Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
69 : Peluk Aku


Tanpa diketahui siapa pun, diam-diam Ojan mencuri tiga melati pengantin milik Nina. Mereka masih kumpul-kumpul duduk lesehan di teras depan rumah keluarga pak Kalandra, bersama keluarga besar. Hanya saja, tanpa Ojan sadari, dua melati pengantin yang dicuri malah jatuh masuk ke dalam kemeja Sepri melalui kerah bagian punggung.


“Ini kayak ada yang jatuh, ya?” pikir Sepri yang kemudian mengawasi sekitar.


Suasana siang ini disertai angin kencang. Beberapa bunga maupun daun dari pepohonan di sekitar rumah, berhamburan dan Sepri yakini menjadi penyebab apa yang jatuh di punggungnya. Hanya saja, Sepri yang cuek karena ada ular nempel di punggungnya saja ia bikin menangis setelah hanya ia cueki, juga tak mempermasalahkan jatuhnya melati pengantin akibat olah Ojan.


“Asyikkk, bentar lagi aku siap nikah. Aku mau buka lowongan jodoh buat aku. Pasti langsung antre!” pikir Ojan sangat bersemangat.


Makin siang bahkan sore, suasana makin dingin akibat embusan angin kencang nan basah, khas akan turun hujan. Satu persatu tamu pamit pulang, setelah mereka juga membantu membereskan segala sesuatunya. Hanya keluarga ibu Widy saja yang tinggal, selain Ojan yang memaksa ikut serta.


“Nanti aku bobonya bareng ibu Warisem?” tanya Ojan terheran-heran.


“Ya iya, kan kamarnya sudah penuh!” balas Azzam sewot.


“Aku bobonya sama kamu saja yah, Jam. Lagian kan kita kembar, sama-sama bujang!” mohon Ojan.


“Enggak, enggak ... aku kan nanti tidur sama Liam!” tepis Azzam berusaha menghindari Ojan. Terlebih sejauh ini, tidur dengan Ojan dirasanya ibarat adrenalin.


“Liam kan bobonya sama nini Rusmini, dia mau urus Nini!” yakin Ojan tidak mau ditolak.


“Nah, tuh Sepri balik! Sudah sana balik!” lanjut Azzam bersemangat dan memang sengaja mengusir Ojan.


“Apaan, sih, Pri. Enggak ikhlas banget lihat aku main!” kesal Ojan.


“Sepri yang di kandang katanya kejang-kejang. Tadi Suci telepon aku dan aku mau antar ke dokter hewan. Ikut, enggak?” seru Sepri sambil melangkah meninggalkan motornya.


“Ah, kamu pasti bohong biar aku enggak nginep di sini!” gerutu Ojan.


“Ealah ... sini, aku kirim videonnya. Ya sudah aku mau ajak Binar saja kalau gitu. Kamu enggak usah ikut. Kalaupun ikut, nanti sama yang lain!” balas Sepri sambil mengotak-atik ponselnya.


“Eh, Pri. Suci kan sudah janda, ya?” ucap Ojan bersemangat.


“Jan, kamu enggak usah rusuh ke Suci. Suci jatahnya Sepri!” omel Azzam sudah wanti-wanti.


“Ya sudah yah, Zam. Nanti kalau Ojan minta pulang, kamu yang antar. Aku mau pulang duluan, sebelum hujan!” Sepri buru-buru pergi. Ia bahkan sampai lari karena suasana sore ini yang gelap sementara angin juga makin berembus kencang.


“Yaelah Pri, ... kok aku lagi, aku lagi!” protes Azzam.


“Kan kamu calonnya Sundari. Jadi ibaratnya, aku harus jadi beban kamu juga!” yakin Ojan dengan polosnya.


Azzam sudah langsung menatap sebal Ojan. “Suee kamu Jaaan!”


Azzam berangsur berdiri dari duduknya terlebih di sana hanya tinggal ia dan Ojan, sementara Sepri juga sudah langsung ngebut menggunakan motor.


“J-jam ... Jam! Sepri yang di kandang beneran kejang, Jam! Jam, aku enggak bisa gini, Jam. Jam, tolong, Jam aku harus pulang!” tangis Ojan sudah langsung heboh.


Di dalam rumah, ada Nina yang diboyong pindah ke kamar Akala. Malini masih ikut dengan mereka karena Malini juga akan tinggal di lantai atas, di kamar berbeda.


“Di luar ada apa, Mas? Rame,” lirih Nina.


“Asal ada mas Azzam sama mas Ojan, suasananya pasti berasa ada seribu orang!” balas Akala yang akhirnya tersenyum manis.


“Dubilllaaaahhhh sett*aaan!” Barusan suara Azzam, sementara Ojan masih merengek cenderung menangis.


Memejamkan erat kedua matanya, Nina yang masih digandeng Akala berkata, “Jujur, suasananya bikin aku enggak nyaman.”


“Yang mana?” Akala sudah langsung mencari tahu dan berniat akan langsung memperbaiki.


“Hujan, angin, gelap, begini ...,” balas Nina mulai merasa sesak napas.


“Mas, Mbak ... sekarang kamarku yang di ujung, kan? Sebelahan sama kamar Mas Akala?” ucap Malini bersemangat. Ia yang membawa tas sekolahnya dan sedari tadi memimpin langkah, langsung lari ke kamar yang dimaksud.


“Lini langsung istirahat, ya. Bisa mandi sendiri, kan? Mbak sama Mas di kamar sebelah. Oke?” seru Akala, tapi tentu suaranya tetap lembut, selain ia yang sudah langsung merangkul pinggang Nina.


“Oke, Mas!” semangat Malini.


“Pintunya ditutup saja dari dalam!” lanjut Akala.


“Iya, Mas!” Segera Malini masuk kamar kemudian praktik. Ia sengaja pamit kepada Nina dan Akala yang sudah ia anggap sebagai pengganti orang tuanya. Bahkan karena keduanya selalu membuatnya bahagia, ia sampai tak merasa kurang meski di sana tidak ada sang mamah.


Masuk dengan hati-hati, Akala menurunkan ransel jinjing milik Nina yang memang baru mereka boyong. Lantai kamar Akala masih penuh kado meski hari ini yang mereka undang ke acara ijab kabul hanya keluarga dan rekan terdekat.


“Aku rasa, aku trauma serius, Mas. Jadi di kepalaku terus terputar ingatan-ingatan yang beneran enggak aku harapkan.” Walau kejadian yang ia maksud membuatnya sangat malu bahkan ji*jik, Nina memutuskan untuk tetap mengatakannya. Karena lagi-lagi, suasana gelap berhias angin kencang khas akan turun hujan lebat, membuatnya teringat ketika pak Surat merengg*ut kehormatannya.


Akala yang turut bersedih atas cerita yang Nina katakan dengan ragu-ragu, mengangguk-angguk paham. Ia menahan kedua lengan Nina menggunakan kedua tangannya. “Mereka akan merasakan balasan setimpal!” yakinnya.


Nina tidak begitu menanggapi karena keadaannya memang sudah tak karuan. Ia bahkan sudah setengah sadar ketika Akala membawanya duduk di pinggir tempat tidur menghadap jendela. Di luar, hujan deras benar-benar turun dan Akala mengajaknya untuk menyaksikannya dari sana.


Kedua telapak tangan Nina sudah basah sekaligus sangat dingin. Akala sadar itu tanda Nina sudah sangat tertekan.


Menghilangkan trauma apalagi trauma karena pele*cehan yang terjadi berulang kali Akala sadari hal yang sangat sulit. Namun karena ia telah memutuskan untuk maju dan ia pun sudah menikahi Nina, ia akan melanjutkan misinya membuat Nina mengobati lukanya.


“Kamu boleh peluk aku, sesuka kamu!” ucap Akala lembut sambil menatap wajah Nina. Ia sampai melongok wajah Nina karena istrinya itu ia pergoki justru bengong.


“Peluk aku ...,” lembut Akala meyakinkan. Namun di hadapannya, setelah terlihat langsung ragu, Nina juga berakhir menangis.


“Aku suamimu, ... dan aku sangat mencintai kamu!” yakin Akala lagi.


Bersama air matanya yang makin sibuk berlinang, Nina menunduk. Namun, ia memaksa dirinya untuk memeluk Akala. Pelukan yang jujur saja sudah langsung membuatnya merasa tenang. Akala sendiri sengaja tidak memulai karena ia takut membuat Nina meronta-ronta karena teringat traumanya akibat ulah pak Surat.