Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
57 : Semuanya Baik-Baik Saja, Nin!


Di ruang kerjanya, Akala yang baru saja menyalakan laptop di meja kerjanya, sudah mengernyit karena mendengar suara gaduh di luar. Suara histeris dari seorang wanita dan Akala kenali sebagai suara Nina.


“Itu beneran suaranya Nina ... tapi masa iya? Apa gara-gara mas Ojan?” Meski tidak begitu yakin, Akala yang tak mau menanggung risiko, memilih untuk memastikan. Ia sudah ada di depan pintu dan siap membukanya ketika seseorang mengetuknya dengan sangat buru-buru dari luar. Tak biasanya itu terjadi jika bukan karena hal yang fatal sekaligus mendesak.


“Mas, ini Ami.”


Tanpa menjawab, Akala sudah langsung membuka pintu. Ia dapati, wanita berusia sekitar di pertengahan dua puluh tahun yang sudah menunggunya penuh kecemasan.


“Si Nina histeris ketakutan, gara-gara digangguin mas Ojan—”


Akala yakin sebenarnya Ami belum sepenuhnya selesai bicara. Hanya saja, kedua kakinya sudah langsung lari. Terlebih memang seperti yang ia khawatirkan, suara tadi dan sudah langsung ia kenali sebagai suara Nina, hadir karena hal fatal yang sepertinya memang sudah terjadi. Yang mana ketika ia sampai lantai bawah, ia sudah mendapati di depan pintu masuk, Nina menekuk tubuh layaknya udang rebus. Tubuh Nina gemetaran hebat, sementara seorang wanita bercadar sudah nyaris memeluknya. Namun, dengan cepat Akala mengambil alih.


“Nin, tenang Nin. Ini aku, enggak ada yang bisa melukai kamu lagi karena aku ada di sini. Semuanya baik-baik saja. Kamu enggak usah takut. Tadi itu Pak Gede Ojan. Enggak ada siapa pun yang perlu kamu takuti karena semuanya sayang kamu. Dengerin aku! Dengerin aku karena semuanya sungguh baik-baik saja!” lirih Akala susah ayah menenangkan Nina. Ia membingkai wajah Nina dan memaksa Nina menatapnya. Namun, Nina terus histeris dan tak kunjung mau membuka matanya sambil terus menggeleng.


“Ini aku, Nin. Ini aku ...!” Akala kembali memeluk Nina erat. Pelukan yang makin lama makin erat tapi Nina tetap bertahan dengan ketakutan dan juga tangis histerisnya.


Akala yang bingung harus berbuat apa, sengaja meminta bantuan mbak Rani untuk menggantikannya memeluk Nina. Karena samai detik ini Akala belum tahu, apa yang bisa membuat Nina merasa lebih baik jika wanita itu sedang ingat hal-hal yang membuatnya trauma. Hal-hal yang Akala yakini menjadi bagian dari kebiad*ab*an pak Surat dan ibu Sulastri.


Dipeluk mbak Rani, Nina tetap belum bisa tenang. Hampir semua pengunjung di sana termasuk yang baru datang, sudah langsung menjadikan keadaan Nina sebagai fokus perhatian.


“Coba sini, ... Akala, tolong ambilin minum. Air putih, sambil dibacakan doa!” ucap wanita bercadar yang ternyata Chole.


Akala yang sempat kalut karena keadaan Nina, sampai tidak mengenali adik dari Cinta itu. Segera ia mengangguk-angguk kemudian lari ke dalam. Sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan apa yang terjadi, ia mendapati Chole sudah langsung mengambil alih Nina dari mbak Rani.


“Mas, coba bantu doa-doa, Mas kan lebih ngerti. Dia pasti terlalu kalut dan sampai enggak bisa membedakan antara kenyataan atau halusinasi,” ucap Chole lembut sambil memeluk sekaligus mengelus kepala Nina penuh sayang.


Ketika akhirnya Akala kembali, Nina sungguh sudah tak histeris lagi. Akala juga memergoki pria yang Chole panggil “Mas” dan ia curigai justru Helios, baru saja berdiri. Tadi, pria itu ia dapati komat-kamit di atas ubun-ubun Nina. Dan ketika akhirnya tatapan mereka bertemu, dunia Akala seolah berputar lebih lambat. Kenyataan yang terjadi lantaran Akala ingat, di masa lalu, mereka pernah berebut Cinta. Meski pada akhirnya, mereka justru menjalani kisah lain dan tak lagi menjadikan Cinta sebagai bagian dari mereka lagi.


Dalam dekapan Chole yang sampai duduk di lantai, Nina tak ubahnya bayi yang begitu haus kasih sayang. Akala sengaja duduk sila di hadapannya kemudian menunduk, memperlakukan wanita itu layaknya bayi. Ia mengusap penuh sayang wajah sekaligus ubun-ubun Nina. Tak lupa, ia juga mengangsurkan segelas air putih yang ia bawa. Bukannya menerima, Nina yang menatapnya penuh luka justru berlinang air mata.


Akala yang merasa sesak luar biasa karena menyaksikan kenyataan tersebut, sengaja menggunakan jemarinya yang bebas untuk menyeka setiap air mata yang lolos dari kedua sudut mata Nina.


Melihat interaksi menyedihkan antara Nina dan Akala, Chole tidak bisa untuk tidak menangis. “Kok sesakit ini, ya?” batinnya yang juga merasa sesak luar biasa. Terlebih jika ia ingat saat-saat Nina ketika sedang histeris. Hatinya remuk redam, meski awalnya ia berpikir, Nina hanya pura-pura. Chole merasakan kesedihan seorang ibu yang akan merasa sangat terluka di saat buah hati atau itu anaknya terluka.


“Brokoli sayang, kamu jangan nangis gitu dong. Aku jadi ikut sedih,” lembut Ojan yang diam-diam kembali dari depan setelah meloloskan diri dari dekapan kedua mafia Helios. Keduanya sedang sibuk mual karena tadi Ojan kentuti beberapa kali.


“Sedih banget, Mas,” isak Chole yang mau-mau saja dipeluk Ojan.


Kedua mata Helios termasuk mata kanannya yang sudah tidak berfungsi, menyaksikan semua itu. Dalam sekejap ia berhasil melempar tubuh Ojan keluar. Akan tetapi, ulahnya itu justru membuat Chole meraung-raung memarahinya.


“Mas Suami Sayang, jangan galak-galak ke Mas Ojan. Kami bestie, Mas!” rengek Chole. “Sudah, tolongin. Toh kalau aku yang tolongin, Mas pasti makin cemburu!”


“Brokoli sayangggg, aku mau pura-pura pingsan!” seru Ojan dari depan sana dan buru-buru tiduran lagi, padahal sebelumnya, sebelum Chole menegur Helios dan memintanya menolong Ojan, Ojan sudah sempat duduk.


“Tuh, lihat. Cuma pura-pura pingsan! Orang kayak dia memang punya banyak nyawa. Mau dibesengek pun pasti masih punya banyak stok nyawa tambahan!” yakin Helios.


Balasan Helios membuat Chole tak bisa berkomentar. Ia yang tetap khawatir pada Ojan bermaksud memastikan, tapi Helios buru-buru menahan sebelah tangannya, dan bahkan memeluknya erat. Jurus ampuh agar Chole tidak meninggalkan Helios.


“Jan Ojan ... Jannnnnn, ada wanita bercadar pink naik moge, Jan! Wanita suci kekinian ini, Jan!” teriak seorang pria heboh.


“Hah? Yang bener, Jam? Tapi kok sinyal jandaku enggak mendeteksi, ya?” Ojan langsung semringah bahkan loncat, tak lagi pura-pura pingsan. Ia dapati, Azzam yang baru keluar dari mobil Akala kemudian menunjuk-nunjuk wanita bercadar pink yang dimaksud.


“Kalau sinyal janda kamu enggak berfungsi, berarti dia masih perawan, Jan! Curiga aku itu jodoh kamu!” Azzam makin heboh lantaran yakin, hadirnya si wanita bercadar pink, akan menjadi hiburan tersendiri andai Ojan yang mengurus.


“Cihuuuuuuuyyyy, wanita suciiiiiiiiiii!” heboh Ojan sudah langsung lari mengejar wanita bercadar pink yang tak lain merupakan Jay.


Chole dan Helios sudah langsung bertatapan serius.


“Coba Mas, bener enggak itu Jay!” bisik Chole.


Lain dengan Akala. Ia yang masih memeluk Nina sambil duduk sila sudah langsung lemas menahan tawa gara-gara kelakuan Ojan yang sangat demen pada wanita bercadar. Apalagi yang sekarang, wanita bercadarnya malah serba pink!