Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
47 : Enggak Ada Tegang-Tegangnya


Dengan kepala yang masih setengah basah, Nina keluar dari kamar kemudian melangkah ke ruang tamu. Akala sudah mengiriminya pesan dan berdalih sudah menunggu di sana. Lebih kebetulan lagi, di sana Akala tak hanya sendiri karena Akala bersama kakak-kakaknya. Hanya Azzura dan Excel saja yang masih absen dari kebersamaan karena keduanya masih ada di Jakarta.


“Aku enggak yakin bakalan lulus dengan nilai terbaik lagi kalau aku ikut sekolah angkatan sekarang,” komentar Azzam.


Mbak Arimbi yang langsung tersenyum pasrah berkata, “Soalnya pelajarannya sudah beda ya.”


“Nah iya, Mbak. Pelajaran kelas empat SD apa kelas 3, sudah rasa pelajaran kelas 6!” balas Azzam yang kemudian tertawa pasrah kemudian menjatuhkan tubuhnya pada sofa panjang di belakangnya.


Akala yang sadar Nina sudah minder dan ingin kabur saja dari sana, sengaja meraih pergelangan tangan kiri Nina. Ia menuntun Nina agar tidak tersesat di antara ketiga kakaknya. Maksud mas Aidan, mbak Arimbi, dan juga Azzam datang ke sana pun karena ketiganya tengah berusaha merangkul hati Nina. Agar Nina terbiasa bersama mereka.


“Yang, kamu enggak mau sekolah lagi?” tanya mas Aidan kepada Arimbi.


Arimbi yang berangsur duduk di sebelah Azzam, refleks menggeleng sambil tersenyum pasrah.


“Mbak Arimbi enggak mungkin minat sekolah lagi. Soalnya mentalnya Mbak Arimbi sudah mental ibu-ibu yang apa-apa dijadiin duit. Otaknya sudah otak bisnis. Apalagi warungnya saja sudah langsung laris. Pasti mikir ulang kalau harus sampai menghabiskan sebagian besar waktunya, meski pendidikan memang penting!” ucap Azzam masih cekikikan.


“Nah iya, bener banget Mas Azzam. Makanya Nina saja yang sekolah. Mumpung masih muda dan otaknya belum berjiwa otak emak-emak yang duit sama penghasilan nomor satu,” ucap Arimbi.


Kemudian tatapan Azzam teralih kepada Nina yang tengah dituntun duduk di sofa tunggal oleh Akala. “Tapi kalau aku lihat, Nina sebenarnya sama saja seperti Mbak Mbi. Di pikirannya itu hanya kerja, kerja, kumpulin uang buat hidup lebih baik. Kerja, kerja, keluarga, kumpulin uang buat hidup lebih baik. Barulah nanti kalau sudah nikah, ada suami. Sekelas Nina aku yakin bukan yang mikir ke pacar, tapi kalau ke suami bakalan dipikirin.”


“Ini paling bisa kalau ngomentarin hidup orang!” ucap Mas Aidan yang sengaja mencubit gemas pipi Azzam. Ia berangsur duduk di sebelah sang istri.


“Tapi bener sih ucapan mas Azzam. Kok bisa yah, dia paham banget?” pikir Nina.


“Ngisi formulir enak pakai hp loh. Laptop ribet segede itu harus dipangku. Berasa mangku Ojan!” komentar Azzam lagi.


Detik itu juga semuanya refleks menahan tawa termasuk Akala dan Nina.


“Bentar kalau gitu aku kirim ke WA saja.” Akala segera duduk di karpet dan menjalankan laptopnya.


“Nin, kamu sudah punya WA, jangan dikasih ke Ojan, ya. Mau si Ojan nangis sampai keluar kelabang dari kedua matanya, sudah biarin saja. Bahaya kalau dia punya nomor hp kamu. Setiap saat pasti ditelepon, VC, atau malah dikirimi foto narsis dia. Dulu pas masih punya hp Ojan kan gitu!” ucap Azzam.


“Tapi sekarang memang belum punya lagi sih Mas. Masih pakai lator-lator katanya. Tadi siang bilangnya sudah minta dibeliin, tapi sama mas Sepri belum dikasih,” cerita Akala lembut sambil fokus pada laptopnya.


Mendengar “lator-lator” disebut, Azzam, mbak Arimbi, maupun Mas Aidan kompak tertawa.


“Dret ... drett ....” Dering tanda pesan masuk di ponsel yang Azzam genggam menggunakan tangan kanan, mengusik sang pemilik.


“Mas Aidan sama Mbak Mbi jangan lihat lah. Takut anak kalian mirip Ojan. Sebagai uncle yang bakalan ngasuh para ponakan, aku enggak rela ponakan aku mirip Ojan!” ujar Azzam kembali cekikikan.


Mbak Arimbi dan mas Aidan langsung geleng-geleng menatap Azzam, tapi tangan mereka kompak mengelus-elus perut mbak Arimbi.


+6281 : Malam yang sunyi berselimut dingin dan membuat hati ini makin beku. Tertanda, Ojan sang Pemuja Janda. Cap bibirnya jangan lupa 💋


Membaca pesan tersebut dalam hatinya, Azzam sibuk istighfar sendiri. Kemudian, fokus perhatian mereka tertuju kepada interaksi Akala dan Nina. Interaksi yang sangat lembut karena bersuara saja, keduanya sangat lirih.


“Interaksi mereka enggak bagus buat pasangan yang bude*g. Aku saja ini jadi bude*d sebelah gara-gara kemasukan air pas keramas kemarin,” ucap Azzam yang kemudian cekikikan lagi.


“Bude*g sebelah itu ibarat teguran nyata biar kamu enggak merekam bahan gibahan sembarangan. Soalnya kalau kamu bu*deg.sebelah kan, otomatis kamu lebih mikir lagi, mau disebarin enggak itu bahan gibahan!” tegus mas Aidan yang berucap lirih. Kendati demikian, bukan hanya mbak Arimbi yang cekikikan. Karena Akala yang masih fokus di depan laptop juga sampai istighfar di tengah tawa yang ditahan. Begitupun dengan Nina yang jadi sibuk menunduk karena menahan tawa.


“Mas Aidan mah ...,” rengek Azzam.


Cukup lama mereka di sana menemani Nina dan Akala. Sampai akhirnya orang tua dan kakek nenek mereka pulang dari kondangan, hingga Nina yang tahu akan ada pembicaraan serius, menjadi sangat tegang.


“Azzam kenapa, Azzam? Iri, jadi bujang sendirian?” sindir nenek Kalsum yang sudah langsung dituntun masuk oleh Akala. Seperti biasa, Akala selalu siaga untuk urusan membantu khususunya membantu orang tua yang sudah renta.


“Ah, Mbah Utiiii, Akala saja belum resmi nikah. Masih ada dua bujang di sini! Tuh lihat, Nina saja baru daftar sekolah, ya otimatis Akala masih bujang sampai Nina lulus,” balas Azzam.


“Ya enggak gitu juga. Kalau Akala sama Nina sudah siap, sekarang juga nikah ya lebih baik. Nunggu apa lagi? Sekolah begitu kan enggak selalu ada tatap muka di sekolah. Andaipun ada, ya Akala sama Nina bisa atur waktu!” yakin nenek Kalsum yang segera duduk di sebelah Nina. “Pantas, kemarin yang dapat buket pengantin mas Aidan dan mbak Mbi si Akala. Memang mas Azzam wajib jadi uncle pengasuh para ponakan dulu sih!”


Celetukan terakhir nenek Kalsum membuat kebersamaan di sana menjadi heboh karena semuanya termasuk Azzam, langsung tertawa.


“Aku sih aslinya santai. Yang namanya jodoh kan enggak lihat usia. Kalau memang sudah siap, siap segalanya khususnya memang sudah ada pasangan. Ya sudah, disegerakan. Soalnya nunggu apa lagi, gitu kan?” ucap Azzam.


“Jadi, Mas Azzam intinya siap dilangkahi?” ucap kakek Sana masih berdiri di depan Azzam.


“Ya siap lah, Mbah Kakung. Sundari anaknya ibu Septi saja baru bisa nikah tiga atau lima tahun lagi!” yakin Azzam.


“Bakalan ada baby sister gratis selama itu pokoknya!” ucap mas Aidan sengaja menyindir Azzam dan lagi-lagi membuat kebersamaan di sana diwarnai tawa.


“Siap-siap saja, ... bukan hanya rumah yang enggak akan pernah rapi dan otomatis jadi selalu berantakan. Karena rumah makan, bahkan para alpa sama indomaret terdekat bakalan kami berantakin!” yakin Azzam tak ubahnya sumpah serapah. Namun lagi-lagi, yang di sana hanya tertawa.


“Kok begini? Sama sekali enggak ada tegang-tegangnya. Isinya beneran ketawa terus,” batin Nina bingung sendiri. Sesantai itu keluarga Akala. Santai, penuh canda sekaligus tawa, tapi memiliki prinsip sekaligus pegangan hidup kuat.