Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
66 : Benar-Benar Berdamai Dengan Kenyataan


“Nin ... ini di luar kendali mereka. Mereka orang baik, seperti halnya Chalvin dan Chole. Kamu boleh kecewa berat kepada Cinta bahkan orang tua yang telah membesarkannya meski mereka hanya orang tua angkat. Namun, lihatlah ketulusan orang tua Chole. Mereka mencoba memperbaiki, bertanggung jawab pada apa yang telanjur terjadi, meski bukan mereka yang melakukan kesalahan secara langsung. Sebenarnya, ... harusnya Cinta juga orang baik. Namun karena suatu hal, dia kebablasan ke jalan yang harusnya tidak pernah dipilih apalagi dijalani. Kamu kenal Chalvin, kamu juga kenal Chole, tak kalah penting, kamu juga kenal Cinta sekeluarga dari Akala dan semua orang yang sudah peduli, tulus membantumu keluar dari belenggu masa lalu,” pikir Nina. “Jadi, ini benar-benar saatnya kamu berdamai dengan kenyataan. Yang berlalu biarlah berlalu, toh Allah sudah memberi mereka balasan setimpal. Doakan saja agar mereka mampu menjadi manusia lebih baik lagi termasuk Cinta. Lihat orang tua di hadapanmu, Nin. Mereka begitu terluka, mereka benar-benar rapuh karena dosa yang dilakukan oleh seorang anaknya yang mereka lahirkan sekaligus rawat melalui kasih sayang. Cepat atau lambat kamu pasti akan seperti mereka, menjadi orang tua. Jadi, mulai sekarang, jadikan lah kesalahan dan semua yang bu*ruk sebagai pembelajaran. Serta, jadikan yang baik-baik sebagai contoh.” Sampai detik ini, hati kecil Nina terus menasihati.


“Ini waktunya kamu menjadi Nina yang bahagia. Nina yang elegan, berkelas agar pantas bersanding dengan Akala sekeluarga. Jadilah padi yang berisi, yang makin isi makin menunduk. Syukuri apa yang kamu miliki karena Allah sudah memberimu lembaran baru penuh kebahagiaan. Jangan sampai Allah marah dan mengambil semua kebahagiaan yang kamu terima!” yakin hati kecil Nina lagi.


“Sekarang aku sudah menemukan kebahagiaanku, ... memang sudah waktunya untuk berdamai dengan kenyataan. Memang sudah waktunya melampiaskan dendamku dengan kebahagiaan yang aku dapatkan. Karena jika kepada mas Reno aku membalasnya dengan kebahagiaan di kehidupan baruku tanpa adanya dia, kepada Cinta yang sudah mendapat hukuman nyata dari Allah, aku akan merangkulnya agar dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kasihan mamah papah sekaligus keluarganya,” batin Nina yang kemudian berangsur membalas dekapan ibu Aleya. Wanita yang matanya sangat mirip Chole itu masih tersedu-sedu dan sampai detik ini masih jadi fokus perhatian.


“Kesalahan dan kegagalan menjadi alasanku untuk makin belajar. Sementara hal-hal baik selalu jadi motivasi untukku menjadi manusia lebih baik lagi. Walau aku tak mungkin bisa sepenuhnya melupakan apa yang telah Cinta lakukan, ... Insya Allah, pelan-pelan aku akan belajar buat memaafkan,” ucap Nina lirih seiring ia yang jadi berlinang air mata. “Aku percaya Om dan Tante sudah melakukan yang terbaik. Sudah telanjur terjadi, dan semuanya juga sudah menjalani hu*kuman. Semoga, setelah ini semuanya jadi lebih baik.”


“Amin ... amin ya robbal alamin, Nin!” ucap Nina.


Pengajian sekaligus doa bersama di sana tetap diwarnai haru atas apa yang ibu Aleya dan Tuan Maheza lakukan. Chole yang turut hadir bersama sang suami, segera menghampiri sang mamah kemudian memberikan pelukan hangatnya. Sementara Tuan Maheza segera membimbing Chalvin dan Laras untuk menemui pemilik Rumah sekaligus kerabat mereka yang ada di sana. Sebab selain Laras belum mengenal sekaligus dikenal orang-orang di sana, amnesia yang Chalvin alami juga membuat Chalvin melupakan banyak hal tentang mereka.


“Herman, ... asli aku Herman!” keluh Azzam.


Sepri yang ada di sebelah Azzam sengaja berkata, “Kamu Azzam, bukan Herman.”


“Herman itu yang jualan es tebu ijo di sebelah ruko es gepluk cap gajah mantan duduk mbak Septi, Jam!” komentar Ojan sambil sesekali menyeruput kopi hitamnya.


Azzam menatap sebal Ojan kemudian mengambil alih gelas berisi kopi hitam yang memang masih sangat panas. “Sudah, kamu jangan minum kopi hitam terus, nanti yang ada kamu tambah hitam dan makin jauh dari jodoh karena kamu enggak kelihatan. Contohnya Sepri—”


“Mohon maaf, Ojan sama aku tuaan dia karena dia sudah aki-aki. Kelakuannya saja yang mirip bayi!” ucap Sepri sengaja memotong penjelasan Azzam.


“Bayi apaan? Bayi bikin gede*g! Ojan ini ibarat sarang dosa soalnya hawanya selalu pengin bull*y dia terus di setiap lihat kelakuannya. Apalagi kalau dia lagi pakai sandal bulu yang pink! Ih ... rasanya pengin kem*pesin kepalanya!” ujar Azzam kali ini benar-benar sewot.


Sepri yang baru mengambil potongan semangka dari piring pacitan atau itu hidangan jamuan, berkata, “Tenang, Zam. Itu sandal legen, sudah aku lempar ke kolam dumbo kemarin. Termasuk sepatu but rainbow rubby yang warnanya juga pink dan bunyi cit-cit!”


Sepri yang terlalu syok, sudah langsung tidak bisa berkata-kata, meski tatapannya sudah fokus kepada Ojan.


“Yang paling bener memang orangnya sekalian dibuang, Pri!” balas Azzam.


“Takut lelenya keracu*nan. Apalagi biar bagaimanapun, itu lele buat stok rumah makan mas Aidan!” balas Sepri mencoba cuek pada kelakuan Ojan. Entah apa yang harusnya dilakukan agar Ojan toba*t dari sika menjengkelkannya.


“Ada apa, sih?” kepo mas Aidan yang duduk di depan bersama Akala dan Excel. Lebih tepatnya, mereka yang sudah menikah dan memiliki istri, dibiarkan duduk di depan menemani Akala.


“Udah ... Mas Aidan sama Mas Excel jangan ikut-ikutan. Intinya, mulai sekarang, kalian wajib jaga jarak dari Ojan. Takutnya itu para sepupu beneran mirip Ojan. Ya Allah jabang bayi jangan sampai keponakanku mirip Ojan. Mereka wajib mirip unclenya!” heboh Azzam.


Mas Aidan dan Excel jadi sibuk menahan tawa, tapi mereka juga sepakat mengikuti dawuh kanjeng Azzam yang bagi mereka terbilang sakral.


“Pri, Pri ... masa anaknya kedua kembaranku yaitu mas Aidan dan Pecel, eh, maksud aku Excel, disuruh mirip angker. Ya bagusan mirip aku, kan? Lihat, Pri, penampilan terbaruku dengan kumis tebal runcing kanan-kiri dan beneran tegar, mirip inspektur Pijay kayak yang di drama India, kan?” bisik Ojan kepada Sepri.


Dengan sabar, Sepri yang sedang tersenyum memandangi video bocah perempuan di ponselnya, berkata, “Bukan angker, tapi uncle. Uncle itu artinya paman. Itu bahasa Inggris!”


“Bahasa Inggris, Pri? Ah kamu sok tahu! Emang dasar kamunya saja yang bude9! Efek tiap hari dengerin mesin keras sih!” cibir Ojan yang kemudian memilih rusuh ke Azzam.


Sepri menatap tak habis pikir Ojan lantaran ia terlalu geregetan. Namun, senyum yang membuat kedua matanya basah menyingkirkan semua rasa kesal itu hanya karena ia melihat Binar si bocah perempuan di video, memberi nama karakter superman yang diwarnai, dengan nama Sepri. OM Sepri—tulis Binar di bawah gambar supermannya.


Diam-diam, Akala melongok Nina. Yang mana di waktu yang sama, Nina yang duduk di barisan wanita paling depan dan jarak mereka sekitar tiga meter, juga melakukan hal yang sama. Detik itu juga bukan hanya tatapan mereka yang bertemu. Karena senyum dan juga rasa nyaman, seolah menyatukan mereka meski jelas, duduk saja mereka berjarak.