Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
58 : 4 Menit 47 Detik


Satu yang Nina rasa setelah apa yang terjadi karena Ojan terus mengejarnya, malu! Iya, Nina merasa sangat malu apalagi sadar tidaknya mereka, cara mereka menatap atau sekadar melirik Nina, seolah mengungkit-ungkit apa yang Nina alami.


“Kok aku begini banget, ya?” pikir Nina. Ia bingung sebingung-bingungnya. Namun ia bertahan mencuci semua gerabah di wastafel bahkan meski Akala melarangnya.


“Istirahatlah di ruanganku. Nanti jam istirahat, kita baru pulang. Soalnya andai aku titip kamu ke mamah, kamu pasti juga enggak mau, kan?” lirih Akala.


“Aku baik-baik saja, Mas.” Nina yang berucap saja masih berat, tetap tidak mau istirahat.


“Ya sudah, aku juga mau bantu cuci-cuci,” ucap Akala yang kemudian menyingsing lengan kemeja putihnya hingga siku.


“Mas Akala ...?” lirih Nina yang kemudian menghela napas dalam. Ia menatap tak habis pikir Akala yang begitu telaten sekaligus sabar menghadapinya.


“Apa?” balas Akala lebih lembut dari biasanya.


“Jangan ikut-ikutan. Sudah sana Mas kerjain kerjaan Mas,” lirih Nina benar-benar memohon. Kedua tangannya sudah sampai berhenti menyabun setiap gerabah di wastafel, tapi kedua tangan Akala justru mulai membilas setiap gerabah yang ia sabun.


“Mas Akala ih ....”


“Apa ...? Sudah sabun-sabun, beres urus ini, kita pulang?”


“Enggak nunggu malam?”


“Enggak, kamu saja enggak baik-baik saja.”


“Mas ih ....”


“Apa ...? Boleh peluk bentar, enggak?”


Sebenarnya Nina belum memberi izin, tapi Akala tetap memeluk Nina dari samping dan hanya beberapa saat. Pelukan yang jujur saja membuat Nina merasakan ketenangan meski hanya sesaat. Karena ketenangan itu hanya hadir ketika pelukan masih berlangsung.


Setelah lima belas menit berlalu, Nina baru berani berkata, “Mas, ....”


“Apa ...?” Akala masih membilas setiap piring dan mangkuk yang Nina sabun karena gerabah yang awalnya berjejer di lantai dan menumpuk, sudah beres mereka cuci.


“Aku boleh jujur, enggak?” lanjut Nina.


“Tentu ...,” lirih Akala yang kemudian kembali memeluk Nina. Ia melakukannya lantaran wajah Nina terlihat sangat sedih bahkan bingung. Bahkan meski di sana ada dua pekerja lain yang sedang memasak sekaligus menyiakan hidangan di nampan. Akala tidak peduli. Toh, niatnya kepada Nina serius.


“Jujur, kejadian tadi bikin aku malu banget,” ucap Nina dan terus terngiang di benak Akala bahkan meski mereka akhirnya sampai rumah.


“Pulang awal?” tanya mas Aidan sambil menuntun sang istri masuk rumah.


Akala berpapasan dengan mas Aidan tak lama setelah ia mengantar Nina hingga kamar. “Nina ... dia trauma. Gara-gara dikejar mas Ojan.”


Mas Aidan yang awalnya terus melangkah, refleks berhenti dan segera menyikapi Akala dengan serius. Begitupun dengan sang istri, padahal awalnya keduanya sudah akan langsung menaiki anak tangga.


“Gimana, sih?” tanya mas Aidan.


Akala menghela napas dalam kemudian menghampiri sang kakak. Sambil melangkah pelan menaiki anak tangga, mereka mengobrol lirih membahas apa yang terjadi pada Nina, hari ini.


“Trauma semacam itu sepertinya memang akan sulit hilang. Kamu ya yang sabar yah, Mas,” ucap mbak Arimbi.


Akala mengangguk-angguk. “Iya, Mbak. Paling nanti aku cari cara biar mas Ojan enggak terus-menerus mepet Nina.”


Mas Aidan menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia menepuk-nepuk punggung Akala kemudian berkata, “Orang tua Reno bakalan dapat hukuman kurungan 3-6 bulan tergantung sikap mereka. Kalau mereka masih rusuh, nanti Mas yang maju.”


“Kabar yang lain gimana, Mas?” sergah Akala yang jujur saja penasaran dengan kabar terbaru Cinta. Akankah Cinta mendapatkan hidayah dan mau menjadi orang lebih baik lagi?


“Oh, mengenai pernikahan Reno dan Nina, itu juga sudah Mas urus dari kemarin sudah langsung beres. Tinggal nunggu sertifikatnya. Biar kalau orang tua Reno maupun pihak lain rusuh, cukup bungkam pakai tu sertifikat. Status Nina juga bukan istri Reno karena Nina kan korban perdagangan m*anusia. Pas nikah pun dalam keadaan tak sadar, dipaksa. Jadi Mas bikin pernikahan mereka enggak pernah ada,” lanjut mas Aidan.


“Jadi jatuhnya pembatalan pernikahan, ya, Mas?” sergah Akala dan sudah langsung mendapat anggukan pembenaran dari mas Aidan. “Harusnya semuanya sudah baik-baik saja. Tinggal bagaimana aku meyakinkan Nina,” batin Akala yang kemudian tersenyum lega. “Makasih banyak, Mas!”


“Sama-sama, Dek!” sergah mas Aidan sambil menepuk-nepuk punggung Akala.


“Mas, ... sekali-kali Nina diajak kencan dong, jangan kerja terus,” protes mbak Arimbi dan sudah langsung membuat Akala salah tingkah.


“Nah iya, bener itu!” sergah mas Aidan bersemangat bertepatan dengan mereka yang akhirnya sampai di lantai atas.


“Mas juga jangan hanya iya bener, iya bener. Ayo kita sekalian kencan juga!” rengek mbak Arimbi dan ditanggapi tawa oleh Akala.


Akala berangsur melipir masuk ke kamarnya. “Jalan-jalan? Kira-kira Nina pengin ke mana, ya?” pikir Akala sambil melangkah memasuki kamarnya.


Mas Akala : Nin, besok jalan-jalan, yuk?


Mas Akala : Kencan ❤️


Pesan pertama saja sudah langsung membuat Nina deg-degan, eh pesan kedua segamblang itu.


“Kencan?” pikir Nina terduduk lemas di pinggir temat tidur, sementara di sebelahnya ada Malini yang sedang mewarnai buku mewarnai.


Malini tersenyum ceria menatap Nina dan dibalas senyum haru oleh Nina. “Belajarnya yang pintar, ya ...,” ucap Nina sambil mengelus penuh sayang, kepala Malini.


Mas Akala : Jawab ih jangan hanya dibaca 🥲


Pesan terbaru dari Akala sudah langsung membuat Nina kalang kabut.


Nina : Iya, Mas.


Akala sudah langsung mengetik balasan.


Mas Akala : Kamu maunya ke mana?


Nina : Aku enggak tahu. Terserah Mas saja. Memangnya, kita enggak kerja?


Mas Akala : Kerjanya libur dulu. Besok setelah Malini pulang sekolah, kita berangkat. Besok kita bikin bekal buat satu kali makan. Nah, pas makan siang apa sorenya, kita sekalian wisata kuliner.


Mas Akala : Gimana?


Membaca pesan dari Akala saja, Nina refleks tersenyum hangat. Rasa hangat yang tak hanya menyelimuti hati Nina, tapi juga sekujur tubuh Nina.


Nina : Iya, Mas.


Mas Akala : Mau ajak papah mamah juga?


Nina : Malu


Nina : Tapi enggak apa-apa sih. Kayaknya 😅😅


Mas Akala : Enggak jadi, enggak jadi. Nanti yang ada kita gagal romantis.


Nina : Ih, kok gitu?


Mas Akala : Iya. Lagian papah juga wajib kerja 😅


Nina : 😅😅😅


Mas Akala : Simsalabim, tiba-tiba sudah besok 🥳🥳🥳😂


Nina : 😂😂😂😂


Mas Akala : Ya sudah, selamat istirahat, ya ❤️


Nina : Iya, Mas. Mas juga istirahat, ya.


Mas Akala : Kirim aku hati dulu, baru aku mau istirahat.


Nina : Hati ...?


Mas Akala : ❤️


Deg-degan, padahal Nina sadar, ia hanya cukup menekan emoji hati di layar ponselnya. Namun, melakukan itu sampai memakan waktu nyaris lima menit, selain wajah dan sekitar leher Nina yang sampai berkeringat parah menahan tegang.


Nina : ❤️


Mas Akala : 4 menit 47 detik buat dapat balasan ❤️


Mas Akala : 😂😂😂😂😂😂


Nina : 😅😅😅😅🙏