Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
40 : Berharap Semuanya Hanya Mimpi


Mas Aidan yakin, pengadilan khususnya hakim tidak mungkin mengambil risiko pada ka*s*us Nina yang telanjur vir*al. Karena andai mereka sampai mengecewakan masyarakat yang mengawal kas*us, kepercayaan masyarakat kepada hukum di negara ini menjadi taruhannya.


“Ya Allah, kok aku kasihan ke Cinta apalagi keluarganya, ya?” batin Nina harap-harap cemas. Melihat Chalvin yang terus menunduk pasrah, ia merasa sangat kasihan. Lesunya Chalvin yang tampak layaknya orang sakit justru membuatnya merasa sangat bersalah.


“Fokus pada vo*nis hakim saja, Nin. Enggak apa-apa. Enggak usah merasa bersalah.” Meski tak sedikit pun melirik Nina, Akala yang memang duduk di sebelah Nina berangsur meraih kemudian menggenggam sebelah tangan Nina.


Nina menunduk dalam.


“Saat membeli kamu kemudian membuat wajahmu dioperasi, dia sadar. Dia enggak mengigau apalagi k*e*s*urupan. Justru dengan dia yang dipenjara, bisa jadi ini akan membuat beban hidup keluarganya jadi lebih ringan,” lanjut Akala.


“Aku pengin nangis, Mas,” lirih Nina seiring cairan hangat yang sudah membuat kedua matanya terasa sangat berat.


“Ngumpet di punggungku!” balas Akala tanpa perubahan berarti.


Nina yang tetap membiarkan sebelah tangannya di genggam erat oleh sebelah tangan Akala, benar-benar langsung agak ke belakang kemudian membenamkan wajahnya di punggung pria itu.


“Pak, Mak, ... aku sampai bingung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa rasanya seberat dan sesakit ini!” batin Nina terisak pedih di punggung Akala.


Ibu Arum terusik pada isak pedih Nina, tapi karena Nina sudah bersama Akala, ia lebih memilih fokus menguatkan Chalvin. Ibu Arum memeluk Chalvin dan langsung mendapat balasan. Chalvin memeluk erat ibu Arum meski tenaga yang tersisa tak seberapa. Sebab sidang yang Cinta jalani, membuat sebagian nyawanya seolah dicabut paksa. Cinta dan hukuman yang harus dijalani—bagi Chalvin, kenyataan tersebut akan selalu menjadi mimpi b*u*ruk untuknya sekeluarga.


Hukuman seumur hidup dan juga kebiri diberikan kepada pak Surat. Ibu Sulastri langsung pingsan setelah mendengar itu. Sementara untuk ibu Sulastri, wanita itu digan*jar hukuman dua puluh tahun penjara layaknya hukuman yang harus Reno terima. Namun khusus Reno, pria itu tidak terima dan memilih banding.


Nina yang belum apa-apa sudah merasa lemas karena vonis tinggi yang hakim berikan, refleks menggunakan sebelah tangannya yang bebas, untuk memeluk erat tubuh Akala. Layaknya Nina, Chalvin yang tubuhnya mirip orang demam, juga makin memeluk erat ibu Arum. Ibu Arum dapati, Chalvin yang sampai gemetaran.


“.... Saudari Cinta ... atau terdakwa Cinta, dinyatakan bersalah .... hukuman sepuluh tahun penjara berikut denda ....”


Meski terpejam sudah membuat pandangan Chalvin gelap, apa yang baru saja terucap sudah langsung membuat kesadarannya melayang. Chalvin pingsan dan berakhir di pangkuan ibu Arum lantaran tubuhnya merosot.


“Mas Aidan bilang, apa yang Cinta lakukan yaitu membuat wajah Nina menjadi mirip wajahnya, masuk ke pe*langga*ran HAM berat. Hukuman paling ringan itu sepuluh tahun sementara tertinggi hukuman ma*ti,” batin Arimbi yang sengaja menghampiri Cinta. Ia memeluk Cinta, memberikan dukungannya agar wanita itu kembali ke jalan yang benar.


“Sepuluh tahun ...?” lirih Cinta masih diam tak percaya. Ia bahkan tetap duduk karena terlalu syok. “Sepuluh tahun ...? Aku pikir hanya cukup minta maaf dan mengakui kesalahanku.”


“Andai dari awal kamu mau minta maaf dan mengakui kesalahan kamu. Andai saat itu kamu dengan sadar melakukannya kemudian menyelesaikan secara baik-baik. Namun, mungkin memang ini yang terbaik buat kamu. Karena sebaik-baiknya manusia berencana, Allah selalu menjadi penentu dengan segala skenario terbaik!” lirih Arimbi tetap memeluk Cinta.


Mas Aidan yang awalnya masih duduk berhadapan dengan ja*ksa penun*tut umum, buru-buru menghampiri sang istri. Ia terlalu takut Cinta yang kalut nekat melukai Arimbi yang sedang hamil.


Akala berangsur melepas Nina dengan hati-hati. Nina juga segera berdiri membantu Akala mengambil alih tubuh Chalvin dari pangkuan ibu Arum.


Keadilan untuk Nina menyisakan duka mendalam. Bukan hanya per*kara bayang-bayang luka di masa lalu gang membuat Nina trauma, tetapi juga karena semua pela*kunya orang dekat semua.


“Padahal, bukan Nina yang kehilangan jati diri. Karena itu justru aku. Meski sepertinya, ini memang karma yang harus aku terima,” batin Cinta yang kemudian menatap nelangsa Nina maupun Akala, silih berganti.


“Jadi Cinta yang lebih baik lagi!” tegas mas Aidan sambil menahan kedua lengan Cinta. Di hadapannya, Cinta yang masih memakai cadar, perlahan menangis sekaligus tersedu-sedu. Mas Aidan yang tidak tega segera memeluknya.


“Akala ...,” lirih Cinta setelah mas Aidan mengakhiri dekapannya.


Akala hanya menunduk sambil tetap memapah Chalvin. Namun, dari kedua matanya, butiran bening menjadi sibuk berjatuhan. Sementara ketika tatapan Cinta berhenti pada wajah Nina, ada kebencian sekaligus penyesalan yang seketika menguasai hati Cinta.


“Itu wajahku ... wajah yang aku yakin tak akan pernah ada lagi di wajahku,” batin Cinta. “Mas ... Mas Aidan ... kalau aku berubah jadi baik, ... hukumanku beneran bisa lebih ringan?” sedih Cinta tersedu-sedu. Ia berharap semuanya hanya mimpi. “Iya, semoga semua ini hanya mimpi!” batinnya sangat berharap.


Mas Aidan yang jadi ikut menitikkan air mata, menatap kedua mata Cinta sambil mengangguk. Sementara di sebelahnya, Arimbi yang ikut tersedu-sedu, berangsur mendekap lengan kanannya erat menggunakan kedua tangan.


Pulang dari persidangan, yang Nina cari tentu Malini. Ia salami ibu Warisem selaku ibu dari Arimbi, dan juga nenek Kalsum yang hari ini membantunya menjaga Malini.


“Malini, semuanya benar-benar sudah berakhir. Setelah ini, kita akan bahagia. Mbak akan kerja, dan kamu sekolah setinggi mungkin.” Berderai air mata, Nina menyisir kepala Malini. Ia memangku sang adik, menuntunnya untuk tidur.


“Aku mau sekolah lagi, Mbak!” ucap Malini bersemangat.


Nina yang belum bisa mengontrol emosi apalagi tangisnya, mengangguk-angguk. “Iya, pasti! Kamu akan sekolah lagi! Senin depan kita daftar, ya! Senin depan Mbak sudah punya uang buat daftar kamu sekolah!” yakin Nina masih meyakinkan, dan yang diyakinkan langsung tersenyum ceria sambil mengelap setiap air mata yang terus membasahi pipi Nina.


“Tapi Mbak kenapa nangis terus, sih?” tanya Malini yang jadi ikut sedih. Nina memang memintanya untuk bahagia, tapi Nina sendiri tak hentinya tersedu-sedu begitu.


Segera Nina menggeleng. Ia memasang senyum lepas, terus begitu meski air matanya terus berbicara, menjeritkan setiap luka yang selama ini ia sembunyikan.


Membe*lai kepala Malini penuh sayang, Nina berkata, “Sekarang kamu tidur. Anggap semua yang terjadi sebelum ini, hanya mimpi!”


“Tapi ibu sama bapak, kapan datang buat jemput kita, Mbak?” tanya Malini dengan polosnya.


Detik itu juga Nina terdiam tak ubahnya patung meski dari kedua matanya, butiran bening terus mengalir.