
“Memang tampangku tampang orang jahat, ya?” lirih Akala bingung menatap lawan bicaranya. Nina yang sempat ia pergoki bengong juga tak kalah bingung. “Aku bukan penjahat, Nin. Kamu beneran bisa percaya aku. Apa perlu, aku setor KTP ke kamu? Harus setor KTP dulu ke kamu, maksudnya. Gitu?” Akala sudah langsung mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.
Nina buru-buru menggeleng. “Enggak, Mas. Enggak. Beneran enggak perlu!” tegasnya jadi sungkan apalagi di sebelahnya, Akala sudah memberikan KTP. “Ih, enggak, Mas. Enggak. Serius.”
“Terus, aku harus bagaimana? Ini sudah sore loh, adikmu juga sudah tidur. Dia sudah sekolah, ya? Berarti juga wajib urus pindahannya.” Akala juga sudah langsung memikirkan nasib Malini, termasuk itu perihal sekolah Malini. Tampak seragam merah putih yang Nina gulung di sarung. Cara Nina membereskan barang-barang Malini dan itu menggunakan sarung, mirip gaya orang zaman dulu.
“Yang tinggal di kontrakan juga baik-baik. Kebanyakan mereka yang kerja di rumah makan apa pabrik bulu mata. Kebetulan memang masih ada yang kosong satu, dan sama sekolah dasar pun dekat. Jadi nanti kamu masih bisa sambil kontrol Malini.” Akala masih usaha merangkul hati Nina.
Nina menahan napasnya dan perlahan mengembuskannya pelan melalui mulut. “Aku bingung, kok Mas baik banget. Aku bingung gimana harus balasnya—”
“Bukan semata karena wajah kamu mirip Cinta, loh. Jangan berpikir karena wajah kamu mirip wajah Cinta yang memang mantan aku. Ini beneran bukan karena itu, tapi memang murni panggilan hati. Karena kamu memang butuh arahan. Kamu butuh bimbingan sekaligus lingkungan positif agar kamu bisa bangkit. Biar kamu bisa buktiin, kamu terlalu berharga buat terluka. Kamu terlalu istimewa buat mereka sakiti. Balas mereka dengan kesuksesan sekaligus kebahagiaanmu.”
“Aku tahu ini enggak mudah, tapi aku yakin kamu mampu!” Akala mengakhiri ucapannya dengan senyum optimis. Ia dapati, kedua mata Nina yang menjadi berkaca-kaca.
“Semoga Alloh kasih balasan yang terbaik buat Mas. Pokoknya, ... doa terbaik buat Mas sekeluarga!” balas Nina yang kemudian menggunakan tangan kirinya yang tidak mendekap tubuh Malini, untuk menghapus air matanya.
Pada akhirnya, Nina menerima tawaran Akala. Mereka kembali melewati jalan menuju rumah Akala yang terbilang jauh dari rumah bibi Sumi, meski mereka masih satu kabupaten.
Suasana sudah makin gelap ketika akhirnya mereka sampai di depan kontrakan. Kontrakan di sana berjejer dan masih menempel satu sama lain. Bersih, asri dan juga jauh dari keramaian dengan suasana sekitar yang dihiasi pepohonan buah. Aroma mangga kweni tercium sangat wangi di sana.
“Kalian wajib betah karena aku sudah sampai beli kasur buat kalian!” sergah Akala yang memboyong kasur busanya.
Tadi saat di jalan, ia sengaja membeli sebuah kasur, satu tikar karakter, dan juga dua meja belajar, selain kompor, LPG dan juga perlengkapan masak.
Nina terbengong-bengong melepas Akala. Namun, segera ia ikut membantu memboyong barang-barang dari mobil karena Malini saja tampak sangat bersemangat memboyong meja belajar dan juga tikar karakternya.
“Jadi ingat mas Aidan pas bantu mbak Mbi. Awal mula mereka kenal dan akhirnya jadi jodoh juga gini. Andaipun Nina jodohku, aku percaya Nina orang yang sangat baik. Terbukti dengan perjalanan hidupnya,” batin Akala. Ia sengaja meletakan kasurnya di teras karena di dalam, sang mamah belum beres menyapu.
“Ya Allaah ... masya Allah ... setelah sebelumnya dikelilingi ibli*s berwujud manusia, sekarang aku dikelilingi orang sebaik mereka. Tetangga, mas Akala, ibu Arum juga baik banget. Aku beneran bingung gimana balasnya,” batin Nina yang belum banyak bicara selain kepada Malini dan Akala. Itu saja, Nina lakukan dengan berbisik-bisik.
“Mbak Masnya makasih banyak ...,” ucap Nina sambil membungkuk sungkan pada setiap mereka hang membantu atau malah bertamu layaknya tetangga baru pada kebanyakan.
“Ya sudah Mas, Mbak Nina diajak ke rumah makan dulu. Sudah jam segini, pasti sudah pada lapar. Malini juga sudah lapar, kan?” ucap ibu Arum masih berucap lembut. Susah payah ia tersenyum sekaligus bersikap biasa saja karena setiap ia melihat Nina, hatinya sudah langsung teriri*s akibat nasib miris yang harus wanita muda itu alami.
Dari kontrakan, Nina dan Malini langsung diajak ke rumah makan. Kali ini mereka tak lagi pakai mobil. Akala dan ibu Arum mengajak mereka jalan kaki karena menurut keduanya, rumah makan yang akan mereka tuju dan memang dikelola oleh Akala, jaraknya tidak jauh dari kontrakan.
Karena ibu Arum menggandeng Malini dan langsung memimpin langkah sambil terus mengobrol lirih, mau tidak mau Nina harus melangkah dengan Akala. Selain tidak terbiasa, berjalan santai layaknya sekarang juga membuat Nina merasa sangat malu lantaran kebersamaan mereka bukan untuk hal yang benar-benar darurat.
“Mas Akala laki-laki, dan mas Akala tahu semua yang terjadi kepadaku. Ya Allah, aku mirip kor*eng basah yang diserbu lalat. Bismillah, ... bismilah semoga bisa jadi lebih baik lagi. Bismillah, beneran bisa buktiin kalau aku bisa sukses, biar aku enggak hanya jadi koren*g basah yang dilalati!” batin Nina yang diam-diam takjub pada ibu Arum dan Akala. “Orang kaya, tapi ke orang kecil yang bahkan seorang korban pelece*han s-eks-sual, mereka beneran baik banget. Pantas mas Akala baik banget, mamahnya saja selembut itu. Ke Malini kayak ke anak sendiri. Malini sampai dipangku, disuapi. Ya pantas kalau Malini langsung nempel. Alhamdullilah masih ada orang kaya berhati malaikat seperti mereka,” batin Nina tak berani mengutarakannya. Malahan ia hanya diam hingga Akala yang duduk di sebelahnya menegur.
“Kamu juga makan, Mbak. Oh, iya jangan kaget kalau aku dan keluargaku panggil kamu mbak padahal kami lebih tua dari kamu ya. Itu sudah jadi kebiasaan kami supaya cara kami memanggil kamu bisa jadi contoh buat mereka yang lebih muda dari kamu,” ucap Akala.
“Oh, enggak apa-apa, Mas. Beneran enggak apa-apa. Justru bagus gitu, lebih halus. Lebih adem juga didengarnya!” ucap Nina masih sungkan karena menang belum terbiasa. Bayangkan saja, baru kenal sudah dibantu sangat banyak. Terlepas dari semuanya, apa yang Nina terima dari Akala membuatnya termotivasi untuk menjadi manusia lebih baik lagi. Jangan sampai kalah dari Akala. Akala yang kaya saja baik, masa dirinya yang bukan siapa-siapa tidak?
***
Sudah malam, tapi Cinta yang Chalvin ketahui sudah dibebaskan dari RSJ tak kunjung pulang. Alasan Cinta sampai benar-benar masuk RSJ sendiri karena sengaja untuk memberikan efek jera kepada Cinta. Selain itu, yang Chalvin tahu, Cinta pergi bersama Akala maupun Nina. Karenanya, Chalvin yang tengah berdiri di teras rumah, memilih menelepon Akala.
Suara jangkrik yang mengiringi kesunyian suasana malam khas perkampungan, langsung diwarnai balasan salam lembut dari Akala. Tak butuh waktu lama Akala sudah langsung menjawab telepon dari Chalvin.
“Waalaikum salam, Akala ... aku mau tanya, kamu masih bareng Cinta?” Meski sadar bersama Akala, Cinta akan aman, hati Chalvin tetap belum bisa tenang. Rasa tenang yang Chalvin yakini baru akan ia dapatkan setelah ia melihat Cinta baik-baik saja, secara langsung.