Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
20 : Tak Mau Buruk Rupa


Di tengah keadaan setengah sekarat, hidup segan mati enggan, Cinta mendadak ingat sederet nasihat sekaligus arahan orang-orang. Semua nasihat dan arahan, silih berganti memenuhi benak Cinta. Juga tanggapan Cinta yang menganggap remeh semua itu. Yang mana kemudian, wajah asli Nina maupun wajah Nina yang sekarang menutup semua ingatan itu.


Jauh di lubuk hatinya, Cinta sudah langsung meraung-raung. Tak semata karena rasa sakit yang harus ia rasa akibat luka-lukanya, tetapi juga mengenai gambaran yang akan terjadi pada dirinya setelah pembeg*alan yang menimpa. Karena sudah dipastikan, luka di wajahnya akan berakibat fatal. Cinta yakin dirinya akan buruk rupa bahkan lebih parah dari Helios. Belum lagi, kenalpot panas yang sempat menindih kepalanya.


“Ya Alloh Mamah, sesakit ini. Andai tadi aku ngikutin arahan Akala. Atau setidaknya, dari kemarin aku sudah menyerahkan diri. Ya Alloh ini gimana?! Sakit banget ya Alloh! Nina saja pasti enggak sesakit ini karena operasi yang Nina jalani pakai uang, mahal!” jerit Cinta dalam hatinya.


Warga sudah langsung mengevakuasi Cinta. Sebagian dari mereka langsung tidak berani mendekat setelah mereka melihat keadaan wajah Cinta. Saking parahnya sekaligus sangat mengerikan, mereka tak sanggup menjelaskan bagaimana keadaannya.


Rambut panjang Cinta yang tersangkut ke rantai sengaja dipotong guna mempermudah evakuasi. Sedangkan kedua bega*l yang tadi langsung dikero*yok nyaris sekarat dan satu di antaranya menawar minta minum.


“Aku enggak mau buruk rupa. Aku beneran enggak mau! Kalau gini caranya, mending aku mati saja!” Dalam hatinya, Cinta terus saja berkeluh kesah. Tak hentinya berteriak padahal jangankan bergerak, bernapas saja, Cinta kesakitan, sulit.


***


Sebenarnya, tidak ada saudara yang ingin Nina kunjungi. Nina merasa sangat malu jika harus bertemu apalagi berinteraksi dengan orang yang mengenalnya sekaligus mengetahui kasu*snya, bahkan meski orang itu masih keluarganya. Namun jika melihat situasi, Nina memang butuh tempat tinggal karena satu-satunya rumah yang Nina miliki sudah Nina bakar.


“Aku takut kejadian seperti di masa lalu kembali terjadi. Membayangkan orang terdekat justru tega kepadaku maupun Malini. Rasanya, ... memang lebih baik tinggal sendiri meski hanya di kontrakan kecil. Masalahnya, seribu rupiah saja aku beneran enggak punya. Sedangkan andai aku mau jual tanah rumah peninggalan orang tuaku, itu enggak mungkin langsung laku. Jual tanah enggak secepat itu karena jual makanan saja kadang enggak laku,” pikir Nina.


Akala sudah mengantar Nina ke rumah bibi Nina. Bibi adik dari mamahnya Nina. Bibi Sumi.


Di sebelah Nina, Akala yang masih duduk di balik setir, bisa melihat ketakutan yang begitu besar dari Nina. Wanita muda di sebelahnya sudah melukai kuku jemari tangannya. Jemari Nina begitu sibuk memangkas ujung jemari kuku—keadaan yang kerap dilakukan secara refleks oleh mereka yang sedang merasa sangat tegang bahkan takut.


“Apakah kamu merasa takut bertemu apalagi berinteraksi dengan orang yang mengenalmu sekaligus mengetahui kas*us kamu? Kalau ke yang sekadar tahu kasu*s kamu, mungkin kamu bisa cuek. Namun kalau sampai harus menetap, ... sepertinya itu akan berat buat kamu. Bukannya bermaksud mengajarimu untuk lari dari kenyataan. Karena kadang kita memang harus melakukan apa pun termasuk itu lari dari kenyataan, agar kita tetap baik-baik saja.”


“Agar kita enggak makin tertekan dan malah berakhir melukai diri sendiri. Posisi kamu beneran enggak bisa menerapkan jurus masa bo*do. Cuek dan sebagainya pun enggak bisa bikin mereka berhenti menilai sekaligus menghakimi kita.”


“Kita hanya punya dua tangan, Nin. Selain kita enggak bisa membungkam mulut orang-orang agar mereka berhenti menghakimi, kamu juga enggak mungkin selamanya menutup telinga maupun mata kamu menggunakan kedua tangan kamu.”


“Kamu beneran butuh lingkungan baru. Lingkungan yang bisa kasih kamu energi positif. Biar kamu bisa bangkit dan memulai lembar hidup baru.” Akala yang tadi terus berucap lembut, juga masih menatap Nina penuh keteduhan. Di sebelahnya, Nina hanya berani menatapnya melalui lirikan sungkan cenderung takut.


“Mas Akala beneran baik apa gimana sih? Tapi masa iya, ada orang sebaik ini? Tubuhnya tegap gitu, tapi hatinya pink! Lembut, baik, jadi takut sendiri!” batin Nina masih belum berani menatap Akala secara terang-terangan.


“Lini!” lantang Nina buru-buru keluar dari mobil. Ia segera meninggalkan halaman depan rumah bibi Sumi selaku tempat Akala memarkir mobil.


Malini yang sempat menoleh sekaligus menghentikan larinya, hanya menatap aneh wajah penuh lebam milik Nina.


“Orang ini—?” Malini mengenali wajah baru Nina. Wanita itu ia yakini sebagai penyelamatnya ketika ia terjebak di kebakaran.


“Malini, ini Kakak. Kak Nina. Suara ... kamu kenal suara Kakak, kan? Wajah Kakak sakit, jadi diobati. Ini wajah baru Kakak. Terus, kenapa kamu menangis Sayang!” Nina sampai jongkok hanya untuk menyamakan tingginya dari tinggi sang adik. Menggunakan kedua tangannya yang tak luput dari luka, ia membingkai wajah adiknya penuh sayang. Ia hapus setiap air mata di sana dan ia sungguh merasa sangat sakit hanya karena melihat semua itu.


Akala yang sudah turun dan masih berdiri, menatap sedih kenyataan tersebut. Nina memiliki hati yang sangat lembut. Nina terlihat tulus dan tetap sangat peduli padahal gara-gara ibu Sulastri mamahnya Malini, Nina merasakan penderitaan bertubi.


“MALINI! KAMU YA, DISURUH NYUCI GERABAH, PIRING SAMA GELAS KAMU PECAHIN, DISURUH SETERIKA, SEMUANYA MASIH LECEK. LAH INI DISURUH MASAK MALAH KEASINAN!”


Teriakan suara seorang wanita dan itu dari belakang, tepatnya dari dalam rumah, sudah langsung mengusik Nina dan Akala. Keduanya langsung kaget, tak kalah kaget dari Malini yang langsung kabur ketakutan.


“Ampun, Bi ... ampun!” lirih Malini ketakutan sambil terus lari.


Darah Nina sudah langsung seperti didihkan. Nina sangat emosi, terlebih apa yang Malini alami kini juga menjadi bagian dari masa lalu kel*am seorang Nina. Meski itu juga karen ibu Sulastri selaku wanita yang telah melahirkan Malini, Nina tetap tidak terima andai ada orang lain apalagi adiknya, juga sampai mengalaminya.


“Sini kamu, biar sapu Bibi bikin kamu mikir. Bocah gobl*ok, diajari enggak bisa-bisa. Untung saja aku masih mau nampung!” kesal bibi Sumi masih berkeluh kesah. Ia langsung bungkam dan perlahan menghentikan langkah buru-burunya ketika melihat seorang wanita berdiri tepat di depan pintu rumahnya yang terbuka sempurna.


Nina sengaja menghadang sang bibi, sementara Akala mengejar Malini. Bibi Sumi sendiri langsung bengong karena belum mengenali wajah baru Nina. Termasuk ketika Nina merebut sapu ijuk di tangan kirinya dan rencananya akan ia gunakan untuk member Malini pelajaran. Bibi Sumi masih bengong dan perlahan tersenyum.


“Maaf, Mbak, ... Mbaknya cari siapa, ya?” tanya Bibi Sumi sengaja basa-basi.


Bukannya menjawab, Nina yang masih menatap marah sang bibi, sengaja menghant*amkan gagang sapu ijuknya sekuat tenaga ke kepala sebelah kiri sang bibi.


Bibi Sumi sudah langsung menjerit sekaligus sempoyongan gara-gara ulah Nina.