Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
43 : Ajakan Nikah


“Aku salah yah, Mas?”


Pertanyaan yang baru terlontar dari Nina barusan, sudah Akala duga sebelumnya akan langsung dipertanyakan oleh Nina. Karena pada kenyataannya, Nina memang sepolos itu. Pikiran Nina masih lurus, selain Nina yang tipikal tidak neko-neko. Padahal jika wanita lain yang Akala ajak mengobrol, bisa jadi wanita itu langsung gede rasa, atau malah langsung menangkap sinyal cinta yang Akala lemparkan.


Akala berdeham dan berusaha sedikit lebih serius. “Coba kamu pikirkan, kesalahan apa yang kamu buat hingga aku sampai panggil sekaligus ajak kamu mengobrol,” ucap Akala buru-buru menuju pintu lantaran ia mendengar langkah berisik mendekat dan ia yakini itu Ojan.


Nina yang langsung takut, refleks menatap kepergian Akala. Di luar sana, Ojan sudah berisik minta dibukakan pintu agar bisa masuk.


“Sainganku beneran berat. Musafir cinta yang mentalnya level permen karet. Beneran baru akan menyerah kalau wanita incarannya sudah menikah dan hidup bahagia!” batin Akala sembari menghela napas beberapa kali sambil menahan pintu yang sebenarnya sudah ia kunci. Ia berhasil mengunci pintunya di detik-detik terakhir bertepatan dengan Ojan yang sudah sampai menyentuh gagang pintunya.


Nina sudah berdiri menghadap Akala ketika Akala yang sangat ia hormati sebagai majikannya, akhirnya balik badan menatapnya. “Saya tidak tahu kesalahan saya apa, tapi andai Mas memberi saya arahan, saya akan berusaha memperbaiki.”


Mendengar itu, yang ada Akala justru merasa bersalah. Refleks ia menggeleng cepat, meyakinkan Nina bahwa wanita itu tidak bersalah. “Kamu beneran enggak bersalah. Aku hanya ingin kamu istirahat sambil ngobrol bentar sama aku. Aku mau bahas hal cukup penting!”


“Oh ....” Nina mengangguk-angguk, dan segera duduk karena Akala memintanya.


“Kam betah kerja di sini?” tanya Akala yang sadar, pertanyaannya terlalu biasa bahkan terdengar formal layaknya pertanyaan bos kepada bawahan, pada kebanyakan.


Nina mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Alhamdullilah, makasih banyak juga karena berkat bantuan Mas sekeluarga, alhamdullilah semuanya berjalan dengan jauh lebih mudah.”


“Sebenarnya sudah dari semalam aku mau ngajak kamu ngobrol, tapi aku yakin kamu capek. Mau kirim pesan apalagi telepon, kamu enggak pegang hape ....” Akala langsung berhenti bicara lantaran lagi-lagi, Nina meminta maaf. “Nina, ... jangan minta maaf terus. Aku sengaja ajak kamu ngobrol buat bahas rencana kamu ke depannya—”


“AKALAAAAA, BUKAIN PINTUNYA. KAMU LAGI NGAPAIN ISTRIKU SIH, NGAPAIN SAMPAI DIKUNCI GITU? KAMU LAGI LESUNG, YA? EH, MES-SUMM?”


Teriakan Ojan dari luar benar-benar berisik. Sementara Nina yang mendengar itu segera berdiri, hendak membukakan pintu tapi terlebih dulu meminta pendapat Akala.


“Sudah biarin saja. Duduk ... duduk ....” Akala sampai berdiri sambil mengarahkan agar Nina duduk menggunakan kedua tangannya.


Nina yang kebingungan, berangsur kembali duduk. Ia juga minum teh manisnya sesuai arahan Akala apalagi pria itu juga melakukannya. Selain itu, Akala memintanya untuk tidak memedulikan Ojan.


“Sudah, kan, minumnya?” tanya Akala tak lama setelah Nina beres minum. Entah kenapa, baru juga akan mengutarakan niat baiknya, yang ada ia sudah ketakutan seperti sekarang. Mungkin efek yang ia dekati sepolos Nina dan wanita itu memiliki beban hidup bahkan trauma yang benar-benar berat.


Nina yang masih bertanya-tanya mengenai maksud obrolan yang akan Akala lakukan, hanya mengangguk-angguk canggung. Berbeda dari kebersamaan sebelumnya, kali ini Nina merasa panas dingin karena terlalu tegang.


“Nin ... ayo kita menikah. Orang tua dan keluargaku setuju!” ucap Akala. Di hadapannya, Nina yang sekitar keningnya berkeringat bahkan anak rambut di sekitar kening basah, langsung bengong dan terlihat sangat syok.


“Masa? Ini kok jadi gini?” batin Nina yang memang sulit percaya apa yang baru saja Akala sampaikan. Ia refleks mencubit pipi kirinya, tapi hasilnya sangat sakit.


“Ini nyata, Nina ...,” yakin Akala yang masih menyikapi Nina dengan lembut. Di hadapannya, Nina hanya kebingungan dan perlahan tidak berani menatapnya.


“Mulai sekarang kamu enggak usah khawatir apalagi takut karena kamu punya aku dan keluarga aku yang bakalan selalu dukung kamu!” yakin Akala.


“T-tapi, Mas!” sergah Nina berusaha menolak Akala.


“Ada yang lebih baik dari aku?” sergah Akala sengaja memotong ucapan Nina. Di hadapannya, Nina langsung diam dan hanya kebingungan menatapnya.


“Ini aku mimpi apa? Kok mendadak begini. Ini rezeki apa musibah apalagi aku kan ... ko*t*or ...?” batin Nina yang perlahan menunduk karena kedua mata Akala terus menatap kedua matanya. Ia paling anti ditatap begitu apalagi setelah ia mendapatkan tatapan dari pak Surat dan berakhir dengan perbu*d*a*kan s*e*k*s yang pria itu lakukan bersama ibu Sulastri.


“Jangan berpikir aku begini karena wajah kamu mirip Cinta, bukan. Semuanya murni karena sifat dan cara pikir kamu.” Akala masih berusaha meyakinkan Nina. “Jangan berpikir latar belakang kamu karena andai kamu menilai lewat itu—”


“Saya sadar diri saya siapa, Mas!” Untuk Pertama kalinya, Nina berani memotong ucapan Akala.


Akala yang masih menatap lurus kedua mata Nina, berangsur mengangguk-angguk. Kini, kedua mata itu menatapnya penuh peringatan. Dan Akala sadar, Nina marah kepadanya. “Oke, makasih banyak sudah jadi orang yang selalu sadar diri. Enggak semua orang bisa seperti kamu.”


“Istriiiii, kamu lagi diapain sama Akala? Aku dobrak pintunya ya!” seru Ojan dari luar sana. Baik Akala maupun Nina yang dipanggil Ojan, refleks melirik ke pintu.


“Tolong kasih aku kesempatan, ya?” ucap Akala, tapi lagi-lagi, Nina langsung menggeleng. “Ngangguk kenapa?” pintanya dan Nina tetap menggeleng.


“Enggak usah langsung, ... pelan-pelan saja. Berproses, biar kita juga seperti orang tuaku. Biar kita bisa jadi keluarga bahagia buat Malini juga. Biar aku juga punya alasan buat lindungi kamu dengan leluasa,” lembut Akala.


“Mas Akala jangan menikahi saya. Nikah sama yang lain saya. ... pokoknya jangan. Mas Akala harus cari wanita baik-baik karena Mas orang sangat baik!” yakin Nina.


“Kamu tahu aku orang yang sangat baik. Rugi kamu kalau enggak sama aku!” ucap Akala mendadak mengikuti gaya percaya dirinya Azzam untuk bisa menggaet hati Nina. Lihat, meski kembali diam kebingungan, tapi kali ini Nina tampak gerogi.


Setelah menghela napas dalam kemudian menyeruput es tehnya sambil merenung serius tanpa menghiraukan teriakan Ojan, Akala berkata, “Apa harus lewat jalur taaruf, ya? Tapi orang tua sekaligus keluargaku sudah setuju banget, Nin. Kalau kamu enggak percaya, nanti malam kita ngobrol bareng mereka, ya?”


“Mas ....” Mendadak diajak menikah oleh orang yang sangat ia hormati dan baginya ibarat langit sementara dirinya bumi dan itu jurang paling dalam, justru membuat orang sekelas Nina yang sadar diri dirinya siapa, frustrasi.


“Pikirkan baik-baik. Jangan hanya ditolak mentah-mentah. Pikirkan buat ke depannya juga. Karena kalau kamu enggak mau pun, aku bakalan tetap sabar nunggu. Pelan-pelan,” yakin Akala lagi yang kemudian sibuk meminum es teh manisnya. Panas-panas dengan rasa manis dan dingin yang pas, sangat membuatnya merasa rileks terlebih jika ajakan nikahnya langsung Nina jawab —YA!