
“Tadi kami memang bareng. Aku jemput dia di RSJ. Aku bawa dia ke rutan buat bertemu orang tua—maaf, mereka enggak layak disebut orang tua karena kelakuan mereka saja begitu. Jadi, tadi aku sama Nina, sengaja ajak dia ke rutan buat bertemu ibu Sulastri, pak Surat dan juga Reno. Pas urusan kami di sana beres, aku kembali menawari Cinta buat menyerahkan diri biar hukuman dia juga lebih ringan. Andai dia mau aku antar, tapi dia tetap begitu ya sudah aku tinggal ....”
Meski sadar Akala belum selesai menjelaskan, Chalvin sengaja berkata, “Masalahnya sampai sekarang, Cinta belum pulang, Akala. Dia ada bilang sesuatu enggak sama kamu? Mau pergi ke mana, gitu? Apa dia ke makam mamahnya, ya? Duh gimana sih ya Akala. Makin ke sini, Cinta yang selalu merasa jadi korban, bikin aku serba salah.”
“Lebih-lebih aku, Kak. Posisiku yang sempat diduakan, terus dia lari dari pernikahan demi aku, sementara keluargaku sudah marah besar karena mereka telanjur tahu. Nah, aku yang awalnya berusaha netral demi menjaga perasaan keluargaku yang sangat peduli ke aku justru tahu dia sampai merus*ak Nina dan dia jadikan kloningan dia. Aku serba salah banget loh, Kak. Aku bela Nina karena Nina jauh lebih butuh aku. Nina beneran berjuang sendiri andai aku enggak bantu. Sementara tanpa aku jelaskan lagi, Kakak juga tahu bagaimana keadaan Nina, kan? Pasti bakalan banyak yang mikir hanya karena wajah Nina sangat mirip dengan wajah Cinta, aku peduli ke Nina. Beneran enggak! Karena andai bisa, aku juga bakalan lebih seneng Nina dengan wajah aslinya. Kasihan banget itu anak, masih muda sudah ... astagfirullah banget pokoknya. Aku enggak yakin bisa andai aku jadi dia, tapi aku percaya, Nina memang wanita sangat kuat makanya Alloh jadiin dia sebagai ‘orang pilihan’,” balas Akala dari seberang tak kalah serba salah dari Chalvin.
Chalvin menunduk pasrah sambil memejamkan kedua matanya. “Ya sudah, ... kalau gitu aku cari ke makamnya ibu Resty saja. Tapi tolong ya, Akala. Kalau Cinta ngabarin, atau kamu tahu kabar terbaru dia, tolong kabari aku.”
“Baik, Kak. Insya Allah aku juga bakalan bantu setelah urusanku beres,” sanggup Akala dari seberang.
“Terus sama sekalian, ... tetap jaga ini dari keluargaku, ya. Aku belum siap mengabari mereka sebelum Cinta menyadari kesalahannya. Karena niatnya, aku baru akan mengabari mereka setelah Cinta mau menyerahkan diri ke polisi.”
“Soalnya kemarin orang tua aku baru mengabari, mereka sangat bahagia dengan hubungan Chole dan Helios. Alhamdulliah katanya Helios dan Chole mulai kompak. Orang tuaku sampai menginap di rumah mereka, dan Helios juga ajak mereka jalan-jalan. Kemajuan pesat kan?” Chalvin tersenyum haru. Karena biar bagaimanapun, kabar bahagia yang ia dapat dari orang tuanya ibarat sinar cerah di antara kabut hitam yang Cinta hasilkan dan telah membuat hidup seorang Chalvin mendadak suram.
“Alhamdulilah, Kak, kalau memang begitu keadaannya. Hasil memang enggak pernah mengkhianati usaha karena aku yakin, Chole si brokoli kesayangan mas Ojan sudah sangat bekerja keras!” balas Akala dari seberang tak kalah bahagia.
Obrolan yang awalnya berat karena rasa serba salah yang terus lahir akibat keadaan sekaligus sikap Cinta, perlahan menjadi cair. Tak hanya senyuman, tapi juga canda yang turut hadir hanya karena mereka membahas Chole dan Ojan.
Seperti niatnya, Chalvin langsung pergi ke tempat pemakaman ibu Resty mamah Cinta dimakamkan. Chalvin menyetir mobilnya sendiri. Bisa kalian banyangkan, suasana perkampungan dan jalannya saja banyak yang kurang layak, biasa cenderung gelap karena minim penerangan. Apalagi pemakaman di perkampungan biasanya jauh dari pemukiman dan bahkan tanpa penerangan. Memang ada tiang listrik maupun lampu jalan, tapi kebanyakan dalam keadaan rus*ak. Andaipun ada yang masih menyala, seringnya kalau tidak sangat redup, justru kelap-kelip mati tidak hidup juga tak layak. Justru membuat nyali menciut layaknya yang Chalvin rasakan.
“Uji nyali beneran ini uji nyali,” batin Chalvin ketika menyadari dirinya menghentikan mobil di bawah lampu yang mati hidup lengkap dengan suara sakelar ceklak-ceklek. Lebih mengejutkan lagi dan Chalvin juga sampai menahan napas, dari sebelah Chalvin ada sosok berwajah super putih dan rambut panjang yang tergerai, sementara wajah super putih itu juga terlihat menyala.
Tok ... tok ... tok ....
Sosok berpakaian serba putih itu mengetuk-ngetuk kaca pintu di sebelah Chalvin. Chalvin yang memang menatapnya walau pria itu sudah mundur ke tempat duduk sebelah, refleks menggeleng.
Tok ... tok ... tok ...
“Ih, ini kunti lagi nyari jodoh apa gimana sih? Oke, aku memang jomblo, tapi bukan berarti aku mau sama dia. Minimal, ya ... ya harus manusia lah. Ojan saja enggak mau kalau sama yang non manusia, kan? Ya Alloh ... Ya Aallllaaaah!” Dalam hatinya, Chalvin sudah nyaris menangis. “Kalau ada yang bilang lebih baik ketemu hantu ketimbang ketemu penjahat sekelas beg*al, asli ini bohong sih. Karena kalau boleh milih, aku enggak mau ketemu dua-duanya! Aduh, ini harusnya aku baca doa, ya. Kok malah jadi enggak jelas gini? Oke ... oke ayo fokus doa, bismillahirrahmanirrahim ....” Baru dibacakan pembukaan doa, sosok berpakaian serba putih tadi sudah langsung minggat. Namun, Chalvin yang langsung bingung dan tidak yakin doanya seampuh itu, justru dikejutkan oleh kenyataan kedua kak sosok wanita itu yang masih menapak.
“Itu manusia, Vin! Bangk*e! Aku nyaris pipis di celana gara-gara dia!” Chalvin sudah langsung tancap gas dan menyusul, ia sungguh menghampiri si wanita dan sengaja menekan klakson mobil dua kali. Ia melongok dari kaca jendela yang sempat diketuk-ketuk oleh si wanita, sesaat setelah ia sengaja menghentikan mobilnya.
“Mbak ini manusia, kan?” todo*ng Chalvin berusaha sesopan mungkin. Di hadapannya, si wanita yang tampaknya memakai lulur racikan warisan nenek moyang, mengangguk-angguk.
“Benar, Mas!” ucap si wanita masih sesekali mengangguk walau suaranya memang sengaja ia batasi akibat masker di wajahnya.
“Loh, itu bahkan bisa bicara!” sergah Chalvin makin geregetan.
“Ya bisa dong Mas. Kan tadi saya bilang, saya manusia. Ya otomatis bisa bicara. Mahkluk hidup kan.” Si wanita yang dari suaranya terdengar lembut khas wanita muda gadis desa, masih sangat santun dalam menyikapi Chalvin.
“Lah tadi, ngapain Mbak ketok-ketok kaca pintu ini?” lanjut Chalvin ingin tahu sejelas-jelasnya.
“Karena Mas menabrak sepeda saya. Memangnya Mas enggak sadar? Apa Mas enggak lihat? Mas bukan orang sini, ya? Makanya Mas, kalau bawa kendaraan apalagi mobil malam-malam, sambil lihat. Itu sepeda saya kan jatuh ke tengah jalan karena kayu penyangganya enggak kuat. Tadi Mas lindas ...,” ucap si wanita.
“Lah, yang suruh sepedanya jatuh, siapa?” balas Chalvin merasa tak bersalah.
“Enggak ada sih, Mas. Tapi enggak tahu juga soalnya di sini memang terkenal agak gitu. Tuh, lampunya saja dimati hidupkan terus. Tuh, ikan-ikan saya pada enggak jelas.” Segera si wanita kembali, menuju lokasi Chalvin sempat memarkirkan mobil. Tempat di mana pria itu melindas sepeda berikut ikan-ikannya.
“Enggak jelas banget tuh orang. Tapi lebih enggak jelas lagi kalau aku di sini sendirian! Ya ampun kak Cinta, kamu ke mana sih? Mana setiap telepon maupun pesanku enggak kamu gubris!” batin Chalvin. Ia juga sengaja mundur menghampiri si wanita guna mempertanggung jawabkan perbuatannya meski ia memang tidak sengaja.