Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
89 : Ijab Kabul Papah Azzam


Tiba di kediaman Sundari calon istri Azzam dan di dalam lingkungan rumahnya yang luas sampai dihiasi klinik, kontrakan, bengkel, beberapa gudang, suasana di sana benar-benar asri. Janur kuning yang menandakan adanya hajat sekaligus kebahagiaan, sudah langsung menyapa Azzam berikut rombongan dengan kebahagiaan di antara spoy angin yang benar-benar segar. Terlebih, di sekitar sana dikelilingi pohon besar yang membuat sekitar rumah adem.


“Ya Allahhhh, deg-degan segerogi ini, padahal semuanya orang sendiri,” rengek Azzam sambil melongok dari kaca jendela pintu yang sengaja ia turunkan separoh.


Ulah Azzam yang selalu saja berisik, juga otomatis menjadi alasan semuanya tertawa. Lebih hebohnya lagi, ketika Ojan yang memakai seragam keluarga dari pihak mempelai wanita yaitu beskap maupun jarit berwarna pink salem, lari terbirit-birit sambil membopong kursi roda lipat hanya untuk memboyong Azzam.


“Sueee kamu, Jan. Dikiranya aku pasien gawat darurat!” semprot Azzam sembari tetap melongok. Namun tiba-tiba saja ia memiliki rencana jail, hingga ia refleks mempraktikannya dan itu membuka pintu mobil sebelahnya dengan sekuat tenaga.


“Aaaaaaa! Nyawaku terbelah jadi tujuh!” keluh Ojan yang meski sudah langsung terkapar, masih saja melawak.


“Di mana-mana kalau artis jalan, disiapin karpet merah. Eh ini malah disiapin jenazah!” ucap Azzam dan sudah membuat rombongan lemas. Apalagi ketika Ojan yang sungguh Azzam inj*ak, sibuk berteriak.


“Oalah Zaammm, buru*ngku baru aktif, nanti maiwaifi ngambek lagi gara-gara bu*rungku tidur terus! Duh maiwaifi, tolongin ini!” keluh Ojan yang ditinggalkan oleh Azzam dengan kejam. Akala lah yang berangsur menolongnya, meski Azzam juga sampai menyiapkan kursi roda yang dibawa oleh Ojan, untuk Ojan sendiri. Sementara Akala tetap menjadi sosok yang mendorongkan kursi rodanya.


Azzam digandeng oleh pak Kalandra dan ibu Arum. Sementara di belakang mereka ada nenek Kalsum, pak Sana, nenek Rusmini, dan juga para orang tua termasuk pihak kakak ibu Arum, juga pak Angga—ayah kandung mas Aidan yang turut serta. Hingga saking banyaknya keluarga yang Azzam bawa menjadi pasukan pengantar, kebersamaan di sana benar-benar heboh.


“Dek Sundari, andai nanti Kakanda Azzam tak ganteng lagi,” ucap Ojan yang kebetulan ditunjuk menjadi pembaca acara di sana.


“Enggak mungkin, ... enggak mungkin. Karena andaipun aku sudah sampai peot, ompong, aku tetap ganteng, beda sama kamu. Soalnya dari silsilah saja, enggak ada catatan enggak ganteng bahkan sekadar kurang ganteng!” sergah Azzam mengomel pada Ojan yang sampai detik ini masih duduk di kursi roda.


“Ya diam dulu dong, Jam. Di sini aku pembawa upacara, ... eh pembawa acara maksudnya. Kalau kamu enggak bisa melewati aku, kamu enggak boleh masuk!” balas Ojan dengan santainya dan kali ini sengaja mengancam.


“Eh, kamu macam-macam ya ke aku. Papih Helios ... Papih Helios ... ini tolong anakmu kubur hidup-hidup!” kesal Azzam.


Di belakang di antara rombongan yang Azzam bawa, Helios yang ada di belakang Akala, refleks dadah-dadah. “Mohon maaf, Zam, aku enggak merasa punya anak kayak gitu. Sudah ditumba*lkan buat sesa*jen, ... itu pun kalau demi*tnya doyan atau malah enggak gumoh!”


Balasan emosional dari Helios dan terdengar mengomel sekaligus jujur, sukses membuat tawa di sana pecah.


“Papih iiiihhh, ini aku, Kim Oh Jan!” rengek Ojan benar-benar manja.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Azzam bertemu dengan Sundari, setelah pria itu duduk di kursi untuk menjalani ijab kabul. Azzam yang awalnya berisik sudah langsung tidak berkutik. Malahan, Azzam yang menjadi tersenyum malu-malu, terus saja menunduk, tak berani mengangkat wajah apalagi sekadar melirik Sundari.


“Yakin, Jam kamu enggak mau sekadar lirik Sundari? Aku culik buat Rahwana di RT sebelah!” jail Ojan.


Detik itu juga Azzam sudah langsung mendelik.


Menyaksikan apa yang akan Azzam dan Sundari jalani, membuat Akala dan Nina kembali mengenang awal mula hubungan mereka, hingga akhirnya mereka disatukan dalam pernikahan yang sah.


“Berarti habis ini kita langsung riasan yah, Pah? Langsung ke hotel buat resepsi, ya?” tanya Nina mendadak manja karena baper pada apa yang tengah Azzam dan Sundari jalani.


“SAH!” ucap semuanya menanggapi ijab kabul yang Azzam ucapkan dengan serius sekaligus lantang, dalam sekali tarikan napas.


“Enggak ... enggak, belum Sah, belum sah!” Protes Ojan yang duduk persis di sebelah rombongan penghulu.


Azzam yang geregetan sengaja melepas peci putihnya, kemudian agak berdiri dan menggunakannya untuk menempe*leng kepala Ojan.


“Dek Akalaaaa, kalau Ojan enggak kondangan 60 juta, siap-siap kamu harus apa. Jangan lupa!” kesal Azzam dan sukses membuat penghulu dan rombongan bingung. Lain dengan pihak Sundari maupun Azzam yang sudah kompak tertawa.


“Maiwaifi ... ini tolongin suamimu. Broder Excel, sokongin dana yaaa,” rengek Ojan benar-benar pasrah.


Beres ijab kabul, acara dilanjutkan dengan makan-makan bersama, ditemani banyolan Ojan yang menawar nomin*al kondangan wajib dari Azzam. Tawa lepas yang tak jarang membuat mereka menangis sampai lemas, bahkan mereka sampai antre ke kamar mandi karena kebelet pipis, menjadi warna di sana. Malahan, hidangan lezat yang sudah disediakan keluarga Sundari, sampai tidak bisa mereka nikmati dengan leluasa akibat perdebatan antara Ojan dan Azzam.


Setelah acara di rumah Sundari selesai, Sundari sudah langsung Azzam boyong. Akala dan Nina masih mengawal pengantin baru itu. Akala yang menyetir sementara Nina duduk di sebelahnya. Persis di belakang mereka, Azzam dan Sundari duduk bersebelahan. Azzam memangku Alina, sementara Sundari memangku Akina. Keduanya jadi mirip korban perjodohan, yang sekadar melirik saja tampak sangat tidak berani. Pak Kalandra dan ibu Arum yang kali ini duduk di belakang bersama Malini, sampai gemas. Keduanya silih berganti menggoda pengantin baru mereka.


“Mah, habis ini kita langsung rias?” tanya Nina.


“Iya, Sayang. Kita langsung ke hotel, kan?” balas ibu Arum.


“Tapi aku mau mampir ke rumah bentar ya, Mah,” sopan Akala yang masih sangat lembut dalam bertutur katanya.


“Masih mau urusin ndorse lagi? Ya ampun Suherman kamu emang Mas Akala!” semprot Azzam dan hanya dibalas tawa santai oleh Akala.


“Mau ambil lensa kamera, Mas. Kan Mas juga yang minta aku jadi fotografer acara Mas, biar pengeluaran bisa dipangkas!” balas Akala santun, tapi di belakang, Azzam sudah langsung mendelik-mendelik sambil berkode, “Sssttt ... stttt!”


“Papah Azzam malu gara-gara Mas Akalanya keceplosan. Makanya Papah Azzam, kalau mau sekongkol jangan sama orang baik!” ujar Nina dan sudah langsung ditanggapi tawa oleh kedua mertuanya. Termasuk Sundari yang akhirnya menertawakan sang suami untuk pertama kalinya, setelah mereka resmi menjadi suami istri.


“Enggak apa-apa, Yang. Pengeluaran memang wajib serba dipangkas soalnya kan kita mau langsung kejar target punya banyak anak!” yakin Azzam tak mau terus ditertawakan.