
“Nin, coba aku lihat plester demam pink dan bersayapnya. Masa iya itu soptek!” ucap Ojan yang sudah langsung mengejutkan Nina.
Nina yang baru keluar dari kamar, sudah langsung sibuk istighfar. Beruntung, ia hanya kaget tanpa ketakutan berlebihan.
“Yang ....?” lembut Akala dari dalam kamar.
“Iya Mas Akala sayang!” malah Ojan yang membalas dan itu dengan suara tak kalah lembut.
Nina yang level humornya sangat rend*ah, sudah langsung ngakak.
“Mas Ojan, ah. Bisa saja!” ujar Akala yang akhirnya menghampiri kebersamaan, terlebih malah suara mirip benc*ong yang membalasnya.
“Aku mau mastiin plester panas pink bersayap dari aku yang kata Jam-jam, soptek, Mas Akala sayang!” jelas Ojan.
Panggilan baru Ojan ke Akala, benar-benar membuat Akala bahkan Nina merasa sangat geli.
“Ini memang pembalut wanita, Mas Ojan ...,” ucap Akala yang sebenarnya belum selesai.
“Panggilnya ‘Mas Ojan tanpa sayang karena selama ini selalu kekurangan kasih sayang’ saja!” tegas Ojan masih menatap saksama pembalut berbungkus pink dan bersayap yang ia ambil dari tangan kanan Akala.
“Kan sekarang Mas Ojan sudah punya mami pap-i, Mas,” ucap Nina mengingatkan.
“Oh iya yah, Nin. Berarti hidupku ibarat empat sehat lima minum susu!” sergah Ojan.
Lagi-lagi, Nina yang sudah bisa merasa nyaman karena hubungannya dan Akala, sudah langsung bisa menahan tawa. Tawa yang benar-benar pecah ketika akhirnya Ojan mempraktikkan plester panas bersayap di kening.
“Begini, kan? Soalnya aku punya banyak banget. Secara, pink, lucu gemesin kayak aku!” ucap Ojan cepat sekaligus meminta pendapat.
Akala yang jauh lebih bisa mengontrol tawanya, berkata, “Bukan Mas. Kan ada tulisannya, kalau itu—”
“Aku enggak peduli sama tulisan, Mas Akala Sayang!” tegas Ojan memotong penjelasan Akala.
Pintu kamar Azzam yang awalnya tertutup berangsur terbuka. Azzam yang memakai koko panjang dipadukan dengan sarung, tengah menempelkan ponsel ke telinga kanan.
“Sabtu dini hari kan aku sampai, jadi sebelum itu kamu izin dulu ke ibu kos—” Setelah sempat berhenti bicara karena terlalu kaget, Azzam yang kembali melihat tragedi plester kompres sayap yang menempel di dahi Ojan.
“Jan, ih ... jangan malu-maluin kenapa! Ih, geli ih jangan gitu kamu!” protes Azzam yang sudah sampai menangis sekaligus duduk di lantai.
Tak lama kemudian, kehebohan Azzam tertawa, membuat kedua pintu kamar yang masih tertutup, berangsur terbuka. Tak beda dengan Azzam, sepasang yang dari kedua kamar tersebut jadi langsung sibuk tertawa.
Kebersamaan di sana membuat tatapan beserta tawa Nina bertemu dengan suaminya. Untuk pertama kalinya akhirnya setelah sekian lama, semenjak kepergian mamanya, ia kembali merasakan bagaimana sekaligus rasanya tertawa. Tawa yang akhirnya refleks bisa ia lakukan karena rasa nyaman yang ia rasa. Dan karena tawa sekaligus rasa nyamannya juga, Nina refleks memeluk Akala. Pelukan sebagai wujud dari rasa sayang sekaligus rasa terima kasihnya.
Untuk Mas Akala, Suami yang Allah Hadiahkan ❤️❤️❤️
Mas, maaf jika aku baru mampu mengungkapkan ini melalui tulisan, melalui surat ini. Namun, dari kebersamaan singkat kita yang membuat kita seperti sudah kenal sejak lama, aku benar-benar bahagia. Sebelumnya aku belum pernah sebahagia ini, bahkan itu ketika aku sedang bersama orang tuaku dalam formasi utuh. Karena bersama Mas, aku merasakan banyak kebahagiaan dan awalnya aku anggap mustahil.
Sederet kejutan dalam bingkisan kebahagiaan terus menerus Mas berikan. Aku sampai bingung membalasnya, tapi sebagai gantinya, kini setiap detikku selalu aku habiskan untuk mencintai Mas.
Terima kasih banyak karena selalu memberikan yang terbaik. Terima kasih banyak untuk semua kebahagiaan dan bagiku sangat mirip dengan keajaiban.
Dan jika Mas ingin tahu apa yang aku rasakan? Jawabannya, aku sangat bahagia karena Mas benar-benar membuatku nyaman. Karena Mas juga yang sudah membuatku menyingkirkan trauma itu, kemudian menggantikannya dengan kebahagiaan kita. Selanjutnya, mohon ingatkan aku, mohon arahkan aku, agar aku bisa menjadi istri yang Mas inginkan. Karena dari semua keinginan yang sangat ingin aku wujudkan, aku ingin menjadi istri yang baik untuk Mas, sekaligus menjadi satu-satunya istri yang Mas cintai.
Ini menjadi surat cinta pertama dariku untuk Mas. Namun selanjutnya, surat cinta dariku pasti akan kembali menyapa Mas sekaligus mengutarakan isi hatiku ❤️❤️❤️
“Tapi surat cinta pertama kamu buat siapa? Aku ingin tahu,” ucap Akala lembut, tapi kali ini cenderung sengau.
Akala sudah langsung membaca surat cinta pemberian Nina, di depan istrinya itu. Mereka sama-sama duduk di bibir kasur di tengah remang yang menyelimuti kamar mereka.
“Y-ya Mas ... sebelumnya, memang belum. Karena jangankan pacaran, naksir saja belum. Masa kecilku memang terbilang bahagia, mesk bahagiaku beneran dari hal-hal sederhana. Namun semenjak mamak meninggal dan bapak nikah lagi, itu menjadi awal mula masa-masa sulitku—” ucap Nina.
“Jadi, aku beneran yang pertama dapat surat cinta, kan?” sergah Akala sengaja memotong penjelasan Nina. Karena ia yakin, andai ia tetap membiarkan Nina tetap menjelaskan, istrinya pasti akan ingat banyak hal menyedihkan.
Menatap tegang cenderung takut kepada Akala, Nina mengangguk-angguk.
Akala menghela napas lega seiring senyum lepas yang mengiringi air mata bahagianya. “Sini ....” Akala sengaja menepuk-nepuk pangkuannya, tak lama setelah ia menyisihkan secarik kertas merah jambu berikut amplop berwarna senada selaku surat cinta pemberian Nina, ke meja nakas. “Makasih banget buat suratnya. Aku suka banget! Sampai nanti kita pikun, aku pastikan surat itu tetap akan aku simpan!”
Karena Nina hanya kebingungan cenderung takut, Akala yang kembali menepuk-nepuk pelan pangkuannya menggunakan tangan kanan, berkata, “Sini, duduk sini. Enggak apa-apa. Sudah beres mens juga, kan?”
Nina yang masih tegang, berangsur mengangguk-angguk, seiring ia yang memberanikan diri untuk berdiri, kemudian duduk di pangkuan Akala sesuai permintaan sekaligus tuntunan Akala. Kedua tangan Nina berpegangan pada kedua lengan Akala seiring mereka yang benar-benar berhadapan.
“Aku gugup banget, Mas!” ucap Nina agak panik sembari menatap sang suami yang sudah langsung membalasnya dengan senyuman.
“Kamu maunya gimana?” tanya Akala siap mengikuti semua keinginan sang istri. Detik itu juga, Nina langsung tersenyum pasrah dan perlahan menjadi tersipu.
“Ya sudah, aku terserah kamu saja. Kamu mau apain aku, bebas. Bebas sebebaa-bebasnya!” ucap Akala sambil mendekap pinggul Nina menggunakan kedua tangannya. Tak lama kemudian, Nina yang masih malu-malu berangsur mendekap tengkuk Akala kemudian agak menunduk dan sengaja membuat sebelah sisi wajah mereka menempel.
Setelah cukup lama membiarkan Nina memeluk tengkuknya sambil menempelkan sisi wajah mereka, Akala berkata, “Yang, kamu pengin punya anak, enggak?”
Entah kenapa, pertanyaan Akala barusan sudah langsung mengaduk-aduk perasaan Nina. Hati Nina berangsur terenyuh seiring kedua matanya yang menghangat. “Mau Mas!” ucap Nina yang menjadi berkaca-kaca menatap Akala. Detik itu juga, Akala yang menjadi berkaca-kaca, mengangguk-angguk sambil tersenyum hangat kepadanya.