Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
53 : Perjalanan Cinta Pertama


“Mas Aidan, kalau gitu sekalian minta P3K-nya, ya!” ucap Azzam yang kali ini tak segan merengek.


Mereka sudah meninggalkan kantor polisi dan sampai di teras depan. Sementara orang tua Reno berikut kedua pre*man terancam ditahan karena sekarang saja sudah langsung dipr*oses.


“P3K ...?” Mas Aidan terdiam sekaligus berpikir sejenak. Yang ia tangkap, Azzam minta P3K yang selalu Arimbi siapkan dan tak pernah tertinggal dari bekalnya.


“Bentar Mas belikan di apotek depan,” sergah mas Aidan tak mau berbagi semua yang disiapkan sang istri, bahkan itu kepada saudara yang memang sangat ia sayangi.


“Loh, ngapain beli, Mas kan ada. Dan Mas mau pulang,” balas Azzam terheran-heran.


“Ya beda lah, Mas. Itu kan pemberian mbak Mbi, pemberian istri. Pamali dan anti bagi Mas berbagi pemberian mbak Mbi bahkan ke kalian. Mending Mas kasih yang lain!” sergah mas Aidan.


“Ealah ... Mas enggak kapok tra*gedi satu panci mi rebus buatan Mbak Arimbi, yang sebenarnya dimaksudkan buat dibagi-bagi, tapi sama Mas justru dihabiskan sendiri? Pas kalian belum nikah itu loh! Pas mau acara empat bulan hamilnya mbak Azzura!” sergah Azzam sewot dan sengaja mengingatkan trage*di di novel mas Aidan dan mbak Arimbi—Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).


Mas Aidan langsung gelisah, salah tingkah, tapi perlahan mengalihkan tatapannya dari Azzam. Ia menjadi menatap Akala. “Dek, sekarang Mas tanya ke kamu. Kalau ada yang minta bekal buatan Nina khusus buat kamu, kamu bakalan kasih atau mending kasih yang lain maksudnya, kamu belikan yang lain saja ke orang itu karena bekal pemberian pasangan memang sepenting itu dan ibaratnya, amanat?”


“Kok aku dibawa-bawa? Pasangan ... Mas Akala? Aku, maksudnya? Sudah sejauh ini, ya ...,” batin Nina kebingungan.


Tanpa berpikir lama, Akala langsung berkata, “Belikan yang lain dong.”


Azzam yang turut menyimak sudah langsung tersenyum kecut. “Kalian yah, sama saja. Tega ke aku! Ya sudah, nanti aku beli sendiri di apotek depan! Heh, para pembaca, ayo kita ketemuan di sana!” kesalnya.


Mendengar itu, Akala dan mas Aidan langsung tertawa. Keduanya menatap Azzam dengan perasaan serba salah.


“Mas Azzam jangan lupa, loh. Pas Ndari kasih bakmi hijau itu, disuruh dibagi-bagi, eh sama Mas Azzam justru disimpen di kamar, terus Mas habisin sendiri padahal harus dibagi-bagi juga ke yang lain. Saking enggak mau berbaginya, tuh bakmi sampai basi dan Mas tetap makan, makanya Mas berakhir diinfus efek muntaber!” jujur Akala dan membuat mas Aidan memiliki sen*jata ampuh untuk membung*kam Azzam. Lihat saja, kali ini giliran Azzam yang tidak bisa berbicara sekaligus salah tingkah.


“Ah ternyata kalian bertiga sama saja. Makanya kayak aku, enggak laku-laku dan enggak ada yang kasih-kasih, makanya enggak pernah makan makanan basi demi kesetiaan ke pasangan yang sudah kasih!” ucap Ojan dengan bangganya, tapi pengakuannya itu justru membuat keempat orang di sana menertawakannya. Bukan hanya Azzam yang tertawa puas, karena sekelas Nina juga tertawa sampai menangis sekaligus lemas.


“Siiittttttt, jangan berisik. Kalau gitu kita ke apotek sekalian ke mini market siapin bekal buat mas Azzam. Oh iya, nanti kita mampir ke soto babat biasa ya, mbak Mbi minta dibeliin,” sergah mas Aidan siap memboyong adik-adiknya termasuk Ojan yang kelakuannya masih sering mirip bocah.


“Eh Mas Aidan, satu jam lagi ini maghrib, loh. Magrib-maghrib di jalan, terus lewat kuburan. Ih ngeri, Mas!” sergah Ojan lagi-lagi mengeluhkan medan di perjalanan mereka.


Ojan sudah langsung menghela napas sambil menatap Ojan penuh rasa tak habis pikir. “Ya ampun, Zam. Memangnya kamu belum tahu kalau se*tan enggak takut sama yang sudah haji? Mereka hanya takut sama yang sudah nikah dan siap punya anak. Kalau sekelas aku yang masih bujang, mereka doyan!”


Ingin marah, tapi layaknya yang lain, yang ada Azzam sudah menangis karena menertawakan Ojan. Lebih lucunya lagi, belum apa-apa Ojan sudah duduk di depan layaknya orang yang akan mengemudikan motor mas Aidan. Mas Aidan sengaja memberikan kunci motornya dan meminta Ojan untuk mengemudikan motornya sementara ia yang membonceng.


“Enggak, Mas. Mentalku masih mental bayi. Kalau perjalanan jauh hawa-hawanya gampang ngantuk,” ujar Ojan memberi alasan.


“Tapi kalau ngejar jan*da, enggak, ya?” sindir Azzam dan langsung membuat yang lain kembali panen tawa.


“Ya beda lagi Jam, kan aku musafir cinta pejuang janda. Jadi semua yang berkaitan dengan janda, selalu bikin aku semangat. Mata melek terus!” yakin Ojan.


“Malahan sekarang aku jadi curiga, jangan-jangan kamu justru kerac*unan sinyal jan*da, makanya kamu kayak gini! Warasnya cuma kalau ada jan*da. Tapi bentar deh, ... harusnya status kamu berubah. Karena kamu bukan pejuang jand*a, melainkan perusuh jan*da. Kalau Sepri baru pelindung jan*da. Terbukti kan, terbukti? Hahahaha!” Azzam tertawa puas sementara Ojan jadi garuk-garuk kepala, selain Ojan yang tampak kebingungan.


“Bentar, Mas. Aku mau ambil tas kerjaku dulu, sekalian jaket. Oh iya, di mobil ada selimut sama bantal ya, lumayan buat teman istirahat.” Akala menerima kunci mobil pemberian Azzam. Selain tas kerja dan sudah langsung ia rapikan di motor matic bagian depan milik Azzam, ia juga mengambil jaketnya dari tempat duduk bagian penumpang mobil miliknya. Dan di hadapan semuanya, ia membantu Nina memakai jaket tersebut hingga Ojan makin berisik dan sampai nangis guling-guling.


“Tinggal saja, Mas. Tinggal kalau terus rusu*h gitu. Atau kalau enggak, kanda*ngin di dalam juga enggak apa-apa. Biar nanti satu kurung*an sama ibu Siti! Atau malah satu lokasi sama Ilham karena kalian sama-sama pecinta wanita bercadar, hahahahaha!” heboh Azzam.


Gara-gara Azzam dan Akala bertukar kendaraan, hubungan Akala dan Nina jadi memiliki kemajuan. Hanya saja, selain Akala yang pendiam sekaligus cenderung malu, Nina yang tak kalah pemalu sekaligus minder, membuat interaksi keduanya masih diwarnai rasa canggung. Justru, Ojan yang terus saja ru*suh, dan baru akan diam ketika nangkring layaknya bocah di motor bagian depan mas Aidan. Saking takutnya, Ojan rela menekuk kakinya yang panjang asal tidak diangkut di motor bagian belakang layaknya Nina.


“Nin, ... aman?” tanya Akala sangat canggung. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan lebih dari sebelumnya karena mas Aidan saja terbilang ngebut setelah mereka mampir di soto babat di Kubangkangkung Cilacap. Soto babat tersebut terbilang fenomenal karena nyaris tidak pernah sepi dan sudah ada sejak tahun 1980.


Ditanya seperti tadi oleh Akala, Nina makin deg-degan. Terlebih alasannya hanya diam juga karena ia terlalu gugup sekaligus tegang harus dibonceng dalam jarak jauh layaknya sekarang.


“Aman, Mas ....”


“Kok kamu enggak pegangan? Tuh, Mas Ojan saja pegangannya kadang sampai nyek*ik mas Aidan. Pegangan, nanti dikira lagi ngojek!” ucap Akala yang sengaja memberi kode keras.


Di belakang Akala, Nina langsung tersenyum ngenes. Terlalu gugup, tegang, sekaligus minder. Namun karena Akala tiba-tiba ngebut dan menyalip truk di hadapan mereka, ia refleks mendekap erat Akala. Tubuh dan wajahnya sampai menempel di punggung Akala.


Di sore menuju senja kali ini, Nina menyadari, ini pertama kalinya dirinya merasakan apa itu jatuh cinta.