
“Terus, ... ibu dikasih apa, Pak?” ucap ibu Arum menagih hadiah juga kepada pak Kalandra.
“Ini, ... Ibu Arum dapat Bapak saja. Lebih gede dari boneka yang Malini dapat, kan?” ucap pak Kalandra yang awalnya serius, tapi berakhir tertawa lantaran sang istri sudah lebih dulu melakukannya.
Dalam hatinya, Nina yang melihat keromantisan orang tua Akala di tengah usia keduanya yang tak lagi muda berkata, “Aku berhak bahagia, meski malu dan takut terus membuatku ragu. Jadi, untuk jaga-jaga, aku tetap wajib jadi serba bisa biar aku enggak terlalu keban*ting dengan mereka,” batin Nina yang kemudian menyuguhkan setiap minuman di nampannya ke meja ibu Arum dan pak Kalandra.
“Ibu, minumnya ....” Dua gelas es teh dan satu gelas milo, Nina suguhkan di sana.
Pak Kalandra tersipu melirik sang istri, sebelum keduanya juga kompak diam-diam memperhatikan Nina.
“Papah mau disiapkan makan apa?” tanya ibu Arum kepada sang suami.
Setelah merenung sejenak, pak Kalandra sengaja menatap sekaligus bertanya kepada Nina. “Dari tadi yang paling rame, apa saja, Nin?”
Pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana, dan tentu saja masih wajar. Namun karena Nina sudah tahu perubahan status hubungan mereka, rasa gugup itu tak bisa Nina bendung. “Sayur belut bakar cabai hijau masih jadi menu paling rame selain ikan pepes, pecelnya mbak Mbi, termasuk rujak mbak Mbi, sama rica-rica entog. Sementara untuk minumannya, es teh manis jadi minuman favorit, selain es jeruk, es alpukat, dan juga es jambu biji merah, Pak.”
Pak Akala dan ibu Arum, menyimak sambil tersenyum kemudian mengakhirinya dengan mengangguk-angguk. Bagi mereka, meski Nina masih muda dan tidak dimodali pendidikan tinggi, Nina tipikal yang sangat ulet, cekatan, dan apa-apa bisa.
“Ya Allah, kok mereka jadi senyum-senyum gitu lihatin akunya,” batin Nina benar-benar gugup. Rasa gugup yang perlahan membuatnya tegang. Selain tubuhnya yang seolah menjadi lebih panas, buih keringat juga sampai berjatuhan membasahi pipi hingga melewati leher.
Malamnya sekitar pukul setengah sembilan, Nina pulang bersama Akala dan mereka tidak hanya berdua. Karena kini, mereka ditemani Malini. Nina duduk di sebelah Akala yang menyetir mobil, sementara Malini duduk di tempat duduk belakang sambil mendekap boneka beruang warna pink pemberian pak Kalandra. Pak Kalandra dan ibu Arum memang meninggalkan Malini di rumah makan lantaran keduanya ada undangan kondangan, tapi Malini menolak ikut.
“Kalau kamu kerjanya sampai malam, dan itu di luar rumah, yang ada Malini enggak keurus, Nin,” sergah Akala yang masih mengemudikan mobilnya dengan hati-hati.
Jarak rumah makan ke rumah orang tua Akala terbilang dekat hingga Akala sengaja mengajak Nina untuk mengobrol serius. Apalagi, kali ini obrolan mereka tidak dirusuhi Ojan, selain Malini yang juga sudah ketiduran.
“Iya, Mas. Memang harus ada yang dikorbankan. Mau bagaimana lagi?” lirih Nina menunduk sedih.
“Ke depannya enggak boleh gini. Malini masih butuh banget arahan kamu. Buktinya, sebaik apa pun orang rumah termasuk papah mamah, Malini tetap enggak mau ikut mereka. Jadi, nanti kalau kita sudah menikah, kalau memang bukan untuk urusan mendesak, sebelum maghrib kamu sudah harus pulang karena ibaratnya, kamu sudah jadi ibunya Malini. Tapi ya tetap, jangan berpikiran tua terlalu dini. Sekarang usia kamu baru dua puluh satu, kan? Masih sangat muda.”
Mendengar itu, dalam hatinya Nina berkata, “Mas Akala lagi bahas masa depan.”
“Nantinya kamu tolong bantu aku di rumah makan karena biar bagaimanapun, Mas Aidan sudah serahin itu ke aku. Terus buat tambahan kita, aku mau ambil job di luar sekalian lanjut usaha online.” Sambil menoleh dan menatap Nina, Akala berkata, “Kita bakalan sibuk. Lumayan, soalnya follower toko onlineku juga makin rame. Nanti aku bikin studio khusus buat live. Kamu berani live maksudnya, jualan online secara langsung, atau kita bayar orang saja?”
Akala langsung mengangguk-angguk. “Iya, tapi nanti lihat kondisi. Ini pun aku mau cari orang buat packing. Rumah makan versi online yang aku urus mulai rame, tapi belum mela*yani ke luar kota. Masih sekitar sini saja demi menjaga kualitas makanan karena rumah makan pun belum ada produk kering, kan. Semuanya mudah rus*ak.”
“Kecuali kalau prasmanan sepertinya tetap bisa dikirim ke luar kota. Pas aku kerja di Bandung, prasmanannya juga asli dari Surabaya, Mas,” balas Nina yang merasa cocok dengan Akala jika sudah membahas pekerjaan.
Akala mengangguk-angguk. “Kalau itu memang sudah, termasuk yang penjualan online juga sudah. Hanya saja, yang online versi ti*k-tok, IG, dan memanfaatkan apl*ikasi jual beli online, memang baru kali ini. Biasanya a*k*un punyaku kan hanya buat pro*m*o produk pakaian, kosmetik dan aneka perlengkapan rumah tangga gitu ....” Dalam hatinya, diam-diam Akala bersyukur, “Alhamdullilah, akhirnya pelan-pelan Nina mau masuk ke kehidupanku. Orang seperti Nina memang wajib dibikin sibuk sih. Tapi kalau terlalu sibuk, ujung-ujungnya tipes!”
“Nin, kamu punya maag sama tipes, ya?” tanya Akala dan langsung membuat Nina kebingungan menatapnya.
“Kok, Mas tahu ...?” balas Nina.
“Sudah kelihatan. Orang yang selalu sibuk kerja kayak kamu pasti langganan maag sama tipes!” ucap Akala yang kemudian berkata, “Wajib jaga kesehatan, ya! Makan dikit tapi sering. Itu paling bagus buat lambung.”
“I-ya, Mas.” Nina jadi canggung, meski dalam hati, ia mulai memuji kelembutan sekaligus ketulusan Akala. “Mas Akala baik banget, dan orang sebaik ini ingin menikahiku. Beruntung sekali aku.”
Sampai rumah, Akala melarang Nina membangunkan Malini, selain Akala yang juga melarang Nina menggendong Malini. Sebab Akala lah yang melakukan itu. Nina hanya diminta membawakan boneka Malini, selain tote bag kecil milik Nina. Karena Akala memang membawa tas kerjanya sendiri.
“Ah ... asli ... terancam bujang sendirian kalau gini ceritanya!” ucap Azzam yang kebetulan membukakan pintu.
Akala yang sempat tersipu sengaja berkata, “Kan masih ada mas Ojan, Mas!”
“Masa iya, kami harus bikin padepokan bujang dan isinya hanya aku sama Ojan? Kalau Sepri jelas mau jadi pejuang cintanya Suci, eh, aku pun ada Sundari. Berarti cuma Ojan yang jadi penghuni padepokan Bujang! Hahahaha. Eh, Nin ... kamu jangan takut gitu dong ke aku. Aku orangnya santai kok, meski aku memang enggak bisa diam!” ucap Azzam yang lagi-lagi cekikikan.
Nina hanya tersenyum canggung kemudian mengangguk-angguk seiring ia yang mengikuti Akala. Ia tak sampai pamit kepada Azzam karena Akala sudah lebih dulu melakukannya.
Akala masuk ke kamar tamu. Kamar yang sudah menjadi tempat tinggal Nina dan Malini. Pria itu menidurkan Malini dengan hati-hati. Malini tidur dengan sangat lelap.
“Beres mandi nanti ke ruang tamu, ya. Buat daftar sekolah kejar peket kamu. Sama ... ini. Sudah aku isi kartu dan di situ sudah ada kontakku, mamah, papah, dan semua anggota keluargaku. Biar komunikasi kita lancar. Itu masih baru dan belum dicas. Cas dulu.” Sebuah kantong karton tidak begitu besar dan bergambar ponsel dari sebuah toko, Akala berikan kepada Nina. Karena Nina tak kunjung menerima, ia sengaja meletakkannya di tangan Nina.
“Sudah, jangan merasa terbebani apalagi minder,” yakin Akala yang berangsur pergi dari sana.