
“Sabar Cinta, ... sabar ....” Dalam hatinya, Cinta sibuk menyemangati dirinya sendiri sambil sesekali menghela napas pelan.
“Kamu kelihatan enggak sehat, Vin,” ucap ibu Arum sembari membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Chalvin. Ia sengaja mendiamkan Cinta sebagai wujud hukumannya kepada wanita itu. Ia ingin keseriusan Cinta agar menjadi sosok yang lebih bertanggung jawab.
Chalvin menghela napas dalam. Ia tersenyum masam kemudian menggeleng membalas ibu Arum.
“Jangan terlalu dipaksakan kalau kamu memang enggak bisa. Lepas saja apalagi sejauh ini, kamu selalu melakukan yang terbaik!” yakin ibu Arum. Sebab melihat lingkar mata Chalvin sampai terlihat hitam bahkan agak cekung, ia jadi kasihan.
Chalvin mengangguk-angguk kemudian memeluk ibu Arum di tengah air matanya yang berlinang.
“Enggak apa-apa, Vin. Enggak apa-apa. Bukan kamu yang salah. Orang tua kamu juga sudah melakukan yang terbaik. Ya mau bagaimana lagi? Semuanya kan kembali kepada yang menjalani. Sekenceng apa pun kita menjaga, kalau yang dijaga selalu semaunya, beneran sudah lepas saja. Bismillah, semoga ada hikmah!” lirih ibu Arum sambil mengelus-elus punggung Chalvin menggunakan kedua tangannya. Ibu Arum yakin, walau hanya diam, Chalvin yang masih memeluknya tengah menangis. Kenyataan tersebut dikuatkan dengan Chalvin yang menghela napas dalam beberapa kali sambil sesenggukan.
“Sampai sekarang aku belum berani mengabari papah mamah. Aku takut mereka syok. Aku mau mereka fokus pada Chole dan Helios saja di Korsel. Chole bilang, walau di sana mereka fokus ke operasi wajah Helios, Chole dan Helios juga mau ajak papah mamah sekalian liburan.” Chalvin tersedu-sedu dengan suara yang sangat lirih. Malahan saking sedihnya, berbicara saja ia jadi tidak tertata.
Ibu Arum yang jadi satu-satunya sosok yang mendengar ucapan lirih Chalvin, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, ... Ibu percaya kamu sudah melakukan yang terbaik. Ya sudah, dijalani sesuai rencana saja.” Sadar Chalvin sudah sangat pusing memikirkan Cinta, ibu Arum pun mengambil alih. Ia yang masih mendekap Chalvin bertanya dengan nada tegas kepada Cinta.
“Kamu bukan anak kecil lagi yah, Ta. Kamu sudah dewasa. Sekarang Ibu tanya ke kamu, ... sekarang apa mau kamu?” tanya ibu Arum. “Andai kamu masih menyalahkan Akala, Chalvin, orang tuamu, Chole, atau malah kamu menyalahkan Helios, bahkan kamu menyalahkan Nina ... berarti otak kamu memang sudah enggak berfungsi. Di Surga sana, mamah kamu nangis darah gara-gara ulah kamu. Bukannya belajar dari kesalahan kakak kamu, kamu justru lebih parah.”
“Mulai detik ini, tolong berhenti beranggapan kamu paling menderita. Semua orang bisa, kembali ke niatnya saja. Nyatanya, kamu saja sampai bisa mengoperasi wajah Nina jadi wajah kamu. Ini kan sudah kejahatan luar biasa. Kamu bahkan melupakan jasa-jasa orang tua sekaligus keluarga angkat kamu. Mereka sudah baik banget loh!”
“Ya sudah, sekarang kamu akui kesalahan kamu biar hukuman yang kamu terima enggak seberat beban yang kamu pikirkan!” ibu Arum mengakhiri ucapannya dengan menatap jengkel yang bersangkutan.
“Merendah untuk meroket, lakukan itu, Ta!” batin Cinta menyemangati dirinya sendiri. “Aku ... aku benar-benar minta maaf.” Kata itu akhirnya terucap, tapi melalui lirikannya, Cinta mendapati permintaan maaf yang ia lakukan tak ubahnya angin yang berlalu bahkan tidak lebih menarik dari makanan basi.
“Aku tahu aku telat, ... aku tahu, aku sudah keterlaluan. Namun aku terlalu syok, aku ....” Dalam hatinya, Cinta sangat berharap kepedulian kepadanya. Ia berharap mereka mengatakan, “Iya, enggak apa-apa, yang penting kamu sudah menyadari kesalahan kamu!” Seperti saat awal mereka membujuknya. Namun, semuanya tetap memasang wajah kecewa. Termasuk sekelas Akala yang sekadar meliriknya saja, seolah tak sudi. Yang mana tadi, Akala malah memarahinya.
“Katanya kamu kecelakaan? Jadi korba*n be*g*al? Kamu terluka parah?” Justru Nina yang angkat suara.
“Aku minta maaf ya Nin!” ucap Cinta sinis yang juga sampai memalingkan wajah.
Nina mengernyit kemudian tersenyum geli. “Kalau minta maaf yang tulus, Ta. Kamu itu bukan anak kecil lagi. Usia kamu sudah tiga puluh lebih dan kalau kamu orang kampung, apalagi kalau kamu nikah muda, seenggaknya kamu sudah punya anak tiga!” Nina sengaja mengatakan itu agar Cinta tersindir. Lihatlah, Cinta sudah langsung menatapnya dengan tatapan bengis.
“Jadi orang jangan banyak muka, takutnya kamu salah pakai muka, Ta. Enggak tega aku lihatnya.” Nina benar-benar kesal. “Gini yah, Ta. Aku beneran enggak akan menu*ntut kamu asal kamu mengakui kesalahan kamu. Bikin video pengakuan terbuka, buka wajah kamu. Minta maaf juga ke orang tua sekaligus keluarga angkat kamu!” tegas Nina yang kemudian berkata, “Hidup enggak usah dibikin sulit biar kita enggak kelihatan pi*cik!”
Cinta terdiam menatap Nina. Perlahan tapi pasti, ia menarik ujung gamisnya, memperlihatkan keadaan tangannya yang terbaret parah hingga dagingnya terlihat. Tangan kanan dan kiri sudah ia perlihatkan dan kini giliran wajahnya. Dunianya seolah langsung berputar lebih lambat hanya karena apa yang akan ia lakukan.
Terkejut. Semuanya benar-benar merasakan itu, bahkan Chalvin yang sebelumnya sudah beberapa kali melihat wajah terbaru Cinta. Bahkan sekelas mas Aidan, Arimbi, dan juga ibu Arum yang masih merangkul Chalvin refleks mengelus-elus perut Arimbi. Dalam hati ketiganya, mereka kompak berkata, “Amit-amit.”
Butiran bening mengalir dari kedua sudut mata Cinta yang sampai detik ini masih menatap lurus kedua mata Nina. Luka di wajah Cinta belum sepenuhnya kering, membentuk koreng dan dagingnya tampak menggumpal. Lebih parah dari Helios.
“Kamu masih merasa jadi si paling korba*n?” sinis Cinta kepada Nina.
“Kamu bahkan tetap enggak bisa jaga sikap kamu dan sekarang kamu haus pengakuan jadi yang paling korb*an?” tepis Akala masih dengan suara lirih terkontrolnya. Sambil menatap sengit Cinta, Akala yang malah merangkul Nina, meminta semuanya untuk masuk.
“Aku tunggu kamu buat jadi Cinta yang dulu, Ta. Cinta yang baik, tanggung jawab. Cinta yang jadi panutan. Lupakan obsesi kamu yang hanya bikin kamu kehilangan semuanya. Sekelas Akala yang paling sabar, sekelas Akala yang akan tetap diam walau diin*jak bahkan diselingkuhi kamu!” ucap mas Aidan. Awalnya ia menatap tak habis pikir Cinta yang wajahnya sampai tidak ia kenali. Malahan andai wanita itu tak bersuara, ia sungguh tidak menyangka itu Cinta. Namun, keributan di luar dan itu karena ada sekelompok orang yang mencoba masuk untuk menyaksikan sidang ka*su*s Nina, mas Aidan jadi bingung.
Mas Aidan mengkhawatirkan keselamatan sang istri berikut janin mereka. Mas Aidan tak mau istrinya yang sedang hamil sampai terjebak di antara massa yang berdesak-desakan.
“Efek kasusnya vir*al, makanya pada datang yah, Mas. Merinding aku Mas. Lagian, kasus ini harusnya juga melibatkan komnas perempuan sama komnas perlindungan anak ...,” lirih Arimbi kebingungan menatap sang suami yang sudah langsung merangkulnya. Dari yang ia tangkap, mas Aidan juga tak kalah bingung.
Di depan pintu ruang sidang, Nina yang mendengar namanya dilantunkan lantang secara kompak memberinya semangat, berangsur menoleh. Ada banyak orang dan jumlahnya lebih dari tiga puluh orang. Selain sebagian besar dari mereka yang membawa spanduk anti kek*erasan s*ek*sual kepada wanita dan anak, sebagian dari mereka juga ada yang mengabadikan momen di sana menggunakan bidik kamera ponsel. Tak kalah membuat Nina merinding, tentu kehadiran beberapa awak media yang sudah bergerak cepat meliput.