Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
87 : Kedatangan Bapak Dan Mamak Nina


Akala yang tak tega melihat sang papah kesulitan menggendong Azzam, berinisiatif mengambil alih. “Papah gendong Mamah saja,” santunnya.


“Pokoknya aku nangis kejer kalau aku enggak digendong. Yang lain saja digendong!” rengek Azzam masih mendekap punggung pak Kalandra, tapi dengan cepat, ia langsung ngakak lantaran Alina mendadak memberinya permen yupi.


“Malu, sama anak!” tegur mas Aidan mendadak ikut rempong mengurus Azzam.


Alasan pak Kalandra kewalahan menggendong Azzam, tentu karena kini tubuh Azzam tak sekurus sebelumnya. Karena setelah sibuk fitnes, tubuh Azzam menjadi berisi sekaligus berotot, dan tentu saja makin berbobot.


“Mas Akala, kamu gendong dari kiri, Mas dari kanan, kita buang ke selokan depan,” ucap mas Aidan yang tentu saja hanya bercanda. Ia sampai tertawa dan membuat kebersamaan di sana makin meriah. Terlebih sekelas Excel sampai menawarkan akan meminjam helikopter paman Lim untuk mengangkut Azzam san menjatuhkannya ke hutan yang ada Papua.


“Kalau aku malah dibuang ke hutan Papua, yang jadi mempelai pria siapa? Sekelas Ojan saja sudah laku jual!” balas Azzam heboh tertawa.


Acara siraman Azzam berjalan sangat lancar dihadiri keluarga terdekat termasuk yang dari Jakarta. Walau yang dari Jakarta memang telat datang.


“Calon penganten!” manis Chole ketika akhirnya datang dan langsung memeluk Nina.


Nina dipanggil calon penganten? Tentu karena di pernikahan Azzam besok, juga akan menjadi hari resepsi pernikahan Nina dan Akala. Karena setelah mengatur-atur waktu, mereka sepakat menggelar resepsi bersama. Meski awalnya, baik Akala maupun Nina menolak diadakan resepsi. Terlebih, tanpa harus ada resepsi, keduanya sudah merasa sangat bahagia. Bukan hanya perkara Alina dan Akina yang melengkapi kebahagiaan mereka. Sebab kenyataan rezeki yang terus mengalir menyirami pernikahan Akala dan Nina, juga menjadi kebahagiaan yang terus Nina dan Akala syukuri.


“Mas Kim ....” Alina dan Akina sudah langsung heboh menghampiri Kim putra Chole yang sudah menganggap Kim seperti kakak kandung sendiri.


“Hyojin ... Daddy mana?” tanya Helios yang mengantar Kim. Ia sengaja membungkuk demi melaraskan wajahnya dengan wajah Hyojin atau itu Akina, anak angkat Ojan.


“Daddy bilang, bentar lagi bakalan datang. Soalnya di rumah Aunty Sundari juga ada siraman. Kata Daddy, Daddy mau kasih siraman rohani!” ucap Akina dengan polosnya.


“Duh si anak tak diharapkan mau ke sini? Bakalan ada reog kalau gini ceritanya!” refleks Helios dan sudah langsung ditertawakan oleh Nina maupun Chole.


“Si Hyojin ngomongnya lancar banget, ya?” ucap Chole sengaja memuji.


“Yang didik saja Oh Jan!” sergah Helios dan langsung menambah tawa Nina apalagi Chole.


“Papiii Helliooossss, Mammiiii Chooolleeee!” seru Ojan akhirnya datang.


“Dadddyy sudah datang!” heboh Akina yang sudah langsung menghampiri Ojan.


Ojan yang apa-apa serba heboh, langsung mengemban Akina penuh sayang. Ojan juga langsung menyalami Chole maupun Helios. Tentunya karena Ojan nyaris asal nyosor ke pipi Chole.


“Hyojin sayang sudah minta ampau belum ke Oma Opa? Ampau itu uang alias duit alias monke*ey!” jelas Ojan dan langsung membuat yang di sana heboh karena ucapan terakhirnya.


“Monke*y, kan?” yakinnya memastikan.


“Yang monke*y itu kamu!” semprot Azzam masih memakai pakaian siraman.


Namun dengan santainya, Ojan yang menjadi cengar-cengir setelah melihat penampilan terbaru Azzam yang mana calon suami Sundari itu tampak sangat gagah sekaligus segar, berkata, “Eh, Jam. Kamu gitu mirip penganten sunat. Apa kamu baru sunat juga, ya? Hahahah!”


Jadi, meski di sana tidak ada hiburan lenong, reog atau srimulat, adanya Azzam dan Ojan sudah sangat membuat suasana heboh sekaligus meriah.


“Apa kabar, Mas?” sapa Akala bergabung ke kebersamaan. Ia sudah langsung menyalami tangan Helios, mengajaknya makan di prasmanan yang sudah disediakan dan kebetulan tidak terlalu jauh dari mereka.


“Ini sebenarnya statusku apa, ya? Masa iya aku jadi opanya Akina dan Alina?” keluh Helios sambil duduk di kursi yang Akala sediakan. Ia duduk di sebelah Akala, sementara Chole duduk di sebelah Nina bersama anak-anak.


Mendengar keluh kesah Helios, Akala tidak bisa untuk tidak tertawa. “Mas Ojan meru*sak silsilah keluarga.”


“Nah iya ... Yang, kita sudah punya cucu!” ucap Helios yang kemudian tertawa pasrah sambil menatap sang istri yang duduk persis di hadapannya. Mereka masih satu meja, dan sudah langsung makin ramai karena kehadiran keluarga lain termasuk itu orang tua mereka.


Momen kebersamaan besar layaknya sekarang memang akan mempersatukan mereka di tengah waktu dan jarak yang selalu menjadi alasan mereka tak bisa melakukan. Acara besar, baik itu hajatan atau malah sakit bahkan kematian, biasanya menjadi alasan utama kebersamaan terjadi. Karena ketiga hal tersebut juga, mereka baru akan bersama terlebih mereka memiliki kesibukan sekaligus tanggung jawab yang tidak bisa sembarang ditinggalkan.


Hanya saja, Nina juga tak menyangka, jika di tengah keramaian sekaligus kebahagiaan di sana, ia melihat kedua orang tuanya datang. Keduanya memakai seragam keluarga warna putih gading. Mamak Nina menyanggul rambutnya, sementara sang bapak memakai belangkon. Keduanya dengan tubuh yang memancarkan cahaya tak hentinya tersenyum kepada Nina. Keduanya seolah ingin menegaskan bahwa mereka juga bahagia atas kebahagiaan yang Nina sekeluarga rasakan.


“Mak, ... Pak. Aku yakin, kebahagiaan ini juga bagian dari harapan sekaligus doa-doa terbaik kalian. Bahagia selalu ya, Mamak sama Bapak. Bismillah, Surga akan menjadi tempat paling indah buat kalian! Alhamdullilah, sekarang aku sebahagia ini. Beneran enggak kekurangan apa pun!” batin Nina. Sampai detik ini, Nina masih merasa dunianya berputar lebih lambat. Senyum dan setiap langkah kedua orang tuanya tak ubahnya adegan slow motion layaknya acara yang menghiasi layar kaca. Lebih membahagiakannya lagi keduanya sungguh menghampiri Nina. Namun ketika Nina membuka mata, ia malah ada di dalam kamarnya.


“Yang, ... tadi kamu tiba-tiba pingsan!” sergah Akala yang kebetulan baru datang sambil membawa nampan berisi segelas teh.


Nina yang berangsur duduk, kebingungan mengawasi suasana. Ia bahkan sudah tak memakai jilbab, tapi kehadiran orang tuanya yang memancarkan cahaya dan tak hentinya tersenyum kepadanya, terasa sangat nyata.


“Yang, ... katakan sesuatu,” cemas Akala sangat lembut. Ia duduk kemudian mendekap Nina yang tampak linglung, selain Nina yang malah tersedu-sedu. “Yang ....”


“Tadi aku lihat mamak sama bapak, Mas. Nyata banget!” lirih Nina sambil tetap meringkuk di dekapan sang suami.


“Subhanallah ... tapi tadi mas Helios memang bilang, ada bapak-bapak sama ibu-ibu yang rangkul kamu, terus kamu tiba-tiba jatuh pingsan,” balas Akala.


Mendengar itu, Nina makin yakin, bahwa yang ia lihat di acara setelah siraman dan itu kehadiran orang tuanya yang terus tersenyum bahagia, memang nyata! Keduanya sungguh ingin mengabarkan kebahagiaan mereka, setelah sekian lama.


“Apa karena kita habis bikin nisan mereka, dikirim doa-doa juga yah, Mas?” sergah Nina. Karena tepat hari kemarin, ia dan Akala memang baru mengurus makam kedua orang tua Nina.


“Bisa jadi, terlebih doa selalu jadi penghubung paling kuat kita dengan Tuhan kita!” balas Akala yang turut bahagia atas kebahagiaan yang tengah sang istri rasa.


“Terus, ... anak-anak ke mana?” sergah Nina langsung teringat anak-anaknya.


“Di depan. Itu Mas Ojan lagi mal*ak yang dari Jakarta buat kasih ampau ke anak-anak!” lanjut Akala yang kali ini berakhir tertawa. Tawa yang juga sudah langsung menular ke Nina.


****


BTWWWWW, NOVEL INI JADI JUARA SATU LOMBA NOVEL PEMBALASAN ISTRI, YAAAAAA. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🌟🌟🌟🌟🌟