
“Minum lagi es tehnya, istirahat bentar, baru lanjut kerja. Habis ini aku mau keluar, jadi kalau ada apa-apa, kamu bilang saja ke mamah. Mengenai beberapa orang termasuk wartawan yang datang, sudah diemin saja. Nanti aku bilang ke mereka lagi buat enggak liput-liput kamu lagi.” Akala kembali meminum es tehnya. Di hadapannya, Nina masih diam kebingungan. Lagi-lagi, Nina jadi tidak berani menatapnya. “Ada yang mau kamu tanyakan?”
Meski tak langsung merespons, Nina berangsur menggeleng sambil terus menunduk.
“Terus mengenai mas Ojan yang sampai detik ini masih teriak dan memanggil kamu istri, sudah biarin saja, mas Ojan memang gitu orangnya. Baik, mas Ojan baik banget. Tapi kalau dia sudah klik ke wanita apalagi janda, sudah mentalnya langsung jadi permen karet, makin lama makin lengket. Dibuang pun kalau enggak sengaja kesenggol langsung nempel dan susah lepasnya.” Akala berbicara sangat sabar sambil terus menatap Nina penuh keteduhan meski wanita di hadapannya hanya memberinya kepala lantaran Nina terus menunduk.
“Bahaya memang kelihatan banget kalau om Ojan memang ndableg alias pejuang mental permen karet!” batin Nina yang sebenarnya sudah makin takut kepada Ojan lantaran makin lama, cara Ojan mendekatinya memang makin agres*if bahkan nekat.
“Ada yang mau kamu tanyakan?” lagi-lagi Akala memberi Nina kesempatan untuk lebih dekat dengannya.
Berdebar-debar dada Nina seiring pikirannya yang merancang penolakan kepada Akala. Segenap jiwa ia memberanikan diri yang mana ia memang modal nekat. Tanpa sepenuhnya menatap Akala, ia berkata, “Mas Akala jangan menikah dengan saya ....”
“Namun saya maunya nikah sama kamu!” sergah Akala sambil meletakan gelas es tehnya ke meja meski kedua matanya masih fokus menatap Nina.
Nina yang mulai putus asa, berangsur menatap Akala. “Kalau saya menolak bagaimana?”
Akala buru-buru menggeleng. “Enggak apa-apa, tapi lama-lama kamu pasti luluh.” Akala sengaja ngeyel—hal yang mendadak menjadi ajian kesuksesannya dalam memperjuangkan keseriusannya kepada Nina.
Nina yang masih menatap Akala berkata, “Tapi saya enggak akan nikah! Saya sudah memutuskan untuk tidak menikah.”
“Kata siapa? Nanti kamu pasti nikah sama aku. Yang sabar saja, pelan-pelan, aku juga sabar.”
Mendengar balasan dari Akala barusan, Nina langsung bengong. Detik itu juga ia menyadari, Akala dan Ojan sama saja. Sama-sama pejuang cinta level permen karet.
“Kebanyakan minum es teh, perutku jadi kembung gini, ya. Enggak enak banget,” ucap Akala yang kali ini mengeluh. Ia berangsur berdiri.
Nina memelotot tak percaya karena ternyata Akala sudah langsung menandaskan es tehnya. “Lah ... es teh satu galon langsung Mas habisin ....”
Balasan bernada heran dari Nina membuat Akala tertawa. “Terbawa suasana, sampai enggak terasa tiba-tiba kembung. Ya sudah kamu duduk, istirahat dulu. Robot saja bisa ru*sak kalau mereka terus-menerus kerja. Apalagi manusia yang punya rasa lelah?”
“Ini beneran sesantai ini? Apa memang Mas Akala memang main lembut?” pikir Nina yang kemudian menyeruput es tehnya. Di hadapannya, Akala menerima telepon dari orang yang dipanggil Akala “Mbak Azzura”.
“Istrinya mas Excel yah, yang baik banget itu dan bikin aku bertemu mas Akala sekeluarga? Wah ... sehat-sehat yah kalian orang baik,” batin Nina refleks mendoakan Excel sekeluarga.
Yang Nina tahu, Azzura merupakan kakak Akala, sekaligus kembaran Azzam. Namun, Azzura dan Azzam bukan kembar yang wajahnya identik. Karena ketika Azzam cenderung mirip pak Kalandra, Azzura mirip ibu Arum sekaligus sedikit pak Kalandra. Dengan kata lain, Azzura ibarat perpaduan pak Kalandra dan ibu Arum, tapi dominannya ke ibu Arum.
“Mas Akala, ngobrol sama saudara perempuannya saja seasyik dan selembut itu. Memang didikan keluarga enggak pernah bohong sih. Apalagi ibaratnya, anak-anak ibu Arum dan pak Kalandra semuanya bibit unggul.” Nina yang masih berbicara dalam hati, menjadi sibuk berargumen sendiri. Sebab mendadak diajak menikah dan itu oleh bukan sembarangan orang, membuat nyawanya dicabut dengan paksa. Terlebih, Nina saja merasa jij*ik pada dirinya sendiri, mana mungkin Nina membiarkan dirinya menjadi bagian bahkan pasangan orang lain.
“Oke ... dah, waalaikum salam ... salam buat mas Excel sama keluarga yang di sana ya. He’em. Oke ... oke.” Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Akala kembali memfokuskan diri pada Nina yang masih betah menunduk di hadapannya. Malahan kini, Nina tampak melamun.
“Nin ...?”
Jantung Nina sudah langsung loncat, padahal Akala masih bersuara dengan sangat lembut.
Meski Nina belum merespons bahkan sekadar meliriknya, Akala tetap berkata, “Nanti kamu jangan merasa gimana-gimana karena keluargaku pasti jadi makin perhatian ke kamu. Dijalani saja. Terus nanti malam kita daftar online sekolah buat kamu sekalian Malini ya. Aku sudah minta formulirnya buat dikirim ke WA atau email sih.”
Mendengar itu, Nina berangsur menatap Akala di tengah perasaannya yang jadi campur aduk. “Ini, ... beneran?”
Akala mengangguk-angguk.
Nina langsung berdeham beberapa kali. “Mas Akala, ini mohon maaf banget ya. Coba, sekarang Mas Akala basuh wajah Mas. Atau kalau enggak wudu. Baca doa, kucek-kucek mata Mas. Takutnya Mas kesirep, masa iya ingin menikahi saya?”
Nina berucap sangat serius, tapi yang ada, Akala justru tertawa. Ia sampai menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut guna meredam tawanya. “Aku beneran serius. Kamu ya ....”
“Y-ya sudah aku mau balik kerja. Kasihan yang lain.” Nina benar-benar gugup.
“Hah? ‘Iya’? Jadi, jawabannya, iya?” Akala mendadak sangat bersemangat.
Namun ulah Akala justru membuat Nina gagap. “Y-bu ... ya bukan begitu Mas. Maksudnya, ya tadi itu aku pamit takut yang lain sibuk karena aku enggak bantu.” Susah payah ia menjelaskan lantaran selain jantungnya yang menjadi berdetak sangat kencang, kegugupannya juga membuat ia merasa sangat sesak. Ia harus menghela napas beberapa kali demi meredamnya.
Akala mengangguk-angguk paham. “Iya, enggak apa-apa, Nin. Pelan-pelan saja. Aku sabar, kok. Meski kalau bisa, aku maunya cepet karena di posisi kamu yang harus berjuang sendiri sementara Malini masih sekecil itu dan dia pasti belum paham, ... aku tahu, di posisi kamu enggak mudah.”
“Sebentar, Mas. Jadi, alasan Mas ingin menikahiku karena Mas kasihan dan enggak mau aku berjuang sendiri? Berarti, andai nanti ada wanita lain yang kesulitan juga, Mas juga ... meni—” Nina bertanya dengan hati-hati, tapi nyaris di akhir pertanyaannya, Akala sudah langsung menahannya.
“Aku setia, Nin! Tanya ke yang lain, ... kurang setia apa aku ke Cinta? Dari tubuhku yang awalnya selebar pintu, sampai jadi tubuh orang seperti sekarang.” Akala berucap sangat serius. “Alasanku menikahi kamu karena aku merasa cocok, memang klise, makanya ayo jalani saja!” lanjutnya.
“Ini beneran, Nin. Ini nyata!” batin Nina meyakinkan dirinya sendiri.