
“Jadi begini, kebiasaan Bibi. Hanya karena Malini menumpang tinggal di sini, sengaja Bibi pe*rah buat jadi pembantu gratis dan andai Malini salah, Bibi juga enggak segan hukum Malini? Kalau begini keadaannya, apa bedanya Bibi dengan ibu Sulastri yang sekarang terancam dipenjara? Apa memang Bibi mau menyusul?” kesal Nina dengan suara lantang.
Bibi Sumi yang awalnya kesakitan, mendadak bengong. Baginya, wajah baru Nina memang sangat asing, tapi tidak dengan suaranya.
“Dasar orang tua enggak mikir! Keadaan lagi susah begini malah nambah masalah!” kesal Nina tersedu-sedu. “Bibi mikir enggak, apa yang Bibi lakukan dampaknya fatal! Bukan hanya bikin luka di tubuh, tapi juga mental Malini. Apa yang Bibi lakukan bikin Malini trauma dan dampaknya bisa seumur hidup!” Tak mau berurusan lagi dengan sang bibi, Nina sengaja memboyong semua barang-barang Malini.
Beberapa tetangga bibi Sumi, sudah ada di teras rumah dan tampak melongok keadaan rumah ibu Sumi. Malahan dari mereka ada yang nekat mendekat.
“Kayaknya itu si Nina deh, yang wajahnya dioperasi jadi mirip wajah orang lain!”
“Oh, yang katanya disekap sama Sulastri, terus diperko*sa berulang kali sama si Surat?!”
Tentu Nina mendengar itu karena obrolan tersebut dan sampai detik ini masih berlangsung, dilakukan dengan suara terbilang keras. Saking kerasnya, Nina refleks berhenti melangkah. Karena meski obrolan tadi tak sampai disertai lemparan senja*ta maupun kobaran api, jantung dan sekujur tubuhnya seolah dihunjam mata tombak bera*cun hingga tak hanya menghasilkan efek sakit. Karena tubuh Nina juga seolah dibak*ar hidup-hidup.
Bibi Sumi yang dilewati begitu saja tanpa permisi apalagi pamit, buru-buru menahan sebelah lengan Nina. Membuat Nina yang tengah susah payah meredam emosi dan sebisa mungkin sabar, langsung terusik.
“Kelakuanmu yah, Nin! Pantas kamu diper*kosa berulang kali karena kelakuanmu saja mirip lont*e!” kecam bibi Sumi.
Kedua mata Nina langsung menatap tak percaya sang bibi bersama buritan bening yang akhirnya berjatuhan dari kedua sudut matanya membasahi pipi.
“Sebagai orang tua yang harusnya menjadi pengganti orang tua Nina, Bibi Sumi enggak sepantasnya bicara seperti tadi. Malu! Bukannya kasih dukungan pada Nina yang jelas jadi korban, Bibi malah sengaja melukai Nina!” Marah Akala yang sengaja mengemban Malini guna meredam ketakutan bahkan trauma Malini.
Ditegur begitu, bibi Sumi yang tampangnya saja sangat bengis, langsung terima. Wanita berambut keriting pendek mirip gaya potongan rambut laki-laki itu menatap marah Akala. “Lambemu ngomong begitu! Sok suci banget kamu jadi orang, memangnya kamu siapa? Tahu apa? Paling juga, kamu sudah terbiasa es*ek-e*se*k sama Ni a makanya kamu belain Nina, kan?!”
“Bi, kalau ngomong dijaga kenapa? Sembarangan banget kalau ngomong! Bikin malu saja!” kesal Nina yang jadi tersedu-sedu.
Nina merasa tak habis pikir kepada sang bibi yang tega memfitnahnya.
Tetangga di sana yang memang tidak begitu mengenal Nina, tidak ada yang berani berkomentar lagi, bahkan itu sekadar menegur bibi Sumi.
“Sekarang saya tanya ke Bibi, Bibi mau urusan kita diselesaikan di rumah pak RT, atau langsung ke kantor polisi saja?” balas Akala yang memang tidak akan melepaskan bibi Sumi begitu saja siapa pun wanita itu dalam hidup Nina. Karena bagi Akala yang anti kekera*san, orang seperti Bibi Sumi wajib mendapatkan peringatan keras agar jera.
Sempat terkejut, bibi Sumi sengaja tertawa sambil berkecak pinggang. Tentu ia merasa tertantang, selain ia yang yakin, Akala hanya menggertak. Jadi, meski ia diboyong menggunakan mobil, juga beberapa ibu-ibu yang tadi sempat bergosip, bibi Sumi masih yakin, Akala hanya sedang menggertak.
“Wah, beneran dibawa ke kantor polisi!” Ketiga ibu-ibu tadi dan memang doyan bergosip langsung heboh. Makin bersemangat karena hadirnya mereka ke sana otomatis akan menciptakan banyak bahan gosip hangat.
Jujur, di titik itu Bibi Sumi sudah mulai takut. Namun, wanita gendut berkulit sawo matang itu pura-pura tenang, tetap bersedekap bahkan tersenyum sambil melirik elegan. “Kalian sengaja bawa saya ke sini, biar kalian langsung saya nikahkan? Atau malah, kalian lebih suka saya jebloskan ke penjara dengan pasal perjinahaan?” ucapnya santai, seolah semuanya baik-baik saja.
“Coba, siapa yang menang!” bisik ketiga ibu-ibu yang Akala jadikan saksi dan memang duduk di tempat duduk paling belakang, dekat bagasi.
Di sebelah Akala, Nina yang masih memangku Malini benar-benar geregetan pada ulah sang bibi. Ia beberapa kali menghela napas guna meredam amarahnya. Terlebih jika ia melihat lebam di kedua tangan, kedua kaki, dan juga punggung Malini. Semua luka yang Malini dapatkan dari bibi Sumi padahal Malini baru dua hari tinggal bersama bibi Sumi. Malahan Malini berdalih, dirinya lebih betah tinggal bersama tetangganya. Karena saat bersama tetangganya, Malini mengaku sangat disayang. Sekadar mandi saja, di sana Malini sampai disuapi.
Pada akhirnya, bibi Sumi langsung kicep mirip kerupuk melempem. Wanita itu tak bisa berkata-kata ketika dirinya sungguh langsung ditetapkan sebagai tersangka.
“Loh, kok gini? Ya enggak bisa gini dong. Saya kan hanya bercanda! Ih apaan, ih. Saya sayang banget loh ke Malini. Iya, kan, Malini sayang? Itu yang pukul kan bukan Bibi. Iya, kan? Kita kan biasa jajan, jalan-jalan, ... iya, kan ... iya, kan?” ucap bibi Sumi berusaha meyakinkan. Ia juga berusaha mengemban Malini, tapi bocah itu tetap bertahan dalam embanan Akala.
“Bercanda bagaimana? Alasan kami bertiga nyamperin kamu saja karena kami mau membasmi kejahatan yang kamu lakukan. Karena semenjak Nina kamu bawa pulang ke rumah, kamu beneran berisik banget ....”
Ketiga wanita yang Akala bawa dan mengaku sebagai trio janda pembasmi kejahatan, secara bergantian memberikan saksi hingga makin memberatkan nasib bibi Sumi.
Sore itu juga setelah melalui perdebatan a*lot, bibi Sumi resmi ditahan. Wanita itu tak hentinya memohon, meyakinkan polisi maupun Nina. Namun karena semua pihak mengabaikannya, ia malah berakhir sibuk mengumpa*t hingga batuk-batuk.
***
Setelah mengantar trio janda pembasmi kejahatan pulang, Nina jadi bingung, ke mana ia dan sang adik harus pulang. Akala yang tahu itu menawari Nina untuk tinggal di rumahnya.
“Mas Chalvin juga nawarin, tapi aku enggak mau dianggap aji mumpung meski aku memnag sangat buruh, Mas. Karena jujur saja, seperak uang pun aku enggak punya,” ucap Nina lirih yang kemudian menunduk dalam.
“Wanita seperti Nina enggak mungkin mau menerima sesuatu secara grat*is. Harus ada timbal balik seperti, dia yang harus mengembalikan atau malah—” batin Akala yang sudah langsung berpikir keras.
“Apa aku tinggal di rumah Bibi, ya? Gitu-gitu kan, meski sudah tua, Bibi memang belum nikah, dan itu rumah Mbah. Otomatis rumah itu juga kosong karena bibi yang biasa menempati, sekarang ditahan dan terancam dipenjara,” pikir Nina yang kemudian mengoreksi rencananya. Itu tidak adil untuk Malini yang telanjur memiliki kenangan bu*ruk di rumah itu. Karena Nina saja sengaja membakar rumahnya agar kenangan pahit di sana hilang dari pandangan maupun ingatannya, meski kenyataan itu sama sekali tidak pernah berubah bahkan walau sedikit.
“Ya sudah, mulai sekarang kamu tinggal di kontrakan mbak Azzura saja, dan kamu coba kerja di rumah makanku. Ini rumah makan beneran aku yang pegang, selain itu, kamu juga bisa kerja sampingan. Mau jualan online apa bagaimana, kebetulan aku punya beberapa toko online dan kamu bisa jadi reseller!” usul Akala dan sudah langsung membuat Nina tertarik.
Sempat akan langsung menerima, trauma di masa lalu membuat Nina mendadak ragu. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, bisakah Akala dipercaya?