
Nina tidak menyangka, kekuatan vir*al ka*s*usnya membuat orang-orang sengaja datang memperjuangkan nasibnya sekaligus nasib Malini.
Selama ini termasuk semenjak ka*sus*nya dipublikasikan oleh Akala, Nina memang tidak memegang ponsel. Terakhir Nina memegang ponsel, itu setelah pulang dari Bandung, tapi semenjak itu ponselnya entah di mana. Dan semenjak itu juga, Nina tak lagi memegang ponsel baik miliknya maupun milik orang lain, hingga Nina sama sekali tidak tahu, ia dan Malini mendapat banyak dukungan setelah keadilan yang Akala dan lainnya upayakan untuknya maupun Malini.
Berbeda dengan Nina yang seolah mendapatkan nyawa tambahan atas dukungan yang berdatangan, Cinta justru panik. Namun, Cinta sangat mensyukuri keputusannya sampai menggunakan cadar. Hingga selain bisa menutupi luka-lukanya dan itu membuat penampilannya sangat seram, rupanya juga jadi tidak bisa menjadi bahan tontonan dengan leluasa. Awalnya, Cinta memang berpikir seperti itu, tapi masa yang datang dan bisa jauh lebih kejam dari hakim di persidangan, menun*t*ut ap*arat untuk mengumpulkan tersangka, membiarkan wajah-wajah mereka diperlihatkan sebagai hukuman nyata agar mereka jera.
Nina dan rombongan sampai bengong karena keadilan yang sudah mereka minta dan belum diwujudkan oleh a*parat, sudah dibabat habis oleh masa. Cinta, ibu Sulastri, pak Surat dan juga Reno, dikumpulkan di depan pintu masuk pengadilan. Tak ada yang tidak luput dari ca*ci*an masa, terlebih keadaan semua tersangka tidak baik-baik saja. Reno yang wajahnya juga menjadi berkoreng efek ulat bulu yang begitu gatal dan terus Reno garuk. Sementara pak Surat dan ibu Sulastri jangan ditanya lagi, aroma bus*uk dari keduanya membuat semua yang ada di sana, termasuk Cinta dan Reno yang berdiri di sebelah keduanya, kerap mual nyaris muntah. Terakhir, ketika cadar Cinta dibuka, semuanya kompak bersorak menertawakannya.
“Azab tuh, azab!”
“Karma tuh, karma!”
“Sudah sana pada tobat!”
“Panjang umur yah kalian biar bisa tobat!”
Ucap mereka dan kebanyakan memang ibu-ibu.
“Harusnya kalian merasa bersalah. Nina, harusnya kamu merasa bersalah karena gara-gara kamu, aku dihakimi begini,” batin Cinta sampai menangis.
Jujur, Nina dan rombongan kasihan kepada Cinta. Hati seorang Chalvin remuk redam karenanya, dan air mata yang terus berjatuhan dari kedua matanya, mewakili kehancuran yang ia rasa.
“Kak Cinta, cukup sampai sini, Kak. Setelah ini kamu baik-baik lagi, ya. Tolong belajar bersyukur karena enggak semua orang bisa seberuntung Kakak,” batin Chalvin.
“Mas, buat Cinta ... enggak perlu sampai dikurung. Jadi tahanan luar saja yang cukup wajib lapor. Begitu saja,” ucap Nina sambil menyeka sekitar matanya yang basah. Ia jadi tak tega kepada keluarga Cinta yang otomatis harus menanggung malu gara-gara ulah Cinta.
Detik itu juga, semua perhatian langsung tertuju kepada Nina, termasuk perhatian Chalvin. “Enggak apa-apa, Nin. Tahanan kurung saja biar jera.”
Nina berangsur menatap Chalvin. “Enggak apa-apa, Mas. Kalaupun sampai wajib, cukup dijalani beberapa bulan saja. Bismillah semoga jadi pembelajaran berharga. Bukan hanya buat Cinta, tapi juga buat semua yang tahu kasus ini.”
Setelah menghela napas pelan sekaligus dalam, mas Aidan berkata, “Baiklah ... setidaknya masyarakat luas akan menjadi mata-mata tersendiri untuk Cinta. Hukum sosial lebih berat dari hukuman yang hakim jatuhkan. Dan semoga, Cinta bisa memetik hikmah atas apa yang ia alami termasuk kas*u*s ini!”
Kehebohan di depan sudah langsung mengusik mereka. Ternyata ibu Sulastri pingsan. Namun bukannya iba apalagi kasihan pada ibu Sulastri yang gosong penuh luka bakar, masa justru kompak tertawa menyoraki.
“Pura-pura tuh, pasti pura-pura. Enggak usah dibopong, iket saja lehernya terus seret!” sorak ibu-ibu yang dari tadi berucap lantang menggunakan toak. Dan seperti sebelumnya, semuanya kompak mendukungnya.
Terakhir, ada yang melempar wajah pak Surat menggunakan telur b*usuk, hingga para terdakwa di sana segera diboyong masuk. Termasuk juga ibu Sulastri yang pada akhirnya tetap dibopong oleh seorang polisi.
Pak Surat menunduk dalam dan membuat bel*atung-bela*tung di wajahnya akibat telur bu*suk yang aromanya luar biasa, loncat dari wajahnya. “Ya Allah, gini amat?” batinnya ketakutan karena masa terus meneriakinya. Semuanya setuju dengan usul si ibu-ibu yang memintanya disunat hingga habis.
“Sunat sampai habis terus suruh pakai rok tutu mini warna pink! Biar tahu rasa, ib*lis berwujud manusia sekelas Surat itu sudah tergo*long kelainan. Habis pakai rok tutu mini warna pink, tinggal tenggelamkan!” ucap ibu-ibu itu.
Hingga ibu Arum berkomentar, “Ibu-ibu dilawan!” Ia dapati, Arimbi sang menantu yang langsung tersenyum mendengarnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya sida*ng digelar. Reno, ibu Sulastri, dan juga pak Surat ditunt*u*t dengan pas*al berlapis. Bukan hanya keke*r*a*n se*k*sual, perj*ud*ian dan perdag*an*gan manusia. Karena ketiganya juga terbukti melakukan peng*an*iayaan berencana kepada Nina. Khususnya ketika Nina kabur saat ditolong Excel. Penga*nia*yaan tersebut sengaja direncanakan ketiganya setelah Cinta memerintah mereka.
Sepanjang sidang yang dilakukan terbuka dan sampai diliput oleh beberapa awak media, masa kerap ikut berkomentar bahkan bersorak hingga sidang di sana jauh dari kata lancar.
Ketika ibu Sulastri, pak Surat, bahkan sekelas Reno kompak mengakui kesalahan mereka, tidak dengan Cinta yang sampai berpikir sangat lama. Karena sampai detik ini, Cinta tetap merasa tidak bersalah. Membuat semuanya apalagi Nina dan rombongan kecewa.
“Sudah bur*uk rupa, hatinya pun jadi ikut bu*suk!” teriak ibu-ibu di sana. Meski tidak memakai toak, tapi suara mereka benar-benar lantang memenuhi ruang sidang. Hingga demi kelancaran sidang, masa sengaja dibubarkan dan sudang menjadi tertutup.
“Iya ... saya salah ....” Kata itu akhirnya terucap dan terdengar tak berdaya dari seorang Cinta.
Mendengar itu, Nina refleks terpejam kemudian menunduk dalam. Ia menggunakan kedua tangannya untuk menekap wajah. “Antara lega, takut, tapi juga enggak tega ya Allah ....” Dalam hatinya, Nina menjerit. Statusnya yang meski seorang korba*n dan tengah menuntut keadilan, juga dibarengi dengan perasaan tidak tega kepada Cinta.
Pengani*ayaan terhadap Nina terbilang pengani*ayaan berat sekaligus terencana. Sementara hukuman paling berat dari kasus tersebut dua belas tahun. Dan untuk kas*us yang lain juga tak kalah besar. Belum denda yang harus dibayar dan wajib diganti hukuman kurungan andai tidak bisa membayar. Kini, setelah para hakim berunding, harap-harap cemas tengah melanda mereka perihal hukuman yang akan dijatuhkan.
“Dengan ini, pengadilan menjatuhkan ....”