Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
63 : Balas Dendam Elegan


Acara nyekar ke makam yang awalnya Akala targetkan hari Jumat sore, menjadi dilaksanakan di paginya. Sekitar setengah tujuh pagi, rombongan sudah ada di makam kakek nenek sekaligus keluarga pak Kalandra. Kemudian kebersamaan mereka beralih pada makam anak-anak ibu Arum sebelum mas Aidan lahir. Terakhir, mereka mampir ke makam bapaknya ibu Arum.


Meski niat mereka untuk nyekar, mengingat lokasi yang dekat, mereka juga sengaja mampir ke rumah kakaknya ibu Arum yang dengan kata lain masih ayah tua atau itu pakdenya Akala. Mereka khususnya Akala dan Nina, sengaja meminta doa restu layaknya adat atau itu kebiasaan masyarakat setempat.


Beres dari rumah pakde Akala, mereka langsung ke makam orang tua Nina. Kali ini Akala tetap memimpin, menggandeng Nina yang makin istiqomah dengan hijrahnya. Terlebih belum apa-apa saja, tangis Nina sudah tak terbendung. Tersedu-sedu Nina tanpa bisa menyudahinya. Nina bahkan tak kuasa mengontrol diri dengan memeluk patok kayu yang tak lagi dihiasi nama karena tanda di sana sudah luntur.


Nina memiliki alasan kuat mengapa dirinya sesedih, seberat, bahkan sekalut sekarang. Sebab semua yang ia alami dan mendadak terputar di ingatannya, juga disertai apa yang terjadi kepadanya sekarang. Nina tidak bisa menampik, rasa malu sekaligus minder sangat sulit ia hilangkan dari kehidupannya hanya karena ia bersanding dengan Akala.


Awalnya semuanya tampak baik-baik saja, meski pemandangan Nina yang terus tersedu-sedu memeluk patok kayu makam orang tuanya silih berganti menjadi kenyataan pilu yang mengaduk-aduk perasaan mereka. Ibu Arum dan nenek Kalsum sampai menitikkan air mata. Mereka tidak menghentikan apa yang Nina lakukan karena mereka yakin, itu bentuk kerinduan sekaligus ungkapan emosi Nina selama ini. Hanya saja, mereka juga tak menyangka jika setelah tersedu-sedu sangat pilu sekaligus menyayat hati, Nina justru berakhir pingsan.


Akala sudah langsung memangku Nina sambil terus merampungkan doa mereka dan merapikan bunga-bunga segar yang mereka tabur di sana.


***


“Waktu berlalu dengan sangat cepat,” pikir Nina. Ia terdiam mengawasi suasana luar dari jendela kaca kamar di sebelahnya. Kemudian ia menghela napas dalam. “Sulit sekali mengobati luka. Sulit sekali berdamai dengan kenyataan, padahal aku sudah diberi kebahagiaan yang luar biasa.”


“Pada kenyataannya, kita hanya perlu menikmati apa yang telah kita miliki tanpa lupa untuk bersyukur, Nin.” mbak Arimbi berucap lembut sambil melongok dari balik pintu kamar tamu Nina tinggal.


“Mbak masuk, ya?” lembut mbak Arimbi.


Nina terkesiap merasa terkejut dengan kehadiran mbak Arimbi walau wanita itu melakukan segala sesuatunya dengan pelan, lirih, benar-benar lembut. Mbak Arimbi memasuki kamar Nina dengan hati-hati. Nina yang awalnya duduk selonjor sambil mengawasi suasana luar melalui jendela di sebelah, segera menyeka sekitar matanya.


Mbak Arimbi berangsur duduk di sebelah Nina. “Mbak tahu, apa yang kamu alami beneran berat. Mbak bahkan yakin, Mbak belum tentu sanggup jika jadi kamu. Namun seenggaknya kamu harus percaya, kamu orang sekaligus wanita terpilih. Allah beneran sedang berusaha mengangkat derajat kamu dari apa yang kamu alami. Derajat yang enggak sembarang orang bisa lihat. Namun di langit sana, hamba-hamba Allah paham, mereka kenal sama kamu sebagai wanita hebat!” ucap mbak Arimbi sembari menggenggam kedua tangan Nina. Belum apa-apa, Nina sudah berlinang air mata. Iar mata yang seketika menular kepadanya, tapi ia memaksa dirinya untuk jauh lebih tegar.


“Sebagai sama-sama menantu yang pernah minder juga, Mbak hanya ingin kamu tahu, syukuri kesempatan ini karena menjadi bagian dari keluarga ini beneran anugerah. Mbak beneran enggak akan lelah buat ingatin kamu. Syukuri, dan jadilah Nina yang lebih baik lagi!” lanjut mbak Arimbi seiring genggamannya yang makin erat.


Berlinang air mata, Nina mengangguk-angguk.


“Kamu juga jangan lupa buat bersyukur ya. Bersyukur dan rawatlah semua yang kamu miliki. Berhubung semua yang kita miliki ini titipan, jangan sampai kita menyesal setelah Allah kembali mengambilnya. Setidaknya, mensyukuri sekaligus merawat apa yang kita miliki, selain bisa membuat kebahagiaan ini makin bertambah berkembang biak layaknya sebuah pekerjaan, kenangan yang kita tinggalkan pasti akan ikut indah. Iya, kan?” lanjut mbak Arimbi menutupnya dengan senyum lembut.


“Makasih banyak, Mbak. Benar-benar makasih!” ucap Nina tersedu-sedu. Mbak Arimbi mengangguk-angguk kemudian memberikan pelukannya kepada Nina. Tak seperti biasanya, kali ini Nina sudah langsung membalas pelukan mbak Arimbi. Pelukan yang makin lama makin erat.


Keesokan harinya, Nina yang memakai setelan jingga muda lengkap dengan kerudungnya, melangkah tenang ditemani Akala. Keduanya memasuki lorong menuju tempat besuk rutan Reno ditahan. Iya, rutan, efek banding yang Reno ajukan memang membuat pria itu tetap di rutan. Lain dengan Cinta, ibu Sulastri dan juga pak Surat yang sudah menempati lapas.


Nina tersenyum lembut ketika tatapannya dan Akala bertemu. Senyum yang langsung dibalas dengan senyum yang jauh lebih lembut sekaligus hangat dari Akala. Senyum yang selalu menjadi alasan betapa Nina sangat beruntung memiliki Akala. Khususnya mbak Arimbi, wanita itu selalu meyakinkan Nina begitu. Bahkan karena senyum tersebut pula, dunia seorang Nina seolah menjadi berputar lebih lambat.


“Sekarang aku tahu, balas dendam yang sesungguhnya itu seperti apa. Iya, semuanya bermula dari aku yang lebih peduli sekaligus mencintai diriku, kemudian aku membuat diriku bahagia sebahagia-bahagianya, dan terakhir, aku cukup membahagiakannya kepada mereka yang pernah melukaiku sangat dalam,” batin Nina. Kini, di hadapan Reno, ia sengaja membagikan kebahagiaannya.


Reno yang wajahnya dihiasi beruntus hitam efek ulat bula pemberian Nina, sudah langsung pangling kepada Nina. Penampilan baru Nina membuat Reno tidak bisa mengenalinya. Andai Reno tidak melihat Akala yang duduk di sebelah Nina, tentu Reno makin yakin, yang datang itu salah besuk.


“Assalamualaikum, Mas?” sapa Nina ketika akhirnya, Reno duduk. Pria itu masih sibuk menatapnya dan tampak sangat sulit memercayai apa yang terjadi.


Meski Reno belum membalasnya dan memang tak kunjung melakukannya, Nina sengaja berkata, “Terima kasih banyak karena sudah menjadikanku sebagai istri yang har*am disentuh untuk Mas!”


Bukannya paham, apa yang Nina katakan malah membuat Reno makin bingung.


Balas dendam elegan, itulah yang tengah Nina lakukan kepada Reno.