
Tidak ada halangan berarti, meski sesekali, Nina akan mengawasi sekitar dengan serius sekaligus membingkai wajah Akala yang ditatapnya dengan saksama. Nina selalu berusaha memastikan, bahwa laki-laki yang tengah memberinya nafkah batin, memang Akala, suaminya.
“Ada yang ingin kamu katakan?” lembut Akala di setiap Nina tampak gelisah apalagi jika kedua tangan Nina sampai membingkai, menatap wajahnya dengan saksama.
Nina menggeleng, kemudian mendekap erat tengkuk Akala, membiarkan sang suami melakukan apa yang pria itu mau dalam ‘hubungan’ pertama mereka.
“Kalau sakit, bilang,” bisik Akala lantaran saat memulai, istrinya tetap kesakitan, meski kini memang bukan yang pertama bagi Nina.
Mendengar itu, Nina sudah langsung mengangguk-angguk sambil tetap memeluk erat tengkuk Akala menggunakan kedua tangannya. Karena dalam diamnya, ia mendadak teringat masa-masa menyakitkan itu. Saat pak Surat dengan keji melakukannya kepadanya bahkan itu atas bantuan ibu Sulastri.
“Ya Allah, maafkan aku jika aku tetap tidak bisa memaafkan mereka!” batin Nina ketika paginya, ia menunaikan salat subuh berjamaah bersama keluarga besar Akala.
Hujan deras yang terus berlangsung membuat mereka menunaikan salat subuh berjamaah di rumah. Dan karena orangnya banyak terlebih Ojan saja sampai menginap, acara salat sengaja digelar di ruang keluarga.
“Ini mendadak sibuk hujan gini, pasti gara-gara Akala sama Nina, si pengantin baru!” tuding Ojan yang sudah langsung dijewer oleh Azzam.
“Sudah tua wajib sadar diri. Mereka sudah menikah, sementara situ enggak laku-laku!” ucap Azzam sengaja mengingatkan Ojan.
“Jangan jujur-jujur kenapa, Jam? Orang jujur pant*tatnya lebar tahu! Lagian masalah jodoh, kayaknya jodohku memang masih ada di alam barjah!” ucap Ojan sambil mengelus-elus telinganya yang sempat dijewer Azzam.
Nina yang akhirnya menyalami tangan Akala dengan takzim setelah sang suami menghampirinya, jadi mesem. Kemudian, ia menuntun Malini untuk salaman juga dengan Akala karena biar bagaimanapun, Akala juga menjadi pengganti orang tua untuk Malini.
“Jadi anak yang pinter, ya. Solehah,” ucap Akala benar-benar lembut kemudian merangkul Nina maupun Malini secara bersamaan.
“Jadi baper aku tuh ... nyesel aku nginep di sini!” kesal Ojan sambil memeluk Azzam.
“Astaghfirullah ...,” lirih Azzam yang jadi sibuk nyebut.
Beres salat karena masih hujan, giliran Akala yang bermalas-malasan di pangkuan Nina. Mereka menghabiskan waktu di tempat tidur yang baru saja Nina bereskan.
“Mas, hari ini ke rumah makan jam berapa? Nanti mau aku bangunin jam berapa?” lembut Nina tepat di atas wajah Akala.
“Bangunin aku sekitar pukul setengah tujuh, terus kita ‘kejar target’ bentar, habis itu baru antar Malini ke sekolah. Hari ini kamu ada ujian secara tatap muka, kan? Kita ke sekolah dulu, terus baru ke rumah makan.”
“Kita mau kejar target apa, Mas?” tanya Nina penasaran.
Detik itu juga Nina memergoki sang suami justru tertawa.
“Bikin anak!” lirih Akala di sela tawanya dan sudah langsung membuat Nina kikuk.
Waktu berlalu dengan sangat cepat. Hari ini menjadi hari peringatan pernikahan Nina dan Akala yang kelima bulan. Akala memberikan kejutan romantis dan mengajak Nina menginap di hotel.
“Bilangnya mau kondangan ke orang, tapi ternyata memang mau menginap buat acara pribadi,” keluh Nina berucap lembut cenderung merengek kepada sang suami.
Nina menggeleng. “Asli, aku enggak lupa. Aku bahkan sudah pesan kue kecil-kecilan, tapi buat nanti malam.”
“Terus, kenapa tadi gitu?” balas Akala yang kemudian meraih kedua tangan Nina. Walau tatapannya terus fokus pada kedua mata Nina, bibirnya menjadi sibuk dan tidak bisa berhenti mengec*up kedua jemari tangan Nina.
“Ya enggak nyangka saja, sampai dikasih kejutan gini. Nginep di hotel,” ucap Nina yang sudah langsung tersipu. “Terus aku dandannya kayak mau ke kondangan beneran!” Kali ini ia menertawakan dirinya sendiri diikuti juga oleh Akala.
“Aku pengin suasana berbeda,” ucap Akala yang kemudian memeluk manja Nina. Sampai detik ini bibirnya tidak bisa berhenti mengabsen sang istri melalui kecu*pan.
Nina yang sudah langsung tersipu, juga berangsur memeluk Akala. Semenjak menikah, selain Akala yang makin lembut dan selalu menjadi suami, orang tua, sekaligus sahabat yang baik, Akala memang jadi manja. Kemanjaan yang makin parah bersamaan dengan Nina yang dinyatakan positif hamil. Kini, kehamilan Nina sudah menginjak bulan ke empat, dan kenyataan tersebut makin menambah kebahagiaan Akala sekeluarga.
“Tapi, Mas ....” Nina buru-buru menatap Akala tanpa benar-benar menyudahi dekapannya.
“Apa?” lembut Akala yang sudah langsung menatap penasaran Nina.
“Ini kita mau nginep berapa lama? Kita kan enggak bawa pakaian ganti ...?” balas Nina.
“Kata siapa? Sudah aku siapkan semua. Termasuk Malini yang sudah aku titipkan ke mamah dan orang rumah, selama kita bulan madu. Jangan lupa, sejak menikah, kita benar-benar belum bulan madu!” ucap Akala lagi dan langsung dibalas tawa geli oleh Nina yang sebelumnya sempat menunjukkan reaksi syoknya.
Menginap di hotel di kawasan Cilacap selaku kabupaten tempat mereka tinggal, sengaja Akala siapkan secara matang untuk acara bulan madu mereka. Akala akan membawa Nina mengunjungi beberapa tempat wisata sekaligus pusat keramaian di sana. Karena meski sama-sama tinggal di pulau bahkan kabupaten yang sama, Akala yakin, Nina belum pernah mengunjungi tempat wisata di sana.
“Khusus hari ini, kita enggak usah mikirin orderan olshop kita, nanti kita urus belakangan. Malam saja kali ya. Sekarang kita makan dulu. Di lantai atas ada restoran keren!” sergah Akala sangat bersemangat.
Sampai detik ini, Akala memang belum berani membangun usaha baru, selain memperluas pasar online. Terlebih sejauh ini, jualan secara online yang Akala jalani jauh lebih menguntungkan. Uang yang Akala miliki, Akala investasikan untuk membeli tanah sekaligus sawah. Malahan Akala berniat jualan beras sekaligus menjadi pemasok beras untuk rumah makan keluarganya.
“Yang, kamu tahu ini tempat apa?” ucap Akala yang sudah membawa Nina jalan-jalan meninggalkan mobil mereka.
“Ini ...?” Nina berusaha mengawasi sekitar, mencoba menemukan tanda pengenal di sana.
“Orang Cilacap, enggak tahu alun-alun Cilacap!” ucap Akala sambil menahan tawanya dan langsung disusul oleh Nina.
“Ini beneran alun-alun Cilacap, Mas? Ih, iya loh Mas, aku beneran baru ke sini. Ih Mas, foto aku, Mas. Foto. Sini tasnya biar aku yang pegang, biar kayak orang-orang, gini loh, aku liburan di alun-alun!” ucap Nina sudah langsung heboh.
Menyaksikan itu yang mana kebahagiaan sang istri hadir dari hal-hal sederhana, justru membuat Akala yang mengalungkan kameranya, menjadi sedih. Akala berangsur memeluk hangat Nina. “Ya Alloh, maafkan hamba. Kelihatan banget kalau selama ini, istri hamba kurang piknik ....”
Nina kembali menahan tawanya hanya karena mendengar penyesalan sang suami yang sudah langsung meminta maaf kepadanya karena sejauh ini, mereka memang sangat jarang jalan-jalan selain di sekitar kecamatan Akala tinggal.
“Assalamualaikum ... Mbak ... Mas, tolong sumbangannya, Mas ....” Suara bergetar seorang wanita yang disertai aroma tak sedap dan sudah langsung membuat Nina apalagi Akala mual, mengusik kebersamaan di sana.
Akala dan Nina yang awalnya masih berpelukan, jadi menoleh ke sumber suara, sambil menahan mual. Seorang wanita yang menutupi kepala sekaligus sebagian wajahnya menggunakan kerudung cokelat lusuh. Wanita itu dikelilingi lalat sangat banyak.