
“Mas Ojan? M-mas Ojan, ngapain begini?” Akala berpikir, harusnya acara karnaval masih sekitar bulan Agustus, untuk memeringati hari kemerdekaan negara mereka. Saat di mana beberapa orang memakai kostum untuk menirukan gaya seseorang atau lebih, layaknya yang tengah Ojan lakukan, dan bagi Bella maupun Silla, sudah kakek-kakek tapi pakai seragam SD.
Dengan semringah Ojan berbisik kepada Akala, “Deketin adiknya, dapat mbaknya. Ya gini, deketin Malini, biar bisa nikahin Nina!”
“Lihat, sepatunya sepatu but rainbow rubby, mah-hal loh itu. Bagus banget! Kemarin aku mau beli enggak jadi soalnya kemahalan!” ucap Silla berbisik-bisik kepada Bella.
Berbeda dengan ketiga anak di sana yang jadi kepo kepada Ojan, Nina malah makin takut pada ulah pria yang ia panggil ‘Pak Gede’ tersebut. Nina sudah langsung siaga, dan tak segan bersembunyi di belakang punggung Akala andai Ojan kembali tiba-tiba memepetnya.
“Bener kata Mas Akala, Pak Gede Ojan memang pejuang sejati. Sekarang Pak Gede Ojan niat banget deketin Malini!” batin Nina.
“Malini, besok kita sekolah bareng, ya! Lihat, demi kamu, Mas Ojan begini. Mas Ojan kan sayang kamu karena Mas Ojan mau nikah sama Kak Nina!” ucap Ojan benar-benar lembut. Ia tak segan jongkok di hadapan Malini yang ia pegang kedua lengannya.
Yang membuat Akala apalagi Nina syok, tentu karena Malini sudah langsung mengangguk-angguk kemudian mengucapakan terima kasih kepada Ojan.
“Makasih karena Mas Ojan sudah sayang aku dan juga sayan mbak Nina—” Sebenarnya Nina belum selesai bicara, tapi Akala mendadak mengemban atau itu menggendongnya.
“Ayo pulang, ... ayo pulang!” sergah Akala yang juga buru-buru menggandeng Nina.
“Ayo Mas, kita pulang!” balas Nina dan tentu saja kepada Akala. Namun dengan sigap, Ojan langsung menjawab dan bahkan tak segan menggandengnya.
“Pak Gede, lepas ....” Digandeng Ojan yang usianya dirasa Nina tak beda dengan pak Surat, membuat Nina merasakan ketakutan tersendiri.
“Lah, tadi ngajak ...?” bingung Ojan.
“Kalau Nina panggil ‘mas’ berarti itu ke aku, Mas Ojan. Soalnya kalau ke Mas, Nina kan panggilnya ‘Pak Gede’.” Akala sengaja menjelaskan, kemudian dengan lembut melepaskan gandengan Ojan.
“Pak Gede gimana? Aku kan masih imut, masih SD gini, Akala!” ucap Ojan yang buru-buru berkata, “Ini asli enggak bisa lepas. Berasa ada lemnya!” Awalnya ia nekat mempertahankan genggaman tangan kanannya kepada tangan kiri Nina, tapi karena Akala meletakan cecak di sana, ia jadi takut.
“Akala, aku ikut bonceng ya!” sergah Ojan buru-buru menyusul Akala yang masih mengemban Malini sekaligus menggandeng Nina.
“Hah? Bonceng gimana? Ini sudah pas! Tadi Mas ke sini pakai apa?” ucap Akala sambil terus melangkah.
“Pakai motor, tapi tadi ikut mobil mas Aidan. Kata mas Aidan, nanti aku pulangnya sama kamu saja. Biar bisa dekat-dekat Nina sama Malini,” rengek Ojan.
“Astaga, apa iya, muat ...?” lirih Akala kebingungan.
“Aku di depan, yah, Akala. Asyik tahu bonceng di depan kayak kemarin pas sama mas Aidan!” ucap Ojan bersemangat dan sampai lari.
Bella dan Silla yang diam-diam masih mengawasi dari belakang, sampai mengira Ojan kurang waras. Silla yang pikirannya sudah mirip orang dewasa sampai meletakan telunjuk kanannya di tengah kening tapi dimiringkan sambil berbisik-bisik kepada Bella.
“Sudah, Mas bawa saja motornya. Aku sama Nina sama Malini, jalan kaki!” yakin Akala.
“Lah, gimana ceritanya?” Ojan kebingungan.
“Kan nggak mungkin muat!” yakin Akala.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Ojan sungguh hanya nyempil di depan motor matik milik Azzam. Sementara belakangnya ada Malini yang duduk, disusul Akala yang mengemudi, sementara Nina dibonceng di belakang.
“Berasa mencerminkan masa depan pas kita sudah punya anak besar tapi minta nyempil ke mana pun kita pergi,” ucap Akala ketika akhirnya mereka sampai di depan rumah makan yang ia kelola.
“Serius, Mas aku ngeri ke Pak Gede Ojan ... gigih banget!” bisik Nina yang kemudian langsung pamit untuk siap-siap kerja. “Enggak enak sama yang lain.”
“Jangan mikir gitu. Aku sudah bilang ke mereka kalau kita akan menikah, selain kita yang akan terlibat mengurus banyak hal, jadi waktu bekerja kita enggak bisa beneran full,” tegur Akala.
“Setidaknya, aku tetap harus profesional dan sebisa mungkin kasih contoh yang baik kan, Mas?” lembut Nina sambil tersenyum pasrah kepada Akala yang sudah langsung tersenyum lembut kepadanya.
“Akala ... ini aku enggak bisa berdiri gimana?” rengek Ojan masih jongkok di depan dan harusnya menjadi tempat kedua kaki Akala menopang.
“Lini, ayo sini!” bisik Nina buru-buru mengajak sang adik untuk turun meninggalkan Ojan. Meski ke mana pun mereka pergi, Ojan tetap saja mengejar.
Hari ini suasana rumah makan mereka jadi agak berbeda karena adanya Ojan yang pakai seragam SD.
“Ini tadi pas mas Aidan lihat mas Ojan, apa dia nggak sibuk amit-amit?” komentar mbak Rani untuk ke sekian kalinya.
“Ngepens malahan kayaknya si mas Aidan ke aku, Mbak!” yakin Ojan.
Mbak Rani yang tengah sibuk di dapur hanya terkikik geli. Ia baru saja menyalakan kompor ketika Ojan minta dipinjami sisir kecil.
“Sisir kecil buat apa, Mas?” tanya mbak Rani.
“Buat sisir kumis yang makin tebal sekaligus berkilau. Mana tahu nanti ada tukang cari model buat jadi artis iklan sampo kumis!” yakin Ojan.
Bukannya membalas, mbak Rani justru tertawa terpingkal-pingkal. Apalagi jika melihat tingkah Ojan yang mengelus-elus kumis tebalnya kemudian pergi ke depan untuk mencari Nina. Di sana, biasanya Nina sedang menyambut tamu sekaligus mengerjakan semua pekerjaan yang ada termasuk itu mengepel karena Nina memang sangat rajin.
“Itu di depan Nina siapa? Bercadar, terus ada tiga laki-laki? Eh, itu mobil mahal. Platnya dari area Jakarta!” lirih Ojan sudah langsung gerak cepat menghampiri kebersamaan di depan pintu masuk.
Ada wanita bercadar dan pakaiannya serba biru dongker, selaras dengan pakaian pria bertubuh sangat tegap di sebelahnya dan sampai memakai kacamata hit tebal.
“Nin, siapa? Orang Jakarta?” bisik Ojan yang langsung bergabung dalam kebersamaan senyap di sana.
“Iya, Mas, ini ada tamu. Mas mending masuk ke dalam, jangan bikin tamu takut,” bisik Nina terlalu takut Ojan meng*amuk dan membuat tamu tidak nyaman.
“Mas Ojan ...? Ngapain Mas, pakai pakaian SD begitu? Ikut karnaval?” ucap si wanita bercadar tersebut.
“B-brokoli, Chole? Ini kamu? Sekarang, kamu jadi wanita suci kayak Aish ...?” Ojan sudah langsung heboh, tapi ia juga sampai memeluk erat Nina hingga Nina histeris.
Sekali lagi, sent*uhan Ojan membuat Nina teringat apa yang pernah pak Surat lakukan. Trauma itu sungguh nyata dan Nina tengah mengalaminya, meski sampai detik ini, Nina sudah susah payah melawan.
Novel ini mulai terhubung dengan novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam, episode 84 : Masa Lalu Suamiku