
Beres salat subuh, Nina sudah menjalani rias di kamar tamu ia dan Malini tinggal. Harap-harap cemas perasaan Nina, selain jantungnya yang sibuk berdentum kencang.
“Begini ya rasanya mau jadi pengantin dan aku cocok apalagi aku tahu, dia tulus banget ke aku,” batin Nina. Ia tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika perias yang meriasnya menyebutnya sangat tegang.
“Telapak tangan Mbak sampai basah dan sedingin ini,” ucap Miss Messie, yang merias Nina.
“Ternyata mas Akala sukanya yang kalem-kalem ya. Kirain bakalan cari yang rane, eh ujung-ujungnya malah kembar. Kalian beneran mirip loh, Mbak. Sama-sama pendiam. Lihatnya adem.” Miss Messie yang paham keluarga khususnya anak-anak ibu Arum, sengaja memuji Nina dan Akala. Seperti yang baru saja ia sampaikan, Nina ibarat kembaran Akala. Bukan perkara wajah, tapi cenderung pada sikap sekaligus sifatnya.
Di luar, anggota keluarga sudah sibuk. Tampak mbak Arimbi dan juga mbak Azzura yang memasak, sementara para laki-laki bertugas beres-beres kecuali Ojan yang malam ini kembali menginap. Excel bertugas mengepel lantai bawah dengan Akala, sementara mas Aidan bertugas mengurus lantai atas bersama Azzam.
“Jam, ini nanti aku pakai sarung saja terus pakai peci, ya?” tanya Ojan yang dari tadi keliling membawa air mineral kemasan gelas layaknya pedagang asongan. Ojan sengaja begitu takut mereka yang sedang gotong royong kehausan.
“Pakai baju juga kali Jan!” semprot Azzam sambil terus ngepel.
“Ya maksudnya Zam, dikiranya aku gil4, enggak pakai baju!” sebal Ojan.
“Lah emang! Emang situ merasa waras!” sewot Azzam yang kesabarannya memang lebih tipis dari tisu dibagi-bagi kemudian terguyur air.
“Mas Aidan, Mas Aidan ....” Ojan sengaja mendekati mas Aidan. “Sebenarnya aku curiga kalau tiap saat si Azzam itu datang bulan! Mens! Sensitip banget orangnya!”
Dibisik-bisik begitu, mas Aidan hanya cengar-cengir dan perlahan terkikik.
“Kamu berulah, aku panggilin Aisyah loh. Biar Aisyah jauh-jauh dari pesantren Jawa Timur, ke sini khusus buat kamu. Daripada penghulunya nganggur. Sudah, nanti kalian nikah sekalian. Urusan emas kawin nanti aku yang sumbang. Lima ribu cukup, kan?” semprot Azzam sampai balik badan hanya untuk menatap Ojan.
“Jam ... Jam, ampun, Jam!” Ojan sudah langsung berusaha kabur hanya karena ancaman Azzam barusan. Hanya saja, usaha Ojan kabur malah membuat kak kanannya menendang embel berisi air untuk mengepel.
“Innalilahi Ojan ... stunamiiiiiiiiii!” kesal Azzam refleks teriak.
“Sumarni? Sunarni mantanku? Mana-mana?” tanggapan Ojan yang malah sibuk mencari-cari. Namun Azzam yang tampaknya sangat kesal, malah menutup kepalanya menggunakan ember pel yang sudah kosong.
“Jam, bed*ebah kamu!” kesal Ojan.
“Mas Azzam, Mas ... sudah. Ini cepat beresin takutnya mbak Mbi apa mbak Azzura lewat, malah kepleset!” tegur mas Aidan masih bersuara lirih. “Mas Ojan turun dulu. Turun, turun, nanti kalian malah ribut.”
“Sudah kamu turun, itu sapu halaman depan!” omel Azzam mirip orang ke*surupan.
“Iya ... iya,” balas Ojan buru-buru kabur. Namun ia lupa, ulahnya telah membuat lantai di sana digenangi air. Hingga ia yang memakai sandal jepit berakhir jatuh terlentang karena terpeleset.
“Hahahahaha!” Azzam menjadi orang paling bahagia.
Lain dengan mas Aidan yang masih kalem dan berakhir jongkok karena tawa yang ditahan membuat pria santun itu lemas.
“Amit-amit, Mas. Amit-amit! Jangan sampai keponakanku mirip Ojan!” ucap Azzam masih sempat mengingatkan mas Aidan meski adegan Ojan terjatuh terlentang karena terpeleset, membuat perutnya kaku karena tertawa. “Senjata makan tuan, kapok!”
“Ini tuan dimakan senjata, Jam!” rengek Ojan masih belum bisa bergerak.
“Ya Allah, amit-amit ini! Dala*mannya juga pink, Mas!” heboh Azzam, tapi yang diajak mengobrol tak kuasa merespons lantaran Mas Aidan malah tertawa lemas.
“Emang pink, Jam. Hati aku aja pink. Enggak percaya kamu, belek dadaku!” balas Ojan dengan santainya.
Beberapa jam kemudian, sekitar pukul setengah delapan pagi, suasana pak Kalandra benar-benar hangat. Bunga-bunga segar dan menebarkan aroma segar, tampak dibawa oleh Excel dan mas Aidan atas arahan para istri. Mereka tengah menyiapkan suasana rumah dalam sentuhan akhir, tanpa melibatkan orang lain bahkan para orang tua mereka. Karena sebisa mungkin, mereka ingin memberikan yang paling spesial untuk Akala dan Nina. Tampak juga Azzam dan Liam yang sedang merapikan hiasan janur kuning selaku simbol adanya hajatan nan sakral di sana.
Lain dengan Ojan yang memilih duduk di sebelah Akala, di sofa ruang keluarga. Yang mana seperti niatnya, Ojan benar-benar memakai sarung.
“Itu ada dua calon pengantin!” ucap Azzam sambil menunjuk Ojan dan Akala.
“Om Ojan mau nikah lagi? Calonnya mana? Halu? Atau memang ada janda idaman yang akhirnya khilaf lagi, makanya mau?” balas Liam yang detik itu juga sudah langsung dijewer oleh Chole.
“Wah ... bestienya Ojan!” goda Azzam sudah langsung mingkem hanya karena Helios langsung berdeham sangar.
“Aku enggak mau sama Aish, ih. Daripada jadi menten nikahnya sama Aish, mending aku sunat lagi!” yakin Ojan sampai menghampiri Azzam, tapi jawabannya barusan malah membuat semuanya tertawa.
“Aisyah kayak apa, sih? Orang mana?” kepo Liam.
“Memangnya kamu belum tahu? Aisyah kan wanita suci!” balas Azzam.
“Cantik banget berarti, ya? Wiiih!” Liam makin kepo.
“Liam kebiasaan ...,” tegur Chole yang menertawakan sang sepupu.
Beberapa saat kemudian, para wanita sengaja mengunjungi Nina ke kamar. Mereka siap menjemput Nina karena acara ijab kabul siap dimulai dan penghulu pun baru saja datang.
Nuansa kebahagiaan benar-benar menyebar, menyelimuti kebersamaan di sana. Semuanya tersenyum lepas dan tak jarang diwarnai gelak tawa gara-gara Ojan yang terlalu yakin akan dinikahkan dengan Aisyah, terus saja ketakutan.
Bersamaan dengan Akala yang akhirnya melafalkan ijab kabul, Ojan berbisik-bisik kepada Azzam. “Jam, kita beneran kembar, ya!”
“Eh, enggak ada silsilahnya, ya. Itu jatuhnya pence*maran nama baik!” semprot Azzam meski ia melakukannya dengan berucap lirih demi menjaga kesakralan di sana.
“Eh, Jam dengerin dulu. Tuh, Akala tiba-tiba nikah. Adik kamu, itu. Lebih lagi aku yang katakanlah sudah kawakan. Nah, tuh si brokoli kesayanganku juga sudah nikah. Lebih mengejutkannya lagi, si Chalpin, Jam. Masa Chalpin tiba-tiba udah kawin padahal dia amnesia. Beneran tinggal kita yang belum wisuda keperjakaan!” yakin Ojan masih berbisik-bisik. Ia sampai mendekap erat lengan kanan Azzam menggunakan kedua tangan.
“Mohon maap, Jan. Statusku sudah punya Ndari, sementara kamu masih proses mencari-cari. Jadi tolong jangan merasa kembar sama aku. Tuh kamu sama Liam saja!” ucap Azzam sengaja mengusir Ojan, yang kebetulan di sebelah Ojan ada Liam.
“Berarti, aku jodohin Sundari sama Liam saja?” refleks Ojan dan langsung membuat Azzam mendelik menatapnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Nina Nurlaila ....” Akala berucap tegas sekaligus halus, tapi ucapan yang begitu berwibawa itu membuat Nina yang ada di sebelahnya panas dingin. Nina sampai merinding.
“Mak, ... Pak, ... alhamdullilah, aku beneran nikah. Bismillah, di pernikahanku yang sekarang, aku akan menjadi wanita paling bahagia. Amin!” batin Nina seiring air matanya yang lolos membasahi pangkuannya bertepatan dengan kata “sah!” yang menggema di sana dari semuanya.