
Antara malu, mau, tapi juga takut. Itulah yang Nina rasakan saat ini.
“Nanti malam kita ngobrol bareng sama orang tua sekaligus keluargaku.”
Ucapan Akala barusan tak ubahnya borgol yang mengikat kedua tangan bahkan kaki Nina, hingga Nina tak kuasa melarikan diri. Benar-benar bukan sembarang ikatan hingga mau tak mau, Nina harus menjalani.
“Jika nanti ... intinya, pikirkan dulu baik-baik, Mas. Mas sekeluarga orang yang sangat baik. Mas sekeluarga bahkan bukan orang sembarangan. Sementara masa laluku tidak akan pernah meninggalkanku, bahkan meski aku sudah berusaha membuat masa yang kujalani lebih baik. Jangan sampai, hanya karena keadaanku, nama baik Mas sekeluarga tercoreng.” Nina berucap dengan jauh lebih tertata bahkan tenang. “Tadi saja aku lihat di koran, ada beritaku. Mereka menuliskan kabar terbaru wanita kor*ba*n rud*a*pak*sa ayah tiri dan ibu tirinya yang wajahnya sampai dioperasi mirip orang lain. Kini dia bekerja di sebuah rumah makan dan wajahnya tampak jauh lebih berseri ....”
“Kita memang enggak bisa mengubah orang menjadi seperti yang kita mau tanpa kemauan mereka. Sama halnya dengan kita yang enggak bisa menghentikan orang lain untuk berhenti menilai, mengkritik, bahkan membenci kita. Namun, kita bisa mengurangi semua itu dengan cara menghindari atau malah membatasi hubungan dengan sumber yang bisa membuat kita terus menjadi pusat perhatian karena ko*ntra*vesinya. Jadi, hal yang harusnya Mas lakukan adalah menghindari sekaligus membatasi hubungan denganku.” Nina mengakhiri ucapannya dengan anggukan di tengah tatapannya yang menjadi sendu.
“Aku enggak pernah peduli pada orang lain karena sejauh ini, orang tua dan keluargaku yang selalu mendukung setiap langkahku. Aku yakin, ketimbang aku, ini jauh lebih berat buat kamu. Karena itu, aku bilang, pelan-pelan. Kamu berhak bahagia, Nin. Kita berhak bahagia,” balas Akala masih lembut. “Ya sudah, pelan-pelan sambil jalani. Bentar, aku buka pintunya dulu. Kamu di belakang aku buat jaga-jaga, biasanya Mas Oja. langsung tab*rak pegang-pegang kamu,” lanjutnya buru-buru menuju pintu.
Nina yang masih terlalu terpukul lantaran ajakan Akala membuatnya merasa sangat malu, tapi mau, tapi takut juga, berangsur mengikuti Akala. Seperti yang Akala duga, Ojan langsung berusaha meraih kedua tangan Nina.
“Istri ... istri, kamu enggak apa-apa, kan, istri?” sergah Ojan masih berusaha meraih Nina.
Namun, Akala selalu berusaha melindungi Nina. Malahan, Akala nekat memeluk Ojan, sementara Nina Akala suruh pergi.
“Ih, Akala ... aku enggak doyan terong. Kamu yah, lama-lama jadi naksir juga ke aku! Ih, amit-amit enggak mungkin jadi bayi kalau terong ketemu terong!” keluh Ojan kali ini mengomel.
Dan untuk pertama kalinya, Akala jadi merinding gara-gara ucapan Ojan barusan. “Aku cuma mau kasih tahu ke Mas Ojan kalau Nina akan menikah!” sergah Akala sengaja melangkah lebih cepat demi mengamankan Nina. Itu pun Akala yakini tak akan membuat Ojan mengakhiri perjuangannya karena sekali lagi Akala tegaskan, mental Ojan ibarat mental permen karet. Makin dikunyah bakalan jadi makin lengket dan andai dibuang sekali nyenggol juga langsung nempel.
“Hahahaha ... Nina kan memang mau nikah sama aku. Nanti kamu yang jadi pagar ayunya yah, Akala. Pakai konde, sekalian kebaya juga. Pokoknya kamu sama Azzam wajib jadi pasukan terdepan! Hahahaha!” Ojan benar-benar tertawa bahagia. “Mau ke Nina, ah. Mau ke Nina ... istriiiiii!” Ia berseru sambil berlari.
Akala yang langsung panik buru-buru menyusul lari.
Tatapan penuh arti antara Akala dan Nina ketika Akala berusaha mengakhiri usaha Ojan, sama sekali tidak Ojan sadari.
“Eh, Akala ... jangan jahat ih kamu ke aku. Masa mau lapor-lapor gitu. Nanti kalau sampai iya, Sepri jadi enggak beliin aku hape. Nanti aku cuma pakai lator-lator lah ...,” rengek Ojan.
“Ya makanya, sekarang Mas yang anteng. Duduk sana di depan, Mas mau makan apa tinggal pesan,” yakin Akala.
“Nah makanya, aku maunya makan sama istriku, Akala. Aku mau makan is—” ucap Ojan yang sebenarnya belum selesai, tapi Akala sudah lebih dulu membekapnya bahkan memanggulnya pergi dari sana.
“Ya Allah, kalau memang kami jodoh, dekatkan. Namun jika memang bukan, segera jauhkan dan berilah wanita terbaik untuk mas Akala.” Itu doa Nina yang bergegas dari sana.
Ketika tatapan Nina tertuju kepada gelas di tangan kanannya, ia merasa ada berbeda. Sebab biar bagaimanapun, es teh tersebut menjadi saksi bisu ajakan menikah dari Akala. “Malam nanti, ... Mas Akala akan membawaku mengobrol serius dengan orang tua dan keluarganya.” Sampai detik ini Nina masih berbicara dalam hati. Terlebih, ajakan serius dari Akala membuat hidupnya seolah sedang menaiki roller coaster.
Suasana sudah makin sore, dan untuk pertama kalinya semenjak Nina bekerja di sana, pak Kalandra datang. Pria yang wajahnya sangat mirip Akala itu masih memakai seragam batik. Hal pertama yang pak Kalandra lakukan ialah membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh ibu Arum, sebelum pria itu memeluk sang istri. Tampak ibu Arum yang langsung sangat manja, meski ketika lepas dari pak Kalandra khususnya ketika mengarahkan Nina, ibu Arum akan sangat tegas, hangat, dan benar-benar panutan.
“Malini, ayo salim ke Bapak ... nah, anak pinter.” Ibu Arum sengaja menuntun Malini untuk menyalami tangan kanan pak Kalandra dengan takzim.
Kemudian, pak Kalandra sengaja menunduk, menyelaraskan tingginya dengan Malini. “Malini, lihat ... kedua tangan Bapak kosong, kan? Kosong, ya. Bapak mau sulap, tapi sekarang Malini wajib tutup mata. Di hitungan ke ... delapan, Malini baru boleh buka mata. Jadi, sekarang Malini juga sambil menghitung, ya. Ayo, Ibu Arum juga bantu hitung. Satu ... dua ....” Pak Kalandra sengaja menoleh ke belakang. Ajudannya datang membawa bungkusan yang besarnya nyaris sama dengan Nina. Pak Kalandra menerima bungkusan berwarna pink tersebut, dan tepat di hitungan ke delapan, pak Kalandra menyuguhkannya pada Malini yang akhirnya membuka mata.
“Sekarang Bapak sudah pintar sulap, ya?” ucap ibu Arum di tengah senyumnya dan tentu sedang mengg*oda sang suami yang langsung tersipu.
“Ini buat Malini ... Malini suka, kan?” ucap pak Kalandra dan langsung membuat Malini kegirangan.
Dari balik tembok sebelah pintu dapur ia mengawasi kebersamaan di depan sana, Nina melihat ketulusan yang begitu besar. Pak Kalandra dan ibu Arum tulus kepada Malini dan tentu saja kepadanya.
“Andai aku bersama mas Akala, pasti rumah tangga bahagia seperti mereka yang aku miliki,” batin Nina berkaca-kaca sambil menutup setiap minuman buatannya menggunakan mesin cup sealer di hadapannya.