
Beres ijab kabul dan sederet ucapan selamat juga menyusul, acara selanjutnya tentu kondangan dan penyerahan kado kepada pengantin.
“Akala, maaf-maaf saja, ya. Karena kamu nikung janda incaranku, dan dari kemarin aku cuma minum air putih, soalnya minum kopi hitam dikata Azzam bisa bikin aku makin enggak kelihatan sama calon jodoh, ... berarti amplopnya kosong!” ucap Ojan yang sungguh memamerkan amplop putih darinya yang benar-benar kosong.
Ojan menjadi orang pertama yang memberikan kondangannya dan itu berupa amplop kosong.
“Malu-maluin kamu Jan! Habis ini kamu beneran bakalan hanya tinggal nama!” omel Azzam yang mengantre di belakang Ojan sambil membawa bingkisan sangat besar terbungkus kertas kado merah.
“Sombong banget kamu, Jam. Mentang-mentang kadomu paling besar. Paling isinya juga kucing anggora!” kecam Ojan dan nyaris pergi, tapi ia ditahan Azzam.
“Yang benar saja, kamu beneran enggak kondangan?” tanya Azzam memastikan dan sungguh heran sekaligus terkejut lantaran Ojan benar-benar tidak kondangan.
“Ya kenapa?” balas Ojan dengan entengnya.
“Ojan kalau bikin malu, lempar saja ke kolam lele!” semprot ibu Septi dari belakang sana sambil menikmati pecel mbak Mbi bersama yang lain. Acara di sana makin terasa syahdu karena mereka duduk lesehan di atas karpet.
“Orang pelit apalagi ke saudara sendiri, kuburannya sempit loh, Jan!” yakin Azzam. “Jauh jodoh!” tambahnya.
“Ah, jangan bikin takut dong, Jam! Ya sudah deh,” ucap Ojan pasrah kemudian buru-buru melepas lilitan sarungnya hingga ia dikira akan telan*jang. Semuanya sudah langsung memarahinya apalagi Azzam.
“Lihat itu ada yang jatuh. Amplopnya segembrot gajah. Aku sengaja taruh di kantong semp*ak biar isinya enggak dicuri tu*yul! Para tuy*ul pasti takut tuh, macam-macam sama yang di sana, ada sen*jata pamungkasku!” yakin Ojan yang kemudian memungutnya sambil kembali melilit sarungnya. Namun, semuanya apalagi Azzam, kompak minggir menahan jiji*k. Azzam bahkan sampai muntah-muntah.
“Sudah itu amplopnya dibuka saja terus kamu cuci tangan. Kamu yah, jorok enggak ketulungan.” Kali ini Sepri yang mengomel. Apalagi, ulah Ojan benar-benar membuat yang di sana heboh. Sebagian yang tengah makan juga ikut muntah-muntah layaknya Azzam.
“Ada emas atamnya, takut hilang Pri,” ucap Ojan sangat pasrah.
“Ya kira-kira, Jan. Sini-sini,” sergah Sepri yang sebenarnya geregetan. Namun itu hanya berlangsung sesaat lantaran ia sadar, bahkan meski ia bunu*h diri sekalipun, Ojan tidak akan peduli. Karenanya, ia segera memberikan kotak berukuran sedang yang ia bawa kepada Akala, sebelum menuntun Ojan pergi dari sana. Sepri akan membantu membuat isi amplop milik Ojan yang akan diberikan kepada Akala, menjadi jauh lebih steril.
“Dek, ini dari Mas dan Sundari. Kalian yang langgeng-langgeng, ya. Hadapi semua cobaan dengan kepala tenang. Mas yakin kalian akan jadi pasangan bahagia seperti yang kalian harapkan,” ucap Azzam yang kemudian memberikan kadonya kepada Akala.
“Makasih banyak, Mas!” ucap Akala menjadi nelangsa karena biar bagaimanapun, ia telah melangkahi Azzam. Akala sengaja meletakan kado dari Azzam ke meja di belakangnya bersebelahan kado dari Sepri, kemudian memeluk Azzam dan meluapkan air mata berikut rasa haru lengkap dengan rasa bersalahnya.
“Ah kamu, Dek! Mas jadi ikut nangis!” keluh Azzam.
Suasana di sana jadi diwarnai haru. Karena mas Aidan dan mbak Azzura ikut memeluk Azzam dan Akala. Keempatnya mengobrol inten sambil merangkul satu sama lain diwarnai air mata.
“Masya Allah. Mereka sekompak ini. Semoga kelak, anak-anak hamba dan mas Akala juga bisa sekompak mereka,” batin Nina berkaca-kaca menyaksikan interaksi di hadapannya.
Nina yang masih takut kepada Ojan, sengaja menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki yang telah menjadi suaminya.
Detik itu juga Akala langsung menoleh menatap Nina. Akala yang tahu Nina masih takut sekaligus trauma kepada Ojan, segera menerima kantong plastik hitam pemberian Ojan.
“Akala, aku kondangan dua mas atam ukuran 10 gram, sama uangnya satu juta. Itu dicatat, ya. Nanti kalau aku nikah, kamu balikinnya dilebihin!” ucap Ojan dengan jujurnya dan sudah langsung membuat semuanya tertawa. Sebab kedua pengantin baru di hadapannya yang terkenal sangat pendiam juga refleks tertawa.
“Mas Ojan yakin, dalam waktu dekat, Mas akan menikah?” ucap mbak Arimbi masih menggandeng sang suami.
“Yakin, Mbak! Sudah langsung dapat pangsit kemarin di depan pasar bekas Mbak jualan pecel!” yakin Ojan.
“Wangsit, Jan, bukan pangsit!” tegur Sepri masih memantau setiap ulah Ojan dari jarak dekat.
“Emang pangsit Pri. Aku sampai nambah soalnya makan bakso panas-panas dikasih sambal sama pangsit, rasanya wuenak banget!” yakin Ojan dan sudah langsung membuat semuanya geleng-geleng.
Sepri dan Azzam terlihat sangat geregetan.
“Ya sudah, ayo kita makan. Lapar!” sergah Akala bersemangat kemudian mengemban Malini yang sejak awal selalu ada di dekat kebersamaannya dan Nina.
“Diberesin dulu kado sama amplopnya, jangan hanya ditaruh di meja gitu,” tegur ibu Arum tapi dengan sigap, mbak Arimbi segera mengambil alih. Mas Aidan yang tak mungkin membiarkan istrinya bekerja sendiri, juga sudah langsung membantu. Begitu juga dengan Azzam yang statusnya tidak memiliki gandengan karena Sundari tidak bisa datang menjadi bagian di sana secara langsung.
“Ini yang pink dari siapa? Ada stiker BT21-nya. Curiga ini Chole!” bisik Azzam terkikik sendiri.
“Iya, itu memang dari Chole, tadi Mbak lihat!” balas mbak Arimbi berbisik-bisik juga. Mereka terus melangkah memboyong hadiah terbilang banyak itu ke kamar Akala yang keberadaannya ada di lantai atas.
“Kamu mau makan apa?” tanya Akala yang walau mengemban Malini, tetap menggandeng erat tangan Nina. Ini menjadi kali pertama mereka tampil romantis di depan semuanya. Meski tentu saja, mereka masih melakukannya dengan malu-malu.
“Biar aku saja yang urus, ... iya, kan?” ucap Nina benar-benar tegang. Ia deg-degan parah dan telapak tangannya sudah langsung berkeringat dingin melebihi saat ijab kabul. Kenyataan yang terjadi hanya karena ia tengah digandeng Akala di depan semuanya, dan itu sudah langsung membuat mereka menjadi pusat perhatian.
“Yakin, enggak malu?” balas Akala benar-benar manis sambil tersipu menatap Nina. “Aku saja yang ambil karena aku yakin kamu malu. Duduk diam tapi terus diperhatikan saja sudah langsung membuat kamu minder,” lanjut Akala dan sudah langsung membuat Nina tersipu.
“Iya, Mas. Gitu saja!” balas Nina yang langsung merasa sangat damai hanya karena melihat interaksi hangat antara Malini dan Akala.
“Mungkin ini yang disebut ‘rumah’ dan itu ketika kita memiliki pasangan yang tepat!” batin Nina. Ia segera berkumpul dengan rombongan orang tua yang sudah langsung memanggilnya. Ia duduk persis di sebelah ibu Widy yang tadi memberinya seperangkat perhiasan lengkap.
“Makan yang banyak, ya. Jangan malu apalagi minder. Keluarga Akala ya tentu keluarga kamu. Kebetulan, kami semua enggak ada yang kalem. Heboh semua!” ucap ibu Widy kepedesan efek makan soto ayam tapi kebanyakan sambal. Nina sampai sengaja mengambilkan es teh untuknya.