Pembalasan Istri yang Haram Disentuh

Pembalasan Istri yang Haram Disentuh
50 : Mertua Kedaluwarsa dan Ailapyu


Hampir satu jam berlalu, tapi Nina terus mengabaikan, membuat ibu Retno dan sang suami meradang.


“Heh, Nina ... kurang aj*ar kamu ya!” ibu Retno kembali memak*i-maki.


Nina yang sedari tadi ditahan mbak Rani sengaja menghampiri. Terlebih walau tahu Nina sibuk kerja, ibu Retno terus saja berkicau dengan nada tajam.


“Mau pesan tidak? Kalau enggak ya mohon maaf, tidak diusir dari sini saja sudah untung.” Nina masih membawa nampan, lap, dan juga kertas dan pulpen untuk mencatat setiap pesanan. “Ibu dan Bapak sudah hampir satu jam di sini loh. Lihat, dua jagoan kalian saja masih ditali di depan pos satpam!”


“Lah, tahu kami hampir satu jam menunggu, kok kamu tetap kurang a*jar begitu?!” marah ibu Retno yang seolah akan terus begitu selama Nina belum tunduk kepadanya.


“Mohon maaf Ibu, Bapak, yang terhormat. Kurang a*jarnya saya bagaimana dan di mana? Di sini kan saya memang kerja. Dari tadi saya kerja ke sana sini, dan atasan saya juga sama sekali tidak protes.” Nina sengaja memperlakukan orang tua Reno dengan sangat hormat termasuk dalam tutur katanya.


“Heh, kamu ... jangan pura-pura amnesia. Kami ini mertua kamu, Nina! Kami tahu kamu gobl*ok, tapi bukan berarti gobl*ok kamu diformalin!” kesal ibu Retno sementara di sebelahnya, sang suami hanya melirik tak habis pikir kepada Nina.


“Mertua kedaluwarsa ...?” lirih Nina terheran-heran. “Pernikahan kami saja sebenarnya tidak sah. Terus surat nikah itu, sudah taruh saja nanti saya minta bantuan ke pengacara saya buat urus,” ucap Nina yang terpotong oleh salam Akala. Akala datang dan sampai setengah berlari, berhenti di sebelah Nina.


“Waalaikum salam ...,” jawab Nina dengan suara lirih tanpa berani menatap Akala secara langsung.


“Waalaikum salam ...,” ucap Ojan tak mau ketinggalan. Ia sengaja berdiri di sebelah Nina juga, di seberang Akala.


“Istri, tadi aku dengar ada yang ganggu-ganggu kamu. Siapa? Mana orangnya? Tuh orang pasti enggak sayang nabi, makanya hidupnya enggak bahagia jadi ganggu-ganggu istri. Orang kurang bahagia kan gitu, suka cari perhatian soalnya kurang perhatian, ya kayak aku gini,” ucap Ojan, tapi yang diajak bicara melipir ke sebelah Akala.


“Sudah, kamu sini saja. Tadi pas mbak Rani telepon, Ojan memang lagi sama aku di rumah makan mbak Mbi.” Akala berbisik-bisik sambil menggandeng sebelah tangan Nina.


Mendapat tangan Nina digandeng Akala, pak Rudi langsung murka. Setelah menggebrak meja menggunakan tangan kanan, ia juga segera berdiri disusul tangan kanannya yang langsung mence*kal kemeja bagian dada Akala, kemudian menariknya.


Tubuh Akala sempat agak tertarik, tapi hanya sesaat karena setelah Ojan melu*dahi tangan kanan pak Rudi, tangan kanan tersebut juga langsung mengakhiri ulahnya.


“J-jo*rok banget sih kamu!” kesal pak Rudi kepada Ojan.


“Ya mending jor*ok daripada enggak sopan dan kasa*r seperti apa yang Bapak lakukan!” balas Ojan dengan santainya.


Di tengah dadanya yang sudah bergemuruh bahkan nyaris meledak, ibu Retno berkata, “Emang dasar perempuan mur*ahan kamu Nin. Pe*rek, makanya sama siapa-siapa, Mau!” tegasnya spontan diam setelah nampan Nina melayang mengha*ntam mulutnya. Laki-laki yang menggandeng Nina yang melakukannya.


Selain ternyata sampai patah dua gigi, ulah Akala yang mengh*antam mulut ibu Retno sekuat tenaga menggunakan nampan Nina, juga membuat bibir atas wanita paruh baya di hadapannya pecah berdarah-dar*ah.


“Papah ini bagaimana gigiku patah, sakit!” rengek ibu Retno kepada sang suami. Yang mana rasa kesalnya benar-benar membuncah karena Ojan terus saja menertawakannya.


“Hahaha ... pongah ... nih, ji*gong spesial buat kamu. Hahaha ....” Setelah menggosok-gosokkan ketiga jemari tangan kanannya ke gigi ia sengaja memoleskannya ke wajah ibu Retno yang detik itu juga meraung-raung histeris.


Akala, Nina, pak Rudi, termasuk mbak Rani yang baru datang, sampai mual gara-gara menyaksikan ulah Ojan.


Setelah Nina dan Akala saling tatap tanpa direncanakan, Akala sengaja berdeham. “Biar bagaimanapun, kata-kata Ibu sudah sangat keterlaluan, tapi urusan biaya pengobatan, saya siap tanggung jawab. Hanya dengan begitu kan, mulut Ibu berhenti menca*ci orang lain?”


“Hei, kamu. Kamu kurang aj*ar banget ya. Saya tidak terima dan saya akan tuntut kamu!” tegas pak Rudi murka sambil menunjuk-nunjuk wajah Akala.


“Di sebelah kanan dan depan ada CCTV. Keterangan pengunjung sekaligus karyawan di sini juga sudah cukup jadi bukti. Sementara sebentar lagi ... ah, itu ternyata polisi sudah datang. Namun karena kakak saya yang akan menjadi pengacara Nina sudah ada di kantor polisi, jadi nanti kalian bisa langsung bertemu dengannya di sana.” Seperti yang Akala katakan, polisi sungguh sudah langsung datang menggunakan mobil. Dua orang menggunakan mobil sedan, dua lagi mengawal menggunakan motor gede.


Nina yang tidak tega kepada ibu Retno karena darah segar terus keluar dari luka di bibir atas wanita itu, sengaja menarik beberapa helai tisu kering kemudian memberikannya kepada ibu Retno. Ibu Retno segera menerima, tapi tangan Ojan lebih sigap. Ojan menggosokkan tisunya ke giginya, kemudian memberikannya kepada ibu Retno yang langsung meraung-raung.


“Mas Akala sudah sampai lapor ke polisi dan mas Aidan yang sudah di sana juga langsung siaga menunggu buat proses orang tua mas Reno. Benar kata mbak Arimbi, aku sangat beruntung karena dipilih Mas Akala. Jadi, aku enggak boleh lemah. Aku harus cerdas dan punya prinsip. Aku boleh misk*in, tapi tidak dengan cara pikirku apalagi mentalku!” batin Nina. Ia membiarkan Akala menggandengnya masuk ke mobil pria itu. Karena gara-gara ulah orang tua Reno, ia harus ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan secara langsung.


“Mbak Rani, maaf ya, aku enggak bisa bantu lagi,” sesal Nina sengaja pamit kepada mbak Rani yang sampai mengantarnya hingga masuk ke tempat duduk penumpang sebelah setir.


“Enggak apa-apa, enggak apa-apa. Beresin dulu urusannya biar kerja juga nyaman enggak banyak pikiran. Ya sudah, Mas. Semangat ya!” ucap mbak Rani dan sengaja mengakhirinya dengan menyemangati Akala.


Akala langsung tersenyum lembut kemudian mengangguk. Ia segera keluar karena Ojan memohon ikut.


“Enggak apa-apa, Mas. Diajak saja. Lumayan, bisa kasih pelajar*an ke mereka tanpa harus merasa berdosa,” balas Nina sambil menahan senyumnya. Sebab ia juga tidak bisa untuk tidak tertawa jika ingat ulah Ojan kepada ibu Retno. Terbukti, ternyata mbak Rani juga satu pemikiran dengannya. Sambil menahan tawa, mbak Rani meminta Akala untuk membawa serta Ojan.


“Dari dulu aku sudah tahu kalau Mbak Rani selalu ailapyu kepadaku!” ganj*en Ojan kepada mbak Rani, tanpa tahu Akala baru saja membukakan pintu penumpang untuknya. Hingga yang ada, kepalanya mengh*antam pintu tersebut.


“AKALAAAA!” rengek Ojan, tapi langsung dibalas tawa oleh mbak Rani maupun Nina.