Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
41 : Mendadak Restu


“Enggak ada Ojan, ... rumah jadi sepi, ya?” Sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah menggunakan jemari tangan kanan, Azzam baru akan bergabung ke kebersamaan keluarganya di ruang keluarga lantai bawah. Di sana sudah dalam formasi lengkap dan hanya tidak ada Nina, Malini, juga Ojan yang tengah ia keluhkan.


“Ada salah, enggak ada pun justru dicari-cari. Uncle ini ....” Mas Aidan menggeleng tak habis pikir bersama senyum manisnya yang mengawasi kedatangan sang adik. Ia meraih pisang goreng dari piring yang kemudian ia cocolkan pada cokelat leleh.


Azzam sudah langsung tertawa.


“Nanti kalau Mas Azzam sudah nikah sama Ndari, rumah tangga kalian pasti bakalan jadi yang paling berwarna, Mas!” ucap Akala yang masih meringkuk di sofa tunggal. Detik itu juga tawa Azzam makin terdengar renyah.


“Ya Allah Gusti, enggak kebayang nanti. Pasti beneran heboh tiap saat!” Azzam duduk nyempil kepada sang mamah. Ia menyingkirkan pak Kalandra karena ia sengaja tidur di pangkuan ibu Arum. Pak Kalanda sampai istighfar karena diusir mendadak. Terlebih, di sebelahnya mas Aidan baru akan melahap pisang gorengnya. Mas Aidan sampai tidak jadi melahap dan memilih menundanya karena yang pria itu lakukan adalah geser dengan hati-hati mengikuti sang istri.


Pak Kalandra yang gemas dengan kelakuan Azzam refleks mencubit pant*at putranya itu.


Azzam yang sempat mengeluh, berakhir tertawa dan menuding jika apa yang sang papah lakukan sudah tergolong KDRT.


“Doakan saja Ojan segera bertemu jodohnya, biar dia enggak sibuk rusuh ke hubungan orang lain,” ucap Mas Aidan sambil menikmati pisang goreng saus cokelatnya yang turut ia suapkan kepada sang istri.


Bersamaan dengan itu, Akala meraih satu gelas kemasan es tehnya. Ia menyeruputnya dengan tidak bersemangat karena meski ia ada di sana, pikirannya terbagi pada Nina dan Cinta.


“Si Ojan kan lagi ngincer Nina, Pah! Jodohin aja mereka berdua. Gitu-gitu Ojan kan baik, hatinya lembut banget aslinya. Kerikil saja kalah lembut!” usul Azzam.


Ketika mas Aidan dan Arimbi langsung tertawa, tidak dengan Akala yang batuk-batuk karena tersedak. Lain lagi dengan ibu Arum yang mulai panik atas apa yang telah ia ketahui.


“Oh iya, ya ... boleh dicoba kalau gitu!” sergah pak Kalandra bersemangat dan langsung didukung oleh nenek Kalsum maupun kakek Sana. Bahkan, sekelas ibu Warisem selaku wanita yang telah melahirkan Arimbi berdalih, Nina anak yang rajin, ulet, mirip masa mudanya Arimbi.


Akala yang masih belum angkat suara ketar-ketir menatap takut setiap wajah mereka yang berkomentar. Semuanya tampak setuju dengan rencana perjodohan dadakan antara Ojan dan Nina.


Setelah sengaja berdeham, Akala berkata, “Maaf, ini aku boleh jujur, enggak?” Detik itu juga semua mata sekaligus perhatian langsung tertuju kepadanya. Dunianya langsung seolah menjadi berputar lebih lambat karena kenyataan tersebut.


“Ya sudah Mas, ngomong saja.” Ibu Arum yang yakin Akala ada rasa ke Nina sengaja memberi sang putra kesempatan untuk bicara.


Lagi, Akala berdeham sebelum ia kembali berbicara. Ia terlalu gugup, tegang, bahkan takut. Namun belajar dari pengalaman hubungannya dan Cinta yang serba rahasia bahkan itu dari keluarganya yang selalu memberinya dukungan, Akala memilih jujur.


“Nina, ... aku ... biar jadi istriku saja.”


“Tanpa melihat latar belakangnya, aku rasa kami cocok. Bersama Nina, aku merasa bersama diriku dalam versi wanita,” lanjut Akala.


“Emang sih, ... aku juga mikirnya begitu. Kalian ... ih, polos banget. Diem, enggak neko-neko dan beneran lurus. Aku sampai bingung mau komentar apa?” ucap Azzam padahal apa yang baru saja ia katakan sudah merupakan komentar.


Sadar Akala sedang membutuhkan jawaban, ibu Arum sengaja menggunakan kaki kanannya yang dekat pak Kalandra untuk menendang-nendang pelan kaki sang suami. Sebab adanya Azzam yang justru meringkuk di pangkuannya, membuat kebersamaannya dan pak Kalandra menjadi berjarak.


Pak Kalandra yang sadar sang istri memintanya bersuara sebelum orang lain melakukannya lebih dulu, juga segera melakukannya. “Kalau niat kamu begitu, ... kamu ya harus sabar karena posisi dia enggak mudah. Trauma pasti ada bahkan Papah juga curiga, apa yang dia alami bikin dia enggak mau nikah. Tipikal dia tanpa kita sebut namanya, justru akan menghukum dirinya sendiri karena tak mau melukai orang lain.”


“Pelan-pelan,” komentar mas Aidan.


Akala menatap setiap wajah yang berkomentar.


“Ya sambil diajak ngobrol sih. Wanita enggak hanya butuh kode. Wanita harus ada pengakuan nyata.” Nenek Kalsum meledak-ledak.


Di sebelah nenek Kalsum, kakek Sana menghela napas dalam kemudian membenarkan. “Ya intinya pelan-pelan, sabar. Andai niat kamu begitu malah lebih bagus, daripada dia jatuh ke orang yang salah lagi. Kasihan, aslinya kan dia anak yang baik.”


Setelah terdiam sejenak, ibu Arum yang mengawasi sekitar pun berkata, “Oke ... jadi, semuanya oke?” Ia menatap setiap wajah di sana.


Bertepatan dengan sang mamah yang menatapnya, Azzam berkata, “Kayaknya sih enggak. Khususnya Ojan. Patah hati maning ... patah hati maning!” Azzan tertawa. Sementara maksud dari ucapannya yaitu, “patah hati maning” itu sama saja dengan “patah hati lagi”.


Akala tersenyum hangat. Begitu mudah mendapatkan restu dan itu asal niatnya baik.


“Akala, jangan pernah berpikir tidak-tidak. Kami sebagai orang tua sekaligus keluarga kamu tidak akan melarang apa pun itu. Kamu laki-laki dan nantinya akan menjadi penentu dari setiap apa yang kamu pilih. Kami percaya kepadamu, kamu akan melakukan yang terbaik. Jadi, baik bu*ruknya apa yang kamu pilih sekaligus jalani termasuk itu pasangan, semua itu tergantung pada kamu. Kalau memang menurut kamu dia kurang baik, ya diarahkan. Diajari, diajak buat sama-sama belajar. Komunikasi nomor satu, diobrolin harusnya gimana. Karena kadang, yang kita anggap benar, yang kita anggap paling baik, belum tentu juga akan sama bagi orang lain termasuk pasangan kamu. Apalagi kalau masih baru yah, apa-apa kadang sen*sitif karena kita belum tahu ini sebenarnya gimana. Jadi, kuncinya saling memahami, saling mengisi.” Pak Kalandra berbicara panjang lebar.


“Kami beneran enggak akan melarang, mengatur kamu harus begini, harus melihat bibit bebet bobot dan semacam itu, ... enggak Akala. Ke saudara kamu, ke orang asing pun, kami enggak gitu. Justru andai kami sampai begitu, sampai kasih target harus standarnya gini, ... yang ada kami, yang ada justru kita yang terkesan hi*na. Banyak kan, kisah orang kaya enggak mau sembarangan bergaul apalagi menikah dengan yang enggak selevel? Jangan pernah berpikiran begitu. Karena bukannya kita terlihat wah dan memiliki derajat, yang ada kita malah kelihatan hi*na, kelihatan enggak punya kemampuan!” pak Kalandra mengakhiri ucapannya dengan menghela napas pelan.


Akala yang menyimak berangsur mengangguk-angguk. “Iya, Pah ... semuanya, ... terima kasih banyak. Maaf juga karena hubungan yang sebelum ini, aku tidak membaginya dengan kalian.”


“Itu bisa kamu jadikan pelajaran buat jadi lebih baik lagi,” ucap pak Kalandra dan disambut senyum haru oleh semuanya.