
Di sebuah ruang intensif, kesibukan dua orang perawat mengurus seorang pasien san tidak lain Cinta, belum berakhir.
“Lukanya parah banget. Kasihan, kelopak mata kanannya nyaris bolong,” bisik perawat berjilbab kuning gelap kepada rekannya yang memakai jilbab cokelat.
“Katanya korban bega*al dekat rutan. Itu lagi jadi bahan gibah. Wajah termasuk kelopak matanya diseret kena aspal panas, ... sepanjang jalan! Asli ngeri!” ucap perawat yang memakai jilbab cokelat.
Dan sampai detik ini, Cinta belum sadarkan diri. Ia masih menjadi salah satu penghuni ruang IGD karena kebetulan, ruang rawat inap di rumah sakit sana sedang penuh.
“Kasihan banget, ujian berat banget ini sih. Atau memang, teguran dari Yang Punya Kehidupan. Kita kan enggak tahu dosa orang karena itu urusan mereka dengan Tuhan. Bisa jadi, nih orang sudah bikin orang lain sakit hati banget. Sebelumnya belum pernah sampai kekurangan ruang rawat inap seperti sekarang, kan? Ini lagi enggak sadar dan efek biu*s juga. Nah kalau efeknya sudah habis, pasti kesakitan luar biasa. Kaki sama badan juga lecet. Masya Alloh!” lanjut si perawat berjilbab cokelat dan makin membuat lawan bicaranya bergidik ngeri.
Salahnya Cinta, saat berebutan tote bag dan akhirnya terjatuh, Cinta beberapa kali berganti posisi baring baik wajah maupun tubuh. Hingga semua itu juga jadi mencicipi aspal panas yang sampai melukai daging.
“Wajib oplas, ya? Khususnya yang di wajah.” si jilbab kuning kembali berbisik-bisik sambil terus menatap miris Cinta. Di sebelahnya, sang rekan yang juga masih menjadikan Cinta sebagai pusat perhatian, berangsur mengangguk-angguk.
Kemudian keduanya memutuskan untuk menutup tirai biru tua selaku pemisah setiap ruangan tak begitu luas di sana.
Seperti yang membuat kedua perawat yang menangani khawatir bahkan merasa sangat miris, keadaan Cinta memang sangat mengenaskan. Rambut panjang yang sebagian sempat digunting karena tersangkut ke rantai, masih tergerai. Sementara setiap lukanya masih dibiarkan terbuka dan baru dibersihkan. Masih tahap pengobatan dalam. Luka-luka luar yang dagingnya sampai kelihatan dengan aroma yang tak perlu dijelaskan, belum mengalami pengobatan lebih lanjut. Karena seperti yang sempat dikeluhkan juga, selain ruang rawat inap tidak ada yang kosong, kebetulan dokter yang menangani juga masih di perjalanan dari luar kota. Otomatis, penanganan secara intensif untuk luka luar masih harus menunggu kedatangan si dokter.
Kendala lain juga berasal dari komunikasi dengan pihak yang bisa dihubungi. Karena selain setiap telepon membuat ponsel Cinta berdering, termasuk itu telepon dari Chalvin, pasti ada saja yang membuat polisi melewatkannya. Ponsel dan barang-barang Cinta memang ditahan polisi. Namun dalam tas Cinta tak sampai disertai kartu identitas termasuk sekadar KTP. Di dompet Cinta hanya berisi beberapa lembar uang, juga beberapa ATM sekaligus kartu kredit dan dua di antaranya memang milik Helios. Selain itu, ponsel Cinta juga memakai sandi, tanpa sidik jari. Hingga mereka belum bisa menghubungi pihak yang bisa dimintai pertolongan.
***
Di tempat berbeda, di kontrakan selaku tempat tinggal barunya, Nina tengah merebus air untuk Malini mandi. Sambil bersiap-siap mandi, Nina sengaja mengontrol tubuh Malini untuk jaga-jaga, memastikan tubuh adiknya itu baik-baik saja. Nina sangat berharap sang adik tak sampai mengalami apa yang ia alami yaitu kekejian dari orang tua tiri. Tidak dengan bekas pukulan apalagi pele-ce-han se*ksual. Walau pada akhirnya, Nina justru berakhir tersedu-sedu sambil mendekap sang adik.
“Sama mamah suruh diem aja, padahal sakit! Terus aku juga enggak boleh cerita ke siapa-siapa kalau aku digituin sama bapak Surat.”
Hati Nina remuk redam mendengar pengakuan itu. Pengakuan dari Nina yang belum paham dari apa yang dia alami dari ibu sekaligus ayah tirinya yang benar-benar jahan*am.
Nina juga paham andai ia bicara, itu bisa menjadi a*ib untuk sang adik. Masa depan sang adik yang belum genap berusia tujuh tahun itu sudah otomatis sura*m. Namun akan lebih sur*am sekaligus lebih tidak adil lagi jika Nina hanya diam.
Nina membawa Malini pergi dari kontrakan dengan langkah buru-buru. Awalnya ia hanya menuntun, tapi karena sadar ulahnya membuat sang adik kewalahan bahkan Malini sampai tersandung demi mengimbangi langkah super cepatnya, Nina memutuskan untuk menggendong sang adik.
Rumah Akala dan Nina cukup hafal meski sempat tersesat, menjadi tujuan Nina. Lebih kebetulan lagi, mobil Akala baru saja keluar dari garasi. Tampaknya Akala akan pergi. Buru-buru Nina lari. Demi menuntut keadilan untuk sang adik, Nina akan melakukan segala cara meski ia hanya bermodal nekat.
Belum sempat keluar dari garasi, kedatangan Nina yang begitu buru-buru dan wanita itu menghampiri ya sambil berlinang air mata, membuat Akala bingung. Akala yang juga langsung khawatir segera keluar dari mobil. Dilongoknya wajah Nina yang ada di balik punggung dan langsung menatapnya dengan senyuman tak berdosa.
“Kenapa kamu nangis, Nin? Malini sakit?” sergah Akala yang yakin, harusnya Malini tidak sakit. Bocah itu tampak baik-baik saja dan memang menjadi terlihat jauh lebih bahagia setelah kebersamaan mereka dengan ibu Arum.
Namun, Akala yang memang tipikal penyayang, tak sampai hati membiarkan semua kesedihan Nina terjadi. Karena setelah mengambil alih Malini, mengembannya penuh kasih sayang, Akala juga mengelap air mata Nina.
“Ayo pelan-pelan diceritain,” bujuk Akala lembut karena Nina sampai sesenggukkan. Nina tampak begitu berat, sakit, bahkan terpukul. Beberapa kali, Nina memejamkan kedua mata dan tangan kanannya yang mengepal, memuk*ul-mukul dada.
Akala yang awalnya berniat mencari Cinta jadi lupa. Terlebih selain Cinta sudah terbiasa membuat drama guna mendapatkan simpati, dirasanya apa yang Nina alami memang jauh lebih pelik. Nina jauh lebih membutuhkannya.
“M-mas ....”
“Enggak apa-apa, Nin. Enggak apa-apa. Kamu bisa percaya ke aku. Andai itu rahasia, aku janji aku akan menjaganya. Aku akan menjaganya sampai aku mati!” yakin Akala dengan suara yang makin lirih lantaran ia yakin, apa yang akan Nina sampaikan memang rahasia bahkan sen*si*tif. Terbukti, telapak tangan Nina sampai berkeringat dingin dan Nina juga gemetaran. Termasuk bibir Nina yang akan berucap. Bibir itu komat kamit tanpa menghasilkan suara.
“Bisik-bisik saja,” lirih Akala sampai menunduk. Dengan sabar ia memperlakukan Nina. Walau pada akhirnya, kabar yang Nina bisikkan sangat lirih ke telinga kirinya, membuat dunia Akala tak kalah hancur.
Dada Akala kebas dan terasa sangat panas. Rasa panas yang juga dengan cepat menguasai sekujur tubuhnya.