Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
30 : Akala, Pria yang Sangat Baik


“Sebahagia itu, ya? Bahkan aku belum pernah sebahagia itu. Jadi sadar, selama ini aku bukan orang yang baik karena selama ini, aku kurang bersyukur. Iya, aku sampai lupa bersyukur hanya karena terbiasa hidup enak. Semuanya serba ada, orang tua yang sayang banget, saudara yang jangan ditanya lagi. Benar kata orang, ... kadang, kita memang wajib lihat ke bawah agar kita jadi orang yang jauh lebih bersyukur,” batin Akala. Ia segera meminta Nina untuk menunggunya karena mereka akan pulang bersama menggunakan mobil.


“Memangnya malam ini aku masih tidur di rumah mas Akala, apa bagaimana?” pikir Nina yang khawatir keberadaannya hanya merepotkan.


“Merepotkan bagaimana?” tanya Akala ketika akhirnya Nina duduk di sebelahnya.


“Mas dan keluarga Mas baik baik. Aku sampai bingung gimana balasnya,” balas Nina sambil menunduk dalam.


“Kamu cukup jadi orang yang lebih baik lagi. Jadi orang yang lebih bahagia lagi. Kamu juga harus makin semangat karena kamu berhak bahagia, dan kamu punya Malini yang masih sangat butuh kamu!” Walau sudah berucap demikian dan harusnya sudah cukup untuk menyemangati, Akala juga sengaja berkata, “Kita terlalu berharga untuk orang yang hanya ingin melukai kita. Jadi, jangan pernah melukai dirimu apalagi sampai mengakhiri hidup kamu hanya karena kamu merasa hancur. Hanya karena kamu merasa enggak berguna.”


“Jadi, malam ini aku masih tidur di rumah orang tua Mas?” takut-takut Nina melirik Akala yang sudah mulai mengemudikan mobilnya.


Mobil mulai meninggalkan area parkir dan seorang satpam sudah langsung membantu Akala keluar dari area parkir.


“Jujur, aku sama keluargaku memang enggak tenang kalau biarin kalian hanya berdua di kontrakan. Ya, meski di sana harusnya aman. Daripada kepikiran, dan di rumah pun banyak kamar kosong, untuk sementara kalian tinggal di rumah dulu,” ucap Akala yang kemudian mengucapkan terima kasih kepada satpam yang telah membantunya.


“Tapi aku yang jadi enggak enak, Mas ....”


“Dibawa nyaman saja, Nin. Anggap rumah sendiri.”


“Ya enggak bisa gitu Mas. Kecuali, kalau kita memang ada ikatan keluarga. Kemarin Mas lihat sendiri kan, sekelas bibiku saja gitu.”


“Ih, tega banget kamu nyamain aku sama bibi kamu?”


“Ih, Mas. Maaf ... maksudku bukan gitu, tapi ....”


“Ya sudah, dibawa nyaman saja, ya?” Akala menatap Nina penuh keteduhan.


Nina tidak memiliki pilihan lain selain menerima arahan Akala. “Ya sudah Mas, kalau gitu bisa ke kontrakan dulu buat ambil pakaian dan keperluan Malini?”


Mendengar itu, Akala langsung menatap Nina. “Apa sekalian, ... mending kontrakannya dikosongkan saja?”


“Hah ...? Maksud Mas?” refleks Nina. Antara bingung tapi perlahan takut. Takut Akala tak memberinya izin tinggal di sana.


Akala yang masih kerap menatap Nina karena biar bagaimanapun, ia harus fokus mengemudi, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, kan kamu sama Malini tinggal di rumah saja.”


“Masa iya, selamanya Mas?” balas Nina heran.


Detik itu juga Akala terdiam sekaligus ingat niatnya. Ia peduli kepada Nina, sangat. Terlebih apa yang Nina alami dan salah satu luka terfatalnya justru karena Cinta. Karena Cinta ingin bersamanya kemudian mengor*bankan Nina. Hanya saja, Akala juga sadar, Nina bisa langsung takut kepadanya andai ia langsung jujur apalagi terang-terangan mengajak Nina menikah.


“Salah satu alasannya itu, Nin. Mas Ojan, si paling gercep kalau tahu ada wanita lajang apalagi kalau statusnya janda muda,” ucap Akala ketika akhirnya mereka sampai di depan kontrakan.


Ojan sungguh sudah di sana. Memakai peci ping, sarung pink, dan juga koko warna hitam. Sementara tak jauh dari teras ada motor matic masih berwarna pink yang boncengannya dihiasi satu pot besar berisi janda bolong.


“M-mas ...?” lirih Nina merasa ngeri dengan cara Ojan dan ia sadar sengaja mendekatinya.


“Mas Ojan orangnya beneran baik, tapi memang begitu, selalu jadi pejuang janda sejati. Dan baru berhenti kalau jandanya sudah menikah. Malahan awal-awal janda incarannya menikah, biasanya sampai ditungguin tidurnya.”


“Tapi aku enggak mau nikah, Mas!” sergah Nina memotong penjelasan Akala.


Detik itu juga Akala langsung bengong. Ia menatap sedih Nina.


“Kamu wajib nikah. Harus, kapan pun itu. Tidak menikah sama saja menyakiti diri kamu—” Akala meyakinkan. Karena entah kenapa, apa yang Nina tekadkan sekarang membuatnya merasa menjadi seorang ayah yang sangat tidak rela andai anak perempuannya tak mau menikah.


Karena Nina sudah langsung terlihat sangat tertekan, dan wanita itu tampak bingung hanya untuk membalasnya, Akala sengaja mengangguk-angguk. “Ya sudah, jangan dijadikan beban. Ayo turun biar kamu juga ada waktu buat istirahat.”


“Istri!” panggil Ojan untuk ke sekian kalinya. Ia sengaja membukakan pintu untuk Nina.


“Permisi, yah, Mas!” ucap Nina tegang setengah mati hanya karena harus berhadapan dengan Ojan sedekat sekarang. Karena entah sengaja atau bagaimana, Ojan terus memepetnya, hingga ia memilih tidak lewat pintu tersebut dan malah menyusul Akala yang sudah menunggu.


Refleks, Akala mengulurkan tangan kanannya, sementara Nina yang terlanjur takut kepada Ojan, segera meletakan tangan kirinya di atas tangan Akala yang juga langsung menggandengnya.


“Istri, ... suami bawain kamu janda bolong, bunga lambang musafir cinta pemuja janda. Sama-sama janda!” ucap Ojan tak keberatan meski Nina digandeng Akala. Karena yang Ojan tahu, hubungan Akala dan Nina sudah seperti kakak beradik.


“Makasih banyak, Mas. Bunganya dibawa pulang saja, ya.” Nina berusaha menghargai Ojan.


Untuk pertama kalinya Akala mengetahui ada wanita yang mau menghargai Ojan, selain wanita yang masih bagian dari keluarga mereka.


“Istri mau sekalian dibawa pulang, enggak?” sergah Ojan bersemangat.


“Enggak usah repot-repot, Mas!” balas Nina masih menjaga perasaan Ojan. Ia mulai masuk kontrakan lantaran Akala sudah berhasil membuka pintu kontrakannya.


“Enggak apa-apa, aku suka kalau direpotin sama kamu!” yakin Ojan yang sudah langsung ditahan Akala. Akala memintanya untuk membiarkan Nina beres-beres.


“Tapi aku sama Nina cocok, kan, Akala? Dia istri, aku suami!” bisik Ojan.


“Enggak cocok sih,” jujur Akala sambil menggeleng lembut.


Ojan langsung merengut sebal. “Jangan bilang kalau kamu mau jodohin dia sama Sepri? Kamu dikasih apa sama Sepri? Kelinci? Kalau dia kasih kelinci, aku kasih kamu kambing! Kalau dia kasih kamu kambing, aku kasih kamu sapi! Ya ...?”


Akala tidak menjawab dan malah mengabarkan jika Nina sudah beres.


“Mas, ini beneran jadi ...?” Nina sudah memboyong semua barang-barangnya dan Malini, yang memang tidak banyak. Hanya saja, ia belum sampai memboyong gerabah dan lainnya. Semua yang masih dibelikan sekaligus disiapkan oleh Akala.


“Iya, ... biar lebih aman. Aku enggak mau kamu terluka lagi. Luka di wajah, di tubuh, bahkan luka mental kamu saja masih bikin kamu trauma,” lembut Akala yang sampai berkaca-kaca, menatap Nina penuh kepedihan.


Nina yang diperhatikan begitu sudah langsung menitikkan air matanya. Ia tidak bisa mengontrol emosinya. Dan lagi-lagi ia dibuat heran, ada, orang sangat baik seperti Akala?


“Akala kok gitu ke istriku. Istriku juga gitu ke Akala. Mereka tatapannya ‘kikuk-kikuk’ ...,” batin Ojan.