Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
88 : Kebahagiaan Keluarga Besar


Paginya, Akala dan Nina sudah sibuk memandikan anak-anak. Keduanya bekerja sama mengurus buah hati mereka.


“Anak-anakku, aku pastikan kalian memiliki kenangan yang sangat manis di setiap detik yang kalian miliki. Benar-benar bukan hanya kenangan masa kecil, tapi semuanya. Apalagi memiliki papah yang sangat lembut, hangat sekaligus penyayang seperti papah Akala, dan sampai detik ini masih selalu menjadi inspirasi mamah buat jadi orang yang lebih sabar, serta menjadi istri lebih baik lagi,” batin Nina sambil diam-diam menatap sang suami yang jongkok menghanduki kedua putri mereka, kemudian memeluknya di samping kanan dan kiri.


Di tengah tawa renyah dari Akina dan Alina, Akina yang memang paling cerewet berdalih, agar sang mamah juga ikut digendong oleh Akala.


“Sini, Mah ... sini. Di punggung!” sergah Akala dan sudah langsung membuat Nina tersipu.


“Beneran loh Mah!” tunggu Akala sampai jongkok.


“Kuat ...?” ragu Nina memastikan.


“Ya Allah, kok masih ditanya,” balas Akala setengah mengeluh, tapi langsung membuat kedua putri mereka makin renyah dalam tertawa.


Tak beda dengan Alina dan Akina, Malini yang merekam kebersamaan mereka menjadi video juga ikut ngakak. Kamera ponsel yang Malini pakai untuk merekam jadi goyang lantaran kelakuan keluarga kecil kakaknya. Meski jujur, kebersamaan di hadapannya sukses membuatnya iri, benar-benar menggemaskan. Dan Malini sangat berharap, kelak dirinya juga bisa seperti kakaknya—memiliki keluarga bahagia dan juga sangat dicintai oleh suaminya.


Sampai di dekat meja nakas sebelah tempat tidur bernuansa pink, Nina berangsur turun dengan hati-hati. Ia tersenyum dan bergaya pura-pura terpukau pada sederet produk perawatan anak-anak yang kemudian ia pakaikan ke kedua anaknya. Sebab alasan Malini merekam kebersamaan mereka pun karena apa yang mereka lakukan termasuk bagian dari endorse.


“Keluarga endorse,” sebal Azzam ketika akhirnya, Akala dan Nina sekeluarga bergabung dengan keluarga besar.


Malini yang sudah lebih dulu bergabung bersama Alina dan Akina, dengan keluarga besar Akala, hanya cekikikan. Alasan Azzam sampai menegur Akala dan Nina layaknya barusan lantaran keasyikan syuting untuk endores, keduanya sampai telat dari jadwal keberangkatan.


“Ya alhamdullilah banget lah Mas. Mereka enggak harus cari-cari pekerjaan, dan malah dikejar-kejar pekerjaan. Alhamdullilah, rezekinya Alina sama Akina, mamah papahnya makin banyak j*ob endorse!” ucap ibu Arum, si paling berusaha netral.


“Maaf banget, Mas ... Sungkem dulu kalau gitu.” Akala sampai sengaja sungkem kepada Azzam yang sudah memakai setelan putih untuk ijab kabul.


“Kalau kamu sampai ikut sungkem juga yah, Nin. Itu honor endorse kalian hari ini, fix buat Mas semua!” omel Azzam dan sudah langsung membuat Nina tak berani menyalaminya.


“Santai, Mas. Nanti kan ada kondangan enam puluh juta dari mas Ojan!” yakin Akala mencoba menenangkan Azzam sambil mendekap mesra Nina yang sempat kebingungan setelah disemprot Azzam.


“Asli, si Ojan kalau enggak balikin kondangan enam puluh juta, aku kempesin kepalanya! Aku cul*i*k Sepri yang dikandang, terus minta tebusan!” ucap Azzam refleks tertawa lemas lantaran takut uang kondangannya kepada Ojan, tidak kembali sesuai kesepakatan. Hanya saja, keluh kesahnya itu justru ditertawakan oleh keluarganya, tanpa terkecuali sekelas Nina dan Akala yang selalu kalem.


Bersama keluarga dari Jakarta dalam formasi lengkap menggunakan mobil pribadi masing-masing, mereka siap mengantar Azzam ke kediaman ibu Septi, selaku orang tua Sundari. Namun tiba-tiba saja, Azzam yang sudah gagah dengan pakaian pernikahannya, dan juga menjadi orang yang memimpin langkah, mendadak berhenti melangkah. “Mohon maaf, ini kita mau antar pengantin, atau demo sembako, ya?” Sambil menatap setiap wajah di sana, ia tidak bisa untuk tidak tertawa. Apalagi, jumlah mereka sungguh puluhan. Jalan di depan kediaman pak Kalandra sampai penuh hanya karena oleh keluarga mereka yang jumlahnya sudah makin banyak.


Akala tidak akan lupa, Azzam akan selalu menangis di setiap berat badan Akala naik. Karena di masa lalu, sebelum cintanya justru dipermainkan oleh Cinta, Akala memang sempat nyaris obesitas. Juga, Akala pun tidak akan lupa, Azzam akan sibuk mengomel layaknya emak-emak, dan tak segan mengel*oninya, hanya karena saat itu Akala pulang dini hari, dan itu masih karena Cinta. Gara-gara wanita yang telah membuat Nina kehilangan jati diri, memutuskan hubungan mereka secara sepihak—baca novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.


“Hati-hati Mas Azzam, kejujuran enggak selamanya bikin nyaman!” ucap Azzura yang sudah langsung disambut tawa oleh semuanya.


“Akala, sudah cepetan jawab,” tagih Azzam yang walau melotot-melotot, tapi tetap saja sambil tertawa. Tawa yang menular kepada semuanya.


“Ya karena dari semuanya, Mas paling telat nikah. Yang lain sudah pada nikah, langsung punya anak apalagi dari pihak kita, sekali brojol dua, kan?” jujur Akala dan lagi-lagi memecahkan tawa di sana.


“Maksud kamu, Mas kamu ini bujang tua makanya baru nikah, begitu? Jangan lupa, ya ... alasan Mas baru nikah karena memang ... ya mamang Mas bujang tua berkualitas! Hahahaha, keponakan sama anak, wajib bilang iya biar Uncle seneng!” kesal Azzam dan makin memeriahkan tawa di sana.


“Terakhir sebelum masuk mobil, buat pembaca yang enggak kondangan, aku sumpahin kalian dikejar-kejar Ojan!” ucap Azzam yang segera masuk mobil pengantin. Ia disupiri langsung oleh Akala yang juga memboyong keluarga kecilnya lengkap dengan Malini. Malahan Akina yang tak mau pisah dari Azzam, sengaja meminta pangku.


“Minum, Mah ... Pah ....” Nina membukakan tutup botol air mineral untuk kedua mertuanya.


Di mobil Alphard pribadi Nina dan Akala, yang juga menjadi buah dari hasil kerja keras keduanya termasuk itu dalam urusan endorse, pak Kalandra dan ibu Arum masih terangkut. Namun kakek Sana dan ibu Kalsum dititipkan kepada mas Aidan dan mbak Arimbi.


“Nin, itu endorse juga? Ini kita lagi syuting apa gimana?” bawel Azzam masih duduk di sebelah Akala.


Mendengar tudingan barusan, Nina sudah langsung lemas gara-gara menahan tawa. “Bukan ih Mas ... ini biar Papah sama Mamah enggak tegang saja,” ucap Nina yang memang duduk di tempat duduk paling belakang bersama Malini dan Alina.


“Mas, ya ... bu*r*uk sangka mulu!” tegur ibu Arum yang sudah langsung meminum air mineralnya menggunakan sedotan yang juga sampai Nina sediakan.


Pak Kalandra yang terkikik, masih bertahan minum juga. “Biasanya alasan Mas Azzam kalau makin berisik, makin rese karena Mas Azzam terlalu tegang!”


“Nah, Pah! Bener banget! Tos dulu!” ucap Azzam yang meski tertawa pasrah, benar-benar mengajak sang papah yang duduk di belakangnya, tos.


“Pokoknya nanti, siapa pun tolong amankan Ojan, takutnya dia rusuh pas ijab kabul!” ucap Azzam setelah tos dengan sang papah.


❤️❤️❤️❤️


Semuanya wajib kondangan, yaaaa. Makasih banyak buat semua ucapan sekaligus doanya di episode sebelumnya ❤️❤️❤️❤️❤️