
Ibu Sulastri, itu sungguh dia. Wanita keji yang telah menghancurkan kehidupan Nina sekaligus Malini!
Dada Nina seketika bergemuruh, terasa sangat pegal dan seolah ada yang akan meledak di sana. Akala yang sudah lemas karena muntah, segera membawa Nina pergi dari sana. Terlebih ia memergoki sang istri yang menatap marah ibu Sulastri, sudah sampai berlinang air mata.
“Niiiiiiin, ... Nin, ini ibu, Nin!” sergah ibu Sulastri memohon sekaligus menyusul Nina.
Tangis yang awalnya Nina tahan berakhir pecah. Ia berhenti kemudian balik badan hingga membuatnya berhadapan dengan ibu Sulastri.
“Nina ... ini beneran kamu. Kamu sudah hidup enak? Kurang aj*a*r kamu, bisa-bisanya hidup bahagia di atas penderitaan Ibu! Malini mana, Malini? Kamu kemanakan dia? Sini kasih ke Ibu saja, biar bantu Ibu ngem*is—” Ibu Sulastri belum selesai bicara, tapi tangan kanan Nina sudah memberinya tampa*ran panas.
Akala tahu, kondisi ibu Sulastri yang sangat mengenaskan, bisa menjadi alasan wanita itu dibebaskan dari hukuman. Karena tubuh ibu Sulastri saja tinggal tulang terbalut kulit kering penuh kore*ng dan diserbu lalat. Beberapa bagian tubuh khususnya yang Akala lihat yaitu kaki dan tangan, sampai dihiasi belatung kecil! Hanya saja, Akala sungguh tidak menyangka, dan Akala yakin, sang istri jauh lebih tidak menyangka. Sudah sakit begitu, ibu Sulastri masih saja berpikiran keji.
“Bisa-bisanya kamu berpikir begitu!” kesal Nina lirih tapi emosional. Padahal Nina berpikir, saat akhirnya mereka bertemu terlebih jika keadaan ibu Sulastri seperti sekarang, yang akan ibu Sulastri lakukan adalah meminta maaf. Namun kini, kenyataan justru jauh dari pemikiran. Ibu Sulastri sama saja dan malah makin menjadi. Bisa-bisanya mau mengajak Malini untuk mengemis!
“Sombong kamu ya, Nin! Anak durhaka! Enggak tahu diri kamu. Lupa, dulu setelah mamakmu mati—”
“CUKUP, BU! CUKUP DAN JANGAN BICARA LAGI!” Akala benar-benar marah. “Sekali lagi Ibu berulah, jangan salahkan saya jika Ibu kembali dipenjara. Malahan, Ibu memang tidak layak bebas!”
“Katakan kepadaku, apa yang bikin kamu merasa berhak mengusik kehidupanku?!” tanya Nina benar-benar ingin mengamuk. Apalagi jika ia ingat apa yang telah dilakukan wanita penuh kor*eng di hadapannya. “Setelah semua yang terjadi, kamu bahkan jadi lebih keji!”
“Sampai mati pun aku enggak akan pernah memaafkan kamu!” tegas Nina gemetaran saking geregetannya.
“Jangan kepedean ... siapa juga yang akan minta maaf! Ibu hanya ingin kamu bertanggung jawab karena sebagai anak, harusnya kamu urus Ibu, bukan malah memenjarakan Ibu! Anak A*SU!” marah ibu Sulastri yang detik itu juga mendapat guyuran kopi panas dari Akala.
Kopi yang sengaja Akala pesan dan simpan di pinggir ransel Nina, justru berakhir mengguyur wajah ibu Sulastri, sebelum ia sempat menikmati. Akala membawa Nina menjauh dari wanita itu, meski ibu Sulastri histeris kesakitan. Beberapa orang sempat ada yang mendekat, tapi itu hanya bertahan sebentar lantaran yang ada, mereka jadi muntah-muntah karena aroma tak sedap dari ibu Sulastri.
Setelah agak jauh, Akala sudah langsung menghubungi polisi. Karena baginya, orang seperti ibu Sulastri tak sepantasnya berkeliaran kemudian menggunakan mulutnya untuk menghi*na orang.
“Sayang, duduk.” Akala sengaja membuat sang istri duduk agar tidak kelelahan. Apalagi pertemuan mereka dengan ibu Sulastri, ia yakini sudah menghancu*rkan hati Nina.
Di seberang sana, ibu Sulastri tampak akan mendekat seiring dengan Akala yang mulai menghubungi polisi melalui sambungan telepon.
“Ya Allah, Mas. Kalau aku enggak lihat keadaannya begitu, sudah aku banti*ng tuh orang!” jerit Nina berkeluh kesah. Ia sungguh ingin mengamuk dan setidaknya memban*ting ibu Sulastri. Namun melihat keadaan khususnya fisik ibu Sulastri yang sangat memprihatinkan, ia justru merasa malu, bahkan walau sekadar membayangkannya.
Akala berangsur jongkok kemudian memeluk Nina, berusaha menenangkannya. “Sabar, Sayang,” bisiknya yang kemudian berkata, “Lokasinya tepat di alun-alun Cilacap, Pak. Coba segera kirim orang ke sini. Saya tunggu di sini!” tegas Akala.
“Trrrrrrrrrriiiiiiiiittttttt ... jebreddddddd!!!”
Mendengar suara mobil dan motor yang direm secara mendadak dan itu ada di belakang mereka selaku keberadaan ibu Sulastri, Akala refleks merinding. Tubuh penuh kor*eng dan tampak sangat renta itu terkapar di tengah aspal panas, tapi tak lama kemudian juga sampai terlindas sebuah truk yang melintas. Alasan yang membuat Akala buru-buru membenamkan wajah Nina ke dadanya. Terlebih tak beda dengannya, Nina yang terusik juga bermaksud memastikan apa yang terjadi di belakang sana.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...,” lirih Akala dalam hatinya. “Dia benar-benar telah menyia-nyiakan setiap kesempatan yang dia miliki,” batinnya lagi tak lupa mengelus-elus perut Nina, kemudian membacakan doa-doa.
Tak butuh waktu lama kecelakaan beruntun di belakang Akala dan Nina, menjadi pusat perhatian. Beberapa orang sudah langsung berkerumun memastikan. Tak jarang, sebagian besar dari mereka juga sengaja mengabadikan menggunakan bidik kamera kemudian mengunggahnya ke media sosial. Dari yang berupa foto, maupun video. Yang mana, kenyataan mulut ibu Sulastri yang tetap mangap sementara mata melotot meski wanita itu sudah meninggal, sudah langsung menjadi perbincangan panas.
“Jangan menyalahkan dirimu. Sudah lupakan saja. Ini yang terbaik buat kamu maupun Malini. Karena andai dia masih hidup, yang ada dia pasti rus*uh!” yakin Akala menenangkan Nina di kamar hotel mereka menginap.
“Masih beneran enggak habis pikir, Mas. Sudah begitu, ... kok ya masih mikir keji!” ucap Nina yang kemudian mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan. Ia menghela napas pelan sekaligus dalam guna meredam gemuruh berikut sesak yang memenuhi dadanya gara-gara ibu Sulastri.
“Bismillah, semoga kita dijauhkan dari orang-orang seperti dia!” yakin Akala yang kemudian memeluk Nina. Pelukan yang benar-benar hangat selain ia yang membenamkan wajah di kepala Nina. Terdengar Nina yang menjadi tersedu-sedu.
“S-sayang ...,” lembut Akala, berharap sang istri tidak menangis lagi.
“Mas, aku beneran enggak bisa maafin dia!” ucap Nina. Tentu yang ia maksud ibu Sulastri. Sebab ia sungguh marah, kecewa, bahkan dendam kepada ibu Sulastri. Terlebih sejauh mengenal, ibu Sulastri memang tidak pernah baik kepadanya.
“Enggak apa-apa. Karena andai aku jadi kamu, aku juga enggak bisa dan enggak akan memaafkannya. Bukan bermaksud mengajarimu jahat, tapi ini lebih baik daripada kita memaksa diri kita untuk memaafkan dan yang ada hanya akan membuat kita lebih sakit!” yakin Akala yang kemudian makin mengeratkan dekapannya.
Dalam dekapan Akala, Nina yang menjadi tersedu-sedu juga berangsur mengangguk-angguk.
Memaafkan mereka yang sudah menghancu*urkan hidup kita, dan bahkan meninggalkan trauma sangat mendalam, fatalnya, orang itu tetap tidak menyesal dan bahkan terus berusaha melukai kita? Nina benar-benar tidak bisa melakukannya. Bahkan sekelas Akala yang terkenal sangat sabar, juga tetap tidak bisa memaafkan.