Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
42 : Sebelum Direbut Ojan


“Ibu sama bapak ....” Terlalu berat untuk mengatakan semua yang berkaitan dengan ibu Sulastri maupun pak Surat, bahkan meski itu kebohongan yang akan menutupi sedikit luka batin Nina akibat ulah kedua orang itu.


Sampai detik ini Nina tetap belum bisa berpikir. Pikirannya mendadak buntu seiring ingatannya yang dihiasi sumber dari luka-lukanya. Terlalu menyakitkan, sementara sekuat apa pun ia melawan berusaha melindungi kewarasan, ia sungguh belum sekuat itu.


“Kenapa, Mbak?” Malini masih menagih jawaban sang kakak, di tengah tatapannya yang masih fokus kepada sang kakak. Sampai detik ini, Nina belum menatapnya lagi. Malahan makin lama, Nina makin terlihat sedih.


“Mereka sudah pergi jauh!” sergah Nina yang kemudian menghela napas dalam. Terlalu menyesakan sekaligus menyiksa jika terus membahas kedua manusia jelmaan ib*l*is itu.


“Oh ... ibu sama bapak pergi jauh buat kerja biar bisa bikin rumah baru karena rumah kita terbakar, yah, Mbak?” sergah Malini. Baginya yang belum paham apa yang terjadi, ibu Sulastri dan pak Surat tetaplah orang tua layaknya orang tua pada umumnya. Baik, wajib dihormati, dan juga menjadi rumah tempatnya harus kembali.


Tak mau makin pusing karena kepalanya saja sudah seperti dipanggang, Nina memilih mengangguk asal. “Sekarang kita tidur, ya!” Nina juga bersiap untuk tidur.


“Besok pagi-pagi, Mbak kerja lagi?” tanya Malini yang memang sedang bawel-bawelnya.


Nina yang menjadi irit bicara berangsur mengangguk-angguk. “Iya ... Mbak harus kerja terus biar dapat uang buat kamu sekolah. Biar kita juga bisa punya rumah.”


“Kuat Nin, ... ke depannya pasti akan lebih banyak hal lebih menyesakkan lagi. Sekarang, yang harus kamu lakukan cukup fokus pada niat dan tujuanmu. Kerja, kumpulin uang kamu, sekolahin Nina, syukur-syukur bisa punya usaha tambahan dalam waktu cepat,” batin Nina menyemangati diri sendiri. Ia segera menyelimuti tubuh Malini maupun tubuhnya.


Sementara itu, di ruang keluarga, Akala tengah meminta anggota keluarga yang ada di sana untuk tidak mengabarkan niat baiknya kepada Nina, sebelum dirinya yang mengabarkan.


“Bilangnya dalam waktu dekat saja, Mas. Maksud Mamah, jangan menunggu lama, takutnya ... ya intinya jangan bikin dia nunggu terlalu lama. Karena meski jodoh ada di tangan Tuhan,” ucap ibu Arum tertahan.


Karena Azzam sudah lebih dulu berkata, “Ya wajib dipastiin, sebelum direbut Ojan! Bayangin kalau dia dipepet Ojan terus, takut, minggat, gimana? Soalnya kalau aku lihat ya, Nina tipikal nekat, sudah telanjur hancur ya sudah enggak akan takut apa-apa lagi. Paling yang dia jaga ya Malini.”


Detik itu juga semuanya diam menjadikan Akala sebagai pusat perhatian. Dan setelah semuanya dibuat berharap kepada Akala cukup lama lantaran yang bersangkutan tampak merenung serius, anggukan sekaligus kesanggupan dari Akala membuat mereka tersenyum lega.


***


Satu babak penting dalam hidupnya telah Nina lewati. Dalam diamnya yang sampai detik ini masih cekatan bekerja di rumah makan milik Akala, Nina mensyukuri itu. Sambil sesekali mengelap keringat di wajah maupun sekitar lehernya menggunakan seragam bagian lengannya, dalam diamnya Nina juga berterima kasih kepada dirinya sendiri karena sudah menjadi kuat. Terima kasih karena dirinya tidak menyerah, meski sampai detik ini, Nina sadar bahwa dirinya belum bisa berdamai dengan kenyataan. Sebab di beberapa kesempatan, Nina bahkan akan mendadak merasa jij*ik pada dirinya sendiri.


Lantunan barusan dan Nina kenali sebagai suara Ojan, langsung mengusik Nina. Ia yang tengah meracik es teh berangsur menutup gelasnya menggunakan mesin plastik sambil sesekali melongok keluar. Benar saja, Ojan memang datang. Pria penuh keceriaan itu datang bersama ibu Arum dan kini tengah mengajari Malini gerakan tarian Rindu Pada Nabi.


“Malini ikut ngaji, ya. Nanti biar ikut pentas buat acara satu Muharram ...,” ucap Ojan di depan sana benar-benar bawel. Ojan sampai jongkok hanya untuk menyamakan tingginya dengan Malini. Dan yang Nina lihat, Malini nyaman-nyaman saja didekati Ojan.


“Ehm ...!” Akala sengaja berdeham guna menyudahi perhatian Nina kepada Ojan. Harus ia akui, keyakinan Azzam bahwa Nina bisa diambil Ojan memang benar. Apalagi tipikal Nina juga ia yakini bukan tipikal yang menilai seseorang dari segi fisik.


Kini, Nina langsung tersenyum kikuk. Tentu ia tak lupa, enam gelas dari es teh yang ia buat, salah satunya milik Akala. “Mas mau tehnya sekarang, apa saya antar ke ruang kerja Mas?” Saat bekerja seperti sekarang, sedekat apa pun mereka, Nina memang sengaja tetap bersikap sesopan mungkin. Bahkan meski Akala memintanya untuk bersikap sesantai mungkin, Nina tetap menjaga kesopanannya guna menjaga nama baik mereka.


Sebelum menjawab, Akala sengaja melongok ke depan. Suasana sudah tak seramai saat jam makan siang meski Ojan memang baru datang. Selain itu dan Akala harus mengakui Ojan mulai pintar, pria itu tak datang dengan tangan kosong. Karena Ojan membawa banyak balon lengkap dengan pompanya dan tengah digunakan untuk Malini. Selain itu, Ojan juga membawa satu kantong jajanan maupun satu kantong buah, dan semua itu masih untuk Malini.


“M-mas ...?” panggil Nina canggung lantaran Akala justru melamun memandangi kebersamaan Ojan dan Malini yang masih ditemani ibu Arum di depan sana.


Akala yang langsung terusik, refleks tersenyum canggung kemudian menatap Nina. “Sudah enggak terlalu rame, kan? Tolong antarkan ke ruang kerja saja, ya. Dua gelas sekalian buat kamu biar kita sama-sama istirahat. Aku tunggu,” sergah Akala yang tentu saja berharap Nina tak sampai memberi waktu Ojan dan langsung sigap ke ruang kerjanya.


“Mas Ojan memang baik. Sekarang saja, perubahannya sangat pesat. Walau mungkin tidak bisa secekatan laki-laki lain, setidaknya rasa tanggung jawab Mas Ojan bisa di atas rata-rata laki-laki kebanyakan. Hanya saja, aku telanjur nyaman dengan Nina. Aku enggak bisa membiarkannya berjuang sendiri lagi. Apalagi, dia sudah kehilangan kebahagiaannya sejak dini,” pikir Akala yang mondar-mandir gelisah di ruang kerjanya.


Tok ... tok ... tok ....


“Mas ...?”


Ketukan pintu yang disertai suara Nina, sudah langsung mengusik Akala. “Masuk!” Ia segera berseru, tapi tetap berdiri di depan jendela ruang kerjanya dan sengaja ia buka sempurna. Selain itu, ia juga sudah langsung menghadap jendela kemudian memasang senyum terbaiknya.


Satu hal yang Akala syukuri, Nina benar-benar membawa dua gelas es teh lengkap dengan sedotannya. Yang mana karena itu juga, Akala makin bersemangat, bersamaan dengan hatinya yang berkata, kini waktu yang tepat untuk memulai semuanya.


“Duduk, ya. Kita istirahat sambil ngobrol sebentar,” lembut Akala yang berangsur duduk di tempat duduknya.


“Ngobrol sebentar, memangnya aku sudah bikin salah, ya?” pikir Nina yang detik itu juga langsung tegang. Rasa tegang yang perlahan menjadi takut.