
Keesokan harinya, meski merasa baik-baik saja, Nina dan Akala memutuskan untuk melakukan USG di pemeriksaan kehamilan Nina. Keduanya begitu antusias apalagi biar bagaimanapun, kini menjadi kehamilan pertama Nina. Kehamilan yang juga akan membuat mereka menjadi orang tua untuk pertama kalinya. Karenanya, mereka sengaja menyiapkan segala sesuatu yang serba spesial. Akala dan Nina melakukan yang terbaik untuk kehamilan dan juga keluarga kecil mereka. Terlebih sejak Nina hamil, rezeki mereka makin melimpah.
“Mamah telepon video ...,” bisik Akala sambil menahan senyum. Sang mamah yang ia kabari mengenai pemeriksaan USG yang akan mereka lakukan, nekat menelepon video. Masalahnya, apakah mereka diizinkan melakukan sambungan telepon apalagi telepon video oleh dokter maupun perawat di sana?
“Boleh enggak Dok, Sus? Hubungan kami memang sedekat ini jadi sekalinya pergi enggak bareng ya dipantau terus,” lembut Akala memohon izin kepada dokter sekaligus perawat di sana.
Beruntung, dokter dan suster di sana memberi izin. Hingga walau hanya melalui sambungan telepon, acara USG disaksikan secara langsung oleh orang tua Akala.
“Menjadi bagian dari keluarga suamiku, aku beneran enggak pernah merasa kekurangan. Bukan hanya mengenai materi, tapi benar-benar semuanya. Karena orang tua mas Akala memang sebaik itu. Mereka memperlakukanku seperti memperlakukan anak kandung sendiri. Mereka sayang banget ke aku apalagi setelah tahu kalau aku hamil,” batin Nina sudah langsung bingung lantaran suara detak jantung dari anaknya benar-benar berisik. Tak semata karena berisik yang mendadak melanda, tapi juga keyakinannya jika detak jantung berisik tersebut tidak hanya satu.
“Dok, kok bisa seberisik ini, ya? Janinnya lebih dari satu, apa bagaimana?” tanya Nina sudah langsung menyikapi keadaan dengan serius.
Akala yang awalnya adem—ayem juga sudah langsung terusik. Akala memfokuskan tatapannya ke layar monitor USG. “Masya Alllah ....” Akala sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Dadanya menjadi berdebar-debar bersama rasa hangat yang menyelimuti di sana.
“I-itu ada dua, ya ...?” Nina tak kalah heboh meski hebohnya memang heboh ala-ala orang kalem. Berkaca-kaca ia menatap suaminya sambil tersenyum bahagia. Tak lupa, ia juga mengambil ponsel sang suami, kemudian mengabarkannya kepada sang mertua yang masih tersambung dengan mereka melalui sambungan telepon video.
“Memangnya, Mamah dan Papahnya belum tahu kalau janinnya ada dua?” tanya sang dokter merasa heran.
Akala yang langsung menjawab setiap pertanyaan sang dokter lantaran Nina masih heboh mengabarkan kebahagiaan mereka kepada ibu Arum dan pak Kalandra.
Setelah menjalani USG lebih rinci, janin dalam rahim Nina memang ada dua, meski sampai detik ini belum diketahui jenis kelaminnya.
“Berarti memang ada turunan hamil kembar, ya?” ucap sang dokter yang sekali lagi mengucapkan selamat kepada Nina dan Akala.
“Ada. Awalnya dari Bibi, tapi ini kedua kakak saya, hamilnya kembar semua, Dok,” jelas Akala yang kesulitan menyudahi senyumnya karena ia terlalu bahagia.
“Kok bisa, yah, Mas?” tanya Nina tak lama setelah mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Ia masih membiarkan sang suami merangkul punggungnya penuh cinta.
“Y-ya ... ya alhamdullilah ....” Akala yang masih belum banyak bicara karena terlalu bahagia, kembali tersenyum semringah.
Senyum yang juga menular kepada Nina. Untuk pertama kalinya, Nina tak segan memeluk Akala lebih dulu mesk mereka sedang di tempat umum. Yang mana selain di sana ada lumayan banyak orang, apa yang mereka lakukan juga sudah langsung menjadi fokus perhatian.
“Aku bahagia banget, Mas ....” Nina berkaca-kaca sambil terus memeluk Akala, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang sampai detik ini masih menuntunnya, melangkah penuh cinta sekaligus kelembutan.
“Alhamdullilah ... masya Allah untuk setiap rezeki sekaligus kebahagiaan yang Engkau beri, ya Allah!” batin Nina. Ia benar-benar tak menyangka jika ia akan merasakan kebahagiaan berlimpah layaknya sekarang.
“Uncle Azzam pasti bahagia karena bakalan punya pasukan enam sekaligus!” ucap Akala sambil menahan tawanya.
“Hahaha!” Akala benar-benar tidak bisa untuk tidak tertawa. Tawa yang lagi-lagi menular ke Nina.
“Kita mau lanjut ke mana?” tawar Akala.
“Cari rujak yuk, Mas. Rujak mbak Mbi yang bebek, tapi ...,” ucap Nina sambil menatap Akala penuh arti.
“Enggak kamu, enggak mbak Arimbi, beneran enggak betah kalau diajak jalan-jalan, bahkan sekelas honeymoon tanpa mamah papah!” ucap Akala sambil menggeleng heran menatap sang istri.
Nina tersenyum tak berdosa. “Mbak Mbi suruh buka cabang sekitar sini, loh ....”
Balasan Nina sudah langsung membuat Akala tertawa geli. “Kalaupun memang iya, ya enggak mungkin langsung beroperasi sekarang. Tapi kalau dipikir-pikir, daripada nyarain mbak Mbi bikin cabang sekitar sini, mending kita saja yang buka cabang di sekitar sini. Toh menunya nyaris sama.” Akala mengakhirinya dengan tertawa.
“Ayo, Mas. Buka cabang di sekitar sini beneran. Punya dua anak sekaligus juga wajib bikin kita makin bekerja keras! Nanti kalau ada endorse-endorse tentang kehamilan aku juga mau ya Mas!” balas Nina karena biar bagaimanapun, sang suami memiliki komunitas khusus yang kerap menyalurkan jas*a endorse.
Bukannya menjawab, Akala justru tertawa.
“Aku serius, Mas!” tagih Nina benar-benar akan langsung bekerja keras setelah ia mengetahui akan memiliki dua bayi sekaligus.
Acara bulan madu Akala dan Nina benar-benar bertabur kebahagiaan. Mereka tetap menjalani jadwal bulan madu layaknya semula. Kepulangan mereka langsung disambut bahagia oleh keluarga Akala yang sudah langsung menyapa perut Nina dengan sebutan si kembar.
“Meledug-meledug ini rumah,” komentar Azzam merasa ngeri sendiri lantaran tahu akan langsung ada enam bayi di rumah orang tuanya.
“Belum lagi kalau ada mas Ojan, Mas ...,” ucap Nina yang masih bertahan di pelukan ibu Arum.
“Nah iya kamu bener banget Nin. Tuh bayi akhir zaman kan punya mulut puluhan bahkan jutaan. Berisik banget. Belum lagi kelakuannya! Gemesnya pengin cubit pakai tang panas pokoke!” sergah Azzam sudah langsung geregetan padahal baru membahas sekaligus membayangkan.
“Kalau gini caranya, kemungkinan anak mas Azzam mirip mas Ojan, malah makin besar!” ucap mas Aidan yang duduk di sebelah sang istri, di sofa seberang kebersamaan Akala, Nina, dan juga orang tua mereka.
“Nah Mas, kok kamu begitu banget. Itu doa itu!” protes Azzam heboh dan sampai detik ini masih berdiri di sebelah Excel yang mengemban Sabiru sang putra.
“Tapi bener juga sih, Mas. Soalnya kan, dari zamannya aku, sampai akhirnya Nina hamil kan ya. Nyanyiannya mas Azzam, anaknya mirip mas Ojan ...,” ucap Azzura yang kemudian ngakak. Aurora sang putri yang awalnya sedang ia beri ASI secara langsung sampai menangis karena kaget dan terbangun.
“Cuma Aurora yang paham perasaan Uncle,” ucap Azzam yang sengaja jongkok hanya untuk mengecu*p kening keponakan kesayangan, penuh sayang. Karena ketika semua yang di sana tertawa, Aurora menjadi satu-satunya yang menangis.