
Di balik tahanan, Reno terdiam menyesal. Ia sungguh menyesali pertemuan sekaligus kerja samanya dengan Cinta.
“Semua ini gara-gara Cinta. Awas saja kalau dia sampai bebas hanya karena uang dan statusnya. Aku sumpahi, seumur hidupnya bakalan menderita!” lirih Reno yang detik itu juga nyaris jantungan akibat gelegar guntur dari petir yang mendadak menyambar.
Sambil menggaruk-garuk wajah, leher maupun bagian tubuh lain yang memang terkena efek ulat bulu lemparan Nina, Reno menatap takut langit-langit ruang tahanan keberadaannya. “Ini maksudnya, sumpahku langsung direstui apa gimana?” lirihnya lagi-lagi nyaris jantungan akibat petir yang kembali menyambar. Lampu sampai mati dan untung hanya berlangsung beberapa saat.
“Kalaupun Tuhan minta aku buat sabar dan enggak sampai mengutuk Cinta, ya mau bagaimana lagi. Gara-gara dia hukuman yang harus aku tanggung bakalan menggunung. Malahan aku curiga, hukuman buatku bisa lebih dari sepuluh tahun. Bayangkan kalau aku beneran dihukum lebih dari sepuluh tahun. Ini lagi ulet dari Nina, sudah berhari-hari masih saja betah bikin gat*el. Wajahku sampai penuh bentolan gini. Terus, bu*rungku juga tetap enggak mau berdiri. Ini butuh perawatan khusus ini. Masalahnya kalau aku di penjara ... sepuluh tahun lebih buru*ngku tetap enggak berdiri, ... mati suri, dong?!” kesalnya hanya mampu berkeluh kesah dengan suara lirih. Sebab teman tahanannya di sana, tak kalah kejam dari teman tahanan ibu Sulastri maupun pak Surat.
Reno juga baru tahu, di balik jeruji, seorang penjahat memiliki kas*ta. Konon, dari semua kejahatan, mereka yang dihukum karena telah memper*kosa, ibarat kasta paling re*ndah. Namun khusus untuk ibu Sulastri yang dengan sengaja membiarkan putri-putrinya diper*kosa bahkan terjadi berulang kali, juga jadi tak kalah rend*ah dari apa yang pak Surat alami. Dan menurut bisik-bisik dari setiap tahanan maupun penjaga di sana, pak Surat dan ibu Sulastri nyaris meninggal karena amu*kkan rekannya yang mengu*tuk ulah keji keduanya selaku alasan keduanya dipenjara.
Sementara itu, di ruang tahanannya, beberapa bagian tubuh ibu Sulastri maupun pak Surat mulai membu*suk. Rekan tahanan di ruangannya sampai tidak sudi satu ruangan dengannya. Karenanya, keduanya sama-sama dipindahkan. Keduanya mendapatkan perawatan meski perawatan yang keduanya dapatkan benar-benar perawatan ala kadarnya. Hanya berupa salep dan beberapa obat, tanpa infus, selain satu galon air minum karena keduanya diwajibkan banyak minum. Pak Surat dan ibu Sulastri memnag mengalami dehidrasi parah. Karena jangankan minum, membuka mulut saja, mereka susah.
Luka bakar yang pak Surat dan ibu Sulastri alami menjadi alasan keduanya merasakan sik*sa*an tiada henti. Mati belum, hidup pun sangat mengenaskan—itulah gambaran keadaan keduanya sekarang. Kendati demikian, keduanya justru menyalahkan Nina yang bagi mereka menjadi alasan mereka begitu.
“Andai Nina tidak membakar rumah, ... andai Nina tak sampai melaporkan ke polisi. Iya, setidaknya meski harus menjadi korban kebakaran, yang ada pasti itu akan menjadi perantara aku mendapat banyak bantuan sekaligus sumbangan. Selain itu, aku juga bisa hidup enak sama yayang Surat!” pikir ibu Sulastri terduduk lemah di kasur lantai lusuh tempatnya beristirahat. Bantuan kesehatan yang ia dapatkan sungguh jauh dari kata layak.
“Andai ada kenalan yang ke sini dan bisa aku minta bantuan. Atau setidaknya, andai aku kaya. Sudah aku sewa pem*b*unuh bayaran buat memperk*osa Nina, kemudian membu*nuhnya dalam keadaan telan*jang agar menjadi tontonan orang-orang! Baji*ngan memang Nina. Bisa-bisanya dia bikin aku begini!” batin pak Surat di ruang rawat berbeda meski fasilitas pengobatannya juga tak beda dengan fasilitas yang didapatkan ibu Sulastri.
Akan tetapi, semenjak di tahan di sana, baik ibu Sulastri dan ibu Surat benar-benar tidak pernah berkomunikasi. Karena jangankan bertemu, bertukar kabar lewat salam dari mulut ke mulut saja, tak pernah terjadi.
“Semua ini salah Nina. Semua ini gara-gara Nina!” lirih pak Surat maupun ibu Sulastri nyaris bersamaan. Keduanya menatap miris keadaan tubuh mereka yang membu*suk karena memnag kurang pengobatan sekaligus perawatan. Semua itu makin mengeluarkan aroma tak sedap sekaligus diserbu lalat. Mereka mulai lelah karena lalat yang diusir terus saja hinggap di luka mereka.
***
Mas Aidan ditemani sang istri, sementara Nina ditemani Akala dan ibu Arum. Sebagai wujud dari dukungan mereka kepada Nina, mereka kompak memakai atasan lengan panjang warna putih dipadukan dengan bawahan warna hitam.
“Tapi omong-omong bagaimana dengan Cinta?” tanya Arimbi sambil menatap sungkan wajah-wajah di sana. Termasuk kepada sang suami, ia juga melayangkan tatapan sama.
Kini, Mas Aidan mendadak menjadi fokus perhatian karena pria itu mereka yakini telah mengetahui kabar terbaru Cinta. “Mas belum bisa berkomentar, tapi hari ini Chalvin baru mengurusnya.”
“Cinta sehat?” tanya Nina, meski jika ingat alasan wajahnya mirip Cinta, baginya Cinta sudah mirip seorang psikopat.
Namun jika melihat gelagat mas Aidan yang terlihat gelisah sekaligus sulit tenang, Nina curiga ada yang tidak beres. Apalagi sejauh ini, Cinta tipikal nekat yang akan melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan keinginannya. Bisa jadi, Cinta juga sengaja pura-pura melukai bahkan bun*uh diri hanya untuk menghindari hukuman yang dijalani.
Tak beda dengan Nina, yang lain pun jadi menatap mas Aidan penuh tanya. Sebab mereka yakin, mas Aidan mengetahui rahasia mengenai keadaan terkini Cinta. Sesuatu yang penting telah terjadi kepada Cinta—mereka yakin itu!
“Cinta berusaha menyakiti dirinya sendiri? Atau malah, dia berusaha ... bunuh diri, Mas?” tanya Nina dengan sangat hati-hati. Sadar pertanyaannya sudah langsung mencuri perhatian, ia sengaja berkata, “Bukan bermaksud bur*uk sangka, tapi jika melihat dari apa yang sudah terjadi, aku rasa dia tipikal yang tak segan melakukan apa pun termasuk melukai dirinya sendiri. Jadi, semacam mengorbankan orang lain beneran sudah jadi hal biasa hingga akhirnya dia juga enggak sayang nyawa lagi. Demi mencari perhatian agar orang-orang iba dan menganggapnya layak diperhatikan.” Untuk pertama kalinya, Nina berbicara panjang lebar.
“Sepertinya memang begitu,” ucap ibu Arum.
“Bukan bermaksud enggak kasih dia kesempatan buat berubah, hanya saja kita menang wajib lebih hati-hati,” ucap Arimbi.
Mas Aidan menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia menatap wajah-wajah di sana yang tampak menunggunya bercerita. “Ternyata Cinta menjadi korban beg*al. Alasannya mendadak tak ada kabar karen dia jadi korban begal. Fatalnya, dua terluka parah. Bahkan wajahnya jadi susah dikenali. Aku sampai enggak tega buat ceritanya,” ucap Mas Aidan yang kemudian menunduk dalam.
“Benarkah? Namun andai memang benar, bagaimana jika Cinta sampai memanfaatkan keadaannya buat cari simpati orang-orang? Bagaimana jika Cinta sengaja menghindari hukuman dan malah bikin kacau?” pikir Nina serius.