Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
86 : Penuh Suka Cita


Bersama adzan magrib usai, Akala memasuki kamar dan langsung pamit mandi meski tatapan penuh senyumnya terus tertuju kepada Nina yang menatapnya dengan senyum tak kalah hangat.


“Papah mau aku siapin apa?” Nina yang sudah tidak diinfus segera menyusul.


“Enggak usah, nanti aku siapin sendiri saja. Aku mandi dulu ya, biar bisa dekat-dekat kalian. Soalnya dari luar takut bawa bakteri dan beneran enggak sehat,” ucap Akala sambil melepas setiap kancing kemeja cokelat tuanya.


Nina yang berdiri di ambang pintu, berangsur mengangguk-angguk. Ia memutuskan untuk kembali untuk menutup pintu kamar mandi, dan langsung tersenyum bahagia ketika akhirnya sang suami selesai mandi. Akala tampak begitu buru-buru mendekatinya sambil mengeringkan kepalanya.


“Kangeeeeeen, banget!” ucap Akala yang buru-buru duduk di belakang Nina yang juga langsung ia dekap erat.


Tak lama setelah itu, Akala sengaja membiarkan tangan kanannya dengan sangat takzim oleh sang istri. Kemudian ia membalasnya dengan mengec*up dalam kening Nina, dan beralih sekaligus berakhir di bibir. Namun berbeda dari biasanya, kali ini Nina buru-buru menolak.


“Ada Malini!” bisik Nina menatap sang suami penuh peringatan.


Akala sudah langsung mendelik dan tak lagi memasang wajah khas orang yang sedang protes. “Mana?”


Dalam sekejap, Akala sudah menemukan yang dimaksud tak lama setelah Nina menunjuk keberadaan Malini di sebelah ranjang bayi mereka. Malini sedang belajar di meja belajar kecil, dan sudah tersenyum ke mereka. Bocah itu juga berangsur menghampiri Akala kemudian menyalami tangan Akala menggunakan kedua tangan, dengan sangat takzim.


“Malini lagi belajar apa?” tanya Akala lembut sambil mengelus kepala Malini penuh sayang.


“Ada PR menggambar, Mas,” jawab Malini lembut.


Yang membuat hati Akala apalagi Nina terenyuh, bahkan keduanya sudah langsung berkaca-kaca, tentu lantaran di gambar yang Malini gambar, potret keluarga bahagia versi Malini adalah mereka. Di gambar yang menggunakan sebuah rumah sebagai latar belakang itu, Malini berdiri di antara Nina dan Akala. Sementara Alina dan Akina, Malini gambar di samping mereka dengan gaya khas anak-anak.


“Mbak Nina, Mas Akala, Malini, Akina dan Alina,” tulis di setiap atas gambar di sana.


Nina refleks menatap Akala dan sudah langsung ditatap haru oleh Akala yang sudah langsung menguatkannya.


“Besok penerimaan rapot, Sabtu. Kata ibu Guru, rapotnya harus diambil sama orang tuanya,” ucap Malini yang kemudian memberikan amplop cokelat berisi undangan untuk wali mudir.


Akala yang menerimanya, langsung berkata, “Besok Mas dan Mbak yang berangkat,” yakinnya yang kemudian menatap Nina. “Nanti Alina sama Akina, dititipin ke mbahnya dulu. Sabtu kan orang rumah libur kerja. Ada mas Azzam, apalagi mas Ojan pasti enggak kalah heboh. Alina dan Akina aman, ditinggal bentar.”


Mendengar itu, Nina sudah langsung tersenyum ceria. Ia segera membagikannya kepada Malini yang juga langsung tak kalah ceria darinya.


“Ya sudah, beresin tugasnya ya!” ucap Akala yang kali ini sengaja menyemangati Malini. Ia mengacak gemas ubun-ubun Malini yang seketika patuh kepadanya.


“Buat nanti saja, Pah. Sekarang, Papah mau disiapin apa?” balas Nina masih lirih sekaligus menyikapi sang suami dengan sangat manis. Namun di hadapannya, Akala yang kembali memeluknya, justru sibuk menatap kedua matanya sambil menggeleng. “Aku masih nifas loh, Pah. Enggak bakalan menawarkan diriku ke Papah.” Nina mengakhiri ucapannya dengan tertawa. Tawa yang juga sudah langsung menular kepada Akala.


“Peluk lagi dulu, sebelum peluk anak-anak!” ucap Akala yang kemudian benar-benar memeluk erat Nina.


Didekap oleh Akala layaknya sekarang, Nina benar-benar merasa tenang, damai. Berbeda saat mereka justru LDR, sementara Nina yang belum terbiasa langsung merasa kehilangan pijakan sekaligus tempatnya menyandar.


“Pah, aku juga naik kelas loh!” lirih Nina yang kali ini heboh. Ia mengabarkan kebahagiaannya yang memiliki nilai sempurna di sekolah kejar paketnya itu kepada sang suami.


Akala mengangguk-angguk. “Iya ... aku sudah tahu. Kepala sekolahmu langsung WA aku!” balas Akala dengan santainya sambil menatap sang istri penuh cinta. “Hadiahnya juga ada di dalam koper!” Kali ini ia lebih dari berbisik-bisik. Membuat Nina langsung tersipu.


Tanpa terasa, waktu berlalu dengan sangat cepat. Nina dan Akala menikmati setiap proses yang mereka lalui. Mengurus anak, menjadi pasangan sekaligus orang tua yang baik, juga berbaur dengan keluarga, mereka lalui dengan banyak suka cita. Nina merasa sangat bersyukur lantaran lingkungan barunya dan juga menjadi lingkungan tetapnya maupun Malini, benar-benar membawa pengaruh positif, sangat kontras dengan lingkungan Nina dan Malini yang sebelumnya. Bahkan karena pengaruh positif tersebut juga, setiap penerimaan rapot, Malini selalu menjadi ranking satu, layaknya Nina yang akhirnya lulus kejar paket setara SMP. Karena tanpa terasa, hampir tiga tahun telah berlalu dari kelahiran Alina dan Akina.


“Aduh ini anakku,” keluh Azzam sambil memberikan Alina kepada Akala.


“Di mana-mana yang punya anak di luar nikah kebanyakan perempuan. Nah ini, malah mempelai laki-laki!” ucap mas Aidan sengaja mengg*oda Azzam.


Azzam yang siap menjalani prosesi siraman untuk persiapan pernikahannya, langsung ngakak. “Ih Mas Aidan bisa saja ih. Aku kan memang penyayang anak-anak. Lihat, semua anak kalian lengket ke aku! Lain lagi sama si Ojan, yang penyayang janda tapi ditakuti janda!” ucapnya yang makin lepas tertawa. Tawa yang juga menular kepada mereka yang ada di sana.


Para kembar selaku anak-anak dari saudara Azzam, termasuk Akina dan Alina, tampak sangat menggemaskan dengan pakaian adat Jawa yang dikenakan, layaknya orang tua mereka. Yang laki-lak memakai beskap lengkap dengan blangkon dan bawahan jarit, sementara para perempuan memakai kebaya dipadankan dengan jarit, lengkap dengan kepala mereka yang disanggul.


Impian Azzam menikah dikawal oleh para keponakan kesayangan, benar-benar terwujud. Malahan, dari keenam keponakannya, semuanya dengan penuh sayang ikut mengguyur, memandikan Azzam di prosesi siraman, hingga kebersamaan di sana juga diwarnai banyak tingkah lucu nan menggemaskan.


“Satu yang bagi aku masih kurang. Karena dari semua keponakanku yang cowok, beneran enggak ada yang mirip aku apalagi Ojan. Lambenya enggak ada yang lemes. Lempeng semua!” ucap Azzam bersiap digendong oleh pak Kalandra karena proses guyur-mengguyur dan diiringi gendingan Jawa, sudah usai.


“Besok anak-anak Mas, pasti ada saja yang lemes. Atau malah lemes semua!” ucap ibu Arum sambil membenarkan posisi handuk di punggung Azzam.


“Hahahaha ... ya ampun Mah, enggak kebayang andai beneran gitu. Meledug rumahnya ibu Septi. Belum lagi, Ojan juga masih sering di sana. Aslilah, berasa gung berapi yang aktif-aktifnya!” heboh Azzam.


“Mas, ... Mas, ini kayaknya Papah sudah enggak kuat. Sudah, Mas saja yang gendong Papah!” keluh pak Kalandra dan lagi-lagi membuat tawa di sana pecah.


Akala dan Nina yang sampai detik ini masih memegang status sebagai pasangan paling kalem, sampai menangis karena terlalu banyak tertawa. Acara sakral yang harusnya penuh haru bahkan air mata, malah tak hentinya diwarnai tawa yang benar-benar meriah baik dari keluarga oak Kalandra, maupun hadirin sekaligus tetangga yang tengah rewang di sana.