
“Ingat, jangan biarkan Reno membuatmu takut! Kejadian semalam itu, itu bagian dari cara dia buat bikin kamu takut dan sebisa mungkin menyerah. Namun andai kamu menyerah, dengan kata lain kamu juga mendukung apa yang dia lakukan. Bisa jadi, akan ada Nina-Nina lain yang menjadi korb*an.” Untuk ke sekian kalinya Akala mengingatkan.
Nina mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Aku enggak takut. Malahan kalau bisa, aku pengin ketemu mas Reno. Aku pengin nabok dia—” Namun Nina tak jadi melanjutkan ucapannya. “Ini hari kedua aku kerja.”
“Enggak apa-apa. Kalau kamu mau, ayo ikut saja. Enggak tiap hari akan izin apalagi punya kesempatan buat nabok Reno, kok!” balas Akala, tapi di hadapannya, Nina justru tampak terkejut.
“Iya.” Akala mengangguk-angguk. “Memangnya tampangku kelihatan bercanda? Yang suka bercanda kan mas Ojan sama mas Azzam.”
Mendengar itu, Nina refleks tersenyum semringah. Ia sungguh lega karena masih diberi kesempatan untuk memberi Reno pelajaran. Apalagi gara-gara Reno, pelipis Akala jadi ditambal.
“Ya sudah, Mas. Aku kerja dulu.” Nina sangat bersemangat dan sampai melakukan segala sesuatunya lebih cekatan dari sebelumnya.
Sekitar pukul sembilan, Nina dibonceng Akala menggunakan motor matic, sementara mas Aidan memimpin perjalanan menggunakan motor gede. Nina yang tidak ada rasa lebih dan memang cenderung menghormati Akala, tentu biasa-biasa saja, tidak ada perasaan lebih, selain Nina yang mewajibkan dirinya untuk selalu sopan kepada Akala. Lain dengan Akala yang jadi agak tegang walau hampir sepanjang perjalanan, tak sedikit pun Nina berpegangan kepadanya. Karena yang ada, kedua tangan Nina berpegangan ke belakang.
Sebelum masuk ke ruang besuk tempatnya akan bertemu dengan Reno, Nina yang melihat cecak di tembok sebelah pintu sengaja menangkapnya.
“Ini buat Mas Reno!” pikir Nina.
Reno dalam keadaan sangat lusuh, tak terawat dan mirip orang sakit. Pria itu langsung tersenyum penuh kemenangan ketika mengetahui sosok yang menjenguknya justru Nina. Reno berpikir, kiriman preman yang ia tugasi mendatangi tempat tinggal baru Nina sekaligus tempat kerja Nina, telah berhasil membuat Nina takut. Reno amat yakin alasan Nina ke sana karena Nina menyerah dan akan mengikuti arahannya.
“Kangen, ya?” Ia sengaja menggod*a Nina. Apalagi walau tidak sampai berdandan, Nina yang mengikat tinggi rambut panjangnya, tampak makin menarik hanya karena pakaian Nina kali ini yang terlihat agak mahal. Lepas dari ibu Sulastri dan pak Surat, dirasa Reno membuat Nina jauh lebih modis.
“Tentu! Kangen banget. Siapa sih yang enggak kangen Mas. Kangen pengin nabok maksudnya!” sebal Nina, tapi yang disindir tetap senyum-senyum sembari terus memandanginya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Nina sampai risi karena diperlakukan seperti itu.
“Nabok pakai bibir, maksudnya?” balas Reno yang sudah langsung membuat Nina merasa ji*jik kepadanya. Namun, ia tidak peduli. Malahan, tanggapan sebal bahkan marah dari Nina, membuat wanita itu makin menarik di matanya.
“Asli Nin, kamu makin cantik saja. Enggak sia-sia andai kita enggak jadi cerai. Langsung bulan madu pokoknya ya!”
Setelah menghela napas dalam, Nina berkata, “Kalau Mas beneran laki-laki, harusnya Mas malu dengan apa yang Mas lakukan kemarin malam. Mengirim preman buat bikin onar?” Ia menggeleng tak habis pikir dan memang tak mau lebih lama lagi di sana. Karena baginya, waktunya terlalu berharga untuk berurusan dengan orang seperti Reno.
“Mereka pasti langsung jauhin kamu bahkan enggak mau dekat-dekat sama kamu lagi, kan?” santai Reno yang kemudian berbisik, “Memang begitu sih niatku!” Ia mengakhirinya dengan tertawa puas, tapi ia sungguh syok ketika tangan kanan Nina memasukkan sebuah cecak ke dalam mulutnya. Parahnya, ekor cecak yang lepas masuk ke tenggorokannya bahkan berakhir tertelan, setelah sebelumnya, ekor cecak itu sempat senam di lidahnya.
“Cuma cecak kok ji*jik? Mas bahkan jauh lebih menj*ijikan ketimbang cecak! Cecak merupakan hewan, lumrah andai mereka berbuat menjij*ikan. Lah, Mas. Mas manusia, tapi kelakuannya mirip manusia.” Kali ini, Nina yang tak sudi duduk di hadapan Reno sengaja mengomel.
“Oh iya, Mas. Makasih banyak karena sudah kirim preman-preman itu. Karena gara-gara itu juga, hukuman Mas beneran ditambah berkali-lipat!” lanjut Nina dan langsung mendapat sumpah serapah dari Reno yang mengatainya “lont*e” atau itu pe*lacur.
“Terserah Mas. Oh iya, aku lupa. Aku beneran pengin nabok Mas, tapi bukan pakai bibir. Melainkan ....” Nina mengeluarkan toples plastik dari kantong karton warna hitam yang ia bawa.
Melihat apa yang ada di dalam toples, Reno langsung melongo. Itu ulat bulu dan jumlahnya terbilang banyak.
“Di depan rutan ada pohon jambu yang penuh ulat bulu. Lumayan, bisa jadi tanda sayang sekaligus perpisahanku buat Mas. Saking sayangnya, aku bela-belain kumpulin ini buat Mas. Niiiiiihhhh!” Nina menuang ulatnya ke wajah Reno. Pria itu memang telat menghindar meski Nina sudah wanti-wanti.
“Ninaaaaa! Uhuk ... uhuk!” kesal Reno. Namun, kali ini Nina tak peduli. Nina memilih melangkah pergi meninggalkan toples yang ulatnya sudah berjatuhan dari wajah ke tubuh, dan efeknya sudah langsung membuatnya gatal-gatal.
Di luar, Akala dan mas Aidan sudah menunggu. Keduanya langsung menatap Nina dengan senyum lega.
“Enggak usah menemui orang seperti dia lagi karena tanggapannya pasti hanya bikin makin sakit hati,” ucap mas Aidan.
Nina yang mendapatkan itu, segera mengangguk-angguk. Begitupun dengan Akala yang tak jadi menemui Reno.
“Kita lanjut saat sidang saja,” ucap Akala kepada Nina. Ia pergoki, Nina yang diam-diam sibuk menggaruk jemari dan ternyata sudah bentol besar-besar. “Masih bisa tahan?” tanya Akala memberikan perhatiannya.
Nina refleks bengong sekaligus menoleh, menatap Akala. Pria itu langsung meraih kedua tangannya, kemudian melumurinya menggunakan minyak angin yang Akala minta dari mas Aidan. Mas Aidan berdalih, Arimbi sang istri selalu memberinya bekal kesehatan lengkap. Dari makanan, minuman, bahkan obat-obatan.
“Besok kalian kalau sudah menikah juga gitu, bekal apalagi kalau bepergian jauh, jangan sampai lupa,” ucap mas Aidan sambil memakan potongan buah apelnya. Buah apel tersebut juga merupakan bagian dari bekalnya.
Diberi wejangan barusan, Nina dan Akala refleks bertatapan. Bedanya, ketika Akala sudah langsung kikuk, tidak dengan Nina yang menganggap wejangan mas Aidan sebagai angin lalu karena biar bagaimanapun, Nina sudah mantap untuk tidak menikah.
“Panas banget?” lirih Akala memastikan.
Nina segera menggeleng, dan perlahan menjadi bertanya-tanya jauh di dalam hatinya. “Kenapa mereka begitu dekat padahal mereka tergolong masih asing karena memang baru kenal?”