Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
37 : Telanjur Kecewa


Nina menghela napas pelan sekaligus dalam. “Enggak apa-apa, Nin. Sabar ... sabar karena yang Punya Kehidupan enggak pernah tidur. Allah beneran enggak pernah tidur, jadi jalani dan percaya. Karena andai dulu kamu bisa melarikan diri dan hanya beberapa kali menjadi kor*ban Surat dan Sulastri, belum tentu kamu bertemu dengan orang-orang baik seperti mas Akala sekeluarga. Orang-orang baik yang juga membuat kamu terinspirasi buat jadi orang yang lebih baik lagi!” batin Nina menguatkan dirinya sendiri. Ia yakin, andai Cinta berani berniat jahat setelah apa yang Cinta alami dan baginya itu hukuman nyata, Allah yang tidak pernah tidur juga akan memberi Cinta hukuman lain.


“Iya, enggak apa-apa. Aku ikhlas. Aku bakalan sabar, tapi bukan berarti aku menyerah.” Kali ini, Nina yang masih bicara dalam hati, lagi-lagi menyemangati dirinya sendiri.


Setelah menghela napas pelan sekaligus dalam, ibu Arum berangsur berdeham, membuat semua mata sekaligus perhatian langsung tertuju kepadanya.


“Lumrah kita enggak tega, lumrah hati kita iba karena kita memang manusia biasa dan hati kita masih normal. Namun, bukan berarti semua itu bisa menghapus kesalahannya yang memang fatal. Apalagi, sekadar minta maaf saja, dia enggak mau,” ucap ibu Arum.


“Aku juga penasaran, akan seperti apa dia setelah ini. Apakah dia tetap sama, tetap tidak mau minta maaf. Atau malah, dia akan menyalahkan orang lain termasuk itu menyalahkan kita atas musibah yang menimpanya?” ucap Arimbi. “Meski aku berharap musibah yang menimpanya bisa bikin dia menyadari kesalahannya, masalahnya dia mirip ibu Siti. Semoga sih kekhawatiranku ini enggak terbukti.”


“Tipikal yang playing victim juga, maksudnya?” komentar mas Aidan sambil menatap sang istri. Namun kemudian, ia menatap Akala.


“Jangan menatapku seperti itu, Mas. Aku enggak akan tertipu kedua kalinya. Dia boleh saja kecelakaan dan keadaannya mengkhawatirkan bahkan kritis, tapi bukan berarti dia langsung bebas dari kesalahannya. Dia tetap wajib mempertanggung jawabkan perbuatannya, bagaimanapun proses yang nantinya akan dia jalani,” ucap Akala.


“Syukurlah kalau kalian berpikir begitu. Jadi, apa pun yang terjadi nanti, meski Cinta menjadi ko*rban pemb*e*galan, di ka*su*s kita, statusnya tidak ada yang berubah,” ucap Mas Aidan.


“Mas Akala,” sergah Arimbi menatap serius Akala.


Bukan hanya Akala yang langsung menatap Arimbi. Karena mas Aidan, ibu Arum, dan juga Nina juga langsung menjadikan Arimbi sebagai fokus perhatian di sana.


“Kenapa, Mbak?” balas Akala menanggapi Arimbi dengan serius.


“Nanti artikelnya dilanjutin. Foto korban diblur, tapi foto tersangka termasuk Cinta, enggak usah. Andai pihak Cinta keberatan dan enggak terima, biar nanti jadi urusan Mbak. Yang namanya tersangka wajib dibegitukan biar ada efek jeranya. Digituin saja belum tentu mereka jera. Sejauh ini kan semuanya memang enggak bisa disamaratakan. Buktinya, kurang apa Om Maheza dan tante Aleya ke Cinta dan Cikho? Jadi memang kadang latar belakang seseorang baik itu pendidikan sekaligus lingkungannya bahkan agama, itu beneran enggak bisa jadi patokan. Bukan bermaksud menyepelekan ya. Soalnya yang namanya sudah niat jahat, ya sudah lanjut. Kalau sudah niat kan pasti sudah banyak persiapan sekaligus cara buat mendapatkan tujuan dari niatnya. Cari contohnya jangan jauh-jauh. Kasu*sku dan mas Ilham. Mas Ilham berlindung di balik agama sekaligus pendidikan buat jatuhin aku. Yang beneran enggak tahu pasti langsung memihak mas Ilham hanya karena mas Ilham orang berpendidikan dan paham agama.” Arimbi berbicara panjang lebar dan terbilang emosional meski ia masih mengatakannya dengan suara lirih. Ia pernah ada di posisi di mana ia babak belur oleh fitnah Ilham sekeluarga. Luka tak berdarah yang membuatnya dianggap hin*a oleh setiap mereka yang percaya kepada Ilham. Jadi, ia tak mau hal semacam itu dialami juga oleh orang lain apalagi sekelas Nina yang sudah sangat seng*sara di usia Nina yang masih sangat muda—Kisah Arimbi dan Ilham baca novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).


Akala mengangguk-angguk sambil menghela napas pelan. “Kalau artikelnya, itu murni Nina yang tulis. Aku cuma periksa terus unggah sama tambahin foto, sih, Mbak.”


Mendengar itu, ibu Arum dan Arimbi langsung heboh.


“Bisa juga kisah kamu, kamu jadikan novel. Mau kamu tulis kalau itu kisah nyata atau enggaknya, Mbak yakin bakalan disukai banyak pembaca. Bukan karena mereka suka kamu terluka, tapi maksudnya mereka pasti akan tersentuh!” ucap Arimbi sampai menepuk-nepuk punggung Nina yang tampak kikuk.


Ibu Arum tertawa kecil kemudian mengelus-elus perut Arimbi yang masih rata. “Ini besok mau jadi apa? Masih janin sudah urus kasus!”


Mendengar itu, giliran Arimbi dan mas Aidan yang menjadi tertawa dan perlahan tersipu.


“Kayaknya salah satu anak kami, tetap wajib jadi pengacara,” ucap Arimbi sambil melirik sang suami.


Akala yang baper pada keromantisan sekaligus kekompakan Arimbi dan mas Aidan refleks melirik Nina yang berdiri di sebelahnya. Hanya saja, Nina cenderung menunduk dan tampaknya larut dengan pemikirannya sendiri.


Karena sidang akan segera dimulai, mereka segera masuk ke ruang persidangan. Ibu Arum menggandeng Nina, sementara mas Aidan menggandeng sang istri. Akala yang melangkah di belakang hanya sesekali menepuk punggung ibu Arum maupun Nina secara bersamaan.


“Akala!” seru suara seorang pria dari belakang.


Bukan hanya Akala yang berangsur berhenti melangkah dan perlahan menoleh ke sumber suara. Karena semuanya termasuk Nina dan mengenali suara tadi sebagai suara Chalvin, juga refleks memastikan. Yang membuat perhatian mereka tercuri, tentu karena Chalvin tak datang sendiri. Chalvin datang bersama sesosok wanita berpakaian syari serba hitam dan sampai memakai cadar. Wanita yang juga terus menunduk itu kedua tangannya dalam keadaan diborgol. Dan Chalvin mengenalkannya sebagai ... Cinta.


Untuk sejenak, rombongan Nina langsung bungkam meski kedua mata mereka sudah langsung sibuk mengawasi penampilan si wanita.


“Daripada terus dipaksa dan Chalvin pun sampai mengancam akan membuatku dicoret dari kartu keluarga sekaligus ahli waris, ... aku akan pura-pura menyerah. Aku akan membuat semuanya iba kemudian berbalik membenci Nina apalagi Chole,” batin Cinta.


Chole dan Chalvin memang tidak datang sendiri. Keduanya dikawal oleh dua orang polisi wanita dan seorang pengacara.


“Kamu kecelakaan bagaimana?” tanya Akala yang jujur saja marah. Tatapan dan suaranya tidak bisa bohong meski kemarahannya tidak semeledak-ledak orang kebanyakan.


Belum sempat Cinta bersuara, Akala sengaja berkata, “Salah kamu, apa-apa harus ada tragedi dulu. Hobi banget bikin orang lain susah. Lihat, semuanya susah gara-gara kamu. Chalvin sampai pontang-panting urus semuanya. Sampai kurus begitu!” Akala menggeleng tak habis pikir.