Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
84 : Alina dan Akina


Alina dan Akina dipilih menjadi nama anak Akala dan Nina, oleh Akala dan Nina, atas persetujuan sekaligus dukungan keluarga.


Alina Princesela Kalandra, merupakan nama anak pertama Akala dan Nina, yang benar-benar diangkat menjadi anak oleh Azzam. Sementara Akina Hyojin Nara Kalandra, dan merupakan anak kedua Akala—Nina, juga benar-benar diangkat menjadi anak oleh Ojan.


“Duda tanpa malam pertama tapi sudah punya anak! Mamakmu segera menyusul, yah, Jin!” ucap Ojan bersemangat sambil menimang-nimang Akina yang terus ia panggil Hyojin, hanya karena nama tersebut merupakan nama yang ia berikan dan terbilang secara pak*sa.


Akala dan Nina tidak bisa untuk tidak tertawa.


“Pah ...,” panggil Nina berbisik-bisik kepada sang suami yang tengah sama-sama mengawasi Ojan layaknya dirinya.


“Apa?” lembut Akala yang juga berbisik-bisik.


“Mas Ojan jadi kelihatan lempeng, enggak rusuh lagi!” Nina mengakhiri ucapannya dengan tawa yang sengaja ia tahan sambil memeluk Akala dari samping.


“Jangan pernah percaya ke mas Ojan yang dampak perubahannya lebih berbahaya dari musim pancaroba!” balas Akala yang justru membuat tawa istrinya makin renyah.


“Aduh ... aduh ini telinga Daddy kok panas yah, Jin. Aduh, ini pasti lagi ada yang ngomongin. Tapi ya enggak apa-apalah kalau diomongin manusia. Asal jangan diomongin sama malaikat Izrail. Soalnya Daddy belum punya mamak buat kamu kan Jin!” keluh Ojan masih dengan sepenuh hati menimang Hyojin. “Aslinya yah, Jin. Harusnya nama kamu Kim Oh Jin. Soalnya kan Daddy saja namanya Kim Oh Jan.”


“Halu!” cibir Azzam yang baru datang sambil mengemban Alina.


“Sesama kang halu, enggak usah memuji, Jam!” ucap Ojan yang sukses membuat orang tua si kembar dan masih ada di sana, makin cekikikan.


“Ini, Nin ... Mas mau ganti celana dulu soalnya sarungnya melorot terus,” ucap Akala sambil memberikan Alina kepada Nina.


“Itu yang di dalam sarung, itu lapar itu. Makanya sarungnya melorot terus!” cibir Ojan.


“Bayi akhir zaman makin hari ngomongnya langsung jadi ahli neraka ya!” semprot Azzam yang kemudian memaks*a Ojan untuk keluar dari sana, membantunya mengurus orang muyen. Apalagi kini menjadi muyen terakhir dan sampai ada turnamen berhadiah menarik. Jalan sepanjang kompleks kediaman pak Kalandra sampai penuh motor.


“Ah, urus orang muyen enggak bakalan dapat duit, Jam. Mending aku urus parkir saja, aku mau jadi tukang parkir saja, lumayan uangnya bisa buat beli susu atau jajannya Hyojin!” balas Ojan.


“Kan ... kan, makin halu!” semprot Azzam dan ditertawakan oleh Akala dan Nina lantaran ia dan Ojan masih ada di depan pintu kamar keduanya.


Di tinggal Azzam dan Ojan, Akala jadi hanya berempat dengan keluarga kecilnya.


“Di luar memang rame banget ya Pah,” ucap Nina.


Akala yang mengemban sekaligus menimang Alina, mengangguk-angguk. “Iya, makanya yang lain enggak pada ke sini, soalnya sibuk urus-urus di luar,” ucapnya. “Malini saja ikut heboh bareng Mamah bikin soto di dapur!”


Nina langsung tersenyum haru lantaran hadirnya Alina dan Akina, juga membawa kebahagiaan untuk mereka semua. Termasuk juga keluarga dari Jakarta yang sebenarnya sudah datang. Namun karena kini menjadi malam terakhir acara muyen dan sampai ada turnamennya, suasana di sana benar-benar ramai, sibuk.


“Habis ini tinggal kondangan ke mas Sepri dan mbak Suci,” ucap Akala yang kali ini tersenyum sangat manis kepada sang istri.


“Kira-kira yang menang siapa, yah, Pah? Itu lihat itu, Pah. Itu dikit lagi panjat pinangnya. Ya ampun aku yang deg-degan ... lah lah, melorot ... ah gagal padahal tinggal dikit lagi!” heboh Nina ikut gemas pada kehebohan di bawah sana yang memang tengah sangat meriah atas adanya panjat pinang dengan hadiah sangat lumayan.


Akala tertawa, kemudian mengajak sang istri untuk melihat ke teras. Di sana ada sekumpulan bapak-bapak sedang bermain kartu. Sementara di depan teras ada meja berisi aneka bingkisan selaku hadiahnya.


“Enggak kalah rame dari pas mas Kim yah, Pah!” ucap Nina yang jadi ingat keramaian saat acara muyen Kim selaku anak pertama Chole dan Helios di novel Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.


“Soalnya kita memang masih satu lingkungan,” manis Akala yang kemudian sengaja menge*cup kening sang istri sangat lama.


“Jangan lupa, Alina sama Akina pasti mau juga, Pah!” heboh Nina meski ia masih melakukannya dengan berbisik-bisik.


Akala sudah langsung sibuk menahan tawanya, bahkan meski bibirnya sudah sibuk mengabsen kedua pipi anaknya yang mulai tampak berisi karena baik Alina maupun Akina, memang bentar-bentar ASI. Beruntung, ASI yang Nina hasilkan masih mencukupi, meski Ojan yang mulai ‘lempeng’ tetap khawatir, Hyojin si kesayangan kekurangan ASI karena harus dibagi dengan Alina.


“Assalamualaikum ...?” sapa Malini dari luar.


Nina dan Akala tak langsung menjawab. Keduanya justru bertukar tatapan seiring wajah mereka yang berbinar-binar hanya karena mereka mengenali suara tadi sebagai suara Malini.


“Waalaikumsalam ....” Nina dan Akala kompak menjawab sambil melangkah semringah menuju pintu.


“Masuk, Lin,” lembut Akala meski ia memang sampai berseru.


Malini datang membawa dua mangkuk soto. Namun Ojan yang menyusul sampai membawa satu panci kuah soto berisi tetelan.


“Nina, habisin. Biar ASI kamu banyak, takutnya Alina sama Akina kena ‘kemarau panjang’!” yakin Ojan.


“Ya enggak sampai satu panci Mas Ojan,” heran mas Aidan yang berakhir menertawakan Ojan. Ia datang bersama sang istri yang juga sama-sama mengemban bayi karena biar bagaimanapun, anak pertama mereka juga kembar.


“Buat jaga-jaga, Mas Aidan. Biar enggak kemarau. Soalnya Alina sama Hyojin sama-sama samson wati. Samson versi perempuan!” jujur Ojan dan sudah langsung menjadi bahan tawa.


“Rame ya ...,” ucap ibu Arum yang baru datang. Ia segera mengambil alih Akina dari Nina. “Sama Mbah dulu, ya. Mamah suruh makan dulu. Papah juga sekalian makan nemenin Mamah. Masya Allah ini kamu bawa sepanci soto Mas Ojan!” Ibu Arum yang sudah mengemban Akina, tidak bisa untuk tidak tertawa.


Lain dengan Azzam yang sudah langsung meminta Sepri untuk merukiah Ojan agar tidak nyeleneh.


Suci yang turut hadir di sana, sengaja menggantikan Akala untuk mengemban Alina. “Sudah, Papah makan dulu sama Mamah.”


Tak mau membuat kamar Akala yang sudah berisi ada dua bayi makin pengap, Azzam menggiring para bapak-bapak termasuk Sepri yang datang bersama Suci, untuk menunggu di luar.


“Binar sini sama Mbak Lini,” ajak Malini kepada Binar, tapi bocah itu tetap menjadi satelit Sepri.


“Deket banget?” bisik ibu Arum sambil tersenyum semringah kepada Suci yang juga langsung membenarkan melalui anggukan sekaligus senyum lepas.