
“Sakit hati terlalu biasa buat aku, Zam. Apaan, sakit hati sudah ibarat jadi camilan. Ibarat sayur tanpa garam. Beneran deh, sehari enggak sakit hati, hidupku terasa ada yang kurang. Malah andai sehari saja aku enggak sakit hati, aku sampai takut,” ucap Sepri.
“Jangan-jangan, bakalan ada kiamat sugro, yah, Pri?” sela Ojan dengan santainya mirip orang waras.
Azzam yang langsung tertawa pun berkata, “Kiamat sugro sih jelas akan selalu bersama Sepri selagi kamu mirip orang waras!”
“Lah, memangnya sejak kapan aku waras?” balas Ojan ngegas, tapi lagi-lagi membuat semuanya menertawakannya. “Eh, aku salah ngomong ... maksudku, sejak kapan aku kurang waras? Aku begini karena aku terlalu kesepian. Merindukan janda yang entah ada di mana.”
“Bukan ‘entah di mana’, tapi ada di mana-mana. Karena setiap ada janda, kamu pasti rusuh. Apalagi kan kamu bisa mencium sinyal janda!” omel Azzam.
“Eeemme ... itulah keistimewaanku, Zam. Punya ajian janda, hahahaha!” balas Ojan dengan santainya.
Lain dengan Sepri yang bukannya terhibur malah makin tersiksa karena ketika ia membuka mulutnya berlebihan efek refleks tertawa, yang ada rasa sakit efek sakit giginya, makin bertambah.
Dari kebersamaan kini, Nina menyimpulkan, sebenarnya Ojan waras, tapi memang butuh perhatian lebih dari pasangan.
“Tapi bener, yah, Pri. Meski Suci memilih balik lagi ke suaminya karena Binar sakit-sakitan enggak bisa jauh dari papahnya, Nina tetap istri aku!” ucap pak Haji Ojan.
Nina langsung mendelik syok kemudian melirik Akala. Terlebih dari semuanya, Ojan tampak paling berumur. Andai disandingkan dengan Nina pun, yang ada mirip bapak dan anak. Bukan bermaksud menilai seseorang dari fisik, tapi Nina memang takut pada tipikal laki-laki agre*sif seperti Ojan. Ditambah lagi, Nina masih sangat trauma dan memang tidak ada niat menjalin hubungan apalagi menikah.
“Enggak usah khawatir, Pri. Jodoh enggak akan keluar hati apalagi keluar kota, kalau kata Ojan. Sekarang mungkin Suci memang terancam rujuk, tapi kalau memang dia jodohmu,” ucap Azzam berusaha memberi Sepri semangat.
“Pasti Suci jadi janda dan dia nikahnya sama aku!” yakin Ojan memotong ucapan Azzam.
Azzam yang gemas, sengaja meno*yor kepala Ojan yang duduk persis di sebelahnya.
“Enggak apa-apa, Mas Sepri. Yang sabar saja, kalau jodoh pasti dipersatukan, enggak hanya bertamu. Apalagi sejauh ini, orang baik selalu disatukan dengan orang baik,” ucap ibu Arum yang duduk di sebelah Malini.
Nina tahu, ibu Arum sedang menasihati sekaligus memberi Sepri semangat. Hanya saja, ia terusik pada definisi orang baik yang ibu Arum maksud. Seperti apa orang baik yang ibu Arum maksud? Apakah itu orang yang memiliki kehidupan lurus, dalam artian orang tersebut selalu melakukan hal baik dan tak pernah melakukan kejahatan apalagi membuat onar? Namun, bagaimana dengan Nina? Apakah Nina termasuk dalam golongan orang baik juga? Karena meski selama ini Nina selalu menjadi pribadi yang baik bahkan kebaikan sempat membuat Nina menjadi anak sangat penurut, Nina pernah menjadi korban pelec*ehan se*k*sual dan itu berlangsung lama hingga Nina hamil di luar pernikahan walau janin itu gugur.
“Berarti aku bukan orang baik apalagi masa laluku benar-benar suram. Semoga setelah ini, aku bisa jadi orang yang lebih baik lagi,” batin Nina yang merasa kedua matanya sudah langsung berembun hanya karena ia merenungi keadaannya. Kemudian, ia segera mencatat pesanan Sepri, Ojan, Azzam, dan juga ibu Arum yang sampai memesankan untuk Malini.
“Dek, yang pinter, yah! Mbak kerja dulu!” bisik Nina kepada Malini. Karena meski jarak mereka sedang agak jauh, sang adik sudah langsung menyimak gerak bibirnya hingga dengan segera, Malini mengangguk-angguk paham.
Nina sudah langsung ke belakang, mengabarkan setiap pesanan yang mana ia ditugasi membuat setiap minumannya. Termasuk juga jus alpukat dan juga jus jambu merah pesanan Sepri. Efek sedang sakit gigi, pria itu pesan dua gelas jus sekaligus.
“Lihat resepnya itu di meja yah, Nin. Gampang kok!” ucap Mbak Rani yang menjadi kepala dapur di sana.
“Iya, Mbak! Bismillah. Nanti kalau aku kurang paham, aku pasti tanya. Maaf juga kalau aku bawel,” balas Nina. Dikata Akala, mbak Rani juga sudah seperti keluarga Akala. Walau jika Nina amati, Akala dan keluarga pria itu memang baik keada siapa pun, hingga semuanya serba rasa keluarga. Karena jangankan kepada karyawan, kepada Nina dan Malini saja, Akala sekeluarga sangat baik.
“Dek, si Chalvin enggak ke sini? Dia masih di sini, kan? Apa sudah ke Jakarta? Terus si Cinta gimana? Asli aku pusing, padahal aku hanya ‘nyawang’,” tanya Azzam kepada Akala yang akhirnya duduk bergabung dengan mereka.
“Kalau masih di sini, tapi enggak ke sini, terus dia makan apa?” lirih Sepri ikut berkomentar.
“Makan hati, ...!” ucap Ojan bersemangat. Namun setelah semuanya kompak menatapnya, ia langsung tertawa sambil berkata, “Makan paling praktis tanpa mengunyah apalagi menelan, kan?”
“Bentar coba, Mamah telepon,” ucap ibu Arum segera mengeluarkan ponselnya dari tas yang ia simpan di sebelah tempat duduknya.
“Kemarin kak Chalvin sempat hubungi aku, tanya kabar Cinta, tapi ini belum kasih kabar lagi sih. Aku pun enggak bisa hubungin nomor Cinta. Nomornya enggak aktif,” ucap Akala.
“Cinta ya ... enggak kasihan apa sama keluarganya Tuan Maheza. Kakaknya saja sudah begitu, eh dia lebih parah. Semoga cepat dapat hidayah lah,” ucap Sepri yang walau sakit gigi, tetap mengutarakan unek-uneknya pada ulah Cinta yang jujur saja sudah bikin dirinya geregetan.
“Enggak ada kabar, ya? Dia pergi ke Jakarta, apa bagaimana? Jadi buronan, dong? Ini nomornya enggak aktif karena dia sengaja menghindar, apa bagaimana? Lah polisi bagaimana urusnya? Si Cinta jadi diurus, enggak sih?” Azzam benar-benar penasaran.
Akala menggeleng. “Hari ini jadi batas akhir tunggu. Karena kalau Cinta tetap enggak menyerahkan diri, otomatis polisi bakalan samperin dia.”
“Berarti kalau enggak ketemu, otomatis jadi buro*nan, ya?” tanya Azzam dan Akala sudah langsung tidak bisa menjawab, selain ibu Arum yang kemudian mengeluhkan kalau nomor ponsel Chalvin sulit dihubungi. Tidak aktif.
“Bentar, aku lacak sinyal terakhir ponsel mereka,” ucap Azzam bersemangat.
Ojan langsung kepo melongok layar ponsel Azzam. “Pri, aku beliin yang gini dong, jangan yang lator-lator dan kalau dipencet cuma keluar angka!” protesnya.
Azzam yang tahu tragedi lator-lator Ojan dan Sepri langsung ngakak. Karena sejauh ini, Ojan yang sudah dua atau tiga kali kehilangan ponsel mahalnya yang malah diberikan kepada setiap wanita yang didekati, membuat Sepri nekat memberi Ojan kalkulator, bukan ponsel lagi.
“Ngapain aku beliin kamu hape mahal-mahal kalau akhirnya cuma kamu kasih ke orang, terus habis itu kamu minta dibeliin lagi. Dikiranya aku pabrik duit!” semprot Sepri sambil mengelus-elus pipi.
“Jual sapi satu bisa dapat banyak hape, Pri!” protes Ojan.
“Aku lempar kamu ke kolam ikan kalau kamu sampai berani jual sapi. Biar kamu dimakan dumbo!” semprot Sepri lagi lebih emosi.
“Pri, takut ih! Kumis mereka lebih panjang dari kumis aku!” rengek Ojan, tapi yang lain langsung menertawakannya.
Malamnya ketika akan pulang, Nina yang kembali pulang dengan Akala dikejutkan dengan sebuah amplop putih bertuliskan ‘Gaji Pertama Nina’.
“Ini punya kamu. Untuk sementara aku bayar kamu harian saja karena aku yakin, kamu sedang butuh banyak dana.”
Mendengar apa yang baru saja Akala katanya, perasaan Nina sudah langsung campur aduk. Nina merasa sangat bahagia dan tak lupa mensyukuri semua itu.
“Jam kerja kan dari pukul lima pagi sampai sembilan atau sepuluh malam. Setiap minggunya akan ada jatah libur, gantian dengan yang lain dan nantinya akan diberi jadwal. Melihat kamu yang enggak bisa diam, aku yakin kamu akan lebih senang jika dikasih pekerjaan tambahan. Berhubung di pabrik yang mas Azzam urus juga menerima pekerjaan mandiri di rumah, kamu bisa ikut ambil pekerjaan itu kalau kamu mau,” ucap Akala dan makin membuat Nina bersemangat untuk segera mendapatkan pekerjaan tambahannya.