refleks memeluk Nina. Namun, ia hanya berani melakukannya sebentar. Takut Nina trauma seperti saat Ojan yang melakukannya.