Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
85 : LDR Pertama


Kesibukan pagi sebagai orang tua baru yang langsung memiliki dua orang anak, benar-benar membuat Nina mulai kewalahan. Ditambah lagi, Nina masih ingin memantau Malini yang baginya masih sangat butuh perhatian.


Memandikan kedua bayinya, kemudian memastikan Malini mandi dengan benar, menjadi kesibukan Nina di setiap pagi apalagi jika bukan hari libur. Tak lupa, wanita itu juga tetap menyempatkan diri menyiapkan bekal khusus untuk Malini di dapur.


“Nin, ... Nin, kamu enggak boleh gini. Kamu fokus urus anak dulu, sisanya sudah biarin saja apalagi di sini banyak orang. Urusan sarapannya Malini, nanti dibikinin sama Bibi yang kerja atau sekalian sama Mamah. Kalau apa-apa serba kamu bereskan sendiri, yang ada kamu st*res karena pasti ngerjainnya setengah mati. Pelan-pelan saja, ya. Nanti yang capek juga kamu, terus semua yang kena dampaknya khususnya Alina dan Akina.” Ibu Arum ikut panik melihat kesibukan Nina. Ditambah lagi, Nina baru dua minggu melahirkan, tapi makin hari sang menantu makin sibuk.


“Tapi, Mah ....” Nina sungguh ingin jadi ibu tangguh, meski pada kenyataannya, ia malah jadi kelelahan. Sekadar bernapas saja, Nina merasa sangat terganggu.


“Enggak, Nin. Beneran enggak. Kamu harus tetap fokus bahagia, istirahat cukup, dan pikiran pun wajib damai. Karena kunci keluarga bahagia itu istri sekaligus mamah yang bahagia. Sekarang kamu duduk, Mamah bikinin teh manis kasih jeruk nipis dikit, ya. Sudah kamu fokus istirahat. Ke Malini juga cukup cek, dibiasakan biar dia mandiri. Enggak akan ada yang kehilangan momen berharga kok. Nanti andai kamu enggak bisa kontrol, kan ada yang lain. Sama saja. Orang di sini kan keluarga semua. Andai kamu dan Akala enggak bisa antar Malini ke sekolah karena kerjaan online kalian saja sama-sama banyak, Malini bisa sama Mamah. Bisa sama mas Aidan, bahkan mas Azzam maupun papah Kala. Semuanya sayang Malini. Semuanya saling menyayangi,” ucap ibu Arum yang sungguh wanti-wanti.


“Semalam saja kamu juga enggak tidur bantu Akala urus kerjaan secara online, kan? Sudah detik ini juga, kamu istirahat ya. Fokus urus anak-anak dulu. Kamu bahkan belum mandi. Mandinya pakai air hangat ya, nanti Mamah panggilin dukun beranaknya buat pijat kamu lagi. Sekalian, pakaian baby nanti Mamah saja yang kucek. Kalau baju kamu sama Malini, sudah taruh saja di mesin biar Bibi yang urus. Khusus pakaian Alina dan Akina, untuk sementara sama Mamah saja karena Akala lagi dinas ke Jakarta.”


Subuh tiga hari yang lalu, Akala memang pergi ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan bersama Tuan Maheza. Boleh dibilang, kini menjadi dinas pertama Akala setelah Nina melahirkan. Dinas pertama yang membuat Akala tidak dampingan Nina.


“Mah ... boleh peluk, enggak?” mohon Nina yang memang sampai ngos-ngosan. Ia merasa sangat lelah, meriang.


“Ya ampun ... tentu. Sini peluk, sini.” Ibu Arum yang awalnya hendak meninggalkan Nina, segera menghampiri sang menantu. “Astaghfirullah, kamu demam, ya?”


Nina yang memeluk ibu Arum, mengangguk-angguk. “Meriang kayaknya Mah. Masuk angin.”


“Nah iya, ... kamu kecapaian, kurang tidur juga kan. Bentar minta bantuan mbak Azzura buat obati kamu ya. Gini loh, Nin. Jadi ibu memang wajib kuat, tangguh dan serba bisa. Namun tetap jaga kesehatan, jaga kebahagiaan diri dulu. Karena seperti yang Mamah katakan tadi, kunci keluarga bahagia beneran ada di kebahagiaan istri sekaligus mamah dalam keluarga itu!” yakin ibu Arum.


Iya, Nina merasakan apa itu stre*s sekaligus baby blues, semenjak ditinggal dinas Akala ke Jakarta. Ada kekhawatiran-kekhawatiran yang tak kuasa Nina hindari. Nina selalu merasa takut gagal, takut tidak bisa memberikan yang maksimal untuk keluarga kecilnya. Walau yang ada, kekhawatiran itu juga yang menjadi alasan Nina tumbang. Kini Nina harus istirahat total dan tidak bisa mengurus apa pun. Jangankan mengurus si kembar dan Malini, mengurus diri sendiri saja, ia jadi merepotkan mertua dan ipar.


Nina menjalani infus di kamar Akala. Ia benar-benar bed rest, dan hanya menjadi pengawas yang baik. Saat sore menyapa, bapak dari anak kembarnya akan datang. Azzam yang baru pulang kerja segera membantu Nina menjaga Alina. Sementara Ojan yang belum sepenuhnya jelas, juga tak kalah ketinggalan menjaga Hyojin.


“Lagi, ya?” ucap mbak Arimbi yang menyuapi Nina.


Malini yang duduk di tempat tidur, masih menjadi penonton baik sambil terus memijat kaki Nina. Sesekali, ia akan menahan tawa ketika Ojan sedang melantunkan lagu dangdut koplo untuk menghibur Akina yang Ojan panggil Hyojin.


“Mas Excel berani ambil Hyojin dari saya, berarti mamahnya Adam buat saya!” tantang Ojan.


“Kalau Rere sampai mau sama kamu, berarti mata Rere pi*cek(buta)!” sergah Azzam dan langsung membuat semua yang di kamar Nina, dan kebetulan memang sedang kumpul, tertawa.


“Kamu wajib kondangan minimal lima juta loh, Jam!” to*dong Ojan.


Mendengar itu, Azzam yang masih mondar-mandir pelan sambil menimang sang Princess, refleks menghela napas sambil menatap tak habis pikir Ojan.


“Apa?” tantang Ojan.


“Jangankan lima juta, lima puluh juta saja aku kasih, asal kamu beneran nikah sama Rere, dengan catatan, nikahnya beneran dan andai aku nikah sama Sundari, itu kalian balikinnya dengan bunga! Minimal enam puluh juta, gitu loh!” balas Azzam.


Pak Kalandra yang memangku Sabiru putra Azzura, menjadi orang yang paling kencang tertawanya.


Malamnya, Nina yang ditemani oleh ibu Arum, diam-diam mengangkat telepon suara dari Akala.


“Yang ... kamu sakit? Aku masih di Singapura, ini baru mau balik ke Jakarta bareng papah Maheza dan kak Chalvin. Besok sore aku sampai rumah, ya.” Suara lembut Akala terdengar sangat khawatir sekaligus perhatian.


“Memangnya urusan Papah sudah beres?” bisik Nina. “Aku tidur sama mamah, mamah tidur di sini nemenin aku. Jadi enggak bisa leluasa. Mamah lagi tidur dan kayaknya kecapaian,” lanjut Nina masih berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke sebelah karena di sana ada ibu Arum yang sudah lelap dan ia yakini karena memang kelelahan.


Balada orang tua baru yang harus LDR, juga Nina maupun Akala yang selalu ingin membereskan semuanya sendiri, memang sudah menjungkir balikkan hubungan mereka. Jarak dan waktu yang memisahkan, juga sederet penilaian sekaligus anggapan mengenai kriteria orang tua sekaligus pasangan yang baik—baik Nina maupun Akala mendadak merenungi kenyataan tersebut.


“Maaf karena aku enggak bisa ada bersamamu saat seperti ini. Kamu sakit tapi aku enggak ada di dekat kamu.”


“Jangan gitu lah Pah. Papah di situ pun demi kami, demi kita. Ya enggak apa-apa, sama-sama prihatin. Enggak apa-apa, serius. Malahan setelah begini, beneran kerasa banget, kesehatan sekaligus waktu kita sangat berarti. Sama-sama jaga saja ya. Kalau semuanya beres, kita juga bisa sama-sama lagi. Jangan lupa, kita termasuk orang yang sangat beruntung karena dikelilingi orang-orang baik sekaligus rezeki berlimpah.” Nina sengaja menenangkan suaminya yang ia dengar sampai menangis karena Akala merasa sangat bersalah. Meski pada kenyataannya, apa yang ia katakan juga masih menjadi bagian dari kata-kata untuknya menenangkan dirinya sendiri.