
Sebelum alarm di ponsel Akala bunyi, Nina sudah lebih dulu bangun. Sebab terbiasa bangun lebih awal untuk bekerja, membuat Nina seolah memiliki alarm tubuh tersendiri. Hanya saja, Nina yang belum terbiasa karena tidur dalam dekapan Akala saja membuat wanita itu merasa sangat malu, tak berani mengusik Akala. Nina hanya diam sambil memandangi wajah Akala yang berada persis di atas wajahnya.
Nina pikir, bunyi alarm akan membuat Akala langsung bangun. Namun nyatanya tidak karena Akala malah jadi sibuk memeluknya erat sekaligus gemas. Sesekali, Akala juga akan menci*umi wajah sekaligus kepala Nina. Hanya saja, Akala tak berani lama-lama dan bahkan sudah langsung memastikan ulah pria itu tidak berdampak fatal kepada Nina.
“Nyaris khilaf ya Allah!” sesal Akala dalam hatinya lantaran terlalu takut, ulahnya kembali membuat sang istri trauma.
“Enggak apa-apa, kan?” tanya Akala dengan suara berat khas orang baru bangun tidur, sementara kedua matanya terkantuk-kantuk berusaha menatap Nina.
Nina yang menjadi kerap mengerjap sambil menahan napas, refleks tersenyum tak berdosa.
“Katakan sesuatu. Jangan tegang apalagi takut,” pinta Akala yang baru akan baik-baik saja setelah Nina mengatakannya sendiri.
“Aku baik-baik saja, tapi memang belum terbiasa. Tetap tegang dan takut juga, tapi sepertinya cenderung tegang,” jujur Nina yang memang akan selalu melakukannya. Karena kepada Akala, sebisa mungkin ia memang tidak menutupi apa pun termasuk apa yang ia rasa kepada Akala sekaligus dalam hubungan mereka.
Akala tersenyum lega kemudian menempelkan hidungnya di hidung Nina.
“Mas mau aku buatkan teh hangat?” tawar Nina yang sekadar berbicara pun, baru berani sangat lirih.
“Air putih saja yang hangat. Mau hidup lebih sehat lagi. Mau mulai rajin minum teh herbal,” balas Akala.
“Yang kunyit, jahe, sereh, gitu, yah, Mas?”
“Heum. Namun jangan ditumbuk atau dihalusin, cukup iris apa geprek saja.”
“Oh, ... memangnya ada bedanya, yah, Mas?”
“Iya, biar enggak mengendap di ginjal, dokter bilang gitu.”
“Oh oke, aku paham. Mas mau langsung aku buatin buat nanti? Tapi diseduh apa godok?”
“Seduh saja, ah nanti aku pesen termos khusus buat bikinnya. Nanti kamu juga minum, ya, biar lebih sehat!”
“Sun dulu ...!” Rengek manja dari kamar sebelah, dan itu depan pintu kamar Azzura yang terbuka, sudah langsung mengusik Nina.
Nina kikuk dan refleks mematung, tak berani menyaksikan apa yang terjadi di sebelah sana. Namun melalu ekor lirikannya, ia memergoki Azzura yang tengah menciu*um gemas setiap inci wajah Excel.
“Masa iya aku harus gitu?” pikir Nina. Termasuk ketika Azzura tak segan menciu*m bibir Excel dan itu berlangsung sangat lama. Nina mendadak panik mirip mali*ing yang tertangkap basah. Nina memutuskan kembali masuk ke dalam kamar, kemudian menutup pintunya yang sampai ia punggungi, dengan sangat hati-hati.
“Tunggu, lah ... malu lihatnya. Tunggu sampai kiranya mereka udahan bahkan pergi dari sana,” lirih Nina. Terlebih tadi, tampaknya Excel sudah siap untuk pergi, yang mana Excel memang dijadwalkan akan kembali ke Jakarta selepas salat subuh.
Lima menit berlalu dan Akala masih di dalam kamar mandi, Nina sengaja keluar untuk menunaikan tujuannya yaitu menyiakan Akala air putih hangat. Seperti keyakinannya juga, Azzura dan Excel sudah tidak ada dan pintu kamar Azzura juga sudah kembali tertutup rapat. Hanya saja, baru juga akan melangkah, Nina sudah kembali mundur mirip maling yang tertangkap basah. Sebab pasangan adem tak kalah romantis dari Azzura dan Excel, keluar dari kamar sambil berpelukan. Mas Aidan mendekap mbak Arimbi dari samping kanan belakang, sementara mbak Arimbi yang dipeluk sengaja membingkai wajah mas Aidan menggunakan tangan kanannya. Sesekali, tangan kanan mbak Arimbi akan mengelus pipi kiri mas Aidan. Tak jarang, kecupa*an romantis juga mbak Arimbi layangkan di wajah sang suami.
“Aduuuh ...,” lirih Nina lagi-lagi memilih masuk ke dalam kamar. “Sepertinya harus seperti itu. Aku harus begitu juga ke mas Akala,” pikir Nina yang malah kepergok Akala lantaran suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi. Beruntung, Akala keluar dari sana dalam keadaan sudah memakai pakaian lengkap.
“Kamu kenapa, Yang? Kok panik ketakutan begitu? Kamu sampai keringetan. Masa iya, mas Ojan sudah datang?” lirih Akala yang segera menghampiri sang istri.
Ketika Akala sudah ada di hadapannya, kedua tangan Nina bergerak dan hendak membingkai wajah Akala. Tanpa berani menatap wajah Akala, kedua Nina juga urung bergerak untuk sampai membingkai wajah Akala.
“Kenapa?” lembut Akala. Yang ia tahu, Nina tipikal yang masih sangat polos dan akan cerita apa pun kepadanya. Karena pada kenyataannya, Nina memang dipaks*a dewasa oleh keadaan. Namun saat bersamanya, Nina tak segan kembali dengan pemikiran anak kecil yang benar-benar polos tak berdosa.
“Sudah cerita saja,” yakin Akala sambil mengeringkan kepalanya menggunakan handuk.
Seperti keyakinan Akala, Nina langsung cerita semuanya. Dari kejadian Azzura dan Excel, dan terakhir kebersamaan mas Aidan dan mbak Arimbi. Yang mana Nina berdalih ingin belajar juga, tapi mengaku malu. Tentu kenyataan tersebut membuat Akala refleks menertawakannya. Akala merasa cara pikir Nina sangat lucu sekaligus menggemaskan.
“Sini peluk dulu. Kamu ya ...,” ucap Akala di sela tawanya. Ia sungguh memeluk Nina, sementara Nina yang ingat romansa kedua kakak Akala, langsung panik kebingungan berusaha untuk buru-buru membalas. Hanya saja, kedua tangan Nina terlalu kaku untuk digerakkan. Nina harus susah payah melakukannya agar bisa mengimbangi sekaligus membalas Akala.
“Pelan-pelan saja ....” Akala masih terkikik menertawakan Nina.
“Iya, ... tapi aku enggak mau bikin Mas menunggu terlalu lama. Aku merasa jahat kalau kayak gitu, tapi keadaanku masih berusaha adaptasi juga. Gimana sih bahasanya,” ucap Nina masih memeluk erat Akala. Tubuhnya sampai menempel ke tubuh Akala karena pelukkan erat yang ia lakukan.
Akala yang masih kesulitan menyudahi tawanya, refleks mengangguk-angguk. “Iya, iya, ... aku paham. Ya sudah, ayo ke dapur bareng. Ambil minum, terus siap-siap salat subuh berjamaah. Sambil terus belajar jadi pasangan yang baik, ya. Tapi buat aku ini beneran lucu banget. Ulah kamu beneran bikin gemes.” Karena saat dengan Cinta, Akala cenderung diatur bahkan dibohongi, selain Akala yang harus selalu mengobati setiap luka-luka Cinta, menjalin hubungan dengan Nina yang pemikirannya masih sangat polos juga membuat Akala merasakan nuansa sekaligus sensasi berbeda.