Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
25 : Sambal


Mereka memang tak mungkin langsung pergi ke rutan walau tangan, kaki, bahkan mulut sudah sangat ingin menca-ci. Akala langsung memboyong Nina maupun Malini ke rumah pak Angga karena mas Aidan yang menjadi pengacara mereka sedang menginap di sana. Akala tak lagi ingat Cinta. Pria itu begitu fokus membantu sekaligus memperjuangkan apa yang sedang Nina perjuangkan.


Semuanya langsung diurus dan tak luput dari emosi. Benar-benar tidak ada yang tidak emosi setelah tahu apa yang terjadi.


“Aku rasa tuh wanita yang memang enggak waras. Karena andai efek lingkungan, sejatinya kalau memang waras apalagi seorang ibu, sebucin apa pun ke pasangan, harusnya enggak gini!” Mas Aidan sampai tak bisa berkata-kata.


Sementara Arimbi yang sudah memakai piyama panjang justru ingin menyumpal kela*min ibu Sulastri dengan sambal super pedas lengkap diberi cuka. “Benar-benar bia*dab sih. Beneran mirip manusia. Mereka asli ibl*is!” Kemudian tatapannya tertuju kepada Malini yang terus dipangku Nina. Malini meringkuk santai dan tampak jelas tidak tahu apa-apa. Lain dengan Nina yang justru terlihat linglung sekaligus sangat terpukul.


“Memangnya Nina sekuat apa? Memangnya Nina kuat banget, kok sampai diberi cobaan seberat ini?” pikir Arimbi yang kemudian menjadi kepikiran Akala. Di sebelah mas Aidan, ia memergoki Akala yang sesekali mengawasi sekaligus menatap iba Nina maupun Malini, silih berganti. “Karena ka*sus ini, sepertinya Akala benar-benar lupa ke Cinta. Syukurlah, ibaratnya ini hikmah nyata buat Akala dan keluarga besar kami. Lebih alhamdullilah lagi, Akala lebih dulu bertemu Nina, daripada bertemu Cinta.” Arimbi yang masih sibuk berbicara dalam hati baru ingat, dirinya memiliki banyak stok es krim. Sambil beranjak pergi ia menawari Malini es krim.


“Andai waktu bisa diulang. Andai aku punya kekuatan super buat mengh*abisi mereka dengan kej*i, membuat mereka mati segan hidup pun enggak mungkin. Ya Alloh, memangnya aku sehebat ini? Astagfirullah ...!” keluh Nina yang kemudian mendekap erat sang adik.


“Meski wajahnya memang beda, mbak Nina memang baik banget. Aku sayang banget ke mbak Nina,” batin Malini yang juga belum sadar, sang kakak nyaris kehilangan kewarasan gara-gara ulah ibu Sulastri dan pak Surat, yang sampai menjadikan Malini sebagai korb*an.


“Nin, kalau kamu memang butuh teman, untuk sementara waktu, kamu tinggal sama Mbak dulu. Kamu butuh teman buat ngobrol,” ucap Arimbi yang sudah kembali datang. Ia membawa satu piring es krim kemasan aneka rasa kemudian menyuguhkannya di meja dekat Malini.


“Ayo Lini, habisin,” sergah Arimbi sengaja menyemangati. Namun, Malini kembali berdalih masih sangat kenyang karena habis makan banyak dengan bude Arum.


“Aku rasa, mending nanti Nina sama Lini tinggal di rumah saja. Biar mamah bisa temenin. Soalnya Mbak Mbi kan lagi hamil, takutnya jadi terbawa suasana,” ucap Akala.


Mas Aidan langsung mengangguk-angguk dan menyetujui usul sang adik karena ia tak mau sang istri terbawa suasana. Ia tak mau kesehatan Arimbi maupun janin mereka dipertaruhkan karena kas*us Nina dan Malini memang menguras emosi.


Seperti rencana, Nina dan Malini sungguh tinggal di rumah Akala. Keduanya tidur di kamar tamu dan mereka tidak hanya berdua karena ibu Arum sampai tidur bersama mereka. Ibu Arum memberi keduanya dongeng berjudul “Dongeng Wonder Taflon”. Dikisahkan oleh ibu Arum, Wonder Taflon dulunya juga hanya wanita biasa. Dia seorang janda yang hidup hanya berdua dengan anaknya yang masih bayi. Namun karena demi melindungi sang anak dari kejahatan, wonder taflon itu jadi memiliki kekuatan luar biasa. Kekuatan luar biasa yang lahir dari keberanian kuat dan mampu mengalahkan setiap kejahatan.


Malini menyukai dongengnya, tapi Nina justru jadi nelangsa lantaran dongeng wonder taflon membuat Nina merasa makin tidak berguna.


Di tengah kesunyian yang menyelimuti, ibu Arum membenarkan posisi selimut Malini. Bocah itu sudah tidur, tapi tidak dengan Nina yang walau diam, justru tengah membuat jemarinya sibuk menyeka sekitar mata.


“Kamu marah yah, Nin? Kamu marah banget?” lirih ibu Arum. Di sebelah Malini, Nina yang langsung menoleh, berangsur mengangguk-angguk. Jelas Nina sampai tidak bisa berkat-kata akibat tangis yang ditahan. Ibu Arum paham bagaimana rasanya dalam kondisi itu karena sebelum bertemu pak Kalandra yang kini menjadi suaminya, ia sering diam-diam menangis layaknya Nina sekarang.


Ibu Arum memberi Nina seperangkat alat salat. Ibu Arum juga yang memimpin salat dan masih berlangsung di kamar tamu. Sepanjang itu, Nina terus tersedu-sedu. Ibu Arum yang mendengarnya sampai ikut berlinang air mata walau wanita itu terus menanggapi dengan tenang.


Setelah selesai salat dan Nina menyalami tangan kanan ibu Ar dengan sangat takzim, Nina juga berakhir bersimpuh dan wajahnya berakhir di pangkuan ibu Arum.


“Ibu, makasih banyak karena sudah sangat dibantu. Maaf ... ini beneran maaf banget karena baru kenal sudah sangat merepotkan.” Nina masih tersedu-sedu, sesenggukkan parah hingga suara yang keluar dari mulutnya terdengar lirih sekaligus kurang jelas.


Di tempat berbeda, kesakitan dirasa begitu kuat oleh ibu Sulastri, pak Surat, dan juga Reno. Ketiganya yang berada di ruang berbeda dan memang sengaja tidak diberi pengobatan untuk luka-luka mereka tidak bisa tidur. Ketiganya kerap menggeliat sekaligus menggigil menahan rasa sakit yang begitu kuat. Reno mengeluhkan ‘barangnya’ yang kali ini tak hanya tidak mau ‘bangun‘. Karena rasa pegal sekaligus panas di sana mendadak terasa sepuluh kali lipat dari ketika Nina mengha*jarnya menggunakan alu.


Sementara ibu Sulastri dan pak Surat, keduanya mengeluhkan luka bakar yang bukannya mengering, justru makin basah hingga perlahan terc*ium busuk akibat pembus*ukan yang tampaknya sudah dialami oleh luka-luka mereka.


Tentu ketiganya meminta tolong, tapi suara yang sebenarnya susah payah mereka teriakan, justru tertahan di tenggorokan. Ketiganya tampak begitu putus saja, tersedu-sedu dan malah menjadi bahan amu*kkan rekan tahanannya. Sudah sakit, justru terus disik*sa dan berakhir sekarat. Apalagi, sebelum Arimbi menunaikan keinginannya untuk memberi “barang” ibu Sulastri sambal, rekan satu tahanan yang mengetahui kasu*s ibu Sulastri, kompak menampung menu sambal di hari ini untuk menyumpal kela*min ibu Sulastri.


Keesokan harinya, bersama pergantian hari, harapan semuanya menjadi lebih baik lagi juga menggebu-gebu memenuhi benak Nina. Ia sudah langsung memperk*arakan kasus Malini. Tak lupa, ia juga menemui ibu Sulastri.


Beruntung, kali ini Nina diizinkan kembali bertemu langsung. Ibu Sulastri yang tampak tidak berdaya akibat luka bakarnya, langsung berbunga-bunga. Wanita yang sebagian wajah termasuk mulutnya gosong, tersenyum haru duduk di hadapan Nina.


“Alhamdulilah Nin. Akhirnya kamu sadar. Kamu masak buat ibu, kan? Pasti enak banget karena masakan kamu kan memang enak.” Seolah semuanya baik-baik saja, ibu Sulastri tak segan langsung meraih rantang susun berisi tiga itu.


“Nin, lihat ... ngomong saja, Ibu merasa mulut Ibu mulai bau bu*suk. Lihat, luka bakar Ibu parah banget tapi sama sekali enggak dikasih obat. Kamu, tolongin Ibu ya ...,” mohon ibu Sulastri lupa pada dosa-dosanya terhadap Nina.


Setelah tangannya yang sibuk gemetaran mirip terkena ayan berhasil membuka tutup rantang, matanya yang sempat berbinar menjadi redup.


“Kok ... kok sambal, Nin?” Satu rantang bagian atas benar-benar sambal yang berminyak dan sangat merah. Dari aromanya sangat menyengat, bertanda sambal yang juga masih terasa panas itu juga sangat pedas.


Namun karena masih penasaran, walau memang panas, ibu Sulastri yang memang sudah kelaparan, tetap membuka rantang satunya. Sekali lagi, rantang di bawahnya juga masih berisi sambal panas.