
“Kamu Nina, kan? Mulut kamu busu*k apa gimana ditanya kok enggak jawab?” si wanita kembali bertanya.
“Ibu saja sudah bertanya begitu, berarti Ibu sudah tahu,” balas Nina masih berusaha sopan. Namun, ia sungguh tak menyangka jawaban barusan membuat tas besar si ibu-ibu melayang dan berakhir mengh*antam wajahnya.
“Eh, Bu. Yang sopan, ya!” marah Mbak Rani segera mengambil tas si ibu-ibu sementara tangannya yang bebas segera menggandeng Nina.
“Anda yang sopan, ya. Di sini status saya tamu, sementara tamu ibarat Raja!” jawab si wanita.
“Balik lagi ke sikap Anda. Sikap kami tergantung pada sikap Anda. Karena meski tamu ibarat raja, bukan berarti mereka bisa menginj*ak pekerja apalagi pemilik usaha, seenaknya! Gini-gini kami paham hukum, yah, Bu!” tegas mbak Rani.
Si ibu-ibu yang langsung terlihat murka, menatap kedua pengawalnya. Detik itu juga pria berpenampilan layaknya pre*man dan kedua lengan kekarnya penuh tato naga, langsung mendekati mbak Rani.
Nina yang telanjur marah, tak tinggal diam. Ia menggunakan nampan kayu yang ia bawa untuk menghant*am kepala si pria, sekuat tenaga. Kedua pria tadi langsung kesakitan, tapi segera menjadikan Nina sebagai fokus perhatian.
Beberapa orang di sana khususnya laki-laki juga langsung mendekat. Termasuk karyawan lain dan salah satu dari mereka sengaja memanggil satpam.
“Tanpa mengurangi rasa hormat saya yah, Pak, Bu. Andai Bapak dan Ibu punya urusan dengan saya, meski sampai detik ini saya pastikan tidak mengenal kalian, ayo selesaikan secara baik-baik. Karena seperti yang sebelumnya sudah mbak Rani tegaskan, sikap saya juga tergantung pada sikap kalian. Jangan main hukum apalagi kero*yok!” tegas Nina siap menghadapi kedua orang di hadapannya, sementara per*eman tadi masih saja membuat kerusuhan.
Satpam yang mengamankan justru diser*ang hingga para laki-laki pengunjung rumah makan geram. Mereka yang jumlahnya ada enam, segera bekerja sama untuk mengamankan kedua pria berpenampilan prem*an.
Mbak Rani yang telanjur kesal, juga sengaja meluapkannya melalui tindakan. Ia membuang tas yang sempat menghan*tam wajah Nina, ke tong sam*pah terdekat.
“Loh, itu kenapa tas saya dibuang-buang?” protes si wanita necis selaku pemilik dari tas.
“Tadi kan Ibu sendiri yang membuangnya ke wajah saya. Mbak Rani hanya melanjutkan sekaligus menunjukkan tempat sam*pah yang sesungguhnya karena wajah saya bukan tong sam*pah!” tegas Nina. Sekesal apa pun, ia tetap berusaha sabar. Karena yang sabar saja masih disalahkan, apalagi jika ia sampai bar-bar meski ia memang sangat ingin melakukannya.
“Pah, ambilin!” usir si wanita kepada sang suami.
Meski awalnya tampak enggan, si suami tetap pergi mengambil tasnya.
Usut punya usut, si wanita tadi bernama ibu Retno, sementara sang suami bernama Rudi. Lebih mengejutkannya lagi, keduanya merupakan orang tua Reno.
“Kami sudah bercerai, apalagi pernikahan kami tetap tidak akan pernah sah di mata agama maupun hukum. Saat dinikahkan, aku dalam keadaan tidak sadar. Dan setelah itu, Reno justru menjualku. Reno seorang ger*mo, dan dia terbukti bersalah. Bapak dan Ibu jangan menutup mata. Lihat semuanya dengan transparan tanpa berat sebelah. Hanya karena Reno anak kalian, bukan berarti dia selalu benar.” Nina menjelaskan dengan sangat tenang.
“Jangan salah kamu Nin, Reno sudah mendaftarkan pernikahan kalian!” Sebagai bukti, ia mengeluarkan buku nikah dan itu sungguh buku nikah pernikahan Nina dan Reno. Hanya saja, di buku nikah tersebut masih menggunakan foto Nina dengan wajah lama.
“Ya tentu hal semacam ini akan terjadi. Mana mungkin orang sekelas Reno lepasin tambang emas seperti aku. Ibaratnya, Reno itu ibarat lintah yang akan menyedot sampai habis. Jadi selagi masih bisa dimanfaatkan, dia pasti akan terus berusaha mempertahankan!” tegas Nina dan langsung membuat mata ibu Retno nyaris loncat kepadanya.
“Kamu kalau ngomong jangan sembarangan, ya! Dasar mental pela*cur kalau ngomong enggak tahu aturan!” kesal ibu Retno.
“Kamu harus ikut kami karena biar bagaimanapun, kamu tetap istri Reno!” tegas pak Rudi yang sengaja angkat suara dan tak kalah meledak-ledak dari sang istri.
“Sebentar Mbak telepon mas Akala dulu!” tegas mbak Rani sengaja agak menjauh sambil mengeluarkan ponselnya dari saku sisi celana kulot cokelatnya.
Nina dapati, Mbak Rani yang kali ini memakai nuansa cokelat termasuk jilbabnya, sudah langsung ketar-ketir, meski Nina menyikapi keadaan dengan sesantai mungkin.
“Aku sudah minta cerai. Dan akan terus begitu. Dinikahkan paksa dan saat itu aku nggak sadarkan diri, lalu aku dijual oleh laki-laki yang bary menikahiku dan itu Reno anak kalian. Coba andai kalian yang jadi aku, apa yang akan kalian lakukan? Dan andai aku sampai masih mau rujuk, berarti aku enggak kalah bob*rok bahkan go*blok seperti kalian dan anak kalian. Manusiawi sedikit kenapa? Sudah tahu kondisinya bagaimana, masih saja cari gara-gara.” Sampai detik ini, Nina sama sekali tidak meledak-ledak. Ia masih bisa mengontrol emosinya.
“Pengadilan sudah memvo*nis Reno bersalah, jadi andai kalian terus berulah, aku enggak segan memperkarakannya. Nanti aku minta bantuan pengacaraku buat urus kalian. Biar semuanya lebih transparan!” lanjut Nina.
“Dikiranya kami takut!” tegas ibu Retno sesaat setelah mengge*brak meja menggunakan kedua tangannya. Kesalnya, seberapa pun ia meledak-ledak, Nina tetap menanggapinya dengan tampang datar, dingin, sekaligus benar-benar tenang.
Nina mengangguk-angguk. “Baik. Sekarang kalau kalian masih bisa menjaga sikap, kalian boleh tinggal sekaligus menunggu di sini. Namun jika kalian tetap berulah termasuk dua pre*man di luar, mau tidak mau kalian akan berurusan dengan hukum lebih awal.”
“Sekali pe*rek memang pe*rek!” ucap ibu Retno. Kemarahan yang ia rasa membuat ucapan dari mulutnya tidak bisa dikontrol.
Nina yang dadanya sudah pegal karena menahan amarah atas setiap ulah orang tua Reno, berangsur mengangguk tenang. “Sekarang aku tahu, kenapa Reno jadi ger*mo dan hidupnya beneran sam*pah. Ya ... karena memang orang tuanya saja sudah jadi cerminan dia.” Senyum sarkas tersungging di bibir Nina. Detik itu juga ia pergi meski ibu Retno terus melayangkan cac*i mak*i kepadanya.
“Mas Reno beneran ib*lis dan orang tuanya pun enggak kalah ib*lis. Memaksaku buat ikut mereka dan menjadikan pernikahan sebagai alasan? Dikiranya aku seb*odoh itu! Yang ada kalian bakalan aku jebloskan ke penjara karena apa yang kalian lakukan sudah lebih dari cukup jadi alasan!” batin Nina benar-benar dendam. Ia sengaja main elegan karena baginya, berurusan dengan orang seperti Reno dan orang tuanya, hanya buang-buang waktu sekaligus energi.