Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
64 : Persiapan Syukuran Sebelum Pernikahan


Bagi Reno, Nina yang sekarang benar-benar berbeda dari Nina saat terakhir kali di pertemuan mereka. Bukan hanya Nina yang sampai berhijrah dengan menutup aur*at. Namun juga, Nina sudah mulai memakai riasan lengkap dengan parfum. Meski tentu saja, rias yang Nina pakai tidak berlebihan. Benar-benar riasan yang pas dan membuat Nina cantik elegan.


“Ini ... nih. Yang namanya mantan memang bakalan lebih menarik, daripada pas jadi milik kita,” batin Reno yang kemudian menelan air liu*rnya. Ia benar-benar terpesona kepada Nina.


“Kami akan menikah, Mas,” singkat Nina, lirih sekaligus ‘ngena’.


Detik itu juga Reno bengong, menatap tak percaya Nina. “Enggak usah pamer. Lagian kamu masih istriku.” Reno menjawab dengan sewot bahkan congak.


“Pamer bagaimana? Kami memang akan menikah. Besok pagi. Sementara mengenai kita, ... memangnya pengacara Mas nggak bilang? Hubungan kita bahkan tidak sah baik di mata agama apalagi hukum. Kita bukan cerai, melainkan pembatalan pernikahan. Yang otomatis, kita dianggap enggak pernah nikah!” lirih Nina sampai detik ini masih menyikapi Reno dengan sangat tenang, benar-benar elegan.


Reno sudah langsung diam karena memang tidak ada bahan untuk diperdebatkan apalagi membela diri.


“Ya sudah Mas, aku mau pamit karena memang sudah tidak ada yang harus dibahas. Oh iya, ... selain untuk mengucapkan terima kasih, aku juga ingin mengatakan kepada Mas, bahwa aku yang sekarang benar-benar bahagia. Jadi, Mas juga harus bahagia dengan cara Mas!” lanjut Nina yang kemudian mengalihkan tatapannya dari Reno.


“Sudah?” tanya Akala tak lama setelah Nina menatapnya.


Nina segera mengangguk, tapi ia refleks istighfar kemudian mengeluarkan sebuah undangan berwarna keemasan, dan memberikannya kepada Reno. Nama Reno menjadi tertera di kolom undangan tersebut di tujukan.


Untuk : Reno


Di : Penjara


“Kupr*et! Di penjara!” kesal Reno jauh di lubuk hatinya. Sementara di depan sana, Nina yang sudah pergi digandeng Akala, makin jauh saja. Keduanya tampak begitu serasi meski tinggi Nina tak ada sepundak Akala. Tubuh Nina begitu kurus mungil, sementara Akala tinggi setegap itu. Jika dibandingkan dengan tubuh Reno yang makin lama makin kerempeng, tapi perut makin buncit mirip terkena busun*g lapar, bagi Reno, jika dilihat dari fisik, tentu Nina lebih cocok dengannya.


Setelah menjenguk Reno, Nina dan Akala sudah langsung memutuskan untuk pulang. Apalagi seperti yang Nina katakan, besok paginya mereka memang akan menikah. Karena meski hanya ijab kabul dilanjutkan dengan makan bersama keluarga sekaligus teman dekat kemudian dilanjutkan dengan acara syukuran, Nina dan Akala tetap harus menjalani persiapan secara khusus agar tidak ada drama di acara pernikahan mereka yang sakral.


Mereka tidak menjenguk Cinta dan mereka ketahui dari Chole, menolak dijenguk. Nina juga menolak menjenguk sang bibi, selain Nina yang tak mungkin menjemput ibu Sulastri apalagi pak Surat.


“Namun, mereka masih hidup, kan? Sulastri dan Surat?” pikir Nina mengingat keduanya mengalami luka bakar parah dan membuat bekasnya membusuk lantaran hanya diobati ala kadarnya.


“Kamu mau beli sesuatu?” tanya Akala.


Nina berangsur menatap Akala. “Semuanya sudah kebeli kan, yah Mas?”


“Ya maksudnya ... apa, mau jalan-jalan ke mana?” balas Akala sambil tetap menggandeng sekaligus menuntun Nina pergi dari sana.


“Langsung pulang saja deh, Mas. Tenang di rumah, istirahat, ... atau ke rumah makan saja. Biar orang tua sekaligus keluarga Mas juga tenang lihatnya. Percaya enggak percaya, yang namanya orang tua sama keluarga kan dikit-dikit cemas, ditambah lagi kita mau nikah,” ucap Nina.


“I-yaaa ...,” lembut Akala dan sudah langsung membuat Nina tersipu.


Menggunakan mobil, Akala membawa Nina pulang. Perjalanan dari rutan ke rumah berjalan dengan lancar tanpa ada kemacetan berarti di tengah suasana siang yang agak mendung.


Aroma lezat sudah langsung menyambut mereka tak lama setelah mereka memasuki rumah. Aroma khas gorengan atau itu peyek kacang tanah maupun kedelai. Aroma lepet yang terbuat dari beras ketan putih dicampur kelapa parut dan sedikit garam kemudian dibungkus menggunakan janur kuning sebelum akhirnya digodok.


“Astaga ... ibu hamil pengin lepet, tapi kata buibu, orang hamil dilarang makan lepet, nanti anaknya kurus dan sakit-sakitan,” keluh Azzura sambil melangkah sedih keluar dari dapur.


“Ini makan lemper saja, Mbak Azzura. Rasanya masih saudara, kok,” ucap ibu Septi yang juga sudah langsung heboh ketika mendapati kedatangan Akala dan Nina. Keduanya yang sudah langsung menyalaminya, ia sebut “calon manten”.


“Aku boleh ikut bungkus-bungkus, enggak?” tanya Nina sudah langsung bergabung.


“Ya sudah, Nin. Kita bungkus-bungkus pacitan yang lain saja,” sergah Mbak Azzura demi mengalihkan keinginannya yang dibilang pamali makan lepet gara-gara ia sedang hamil.


Demi menjaga kualitas rasa setiap hidangan, ibu Arum memang sengaja mengolah segala sesuatunya sendiri di bantu pekerja, tetangga, sekaligus saudara.


“Sini tasnya aku taruh kamar,” ucap Akala mengambil tas Nina.


“Dek, habis ini kamu juga ke belakang, ya. Itu Mas Excel cuma sama mbah dan pakde, soalnya mas Aidan kan masih urus klien,” ucap mbak Azzura mengingatkan.


“Hah? Memangnya enggak ada yang rewang, Mbak?” sergah Akala syok.


Mbak Azzura berangsur menghela napas. “Ya ada, tapi kan kambing yang dipotong ada tiga.”


Acara syukuran besok memang sengaja menyajikan hidangan kambing. Dua khusus untuk acara syukuran sekaligus makan-makan, satu sengaja untuk akikah Nina yang Nina yakini belum dilaksanakan, meski kedua orang tuanya sudah meninggal. Karenanya Akala berinisiatif memotong kambing untuk akikah Nina di acara mereka agar sekalian.


Suasana kekeluargaan di sana terasa begitu kuat. Semuanya saling bantu, gotong royong mengerjakan segala sesuatunya khas kehidupan di kampung di tengah aroma lezat yang makin membuat Azzura sibuk mengeluh lapar.


“Aku pengin ingkung ih,” keluh Azzura.


“Ya itu sekalian, ingkungnya jangan bikin ngepas. Dilebihi, kamu dua ingkung cukup enggak?” ujar ibu Septi masih merampungkan acara bungkus-bungkusnya, tapi yang ditanya dan itu Azzura, malah tertawa.


Nina yang awalnya ikut tertawa, meski tawanya belum selepas yang lain, buru-buru merapatkan jarak duduknya dari Azzura lantaran Ojan yang memakai seba hitam, mendadak lari dari dapur. Karena jujur, Nina masih trauma kepada Ojan. Benar-benar takut.


“Apaan sih, Jan? Ini ada eyang Fatimah, mau dimasukkin kandang kamu?!” omel ibu Septi.


“Ih Mbak Septi, galaks banget. Ini aku lagi takut banget soalnya kambingnya lagi dipompa, perutnya jadi segede hamil lima tahun!” ucap Ojan.


Ibu Septi langsung tertawa dan meminta mbak Azzura maupun mbak Arimbi amit-amit mengingat keduanya sedang hamil, agar tidak mirip Ojan.


“Tittt ... tittt!”


Klakson mobil dari depan membuat Ojan yang awalnya akan nyempil ke Nina, buru-buru lari ke depan.


“Suara mobil mahal!” seru Ojan sambil berlari.


“Kalau tamu dari Jakarta, kabar-kabar, Jaaan!” teriak ibu Septi layaknya di rumah sendiri.


Baskom besar di sebelah eyang Fatimah sudah langsung eyang Fatimah hanta*mkan ke kepala ibu Septi, sementara mbak Azzura, mbak Arimbi, termasuk Nina, buru-buru menahan tawa mereka.